Berikut adalah bab selanjutnya:
Di dunia kopi spesialti, kualitas bukanlah sekadar urusan selera subjektif, tetapi hasil dari evaluasi sensorik yang sistematis dan terstandarisasi. Cupping adalah metode ilmiah untuk mencicipi, menilai, dan membandingkan kopi secara objektif, digunakan oleh petani, roaster, Q Grader, buyer, hingga barista.
Bagi ALKO Sumatra Kopi, cupping bukan hanya soal rasa, tapi alat penting untuk kontrol mutu, identifikasi potensi, dan penentu harga jual. Dalam bab ini, kita akan membahas bagaimana cupping dilakukan secara ilmiah, parameter apa saja yang dinilai, bagaimana hasilnya mempengaruhi rantai nilai, serta bagaimana ALKO membangun kultur penilaian sensorik di ekosistem petaninya.
Cupping adalah proses mencicipi kopi menggunakan standar SCA (Specialty Coffee Association) untuk:
Menilai kualitas rasa dan aroma kopi.
Menentukan cupping score (skor cita rasa dari 0–100).
Mendeteksi cacat (defect) atau masalah dari proses hulu.
Membandingkan berbagai jenis kopi dan proses pascapanennya.
Grinder burr (bukan blade)
Timbangan akurat
Sendok cupping
Cupping bowl (150–200 ml)
Termometer
Stopwatch
Rasio: 8.25 gr kopi per 150 ml air.
Air: bersih, bebas klorin, suhu 92–96°C.
Waktu brewing: 4 menit.
Pematahan crust (lapisan atas) dilakukan di menit ke-4.
Setiap sampel kopi diberi skor berdasarkan aspek berikut:
| Parameter | Maksimum Skor |
|---|---|
| Fragrance/Aroma | 10 |
| Flavor | 10 |
| Aftertaste | 10 |
| Acidity | 10 |
| Body | 10 |
| Balance | 10 |
| Uniformity | 10 |
| Clean Cup | 10 |
| Sweetness | 10 |
| Overall | 10 |
| Total Skor | 100 |
<80: komersial
80–84.99: specialty
85–89.99: excellent
≥90: outstanding (microlot)
Penggilingan
Digiling medium-coarse sesaat sebelum sesi. Aroma kering langsung dinilai.
Penyeduhan
Air panas dituangkan langsung ke atas bubuk. Terjadi pembentukan “crust”.
Crust Breaking
Setelah 4 menit, lapisan dipecah dengan sendok, sambil mencium aromanya.
Pencicipan
Setelah suhu turun ke ±65°C, kopi dicicip dengan sendok dan diseruput kuat (agar tersebar merata di rongga mulut).
Penilaian
Masing-masing aspek diberi nilai dengan keterangan catatan deskriptif (flavor notes).
Varietas & Lokasi Tumbuh:
Altitude tinggi dan varietas unggul cenderung menghasilkan acidity lebih cerah.
Kematangan Buah:
Hanya cherry matang penuh yang memberi rasa optimal.
Proses Pascapanen:
Washed memberikan clarity, natural memberikan kompleksitas.
Fermentasi:
Anaerobic, yeast fermentation atau carbonic maceration bisa meningkatkan rasa eksperimental.
Handling & Penyimpanan:
Green bean yang disimpan dalam kondisi buruk akan memiliki off-flavor.

ALKO Sumatra Kopi membangun sistem cupping internal:
Diadakan secara reguler di setiap musim panen.
Sample dari setiap lot diuji minimal dua kali: awal panen dan akhir musim.
Menggunakan standar SCA dan melibatkan Q Grader mitra.
Petani diajarkan mengenali flavor notes dasar: asam jeruk, apel, cