Blog

Scroll Down

Info seputar pengetahuan petani, perkopian hingga tips menarik untuk anda

Empat Kali Kirim Kopi ke Oman dalam Empat Bulan, ALKO Perkuat Traceability Berbasis Blockchain

SUMATERA — Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO) kembali mengirimkan kopi Arabika specialty Indonesia ke Oman melalui jalur laut dari Pelabuhan Belawan pada September 2026. Pengiriman ini menjadi bagian dari empat kali transaksi pengiriman kopi Sumatra ke pasar Oman dalam kurun empat bulan, terdiri dari dua pengiriman melalui jalur udara dan dua melalui jalur laut.Pengiriman terbaru tersebut mengusung model traceability berbasis blockchain melalui aplikasi QThink-X Traceability Apps. Pendekatan ini dikembangkan untuk mendukung ketertelusuran kopi, sehingga informasi mengenai asal-usul dan perjalanan produk dalam rantai pasok dapat terdokumentasi.Berdasarkan informasi pengiriman sebelumnya, salah satu pengiriman melalui jalur udara mencapai volume 8 ton. Pada pengiriman terbaru, kopi Arabika specialty dikirim menggunakan kontainer melalui Pelabuhan Belawan dengan tujuan Oman.Traceability, dari Kebun hingga Pasar InternasionalBagi ALKO, ekspor kopi tidak hanya berorientasi pada pengiriman komoditas, tetapi juga pada pembangunan sistem rantai pasok yang lebih transparan dan dapat ditelusuri.Melalui model traceability, informasi mengenai asal kopi, data petani dan kebun, proses produksi, penanganan pascapanen, pengolahan hingga tahapan perdagangan dapat dihimpun sesuai ketersediaan dan verifikasi data.Penggunaan teknologi blockchain dalam ekosistem QThink-X diarahkan untuk mendukung pencatatan data dan riwayat produk. Dengan pendekatan tersebut, informasi ketertelusuran dapat menjadi bagian dari dokumentasi rantai pasok yang dapat diperiksa oleh pihak terkait sesuai akses dan data yang tersedia.Model ini penting bagi pengembangan kopi specialty karena nilai produk tidak hanya ditentukan oleh karakter rasa dan kualitas fisik, tetapi juga oleh kejelasan asal-usul, konsistensi mutu dan transparansi proses produksi.Empat Pengiriman dalam Empat BulanDalam empat bulan terakhir, pasar Oman telah melakukan empat kali pembelian kopi Sumatra dari ALKO. Rangkaian tersebut mencakup dua pengiriman melalui udara dan dua pengiriman melalui jalur laut.Pengiriman melalui udara memberikan alternatif untuk kebutuhan logistik tertentu, sedangkan jalur laut menjadi pilihan untuk pengiriman menggunakan kontainer. Penggunaan kedua moda tersebut memberikan fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan pembeli internasional.Pengiriman terbaru melalui Belawan sekaligus memperlihatkan bagaimana ekspor kopi dapat dikembangkan bersama sistem ketertelusuran digital. Dengan dokumentasi yang semakin terstruktur, ALKO berupaya memperkuat hubungan antara pasokan dari Indonesia dan kebutuhan pasar tujuan.Membangun Kepercayaan melalui DataDalam perdagangan internasional, traceability dapat membantu pembeli memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai asal dan perjalanan produk. Namun, kelengkapan dan akurasi informasi tetap bergantung pada data yang dikumpulkan, diverifikasi dan diperbarui sepanjang rantai pasok.Karena itu, pengembangan traceability perlu berjalan bersama penguatan kapasitas petani, pencatatan produksi, penerapan praktik pascapanen yang baik, pengendalian mutu dan tata kelola data.Bagi ALKO, pendekatan ini merupakan bagian dari pengembangan ekosistem kopi berkelanjutan yang menghubungkan petani, kelompok tani, koperasi, prosesor, teknologi dan pembeli internasional.Memperkuat Posisi Kopi SumatraPembelian berulang dari Oman memberikan peluang bagi ALKO untuk memperkuat hubungan dagang dan mengembangkan pasokan kopi Sumatra secara berkelanjutan.Ke depan, pengembangan pasar tidak hanya bertumpu pada kontinuitas pasokan dan kualitas kopi, tetapi juga pada kemampuan membangun informasi asal-usul produk yang transparan dan terdokumentasi.Melalui integrasi kopi specialty dengan model traceability berbasis blockchain, ALKO berupaya membangun rantai nilai yang menghubungkan kebun, petani, pengolahan, ketertelusuran digital, ekspor dan pasar internasional.Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing kopi Indonesia melalui kombinasi kualitas produk, keberlanjutan dan transparansi rantai pasok.Dari kebun di Sumatra hingga pasar Oman, traceability menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dan memperkuat masa depan perdagangan kopi Indonesia.

Read More  

Admin Alko | 10/10/2026

Difasilitasi APINDO Sumbar, ALKO Gandeng PT. Salimbado Jaya Garap 400 Ribu Benih Kopi di Gunung Sago

Limapuluh Kota 8/10/2026 - Kolaborasi untuk melahirkan _local champion_ ekspor kopi Minang terwujud berkat peran Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sumatera Barat.Dalam rangkaian kunjungan APINDO Sumbar ke anggotanya yang merupakan pelaku usaha ekspor, APINDO mempertemukan Koperasi Alam Korintji (ALKO) dengan perusahaan lokal asal Payakumbuh, PT. Salimbado Jaya Indonesia (SJI) sebagai prosesor kopi ekspor dari Kabupaten Lima Puluh Kota.Dari pertemuan tersebut, disepakati kemitraan strategis untuk menyiapkan 400 ribu benih kopi robusta yang akan ditanam di kawasan sekitar Gunung Sago.Kolaborasi ini menjadi langkah pengembangan kopi Minang secara masif. Pasalnya, ALKO telah memiliki pasar ekspor khusus untuk kopi Minang, namun suplai belum terpenuhi."Sejak 2019 ALKO telah membangun komunikasi pasar dari hulu ke hilir untuk kopi Minang, namun permintaan buyer ekspor hingga saat ini belum dapat dipenuhi karena produksi kopi Minang yang lolos ekspor masih sedikit," ujar Suryono, Direktur Utama ALKO.Kehadiran ALKO ingin menjadi standar Quality Control (QC) kopi Minang siap ekspor dan diekspor oleh perusahaan lokal dari Sumbar sendiri. Direktur Operasional ALKO Sumatra Barat Pebriansyah menambahkan, "Dilihat dari data perdagangan eksportir, belum tercatat perusahaan kopi lokal Sumbar yang mengekspor kopi dari Sumbar selain ALKO. Tentu perlu ada gerakan untuk menumbuhkan _local champion_ menjadi eksportir kopi Minang. Terima kasih kepada APINDO Sumbar yang telah memfasilitasi pertemuan ini."Sementara itu, Direktur PT. Salimbado Jaya Indonesia, Sepdi Tito, menjelaskan Gunung Sago memiliki potensi besar untuk robusta. Kepastian pasar dari ALKO membuatnya yakin menggerakkan petani."Kerja sama dengan ALKO memberikan kepastian pasar, membuat kami yakin untuk menggerakkan petani lokal agar kembali menanam di lahan-lahan yang masih kosong. Kami bersama ALKO akan menyiapkan 400 ribu benih untuk dibagikan kepada petani dengan skema koperasi dan petani plasma. Saat ini benih yang siap tanam baru 80 ribu," jelas Sepdi Tito.Sepdi Tito menambahkan, pihaknya bersama APINDO Sumbar akan meminta dukungan Pemda Lima Puluh Kota agar ada sinergi pemerintah daerah untuk memenuhi permintaan pasar kopi Minang yang besar."Permintaan buyer pasar kopi Minang ini sudah ada sejak 2021. Kalau dari data produksi kita ada ribuan ton, tapi untuk memenuhi 1 kontainer saja belum ada _local champion_ yang muncul. Dengan banyaknya kelompok tani kopi dan adanya asosiasi kopi saat ini, pekerjaan itu seharusnya bisa lebih mudah dengan kolaborasi yang difasilitasi APINDO ini," tutupnya.Pebriansyah menjelaskan kerjsama ini akan menerapkan aplikasi Qthink-X untuk penerapan prinsip-prinsip traceability berbasis blockchain kopi Minang, untuk dapat mengetahui sumber dari kebun kopi di tanam dan mengenalkan kembali Sumatera Kopi Minang berbasis origin (admin-)

Read More  

Admin Alko | 10/10/2026

ALKO Gandeng Empat Mitra Vietnam, Ekspor Berbasis Blockchain

Vietnam,  – PT ALKO Kerinci memperluas jaringan kerja sama internasional dengan menggandeng empat mitra kopi Vietnam, yakni Robo Farm, Elon Farm, Thy Thy Farm, dan Like Farm. Kemitraan ini menjadi bagian dari strategi ALKO membangun rantai pasok kopi global yang transparan, terverifikasi, dan siap menembus pasar Eropa.Langkah ini menegaskan posisi kopi ALKO tidak hanya sebagai produk lokal, tetapi sebagai brand kopi yang mulai bergerak di panggung internasional. Dengan mengusung traceability blockchain, ALKO ingin memastikan setiap biji kopi yang diproduksi dan diekspor memiliki jejak asal-usul yang jelas, mulai dari kebun hingga pasar tujuan.Robo Farm Jadi Markas Processing ALKO di VietnamDalam kerja sama ini, SG Robo Factory atau Robo Farm Coffee Factory akan menjadi markas processing standar ALKO untuk ekspor kopi Vietnam berbasis blockchain. Robo Factory memiliki fasilitas processing kopi lengkap di Vietnam dan siap dijadikan tempat processing bagi ALKO.Keunggulan prosesor Vietnam tersebut adalah fasilitasnya yang berstandar tinggi. Kerja sama dengan ALKO diharapkan membuka pasar kopi Vietnam berbasis traceability blockchain. Robo Factory akan menjadi hub processing ALKO di Vietnam sekaligus markas ALKO di sana.Founder dan Direktur Robo Farm Coffee Factory adalah Ms. Le Thi Huyen Trang. Lokasinya berada di Tan Ha, Lam Dong, Vietnam. Ms. Le Thi Huyen Trang juga tercatat sebagai anggota Koperasi Alam Korintji.Perkebunan Thy Thy  dan Arabika Specialty VietnamKerja sama dengan petani prosesor sebagai hilir di Vietnam dilakukan dengan Thy Thy Farm. Thy Thy Farm merupakan pemilik kebun kopi Arabika Specialty Vietnam dengan tanaman varietas kopi Arabika baru dan tingkat produktivitas tinggi, hampir rata-rata 4 ton per hektar green bean.Kebun ini telah menerapkan traceability menggunakan aplikasi Qthink-X. Pemilik kebun, Ms. Le Huyen Ngoc Thy, merupakan ketua kelompok tani wanita Kebun Arabika Thy Thy Farm.Elon Farm dan Like Farm Perkuat Kopi RobustaUntuk komoditas Robusta, ALKO bekerja sama dengan Ms. Jenny dari Elon Farm. Elon Farm merupakan prosesor kopi yang memiliki lima petani anggota suplier. Selain memiliki kebun, Elon Farm juga memiliki homestay untuk tamu yang berkunjung. Elon Farm sebagai petani Vietnam mitra koperasi pertama telah menerapkan traceability berbasis blockchain Qthink-X sejak tahun lalu.Petani robusta lain yang terlibat adalah Mr. Mia Huyen Nguyen Quoc Thang, owner Like Farm. Like Farm merupakan unit perkebunan kopi Robusta skala besar yang mencapai 40 hektar di Lam Dong. Kerja sama ini mencakup penerapan traceability blockchain Qthink-X dan menjadikan Like Farm sebagai mitra koperasi ALKO dalam produksi kopi Vietnam untuk pasar Eropa menggunakan blockchain.Blockchain Jadi Nilai Jual Kopi ALKO di Pasar GlobalMelalui empat mitra tersebut, ALKO membangun ekosistem kopi global yang tidak hanya berorientasi pada volume produksi, tetapi juga pada kualitas, keterlacakan, dan kepercayaan pasar. Penerapan Qthink-X di kebun-kebun mitra Vietnam menjadi salah satu kunci untuk memenuhi permintaan pasar internasional, khususnya Eropa, yang semakin ketat terhadap aspek sustainability dan transparansi rantai pasok.Dengan kerja sama ini, ALKO berharap dapat memperkuat posisi kopi Indonesia dan kopi Vietnam di pasar global. Empat kelompok mitra yang terlibat, yaitu Robo Farm, Elon Farm, Thy Thy Farm, dan Like Farm, menjadi fondasi awal bagi ALKO dalam membangun jaringan kopi global berbasis blockchain.

Read More  

Admin Alko | 03/10/2026

ALKO Kerinci Berpartisipasi dalam Business Matching DEKOPI dan International Coffee Day 2026

Jakarta, alko.id – PT ALKO Kerinci turut berpartisipasi dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) dan International Coffee Day (ICD) 2026 yang diselenggarakan oleh Dewan Kopi Indonesia (DEKOPI). Kegiatan berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis, 30 September–1 Oktober 2026, di Auditorium Gedung F, Komplek Kementerian Pertanian RI, Jl. Harsono RM No. 3, Jakarta Selatan.Acara ini diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri dari pengurus DEKOPI seluruh Indonesia, perwakilan anggota DEKOPI, instansi pemerintah, dan swasta terkait. Rangkaian kegiatan meliputi talkshow, business matching, pameran, serta promosi peralatan mesin dan sarana industri perkopian.Business Matching Pertemukan Seller dan BuyerPada hari pertama, Rabu (30/9/2026), agenda utama diisi dengan Coffee Business Forum dan Business Matching. Forum ini mempertemukan buyer dari Jakarta dan sekitarnya dengan seller UMKM kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan tersebut dipandu oleh Ketua II DEKOPI, Bapak Syafrudin.PT ALKO Kerinci menjadi salah satu seller yang terdaftar dalam acara business matching tersebut. Dalam forum itu, ALKO Kerinci dihadiri oleh Chief Operating Officer (COO) Puput Puspita Sari. Kehadiran ALKO Kerinci dalam forum ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk memperkuat jaringan pemasaran kopi Kerinci ke buyer Jakarta dan pasar nasional.Selain ALKO Kerinci, sejumlah seller lain yang turut berpartisipasi antara lain Koperasi Kopi Baburrayyan (Takengon, Aceh), Koperasi Kopi Mal Agri (Medan, Sumatera Utara), Koperasi Wanoja (Jawa Barat), Koperasi Kopi Robusta Temanggung (Jawa Tengah), Gravfarms (Ciwidey, Jawa Barat), dan petani kopi robusta dari Provinsi Lampung.Coffee Tasting & Cupping dan Munas DEKOPIMasih di hari yang sama, agenda dilanjutkan dengan Coffee Tasting & Cupping yang menampilkan UMKM kopi dari Aceh sampai Papua. Sesi ini juga dipandu oleh Ketua II DEKOPI, Bapak Syafrudin.Kegiatan hari pertama ditutup dengan Musyawarah Nasional DEKOPI yang dipandu oleh Ketua Munas DEKOPI, Bapak Mahatma Gandhi.ICD Celebration dan National Coffee ForumPada hari kedua, Kamis (1/10/2026), digelar ICD Celebration and National Coffee Forum. Acara dibuka dengan laporan Ketua Umum DEKOPI periode 2026–2030, dilanjutkan sambutan Menteri Pertanian RI, Bapak Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., sekaligus acara Sruput Kopi bersama Menteri Pertanian RI.Dalam kesempatan tersebut juga diluncurkan Program Kopi Diplomat yang dihadiri oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Bapak Arif Havas Oegroseno, S.H., LL.M.Agenda berlanjut dengan Dialog Nasional Kopi (Coffee Talk) bertema "Masa Depan Kopi Indonesia dari Petani ke Pasar Dunia". Dialog ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Prof. Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, M.S., Dr. Herdrajad Natawidjaja, Moelyono Soesilo, Dr. Ir. Purwadi, dan Ahmad Supriyono. Diskusi dimoderatori oleh Ibu Dini Astika Sari, M.Biotech (Kepala Puslitkoka), dengan penanggap Bapak Dr. Surip Mawardi dan Bapak Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin.Beberapa isu yang dibahas dalam dialog tersebut meliputi masa depan kopi Indonesia, isu sustainability melalui konsep Indonesia Sustainable of Coffee, hilirisasi kopi untuk mendorong nilai tambah dari kebun sampai industri, serta isu regenerasi petani melalui pembangunan Sekolah Kopi Nusantara.Acara kemudian ditutup oleh Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI.Komitmen ALKO KerinciPartisipasi PT ALKO Kerinci dalam Business Matching DEKOPI dan International Coffee Day 2026 menjadi langkah nyata perusahaan dalam mendukung pengembangan industri kopi nasional, khususnya kopi Kerinci. Melalui forum ini, ALKO Kerinci berharap dapat memperluas jaringan kemitraan dengan buyer nasional dan meningkatkan daya saing kopi Kerinci di pasar yang lebih luas.Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk dan kemitraan PT ALKO Kerinci, silakan menghubungi kanal resmi perusahaan.

Read More  

Admin Alko | 03/10/2026

Pemberdayaan Perempuan dan Isu Lingkungan Warnai Diskusi Bisnis Kopi di Musda PHRI Sumbar

PADANG,  – Aspek pemberdayaan perempuan dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi pembahasan utama dalam sesi bertema "Mengulik Bisnis Kopi" pada Musyawarah Daerah (Musda) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Barat. Dalam forum tersebut, Koperasi ALKO hadir sebagai narasumber untuk memaparkan bagaimana kedua isu tersebut menjadi kunci nilai tambah sebuah produk kopi di era industri hospitality yang semakin sadar akan keberlanjutan.Suryono, perwakilan dari Koperasi ALKO, menjelaskan bahwa nilai tambah sebuah produk kopi saat ini tidak lagi bisa diukur hanya dari cita rasanya semata. Ada faktor krusial lain yang menentukan daya saing di pasar, terutama di sektor perhotelan, yakni keterlacakan (traceability) serta komitmen terhadap pemberdayaan perempuan (women empowerment) dalam rantai produksinya."Kami ingin mengangkat narasi bahwa kopi yang baik adalah kopi yang peduli pada keberlangsungan lingkungan dan pemberdayaan perempuan di rantai produksinya," ujar Suryono dalam presentasinya, Rabu (30/9/2026).Menurut Suryono, konsumen modern, termasuk tamu hotel, kini semakin sadar dan menghargai produk yang memiliki dampak sosial dan lingkungan yang positif. Hal ini menjadikan isu keberlanjutan sebagai nilai jual yang relevan dengan tren industri hospitality saat ini. Ia mencontohkan bagaimana hotel-hotel berbintang di kota-kota besar mulai menuntut produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki jejak produksi yang jelas dan ramah lingkungan.Traceability sebagai Fondasi KepercayaanDalam pemaparannya, Suryono menekankan bahwa traceability atau keterlacakan produk menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan konsumen. Ia menjelaskan bahwa setiap biji kopi yang dihasilkan oleh ALKO dapat dilacak asal-usulnya, mulai dari kebun tempat biji kopi ditanam, siapa petani yang mengelolanya, hingga proses pascapanen yang dilalui."Traceability bukan sekadar formalitas. Ini adalah bentuk tanggung jawab kami kepada konsumen. Ketika sebuah hotel menyajikan kopi kami, mereka bisa dengan bangga menceritakan kepada tamunya bahwa kopi ini berasal dari petani tertentu di Kerinci, diolah dengan metode tertentu, dan memberikan dampak positif bagi komunitas lokal," jelas Suryono.Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sistem keterlacakan ini juga memungkinkan ALKO untuk memastikan bahwa praktik pertanian yang digunakan oleh para mitra petaninya tetap ramah lingkungan. Misalnya, penggunaan pupuk organik, pengelolaan air yang efisien, serta penghindaran deforestasi dalam proses perluasan lahan kopi."Kami tidak hanya menjual kopi. Kami menjual cerita dan nilai. Dan nilai itu harus bisa dibuktikan, bukan hanya diklaim," tegasnya.Pemberdayaan Perempuan di Rantai Produksi KopiSalah satu poin yang paling disorot dalam presentasi ALKO adalah komitmen terhadap pemberdayaan perempuan. Suryono memaparkan bahwa perempuan memainkan peran yang sangat penting dalam rantai produksi kopi, mulai dari penanaman, pemetikan, sortasi biji, hingga proses pengolahan pascapanen. Namun, sering kali kontribusi mereka tidak terlihat dan tidak dihargai secara ekonomi."Di banyak komunitas petani kopi, perempuan adalah tulang punggung produksi. Mereka yang memetik dengan teliti, mereka yang menyortir biji terbaik, dan mereka yang memastikan kualitas tetap terjaga. Tapi sayangnya, suara dan kesejahteraan mereka sering terabaikan," ujar Suryono.Melalui program pemberdayaan yang dijalankan ALKO, perempuan-perempuan di komunitas petani kopi Kerinci diberikan pelatihan, akses terhadap sumber daya, serta posisi yang lebih setara dalam pengambilan keputusan. ALKO juga memastikan bahwa upah yang diterima oleh pekerja perempuan setara dengan pekerja laki-laki untuk pekerjaan yang sama."Kami percaya bahwa kopi yang baik lahir dari sistem yang adil. Jika perempuan sejahtera, maka kualitas kopi yang dihasilkan juga akan semakin baik," tambahnya.Suryono juga menyoroti bahwa isu pemberdayaan perempuan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya tujuan kelima tentang kesetaraan gender dan tujuan kedelapan tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.Ajakan Kolaborasi dengan Industri HospitalityDalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif, Suryono mengajak para pelaku industri hospitality di Sumatera Barat untuk berkolaborasi. Ia berharap Kopi Kerinci dapat masuk dan disajikan di berbagai hotel serta restoran di Sumbar sebagai produk unggulan yang tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan."Kopi Kerinci memiliki keunggulan kompetitif. Bukan hanya dari segi rasa, tetapi juga karena produk ini peduli terhadap isu keberlanjutan dan lingkungan," ujar Suryono.Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara produsen kopi dan industri perhotelan dapat menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan. Hotel-hotel dapat menawarkan pengalaman kopi yang autentik dan bermakna kepada tamunya, sementara petani kopi lokal mendapatkan akses pasar yang lebih stabil dan harga yang lebih adil."Kami ingin hotel-hotel di Sumbar menjadi duta kopi Kerinci. Setiap cangkir yang disajikan adalah cerita tentang petani lokal, tentang perempuan yang berdaya, dan tentang lingkungan yang terjaga," ungkapnya.Suryono juga menyampaikan bahwa ALKO terbuka untuk menjalin kemitraan jangka panjang dengan PHRI Sumbar, termasuk dalam hal pelatihan barista, penyediaan biji kopi berkualitas, serta program edukasi tentang kopi berkelanjutan bagi para staf hotel dan restoran.Respons Positif dari Peserta MusdaAjakan kolaborasi yang disampaikan oleh ALKO mendapat respons positif dari para peserta Musda PHRI Sumbar. Beberapa perwakilan hotel dan restoran yang hadir menyatakan ketertarikan mereka untuk menjajaki kerja sama dengan ALKO, terutama untuk menyediakan kopi lokal berkualitas tinggi bagi tamu mereka."Kami sangat mengapresiasi inisiatif ALKO. Isu keberlanjutan dan pemberdayaan perempuan adalah nilai tambah yang sangat relevan dengan kebutuhan pasar saat ini," ujar salah satu peserta Musda.Peserta lain menambahkan bahwa wisatawan, terutama yang berasal dari luar negeri, semakin menghargai produk-produk yang memiliki cerita dan dampak sosial yang jelas. Hal ini menjadi peluang bagi industri hospitality Sumbar untuk menonjolkan keunikan produk lokal seperti Kopi Kerinci.Membangun Masa Depan Kopi yang BerkelanjutanDi akhir presentasinya, Suryono menegaskan bahwa visi ALKO bukan hanya tentang menjual kopi, tetapi tentang membangun masa depan yang lebih baik bagi semua pihak yang terlibat dalam rantai produksi. Ia berharap bahwa apa yang dilakukan oleh ALKO dapat menjadi contoh bagi koperasi dan produsen kopi lain di Indonesia."Kami ingin membuktikan bahwa bisnis kopi bisa menjadi kekuatan untuk perubahan positif. Kopi bisa menjadi alat untuk memberdayakan perempuan, menjaga lingkungan, dan memperkuat ekonomi lokal," pungkasnya.Dengan mengangkat isu pemberdayaan perempuan dan lingkungan di forum bergengsi seperti Musda PHRI Sumbar, ALKO berharap dapat membuka jalan bagi Kopi Kerinci untuk bersaing di pasar yang lebih luas, sekaligus membuktikan bahwa produk lokal Sumatera Barat mampu memenuhi standar global yang mengedepankan praktik ramah lingkungan dan keadilan sosial.Melalui ajakan kolaborasi ini, ALKO berharap industri hospitality Sumbar dapat menjadi pionir dalam mengangkat produk kopi lokal yang berwawasan lingkungan, sekaligus memperkuat posisi Kopi Kerinci di pasar nasional dan internasional. (*)

Read More  

Admin Alko | 01/10/2026

BPDAS Agam Kuantan dan ALKO Siapkan Kolaborasi Kopi Berkelanjutan dari Lanskap hingga Pasar Global

BUKITTINGGI, SUMATERA BARAT — Pengembangan kopi berbasis agroforestri membuka peluang kolaborasi antara Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Agam Kuantan dan Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghubungkan rehabilitasi hutan dan lahan dengan penguatan ekonomi petani, keberlanjutan produksi, traceability dan akses pasar internasional.Peluang tersebut mengemuka dalam kegiatan Temu Usaha, Pembelajaran dan Pengembangan Kemitraan Kelompok Tani yang berlangsung di Bukittinggi, 16–18 September 2026.Kegiatan tersebut dihadiri Kepala BPDAS Agam Kuantan Yanthes Donniko, S.Hut., M.Si. serta Apriadi, S.TP., Kepala Seksi Penguatan Kelembagaan DAS.Dalam kegiatan tersebut, Pebriyansah dari ALKO hadir sebagai narasumber dengan materi “Model Agroforestri Kopi Robusta Berbasis Lanskap dan Karbon: Meningkatkan Produktivitas, Kelestarian Hutan dan Pendapatan Kelompok.”Materi tersebut membahas pengembangan kopi dalam sistem agroforestri yang mengintegrasikan produktivitas, fungsi ekologis dan peningkatan pendapatan masyarakat.RHL dan Penguatan Ekonomi PetaniDalam kegiatan tersebut, rehabilitasi hutan dan lahan dibahas tidak hanya dari sisi penanaman, tetapi juga bagaimana kelembagaan kelompok dan pengelolaan lahan dapat terus berkembang sehingga memberikan manfaat ekologis dan ekonomi.Penguatan kelembagaan menjadi bagian penting karena kelompok tani merupakan salah satu aktor utama dalam menjaga keberlanjutan kegiatan di tingkat tapak.Pendekatan agroforestri memberikan ruang untuk mengembangkan tanaman produktif seperti kopi bersama tanaman kehutanan dengan tetap memperhatikan kondisi lanskap dan fungsi DAS.Dalam konteks tersebut, keberhasilan RHL tidak hanya dilihat dari keberhasilan penanaman, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam menjaga, mengelola dan mengembangkan lahan secara berkelanjutan.Belajar Langsung dari Kebun Kopi Lasi MerapiPembelajaran kemudian dilanjutkan melalui kunjungan lapangan ke kebun dan unit pengolahan kopi Lasi Merapi.Lokasi tersebut dikelola Anton Efendi, salah satu prosesor dalam ekosistem ALKO.Peserta melihat secara langsung proses pengelolaan kopi mulai dari kebun, pascapanen hingga pengolahan.Anton Efendi membawakan materi “Perjalanan Lapangan Peningkatan Nilai Tambah Kopi Robusta melalui Pascapanen dan Traceability: Dari Kebun hingga Pasar.”Kunjungan tersebut memberikan gambaran bahwa peningkatan nilai tambah kopi tidak berhenti pada produksi di tingkat kebun. Kualitas pascapanen, pengolahan, pencatatan asal produk dan traceability menjadi bagian dari proses membangun rantai pasok kopi yang lebih transparan.Traceability Jadi Agenda KolaborasiBagi ALKO, pembelajaran bersama kelompok RHL tersebut membuka peluang untuk melanjutkan kolaborasi pada aspek sustainability dan traceability.Implementasi traceability dapat dikembangkan melalui pendataan petani dan kebun, informasi produksi, proses pascapanen, pengolahan serta asal-usul kopi.Sistem tersebut dapat menjadi fondasi untuk membangun rantai pasok yang lebih transparan sekaligus meningkatkan kesiapan produk untuk memasuki pasar yang membutuhkan informasi mengenai asal dan proses produksi.Dalam konteks penguatan kelembagaan, agenda tersebut dapat dikembangkan bersama kelompok tani sehingga data dan kapasitas kelompok menjadi bagian dari kesiapan mereka membangun kemitraan usaha.ALKO Siap Kolaborasi dengan BPDASDari pertemuan tersebut, ALKO melihat adanya ruang untuk membangun agenda kolaborasi lanjutan dengan BPDAS Agam Kuantan.Kolaborasi dapat diarahkan mulai dari pemetaan kelompok dan kebun kopi, pengembangan agroforestri berkelanjutan, penguatan kapasitas petani, penerapan traceability, peningkatan kualitas pascapanen hingga pengembangan kemitraan offtake.Selanjutnya, kopi yang memiliki data dan ketertelusuran dapat dipersiapkan untuk terhubung dengan pasar yang lebih luas, termasuk pembeli internasional.Pebriyansah dari ALKO menyampaikan bahwa pendekatan tersebut penting untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara program rehabilitasi, kelompok petani dan pasar.Peluang kolaborasi ke depan dapat diarahkan untuk membangun ekosistem yang menghubungkan lanskap, petani, kopi berkelanjutan, pengolahan, traceability, offtake dan pasar internasional.Dari Kelompok RHL Menuju Pasar GlobalKolaborasi BPDAS Agam Kuantan dan ALKO diharapkan dapat menghasilkan model pengembangan kopi yang memberikan manfaat ekonomi bagi petani sekaligus mendukung pengelolaan lanskap secara berkelanjutan.Bagi kelompok RHL, pendekatan tersebut membuka peluang untuk mengembangkan usaha produktif. Bagi prosesor, terdapat ruang untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah. Sementara bagi offtaker dan pembeli internasional, sistem traceability dapat menjadi dasar untuk mendapatkan informasi yang lebih transparan mengenai rantai pasok.ALKO siap melanjutkan komunikasi dan penjajakan kolaborasi dengan BPDAS Agam Kuantan, kelompok tani, prosesor, koperasi, mitra teknologi dan pasar untuk mengembangkan kopi berkelanjutan yang memiliki ketertelusuran dan siap memasuki pasar global.Agenda kolaborasi tersebut dapat dirangkum dalam satu rantai nilai:Landscape → Farmer Group → Sustainable Coffee → Processing → Traceability → Offtake → International MarketDengan pendekatan ini, rehabilitasi hutan dan lahan tidak hanya dipandang sebagai kegiatan pemulihan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan ekosistem usaha kopi berkelanjutan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.ALKO siap berkolaborasi untuk menghubungkan lanskap, kelembagaan petani, sustainability, traceability dan pasar internasional melalui kopi Indonesia.

Read More  

Admin Alko | 20/09/2026

KETIKA PETANI KERINCI BERCERITA BUKU BESAR DIGITAL BERNAMA BLOCKCHAIN

Saat 7 Anak Kampung Meng-Blockchain-kan 1 Juta Pohon Kopi ber KTP(Padang,17.09.2026/Sry-ALKO). Belakangan diskusi soal dunia blockchain kembali hangat. Istilah itu sangat familiar dan sedang nge-tren. Tak hanya Gen Z, para Gen X atau Gen Milenial juga tidak ketinggalan untuk up to date. Sampai petani juga ingin ikut bicara soal pemanfaatan teknologi ini, terlebih sebagai pengguna dan penerima manfaat nyata dari ekosistem teknologi blockchain ini.Katakanlah organisasi ini, salah satu penerima manfaat atau pengguna sejak 2019. Koperasi Alam Korintji (ALKO) yang ketika itu ditawari penggunaan blockchain untuk diterapkan dalam pertaniannya. Awalnya hanya sebagai alat bukti transaksi dan ketertelusuran produk, atau digitalisasi dari Indikasi Geografis (IG) yang berbasis pada lahan dan koordinat kebun, tidak hanya bentuk kertas saja. Sehingga prinsip digitalisasi blockchain yang real-time dan transparan dapat diterapkan pada kopi dari kebun hingga cangkir, hanya dalam satu klik scan QR saja. Kita tak perlu menulis setiap cerita kebun satu per satu seperti dalam website biasa atau Web 2 (dua), cukup dikoneksikan dengan blockchain maka semua akan terbaca secara otomatis, karena setiap petani memiliki blok data masing-masing. Sebelumnya setiap petani telah didata, namun sebagian petani tidak memegang datanya sendiri, tetapi data itu ada di buku besar kelompok, instansi, atau NGO yang mendatanya. Sekarang dengan blockchain, data dipegang oleh petani masing-masing dalam blok yang mereka miliki sendiri di dalam server yang terpisah, seperti disimpan di email milik petani sendiri.Kopi Kerinci produksi Koperasi ALKO adalah kopi yang pertama di Asia yang telah menerapkan blockchain dalam transaksinya sejak 2019 hingga saat ini. Aplikasi yang dibangun awalnya bernama aplikasi blockchain ALKO Mobile, lalu 2022 menjadi Kommu Apps (Komunitas Kopi Aplikasi), lalu 2023 hingga sekarang menjadi Aplikasi QThink-X. Dulu aplikasi ini hanya untuk kopi dan digunakan oleh ALKO saja, namun saat ini versi QThink-X 5.0 menjadi aplikasi yang bisa untuk semua komoditas petani dan gratis buat petani di seluruh dunia dengan alamat webnya: http://QThinkX.io (QThinkX.io). Lika-liku dalam membangun secara mandiri aplikasi QThink-X ini sejak 2022 juga berat, dimulai dari mencari developer programmer blockchain mandiri yang awalanya dari lulusan D-III AMIK dengan dinamikanya, proses berat pendataan petani, sosialisasi input petani mandiri, hingga penyiapan lokasi server sebagai ledger atau buku besarnya. Namun saat ini, paripurna aplikasi Qthink-X dengan team yang sudah profesional dalam bidangnya, QThinkX.io telah dapat digunakan oleh seluruh petani komoditas di Indonesia dan global. Koperasi ALKO mendedikasikan penggunaannya secara gratis untuk seluruh petani Indonesia dan global untuk membangun ekosistemnya sendiri.Jadi jika kita sebagai petani saat ini memiliki kelompok tani sendiri, memiliki kebun sendiri, memiliki processing sendiri, memiliki buyer atau kafe sendiri serta memiliki pelanggan sendiri, itu artinya Anda telah memiliki Ekosistem. Dan QThinkX.io ini akan menjadi alat untuk mengintegrasikan ekosistem pertanian Anda dalam satu jaringan blockchain sebagai peningkatan kekuatan Anda.Jika ekosistem Anda terintegrasi, maka Anda dan ekosistem Anda akan memiliki nilai yang lebih, karena tak hanya memiliki petani atau pelanggan di dalam buku saja, tapi bergerak bersama dalam ekosistem nyata dan dunia maya menjadi satu BUKU BESAR DIGITAL. Inilah salah satu penggunaan blockchain untuk pemanfaatan pertanian menuju fair trade dan transparansi. Dengan petani memiliki database di buku besar secara desentralisasi, maka itu menjadi kekuatan besar yang tidak bisa dikontrol atau dimonopoli, namun bergerak secara bersamaan menuju keadilan peran dalam setiap rantai pasok (Suplay Chain) usaha.Sumber foto : dokumentasi ALKOPetani memang banyak tidak paham dengan istilah dalam blockchain, dan bagi mereka petani tak mesti harus tahu hal teknis kerumitan blockchain itu, cukup benefit nya apa bagi mereka. Di sinilah diperlukan satu kelembagaan yang kuat seperti koperasi yang memiliki misi untuk kesejahteraan bersama, yang juga mesti rajin berinovasi berperan sebagai penerjemah bahasa blockchain agar bisa dipakai dan bermanfaat buat kemaslahatan petani. Seperti halnya waktu awal 2019, kami Koperasi ALKO di kaki Gunung Kerinci dikenalkan dengan kata teknologi blockchain yang asing sekali dan masih melihat dari sisi ketidaktahuan, hingga datangnya tim dari Jepang sebagai salah satu pengembang blockchain terbesar di dunia saat itu yang memberikan edukasi free kepada kami hingga beberapa bulan. Hanya karena satu proposal Koperasi ALKO yang ingin berinovasi tentang traceability untuk kopi. Namun proposal itu disambut dengan menghadirkan satu teknologi kekinian bernama traceability blockchain untuk kopi di pelosok desa area kaki gunung Kerinci.Penjelasan yang sangat sederhana dan edukatif dari para ahli teknologi Negeri Sakura saat itu kepada kita para petani yang hanya lulusan sekolah menengah di desa, tentang bagaimana cara kerja blockchain dalam jaringan.Sesi dimulai dalam satu ruangan santai dengan satu laptop dan proyektor menyorot ke dinding;Lalu kami mulai bertanya, apa itu blockchain?Dengan menjadikan Koperasi ALKO sebagai analogi sederhana mereka menjelaskan: "Seperti halnya koperasi Anda yang memiliki catatan kegiatan atau keuangan harian untuk simpanan pokok dan wajib, untuk mencatat uang masuk dan keluar, atau catatan kegiatan arisan untuk 20 orang anggota Anda yang ditulis di sebuah buku besar, sama seperti itulah yang sebenarnya diisi di dalam blockchain menjadi buku besar digital yang real-time."Dalam eksositem blockchain 20 anggota memegang bukunya masing-masing secara real-time yang biasanya hanya dipegang bendahara saja, dengan jaringan blockchain ini semua memegang salinan bukunya. Jadi kalau satu orang mau merubah, mengotak-atik angka, misal bendaharanya, langsung ketahuan karena menjadi tidak sama dengan catatan digital di 19 anggota lainnya. Catatan yang tersebar itu disebut node oleh mereka. Paling tidak data jadi aman, karena kalau mau membobol atau merubah harus membobol 19 catatan (node) lainnya. "Kebayang kan, kalau Koperasi ALKO sekarang anggotanya 42 ribu, harus bobol 42 ribu buku besar..." Mulai kepikiran logisnya oleh kita cara kerja sederhana blockchain. Jadi akan terlihat gerakan satu orang oleh 19 lainnya dalam sistem, apakah ini anomali atau normal. Jika ada anomali semua bisa saling cross-check. Sesederhana itu teknologi ini membantu memvalidasi. Peran Koperasi ALKO sebagai pelaku kopi sekaligus koperasi yang mendampingi banyak petani, teknologi ini menjadi penting untuk mengangkat nilai transparansi hingga tingkat petaninya. Katanya mereka tim Jepang sih blockchain itu sederhana, tapi bagi kami sebenarnya masih bingung.Berlanjut ke pertanyaan lagi, Bagaimana cara kerja blockchain?Mereka kembali menerangkan tapi agak teknis, harus coret-coret di kertas dan layar proyektor. Dan masih tersimpan rapi rekaman itu di arsip Koperasi ALKO. Mereka bilang: jika ada transaksi akan dicatat dalam satu blok atau satu lembar halaman, bentuknya digital sebagai wadah. Satu transaksi diberi kode unik kriptografi sebagai pengikat, satu kode satu transaksi. Seperti kita belanja di supermarket, kita dapat resi dan ada nomor resinya, nomor resi itu yang dikriptografikan atau dijadikan nomor unik yang hanya ada satu selamanya, seperti fingerprint atau seperti NIK KTP yang hanya punya satu untuk setiap orang.Walau belum sepenuhnya paham, lalu pertanyaan kami selanjutnya: apa itu kriptografi dan apa bedanya dengan crypto koin?Penjelasan ini agak panjang, tapi secara pelan mereka menjelaskan lalu kita translate pakai bahasa kampung petani. Jadi cerita dalam tulisan ini adalah versi bagaimana kami menangkap info mereka secara langsung, karena mereka menggunakan bahasa Inggris, kami dengan kemampuan dengar bahasa Inggris yang pas-pasan mencoba dengan keras untuk paham. Yang akhirnya diskusi ini harus berulang hingga 6 hari mereka stay di Kerinci di salah satu Guest House Milik Pelangi dan Homestay Familly yang juga Markas Koperasi ALKO. Oke, lanjutan ke tema, mereka menjelaskan kembali: jadi blockchain itu adalah jaringan atau rumahnya dan setiap rumah ini memiliki produk. Jadi bisa dibilang crypto ini adalah produknya blockchain yang memiliki peran sebagai mata uang. Produk lainnya ada namanya smart contract, produk lainnya ada NFT atau bahasa sederhananya untuk memberikan label unik dalam setiap barang atau aset. Produk seterusnya ada traceability atau penelusuran.Tambah penasaran kita, tanya lagi, Coba jelaskan secara singkat 4 produk ini dan seperti apa real-nya?Sepertinya mereka tambah serius, kami juga, dan sambil menyeruput kopi Kerinci yang sudah mulai terkenal enaknya sejak 2017, kami kembali fokus mendengar. Dia melanjutkan: kalau Anda membeli pulsa Handphone rp.50 ribu, Anda dapat apa? Dia bertanya. Ya, kita jawab dapat data. Dia jelaskan kamu dapat data dengan satuan byte, itu mata uang pulsa namanya. Dan di blockchain itu crypto dengan satuan hash. Anda beli pulsa dapat byte dan Anda beli crypto dapatnya hash. Kalau pulsa habis Anda top up, begitu juga kalau koin crypto Anda habis juga top up, untuk penggunaan traceability ini begitu hitungan sederhananya. Mata uang dalam blockchain saat itu dijelaskan ada Bitcoin, Ethereum, dan Cardano, ya salah satu punya mereka.Kita mulai makin mengerti sedikit, tanya lagi kita, Oke, coba jelaskan 3 produk lainnya seperti apa?Fungsi crypto sebagai mata uang jaringan blockchain. Kalau smart contract ini isinya kesepakatan yang ditulis jadi kode dalam pemrograman, sehingga jika satu orang ingin ikut dalam kontrak kerja itu, maka jaringan akan memvalidasi dan saling terkoneksi juga saling mengamankan. Contohnya aplikasi transportasi, sebut saja Goj*k, smart contract telah tersedia dalam aplikasi sehingga jalurnya terikuti dan para pihak wajib ikut aturan itu karena berdasarkan kebutuhannya. Contoh: saya butuh perjalanan ke bandara dari titik A dengan biaya rp.100 ribu, saya setuju cari mobil, lalu sistem akan mencari kebutuhan itu dalam jaringannya, lalu didapat satu kendaraan yang ambil kontrak itu, maka terjadi transaksi jasa transportasi dari titik A ke bandara yang sebelumnya tanpa kenal namun terpercaya karena adanya smart contract itu. Yang menjalankan smart contract ini adalah blockchain. Dan prinsipnya transparan: harga, jarak, dan rating driver-nya. Di sini kami sedikit paham dan terbayang jika ini diterapkan di supply chain kopi kita, maka ini bisa menjadi akses perdagangan hulu dan hilir. Dan melalui aplikasi QThinkX.io yang koperasi buat, telah memiliki menu ini sehingga petani terkoneksi dengan end user. Oke, dia melanjutkan: Jika terjadi wanprestasi, penumpang turun di jalan, maka supir akan tetap berjalan sampai ke titik kontrak yaitu bandara, karena jika tidak maka buku besar akan mencatat ada cacat kontrak dan bisa dilihat oleh 20 orang atau 42 ribu anggota koperasi. Jadi sistem ini akan menuntut komitmen.  Sampai disini kebayang oleh kami bisa jadi jawaban buat problem di pertanian yaitu inkonsistensi produksi dan inkonsistensi kualitas, skema blockchain seolah memberi jawaban dipoin mana yang perlu diperbaiki atas dua problem petanian tadi jadi bisa segera diverifikasi dan dicari prioriti solusinya. Oke, good news.Kita lanjut lagi, Oke, bagaimana kalau yang NFT dan Traceability?Ternyata kita harus bergeser ke dalam dari area luar karena hujan, Kerinci kan banyak musim hujan, dan kami 7 (tujuh) orang anak kampung yang penasaran soal blockchain terus bertanya dan tambah penasaran. Selain Suryono ada Nopa, Kelik, Pebri, Hendra, Enang, Kiting dan Pak Non ( Musnardi Moenir) yang juga ikut garuk-garuk kepala, Tim Jepang melanjutkan: NFT itu semacam pengkodean unik terhadap satu produk sehingga itu bisa jadi aset atau jadi milik yang tidak bisa digandakan orang lain. Misal KTP itu kan kode unik yang hanya milik satu orang, itu di-blockchain-kan maka akan terbaca itu punya seorang walau memakai interface apapun. Nah kami ada pertanyaan sela karena ada istilah baru, apa itu interface?. Interface itu hanya tampilan aplikasi untuk membukanya, itu bisa apa saja, bisa berbasis website biasa atau aplikasi yang di-download di Play Store katanya. Seperti BNI Mobile Banking (sekarang wondr by BNI), lalu BRImo atau lainnya itu interface namanya. Dengan blockchain walau memasukkan data lewat semua interface yang berbeda maka bisa terkoneksi dan dilihat kode hash-nya tadi dan akan terkoneksi dengan mudah. Ke depan akan tumbuh seperti itu (Waktu itu masih Web 2, sekarang blockchain Web 3 dan kedepan akan ada Web 4 yang lebih ke sinkronisasi blockchain. Jadi prediksi Web 4 sudah mereka sebut ditahun 2019 itu). Terkoneksi dengan mudah antar data dan saling melengkapi. Misalnya kalau data kita di aplikasi A tidak ada data TGL PRODUKSI dan di Aplikasi B ada data TGL PRODUKSI, maka data itu akan saling melengkapi end-to-end encryption, seperti WA kita. Jadi kode unik akan mengunci itu mejadi data utuh dan real-time. Ini jadi makin terbayang oleh kita untuk di kopi sebagai origin asal-usul agar tidak pindah alamat kopinya, dengan memberikan kode unik setiap produksinya bahkan setiap pohon kopi bisa dikasih kode unik lalu akan tercatat detail. Saat ini baru hampir 1 jutaan pohon kopi yang telah diberi kode unik dalam ekosistem Koperasi ALKO. Tentu ke depannya harapannya bisa jadi aset kolateral petani dan harusnya petani tambah bangga dan sejahtera karena ia mendaftarkan kopinya per pohon menjadi aset produktif. Kayaknya tak hanya kopi, seperti halnya tulisan atau buku atau produk karya homemade lainya bisa di-blockchain-kan agar nanti tidak diklaim sama orang lain. Teman-teman jadi liar mikirnya sampai semua mau di-blockchain-kan. Oke, ayo balik fokus ke kopi Koperasi ALKO dan aplikasi traceability QThinkX.io karya anak kampung untuk negeri ini.Lanjut ke pertanyaan sela, gimana keamanannya?Katanya dalam blockchain ada sistem keamanannya yang cukup ketat dan valid. Jadi dengan adanya node buku blok tadi, lalu diikat oleh hash kriptografinya, lalu data yang kemudian tersebar atau desentralisasi ke user atau jaringan, serta dibutuhkannya kesepakatan bersama atau konsensus saat menjalankan kontrak. Empat prinsip inilah yang menjadi kunci keamanan sistem ini. Ya, kita agak bingung dengan penjelasan itu, tapi lain kali dibahas karena sudah teknis sekali. Sesi ini cocok dibedah di kelas-kelas atau kampus.Yang kami catat keamanannya, secara real case-nya misal untuk melacak suatu produk asli memang dari pabrik atau tidak, melihat suatu produk itu halal diprosesnya atau tidak, untuk mengamankan data KTP kita supaya tidak dipalsukan, bahkan untuk bisnis yang pencatatan kontraknya dengan digital. Juga untuk melacak logistik, atau mengawasi aman tidaknya barang kopi kita dalam perjalanannya yang kiriman mulai dari sumber barang sampai ke tujuan dan tidak berubah tujuan.Banyak lagi hal teknis yang tidak semua masuk di ingatan kami, seperti bagaimana jika internet mati, bagaimana kaitannya dengan listrik, yang mereka telah jelaskan tapi kayaknya otak kita petani tidak sampai menangkapnya. Poinnya bagi petani adalah benefit-nya dan dampak jangka panjang untuk keberlanjutan pertaniannya, that is the point.Lanjut ke pertanyaan lagi, bagaimana dengan traceability, gimana penerapannya, apakah sudah ada contoh secara real?Kami petani itu khas, tanyanya yang sudah direalisasikan seperti apa, agar mudah mencontoh dan menerapkannya. Kalau dijelaskan dengan bahasa akademis bertele-tele yang ada kami tidur pulas seperti mendengar radio dan musik Sheila On 7. Sudah sore, hampir seharian penuh diskusi mereka ke kita ini seperti sudah 3 SKS. Mereka melanjutkan: Produk blockchain seperti traceability itu sudah dipakai juga seperti di Facebook, IG, dan YouTube. Misal Anda meng-upload satu lagu di medsos, katakan lagunya Iwan Fals, setelah beberapa jam lagu Anda hilang suaranya. Itu terjadi karena Anda kena copyright dari penciptanya, kalian tidak dapat izin maka di-banned status Anda. Pertanyaannya, siapa yang melakukan validasi itu? Yang melakukan adalah teknologi ketelusuran blockchain. Oh, jadi paham kita. Andai kopi kita di-traceability-kan maka asal-usul dan branding akan tetap terjaga.Banyak cerita yang tidak semua kita tulis di sini secara detail karena ada suasana emosional yang sulit menemukan padanan kata, bagaimana semangat kami ingin membuat ini mendapatkan satu titik terang untuk mewujudkannya, karena ini bicara inovasi teknologi di dunia pertanian. Ide yang datang dari pelosok desa ujung gunung di kaki Kerinci sana yang sulit dipercaya, bahkan oleh salah satu universitas ternama di Indonesia. Dan tanpa sengaja proposal dibaca oleh orang Negeri Sakura dengan nada yakin dia membalas email: "Dear Mr. Suryono Alko and team, we have read your proposal, and we see that it has great potential to discuss traceability for agricultural products in Indonesia, which has the obstacle that it is difficult to trace because the landscape is mountainous and access is still far. Our offer to you is a Blockchain-based technology to record the struggles of farmers in protecting forests while remaining productive and to avoid accusations of forest development. It's a technology that's still relatively new, but we're ready to visit you to introduce it. We hope this can be a solution for you to showcase transportation, all the supply chain actors in your ecosystem...." Setelah baca balasan email ini kita semua terdiam dan butuh banyak tisu juga menyeruput kopi.Koperasi ALKO dibangun oleh 7 (tujuh) anak muda Kerinci yang memiliki visi sama, teman satu sekolah SMP dan teman bermain kecil. Kerinci sebagai satu daerah penghasil komoditas kelas dunia, namun tak banyak yang muncul sebagai local champion apalagi memiliki akses langsung ke global, sehingga perlu terobosan. Latar belakang dari 7 (tujuh) orang yang berbeda: ada yang pedagang lokal, petani, ada yang TKI Negeri Sakura dan Negeri Jiran, dan ada yang guru. Saat berkumpul ternyata memiliki kesamaan visi, lalu berbagi pengalaman selama merantau. Hasil dari rantauan di luar negeri menjadi titik balik ide-ide itu tergabung dan menjadi satu dalam semangat filosofi koperasi yaitu ingin menjadi tuan di negeri sendiri.Aplikasi QThink-X traceability ini adalah hasil dari menjawab kesamaan visi tadi. Di bawah Koperasi ALKO, aplikasi QThink-X ( QThinkX.io / QThinkX.io) menjadi aplikasi traceability untuk hasil komoditas, sehingga kopi yang di produksi tak hanya bisa dilacak lokasi asal namun bisa tahu posisi kebun dan dapat memastikan tidak dalam kawasan yang terlarang seperti lokasi hutan lindung atau taman nasional yang mesti di jaga bersama, dan hal ini bisa dilihat secara real-time oleh pembeli di seluruh benua bahwa kopi ramah lingkungan ada didepannya.  Semua jenis komoditas petani bisa dibuat berbasis blockchain untuk transparansi supply chain dan value chain. Setiap petani di dunia sebagai pengguna digratiskan dalam memakainya, cukup daftar, divalidasi sistem, dan pakai dengan benefit akses pasar, akses harga komoditas real-time, akses terkoneksi, setiap petani dapat menampilkan story telling dibalik kopinya dari setiap kebun yang terbukti jauh dari deforestasi dan memungkinkan akses pembiayaan serta mendapatkan apresiasi dari para penikmatnya. Aplikasi ini berbayar hanya untuk produsen atau eksportir atau pelaku hilir karena akan menjadi bagian added value produk mereka dan untuk memenuhi kepatuhan aturan negara tujuan ekspor.Saatnya Petani Mesti Ber-Ekosistem.Bangga Jadi Petani.Ngopi ☕ pagiSuryono-Alko.

Read More  

Admin Alko | 17/09/2026

Kopi Agroforestri Kerinci Buka Peluang Bisnis, Lima Narasumber Soroti Produktivitas hingga Pasar Global

KERINCI, JAMBI — (11-13)Peluang bisnis kopi Kerinci semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan pasar global terhadap kopi yang berkualitas, terlacak, dan berkelanjutan. Tantangannya kini bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi mengubah cara budidaya dan membangun rantai bisnis yang mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani tanpa mengorbankan hutan.Hal itu mengemuka dalam diskusi mengenai masa depan kopi agroforestri yang dimoderatori Pebriyansah dan menghadirkan lima narasumber, yakni .Surip Mawardi, Agung Wibowo, Bang Day dari KKI WARSI, Ariansyah, dan Suryono selaku CEO ALKO.Diskusi tersebut mempertemukan perspektif penelitian dan budidaya kopi, agroforestri, perhutanan sosial, kebijakan pemerintah, serta dunia usaha. Benang merahnya sama: masa depan kopi Kerinci membutuhkan perubahan dari kebun hingga pasar.Produktivitas Harus Dimulai dari DataPeneliti kopi Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi, S.U. menekankan bahwa pengembangan kopi tidak boleh dilakukan berdasarkan asumsi.“Belum tentu masalahnya keragaan, belum tentu tanam, belum tentu market. Yang bisa menjawab adalah data,” ujar Surip.Menurut dia, data diperlukan untuk mengetahui persoalan sebenarnya di tingkat kebun, termasuk produktivitas, kondisi tanaman, varietas, dan peluang pasar.Ia juga mendorong petani melihat kopi sebagai investasi jangka panjang. Kebun yang dikelola dengan baik bukan hanya menghasilkan panen, tetapi dapat menjadi aset ekonomi keluarga.Agroforestri Jadi Jalan TengahPak Agung menyoroti pentingnya agroforestri sebagai pendekatan yang menggabungkan kepentingan ekonomi dan lingkungan.Pengembangan kopi, menurutnya, tidak seharusnya hanya mengejar jumlah tanaman, tetapi juga mempertahankan tanaman kehutanan dan komoditas lain yang memiliki nilai ekonomi.“Agroforestri harus mampu menjaga hutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi,” menjadi garis besar pandangannya.Diversifikasi tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap satu komoditas sekaligus membangun sumber pendapatan yang lebih beragam.Perhutanan Sosial Harus Menghasilkan Nilai EkonomiDari perspektif masyarakat dan kawasan hutan, Bang Day dari KKI WARSI menekankan pentingnya perencanaan secara partisipatif.Setelah masyarakat memperoleh akses melalui perhutanan sosial, tantangan berikutnya adalah bagaimana kawasan tersebut dikelola dan menghasilkan manfaat nyata.Potensi ekonomi perlu diidentifikasi, baik di dalam maupun di sekitar kawasan.“Ketika kebutuhan ekonomi tidak terpenuhi, hutan juga terancam,” menjadi salah satu pesan penting dalam diskusi.Karena itu, kopi dapat dikembangkan bersama tanaman kayu, buah-buahan dan komoditas lainnya sehingga masyarakat tidak bergantung pada satu sumber pendapatan.Pemerintah Perlu Memperkuat EkosistemDari sisi pemerintah, Ariansyah menekankan pentingnya kebijakan yang melindungi sekaligus memberdayakan petani.Menurutnya, setiap wilayah memiliki karakter petani dan komoditas yang berbeda. Di wilayah barat Jambi, kopi telah menjadi bagian dari tradisi dan identitas masyarakat.Pengembangannya perlu didukung melalui praktik pertanian berkelanjutan, termasuk Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).Dukungan pemerintah, menurut Ariansyah, tidak cukup berupa bantuan produksi. Petani juga perlu diperkuat dari sisi kemampuan, kelembagaan, pembiayaan dan akses pasar.Pemberdayaan Perempuan Jadi Kekuatan BisnisSementara itu, CEO ALKO Suryono membawa diskusi pada hubungan antara bisnis, keberlanjutan dan pasar global.“ALKO dalam berbisnis ingin melindungi alam dan memberdayakan masyarakat,” kata Suryono.Ia menilai perempuan memiliki peran besar dalam rantai kopi, mulai dari penanaman hingga sortasi. Namun, keterlibatan tersebut harus ditingkatkan dari sekadar tenaga kerja menjadi bagian dari manajemen.“Perempuan jangan hanya jadi buruh, tapi harus ikut dalam manajemen,” ujarnya.Menurut Suryono, pemberdayaan perempuan, masyarakat, perlindungan lingkungan dan traceability dapat menjadi kekuatan bisnis ketika kopi masuk ke pasar internasional.Dari Kebun Kerinci ke Pasar GlobalDiskusi yang dimoderatori Pebriyansah menemukan satu kesimpulan utama: masa depan kopi Kerinci tidak cukup dibangun hanya dengan meningkatkan produksi.Kopi harus memiliki produktivitas, kualitas, sistem agroforestri, kelembagaan petani, traceability, serta akses pasar yang kuat.Peluang pasar tersebut mulai terlihat dari perkembangan ekspor kopi Kerinci. Pada Festival Pesta Rakyat Petani Kopi Kerinci 2026, sebanyak 7 ton kopi dilepas ke Kanada dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar dan 7 ton lainnya ke Malaysia dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar. PT ALKO juga menandatangani MoU dengan Royal Coffee dari Amerika Serikat untuk rencana ekspor dua kontainer pada Oktober dan November 2026.Tantangan Berikutnya adalah PerubahanPebriyansah menilai tantangan terbesar ke depan bukan sekadar bagaimana menanam kopi lebih banyak, tetapi bagaimana mengubah cara pandang terhadap kopi.“Kita tidak bisa lagi melihat kopi hanya sebagai tanaman. Kopi adalah bagian dari ekosistem yang menghubungkan petani, hutan, teknologi, perempuan, perusahaan dan pasar,” ujar Pebriyansah.Karena itu, perubahan harus dilakukan bersama. Petani meningkatkan produktivitas, pendamping memperkuat kapasitas masyarakat, pemerintah membangun kebijakan dan ekosistem, perusahaan membuka pasar, sementara teknologi memastikan proses produksi dapat ditelusuri dan memberikan nilai tambah.Pada akhirnya, keberhasilan kopi agroforestri Kerinci bukan hanya diukur dari jumlah kopi yang dihasilkan, tetapi dari seberapa besar nilai ekonomi kembali kepada petani, seberapa kuat masyarakat diberdayakan, dan seberapa baik hutan tetap terjaga.Kopi Kerinci pun berpeluang berkembang bukan sekadar sebagai komoditas, tetapi menjadi model bisnis agroforestri yang mempertemukan ekonomi, lingkungan, teknologi dan kesejahteraan masyarakat untuk menghadapi pasar global.

Read More  

Admin Alko | 14/09/2026

Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 Perkuat Ekosistem Kopi dari Petani hingga Pasar Global

KERINCI, Jambi —11-13/ Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO) bersama petani dan berbagai mitra menyelenggarakan Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 pada 11–12 September 2026 di Desa Batang Sangir, Kabupaten Kerinci, Jambi.Mengusung semangat memperkuat ekosistem kopi dari hulu hingga hilir, festival ini mempertemukan petani, kelompok tani, koperasi, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, komunitas, hingga pembeli kopi dari pasar internasional.Rangkaian kegiatan tidak hanya menjadi ajang perayaan petani kopi, tetapi juga menjadi momentum memperkuat akses pembiayaan, traceability, perdagangan kopi, hilirisasi, serta kemitraan kehutanan dan agroforestri.ALKO dan BPDLH Perkuat Akses Dana Bergulir PetaniSalah satu agenda utama festival adalah penandatanganan sejumlah kerja sama strategis, termasuk Memorandum of Understanding (MoU) antara ALKO dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat peran ALKO sebagai mitra agregator dalam membantu akses pembiayaan fasilitas dana bergulir kepada petani binaan koperasi ALKO.Pada tahap awal, program akan menyasar petani binaan di Kerinci, Jambi dan Bengkulu, dengan target sekitar 100 petani dan nilai pembiayaan diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar.Program kemudian direncanakan berkembang menjadi sekitar 800 petani, dan tahap berikutnya mencapai 2.500 petani binaan ALKO, dengan target penyaluran pembiayaan hingga Rp37,5 miliar sampai 2027.Skema tersebut juga akan diperkuat dengan pemanfaatan teknologi QThink-X untuk mendukung data, monitoring dan mitigasi dalam ekosistem petani.Kolaborasi ALKO dan WARSISelain dengan BPDLH, ALKO juga menandatangani MoU dengan KKI WARSI untuk mengembangkan potensi hutan adat, sumber daya lokal dan kelompok binaan WARSI.Dalam kerja sama tersebut, ALKO diposisikan untuk dapat berperan sebagai offtaker maupun agregator bagi produk dan potensi ekonomi masyarakat binaan.Kerja sama ini memperluas pendekatan ALKO yang tidak hanya berorientasi pada perdagangan kopi, tetapi juga membangun keterhubungan antara petani, masyarakat sekitar hutan, konservasi, agroforestri dan pasar.Kontrak Pembelian Kopi dengan Royal Coffee USAFestival juga menjadi momentum penguatan akses pasar internasional.ALKO menandatangani kontrak pembelian kopi dengan Royal Coffee USA untuk kopi Kerinci yang direncanakan dikirim pada Oktober dan November 2026.Kontrak tersebut mencakup dua kontainer kopi dengan nilai sekitar Rp6,5 miliar atau USD 365.000.Kesepakatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pasar kopi Kerinci sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani dan ekosistem produksi di tingkat hulu.Pelepasan Ekspor Kopi ke Kanada dan MalaysiaDalam rangkaian acara, ALKO juga melakukan pelepasan ekspor kopi ke pasar internasional.Sebanyak 7 ton kopi senilai sekitar USD74.000 dilepas menuju Kanada. Jumlah yang sama juga dilepas menuju Malaysia kepada dua buyer, dengan nilai sekitar USD74.000.Dengan demikian, total ekspor yang dilepas dalam momentum tersebut mencapai 14 ton, dengan nilai sekitar USD148.000 atau Rp2,6 miliar.Pelepasan ekspor ini menjadi simbol bahwa kopi Kerinci tidak hanya memiliki potensi sebagai komoditas lokal, tetapi juga semakin terhubung dengan rantai perdagangan global.Festival Tidak Berhenti di PerdaganganFestival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan edukasi dan interaksi langsung dengan ekosistem kopi.Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan tari selamat datang, doa, sambutan para pemangku kepentingan, penandatanganan kerja sama, pelepasan ekspor, serta pertunjukan budaya berupa Tari Petani dan Reog.Pada sore hari, peserta mengikuti Coffee Fun Brew, lomba kopi, seminar dan business matching.Sementara pada hari kedua, peserta mengikuti coffee field trip dengan mengunjungi pabrik ALKO, kebun kopi dan lokasi pengolahan kopi sebelum kembali ke lokasi festival.Di lokasi utama, kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Internasional, Coffee Fun Brewing dan diskusi mengenai masa depan kopi Kerinci.Salah satu tema penting yang diangkat adalah “Upaya Membangun Ekosistem Traceability Kopi Agroforestry Kerinci Berbasis Blockchain Web 3.0” sebagai bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah dan daya saing kopi Kerinci di pasar global.Dari Kebun, Teknologi hingga Pasar DuniaKetua Pembina Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO), Suryono, dalam rangkaian kegiatan tersebut menekankan pentingnya membangun ekosistem yang menghubungkan petani dengan pembiayaan, teknologi, pengolahan dan pasar.Menurutnya, penguatan koperasi tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Petani juga membutuhkan akses terhadap teknologi, pembiayaan dan kepastian pasar.Melalui berbagai kerja sama yang dibangun, ALKO mendorong agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi menjadi bagian penting dalam rantai nilai kopi yang lebih transparan dan berkelanjutan.Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 akhirnya menjadi ruang pertemuan antara petani, hutan, teknologi, pembiayaan dan pasar internasional.Dari Kerinci, pesan yang dibawa adalah bahwa masa depan kopi tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji, tetapi juga oleh bagaimana seluruh ekosistem di belakangnya—mulai dari petani, koperasi, lingkungan, teknologi hingga pembeli global—dibangun secara bersama-sama.

Read More  

Admin Alko | 14/09/2026

Ekspor Perdana Kopi Bengkulu ke Italia: Wakil Gubernur Dukung Penuh, ALKO dan BI Perkuat Ekosistem Petani Siap Ekspor

BENGKULU,  Sejarah baru bagi Provinsi Bengkulu terukir pada Senin, 7 September 2026. Untuk pertama kalinya, kopi asal Bumi Rafflesia resmi diekspor langsung dengan identitas daerah sendiri. Sebanyak 1,92 ton biji kopi robusta dengan branding "Ngopi Bengkulu" dilepas ke Italia, menandai babak baru dalam perjalanan komoditas unggulan daerah menuju panggung dunia.Acara pelepasan ekspor perdana ini berlangsung di Kabupaten Kepahiang dan dihadiri oleh Wakil Gubernur Bengkulu, Bupati Kepahiang H. Zurdinata, unsur Forkopimda, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat, pelaku usaha, serta puluhan wartawan ekonomi.Momen ini bukan sekadar seremoni. Selama ini, kopi Bengkulu yang merupakan produsen kopi peringkat 5 nasional dengan produksi mencapai 55 ribu ton atau 7,23 persen dari total produksi nasional pada 2023, kerap keluar negeri tanpa identitas daerah. Aktivitas ekspor kopi memang telah berlangsung, namun komoditas tersebut belum sepenuhnya tercatat sebagai ekspor yang berasal langsung dari Bengkulu.Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menegaskan bahwa ekspor perdana ini menjadi momentum penting bagi Provinsi Bengkulu."Ekspor kopi sering kali dilakukan, bahkan mungkin setiap hari. Tetapi ekspor yang tercatat berasal dari Bengkulu, dengan Surat Keterangan Asal atau Certificate of Origin yang berasal dari Bengkulu, mungkin baru dilakukan hari ini," ujar Wahyu.Menurutnya, kondisi tersebut menjadi catatan penting dalam perjalanan perekonomian Provinsi Bengkulu. Ia berharap momentum ekspor perdana ini dapat menjadi awal bagi semakin banyak komoditas unggulan daerah yang tercatat sebagai produk ekspor Bengkulu.Wakil Gubernur: Ini Langkah Awal, Tak Ada Lagi Kopi Bengkulu Bernama Kopi LampungWakil Gubernur Bengkulu dalam sambutannya menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan ekspor perdana ini. Ia menegaskan bahwa momentum ini menjadi langkah awal yang sangat penting bagi Provinsi Bengkulu."Saya mendukung penuh kegiatan perdana ini. Ke depannya, ini menjadi langkah awal yang menentukan. Tidak boleh lagi ada kopi Bengkulu yang keluar dengan nama kopi Lampung. Kopi Bengkulu harus punya nama sendiri, identitas sendiri, dan kita mulai hari ini," tegas Wakil Gubernur.Pernyataan ini merespons kondisi selama ini di mana kopi Bengkulu yang memiliki kualitas baik kerap dipasarkan melalui provinsi lain sehingga tercatat sebagai ekspor daerah lain. Dengan adanya Surat Keterangan Asal (SKA) Bengkulu dan branding "Ngopi Bengkulu", identitas kopi daerah kini mulai terbangun.Wakil Gubernur juga mengapresiasi peran PT ALKO Sumatera Kopi yang telah menjadi motor penggerak ekosistem kopi Bengkulu, mulai dari pendampingan petani hingga fasilitasi ekspor langsung ke pasar internasional."Ngopi Bengkulu": Dari Identitas Daerah Menuju Merek GlobalSelama ini kopi Bengkulu memiliki kualitas yang baik, namun masih menghadapi tantangan pada aspek branding, hilirisasi, dan akses pasar. Sebagian besar kopi Bengkulu dipasarkan melalui provinsi lain sehingga identitas kopi daerah kurang dikenal langsung di pasar internasional.Bupati Kepahiang H. Zurdinata menyatakan bahwa ekspor kopi melalui Pelabuhan Pulau Baai memberikan nilai tersendiri bagi Provinsi Bengkulu. Sebab, kopi yang dikirim ke pasar luar negeri tersebut membawa nama Bengkulu sebagai daerah penghasil kopi."Ekspor kopi kali ini Bengkulu dapat nama, karena diekspor lewat Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu. Terbentuk pasar di internasional ini berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani kopi," ujar Zurdinata.Menurutnya, ekspor perdana tersebut tidak hanya sebatas kegiatan perdagangan, tetapi menjadi awal untuk membangun "branding kopi Bengkulu" agar semakin dikenal di pasar dunia. Dengan terbentuknya pasar internasional, rantai ekonomi komoditas kopi diharapkan semakin kuat dan memberikan manfaat lebih besar bagi petani.Zurdinata menyebutkan, Rejang Lebong, Lebong dan Kepahiang merupakan daerah penghasil kopi Robusta yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara bersama. Penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) di tiga daerah tersebut dinilai penting untuk membangun kolaborasi pertanian yang mampu menembus pasar global.Bantuan Sarana Produksi dari BI untuk UMKM Binaan ALKODalam acara yang sama, dilakukan penyerahan bantuan sarana produksi kepada dua UMKM binaan ALKO, yaitu:1. Koperasi Belirang Bumi Persada2. Koperasi Sinar Alamat SentosaBantuan berupa mesin roasting dan mesin sortasi ini diberikan oleh Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu sebagai bentuk dukungan nyata terhadap penguatan kapasitas produksi kopi daerah. Kepala Perwakilan BI Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menyampaikan bahwa bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas olahan kopi sehingga nilai tambah produk semakin tinggi."Kami dari BI Bengkulu memberikan bantuan mesin roasting dan mesin sortasi kepada dua koperasi binaan ALKO. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk mendukung penguatan kapasitas petani dan pelaku usaha kopi di Bengkulu agar siap ekspor," ujar Wahyu.Lima KUPS dan Koperasi Ikut dalam Ekspor PerdanaSelain dua koperasi penerima bantuan, ekspor perdana kali ini juga melibatkan 3 KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial) binaan Warsi yang kopinya ikut dikirim dalam container ekspor ALKO ke Italia, yaitu:1. KUPS Pesona Bukit Resam2. KUPS Kopi Sako Lemunakai3. KUPS Sumur Alam (Bengkulu Utara)Kelima entitas petani ini menjadi bagian dari ekosistem kopi Bengkulu yang kini mulai terhubung langsung dengan pasar ekspor. Produksi kopi mereka dikonsolidasikan oleh ALKO sebagai agregator dan dikirim bersama dalam ekspor perdana yang bersejarah ini.ALKO dan BI Jalin Kerja Sama Inklusif Bangun Petani Siap EksporDirektur PT ALKO Sumatera Kopi menegaskan bahwa perusahaan memiliki kerja sama yang inklusif dengan Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu dalam membangun petani siap ekspor di Kabupaten Rejang Lebong dan sekitarnya."ALKO memiliki kerja sama inklusif dengan BI Bengkulu untuk membangun petani siap ekspor di Rejang Lebong dan Bengkulu. Kami bersama BI melakukan pendampingan mulai dari hulu, peningkatan kualitas, penguatan kelembagaan, hingga akses pasar ekspor," jelas perwakilan ALKO.Kerja sama ini mencakup berbagai aspek, antara lain:· Pendampingan teknis budidaya kopi berkualitas· Pelatihan pascapanen dan pengolahan· Penguatan kelembagaan koperasi dan KUPS· Fasilitasi akses pembiayaan· Penggunaan teknologi traceability QThink-X· Pendampingan sertifikasi dan standar eksporQThink-X: Teknologi Traceability untuk Transparansi Rantai PasokALKO juga memperkenalkan implementasi sistem QThink-X, platform traceability berbasis blockchain yang memungkinkan asal-usul kopi dapat ditelusuri mulai dari petani, lahan, proses pasca panen, hingga distribusi ekspor. Teknologi ini dinilai penting untuk menjawab tuntutan pasar global yang kini semakin ketat terhadap standar keberlanjutan dan transparansi produk.Direktur Operasional PT ALKO Sumatra Kopi, Hongly Fernando, dalam forum diskusi sebelumnya menyoroti pentingnya transformasi industri kopi nasional yang tidak hanya fokus pada produksi bahan baku, tetapi juga pada pembangunan identitas daerah, transparansi rantai pasok, dan penguatan merek kopi Indonesia di pasar dunia."Pasar global hari ini tidak hanya membeli kopi, tetapi juga membeli cerita, asal-usul, keberlanjutan, dan transparansi produk. Karena itu kopi Bengkulu memiliki peluang besar jika dibangun dengan ekosistem yang kuat," ujar Hongly.Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung petani, Koperasi Petani Alam Korintji (ALKO) memberikan akses penggunaan platform QThink-X secara gratis kepada petani dan kelompok tani di Bengkulu. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat digitalisasi sektor pertanian sekaligus membantu petani memenuhi standar pasar global tanpa beban biaya tambahan.Dukungan BI Bengkulu dan Kolaborasi Lintas SektorBank Indonesia Perwakilan Bengkulu memainkan peran penting dalam mendorong penguatan komoditas kopi daerah agar mampu menembus pasar internasional secara langsung. BI juga menekankan pentingnya peran perbankan dalam mendukung pelaku usaha, khususnya UMKM dan eksportir kopi.Wahyu mengatakan dukungan perbankan diperlukan tidak hanya dalam pembiayaan pengembangan produksi, tetapi juga pada tahap transaksi perdagangan internasional."Kalau kita ingin berusaha agar UMKM lebih kuat lagi, perbankan menjadi kunci, baik untuk pengembangan produksi maupun nanti pada saat fasilitasi untuk kredit ekspor," jelasnya.Ia menambahkan, bank devisa memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekspor, termasuk fasilitasi penerbitan Letter of Credit (LC) serta berbagai kebutuhan transaksi perdagangan internasional lainnya.BI Bengkulu juga terus mendorong pelaku UMKM kopi untuk meningkatkan kualitas, kapasitas produksi, serta memperluas akses pasar hingga tingkat nasional dan internasional. BI bahkan mengarahkan kopi Bengkulu untuk membangun kerja sama dengan jaringan kedai kopi berskala nasional dan internasional, termasuk Starbucks dan Tomoro Coffee.Potensi Besar dan Tantangan ke DepanProvinsi Bengkulu memiliki potensi signifikan pada kopi robusta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Bengkulu merupakan produsen kopi terbesar ke-5 di Indonesia dengan produksi mencapai 55 ribu ton. Namun, tantangan pada aspek tata kelola usaha, kelembagaan, serta mutu pascapanen masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan bersama.Gubernur Bengkulu Helmi Hasan menegaskan bahwa potensi besar yang dimiliki daerah, khususnya sektor kopi dan perhutanan sosial, harus mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat.Sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah, pada awal tahun 2026 telah diluncurkan Program Kopi Merah Putih, yang menjadi salah satu strategi percepatan hilirisasi kopi dan penguatan ekonomi masyarakat desa. Program tersebut kini sejalan dengan peluncuran Strategi dan Transformasi Ekonomi Komunitas Perhutanan Sosial (PS) yang fokus pada pengembangan model bisnis berbasis masyarakat.Provinsi Bengkulu menjadi salah satu dari tujuh provinsi di Indonesia yang menjadi lokus intervensi program tersebut, dengan total dukungan anggaran sebesar USD 1.453.904 atau setara Rp23,55 miliar dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan RI.Harapan Besar untuk Kesejahteraan PetaniDengan adanya branding dan pengiriman langsung dari Bengkulu, diharapkan Kopi Bengkulu dapat dikenal di tingkat dunia. Hal ini diyakini akan berdampak pada peningkatan permintaan, kenaikan harga, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Provinsi Bengkulu.Bupati Kepahiang dalam sambutannya menegaskan bahwa ini bukan sekadar ekspor biasa."Ini adalah langkah awal kita untuk membawa nama Kopi Bengkulu ke dunia. Kalau sudah dikenal dunia, pasarnya pasti banyak, pembelinya pasti banyak, dan ujungnya harga kopi petani kita naik. Harapan kita satu: meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Provinsi Bengkulu," tegasnya.Wakil Gubernur Bengkulu menutup sambutannya dengan optimisme tinggi."Ini langkah awal kita. Tidak boleh lagi ada kopi Bengkulu yang keluar dengan nama daerah lain. Kita mulai dari sekarang, kita bangun bersama, dan saya yakin kopi Bengkulu akan dikenal dunia," pungkasnya.BI Bengkulu berharap ekspor perdana ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus menjadi pintu masuk untuk memperkuat rantai pasok kopi Bengkulu dari hulu hingga hilir. Mulai dari peningkatan kualitas produksi, pengolahan pascapanen, pembiayaan, sertifikasi, penguatan kelembagaan petani, hingga pemasaran internasional perlu dilakukan secara berkesinambungan.Ekspor perdana ini juga menunjukkan bahwa kopi Bengkulu memiliki peluang untuk menembus pasar global. BI Bengkulu selanjutnya berupaya memperluas akses pasar agar produk kopi daerah tidak berhenti pada pasar ekspor, tetapi juga masuk ke rantai pasok perusahaan dan jaringan usaha berskala besar.Sinergi antara pemerintah daerah, BI, perbankan, eksportir, pelaku UMKM, dan petani dinilai menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem ekspor yang berkelanjutan. Dengan terbukanya peluang ekspor dan rencana kemitraan dengan jaringan kedai kopi besar, kopi Bengkulu diharapkan semakin dikenal sebagai salah satu produk unggulan daerah dan membawa manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan.

Read More  

Admin Alko | 07/09/2026

Festival Pesta Rakyat Petani Kopi Kayu Aro Kerinci 2026, Menguatkan Ekosistem Kopi dari Hulu hingga Hilir

KERINCI, JAMBI — Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO) bersama Petani Kopi Kerinci akan menyelenggarakan Festival Pesta Rakyat Petani Kopi Kayu Aro Kerinci 2026 pada 11–12 September 2026 di Aula Podium/Lapangan Desa Batang Sangir, Kabupaten Kerinci, Jambi.Festival ini dirancang sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem kopi Kerinci dari hulu hingga hilir. Petani dan kelompok tani, koperasi, UMKM, pelaku usaha, pemerintah, asosiasi, akademisi, hingga mitra pasar dari dalam dan luar negeri akan dipertemukan dalam satu rangkaian kegiatan.Bagi ALKO, festival ini bukan sekadar agenda perayaan petani kopi. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak yang memiliki peran dalam membangun masa depan kopi Kerinci secara bersama-sama.Mempertemukan Petani dan PasarSejumlah agenda telah disiapkan dalam festival, mulai dari pembukaan, seminar dan diskusi, business matching, forum hilirisasi, hingga pengenalan kebun dan proses pengolahan kopi.Melalui business matching, petani, koperasi, UMKM dan pelaku usaha akan memperoleh ruang untuk membangun komunikasi langsung dengan calon mitra pasar.Forum tersebut juga diharapkan dapat membuka peluang kerja sama baru sekaligus memperkuat hubungan antara produsen kopi di tingkat lokal dengan pasar yang lebih luas.Sementara itu, forum hilirisasi akan membahas bagaimana kopi Kerinci dapat dikembangkan tidak hanya sebagai komoditas bahan baku, tetapi juga menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih besar.Traceability Kopi Agroforestry Berbasis BlockchainSalah satu agenda inti festival adalah talk show dengan tema:“Upaya Membangun Ekosistem Traceability Kopi Agroforestry Kerinci Berbasis Blockchain Web 3.0 sebagai Kekuatan Nilai Tambah Kopi Kerinci untuk Pasar Global.”Tema ini menjadi bagian penting dalam festival karena perkembangan industri kopi semakin membutuhkan transparansi dan ketertelusuran.Melalui sistem traceability, informasi mengenai perjalanan kopi dari tingkat kebun hingga pasar dapat dikembangkan secara lebih terstruktur.Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan terhadap produk kopi Kerinci, sekaligus memberikan ruang bagi identitas petani, kebun, proses produksi dan karakter wilayah untuk tetap menjadi bagian dari cerita produk.Bagi ALKO, teknologi bukan tujuan akhir. Teknologi diharapkan menjadi infrastruktur yang membantu memperkuat hubungan antara petani, koperasi, pelaku usaha dan pasar.Melihat Kopi dari KebunFestival juga akan membawa peserta lebih dekat dengan sumber produksi melalui pengenalan kebun dan proses pengolahan kopi.Agenda ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung bagaimana kopi diproduksi dan diproses sebelum menjadi produk yang dipasarkan.Pendekatan tersebut penting untuk memperlihatkan bahwa di balik secangkir kopi terdapat proses panjang yang melibatkan petani, lingkungan, pengetahuan lokal, pengolahan dan rantai perdagangan.Khusus bagi kopi Kerinci, aspek agroforestry menjadi bagian penting dari pembicaraan mengenai keberlanjutan produksi.Pengembangan kopi dalam sistem agroforestry dapat mempertemukan kepentingan ekonomi petani dengan upaya menjaga keberagaman tanaman dan lingkungan.Ruang KolaborasiFestival Pesta Rakyat Petani Kopi Kayu Aro Kerinci 2026 diharapkan menjadi ruang bertemunya berbagai perspektif.Pemerintah memiliki peran dalam menciptakan kebijakan dan ekosistem pendukung. Akademisi dapat berkontribusi melalui pengetahuan dan riset. Pelaku usaha membuka akses terhadap pengolahan dan pasar. Sementara petani menjadi aktor utama yang menghasilkan kopi dari tingkat kebun.Koperasi kemudian menjadi salah satu penghubung yang memperkuat posisi petani dalam ekosistem tersebut.Kolaborasi lintas pihak inilah yang menjadi salah satu gagasan utama festival.Menguatkan Kopi KerinciMelalui festival ini, ALKO bersama petani kopi Kerinci ingin mendorong agar pengembangan kopi dilakukan secara lebih terintegrasi.Tidak hanya berbicara mengenai produksi, tetapi juga mencakup kelembagaan petani, kualitas, pengolahan, hilirisasi, teknologi traceability, akses pembiayaan, pemasaran dan hubungan dengan pasar.Dengan pendekatan tersebut, festival diharapkan menghasilkan lebih dari sekadar diskusi. Pertemuan antarpihak dapat menjadi awal dari kerja sama dan program yang memberikan manfaat nyata bagi petani.Festival Pesta Rakyat Petani Kopi Kayu Aro Kerinci 2026 akan berlangsung:Tanggal: 11–12 September 2026Tempat: Aula Podium/Lapangan Desa Batang SangirKabupaten: Kerinci, Provinsi JambiDari Kayu Aro, festival ini membawa satu pesan utama: masa depan kopi Kerinci dibangun bersama—dari kebun petani, melalui koperasi dan teknologi, hingga terhubung dengan pasar.

Read More  

Admin Alko | 04/09/2026

Ekspor Rutin Kopi Arabika Specialty ALKO ke Malaysia Dilakukan via Belawan

MEDAN — Aktivitas perdagangan kopi Arabika specialty Indonesia kembali dilakukan ALKO Sumatra Kopi melalui pengiriman menuju Malaysia. Pengiriman pada Agustus 2026 ini dilakukan melalui Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, sebagai bagian dari aktivitas ekspor rutin ALKO ke pasar regional.Pengiriman tersebut mengusung tema “Road to Ekspor Kopi Arabika Specialty Indonesia Berbasis Traceability Blockchain ke Malaysia – Agustus 2026 via Belawan.” Dalam dokumentasi pengiriman, kopi telah dipersiapkan dalam kemasan ekspor dan ditempatkan di fasilitas logistik sebelum diberangkatkan menuju Malaysia.Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pengiriman ini adalah penggunaan pendekatan traceability melalui QThink-X Traceability Apps. Sistem tersebut dikembangkan untuk mendukung pencatatan dan keterlacakan rantai pasok kopi, sehingga informasi mengenai perjalanan produk dari sumber produksi hingga perdagangan dapat dikelola secara lebih terstruktur.Ekspor Rutin, Bukan Sekadar PengirimanBagi ALKO, aktivitas ekspor ke Malaysia merupakan bagian dari kesinambungan perdagangan kopi Indonesia dengan pasar internasional. Karena itu, pengiriman ini tidak ditempatkan sebagai sekadar pencapaian satu kali, melainkan bagian dari upaya menjaga kontinuitas pasokan dan hubungan dagang dengan mitra di luar negeri.Malaysia juga menjadi salah satu pasar regional yang strategis bagi kopi Indonesia. Kedekatan geografis dengan Indonesia membuka peluang pengembangan perdagangan sekaligus memungkinkan terbentuknya rantai pasok yang lebih efisien.Namun, perkembangan perdagangan kopi saat ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyediakan produk. Pembeli semakin membutuhkan informasi mengenai asal-usul, proses produksi, kualitas, dan perjalanan produk.Dalam konteks tersebut, traceability menjadi bagian penting dari pengembangan perdagangan kopi.Menghubungkan Petani dengan PasarPenggunaan QThink-X diarahkan untuk mendukung keterhubungan antara data di tingkat hulu dengan aktivitas perdagangan di tingkat hilir.Bagi ekosistem kopi, pendekatan ini memiliki arti penting karena nilai sebuah kopi specialty tidak hanya berada pada produk akhirnya. Identitas wilayah, petani, proses budidaya, pascapanen, pengolahan dan rantai perdagangan turut membentuk nilai produk.Dengan sistem ketertelusuran, informasi tersebut dapat dikelola secara lebih sistematis sehingga hubungan antara petani, koperasi, pengolah, eksportir dan pembeli dapat dibangun dalam satu ekosistem data.Konsep tersebut juga membuka peluang pengembangan layanan yang lebih luas di masa mendatang, termasuk penguatan akses pasar, pembiayaan, pemenuhan standar keberlanjutan dan pengelolaan risiko rantai pasok.Dari Belawan Menuju MalaysiaPemilihan Belawan sebagai jalur pengiriman memperlihatkan peran penting pelabuhan di Sumatera Utara dalam mendukung perdagangan komoditas dari Sumatera menuju pasar regional.Kopi yang telah dipersiapkan untuk ekspor kemudian masuk dalam proses logistik sebelum diberangkatkan ke Malaysia. Dokumentasi pengiriman pada 20 Agustus 2026 menunjukkan komoditas telah berada di fasilitas logistik di kawasan Surabaya sebelum proses pengiriman melalui jalur Belawan.Dengan demikian, rantai logistik kopi membutuhkan koordinasi dari titik pengumpulan dan pengolahan hingga pelabuhan keberangkatan.Bagi ALKO, aspek tersebut menjadi bagian dari proses membangun perdagangan kopi yang tidak hanya berorientasi pada volume, tetapi juga pada konsistensi kualitas, ketertelusuran dan keberlanjutan hubungan dagang.Teknologi sebagai Infrastruktur KepercayaanPerdagangan kopi specialty membutuhkan tingkat kepercayaan yang tinggi antara produsen dan pembeli. Teknologi traceability kemudian menjadi salah satu instrumen yang dapat membantu menyediakan informasi tersebut.Melalui QThink-X, ALKO mengembangkan pendekatan digital untuk mendukung pencatatan rantai pasok. Teknologi ditempatkan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk memperkuat hubungan antara produksi kopi di tingkat petani dengan kebutuhan pasar.Model ini sejalan dengan arah perkembangan industri kopi global yang semakin menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam rantai pasok.Karena itu, ekspor rutin ke Malaysia sekaligus menjadi ruang untuk terus mengembangkan penerapan teknologi dalam perdagangan kopi Indonesia.Menjaga Nilai Tambah di Tingkat PetaniPada akhirnya, penguatan ekspor diharapkan tidak hanya meningkatkan aktivitas perdagangan, tetapi juga memberikan dampak lebih besar bagi petani kopi.Ketika asal-usul dan perjalanan produk dapat terdokumentasi dengan baik, identitas kopi dari wilayah produksi dapat dipertahankan ketika produk memasuki pasar. Hal ini menjadi penting bagi pengembangan kopi specialty yang memiliki karakter dan nilai berdasarkan daerah asalnya.ALKO menempatkan petani dan kelembagaan ekonomi mereka sebagai bagian dari rantai nilai tersebut. Dengan dukungan teknologi, perdagangan dan pengelolaan data diharapkan dapat berjalan lebih terintegrasi.Pengiriman kopi Arabika specialty Indonesia ke Malaysia melalui Belawan pada Agustus 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana perdagangan rutin, logistik dan teknologi traceability mulai berjalan dalam satu ekosistem.Bagi kopi Indonesia, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar bagaimana produk dapat masuk ke pasar internasional, tetapi bagaimana hubungan dagang dapat dijaga secara konsisten, produk dapat ditelusuri, dan nilai tambah dapat semakin dirasakan di tingkat petani.Dari kebun ke pasar, kopi Indonesia tidak hanya dikirim—tetapi juga membawa data, identitas, dan cerita dari para petaninya.

Read More  

Admin Alko | 03/09/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started WhatsApp

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.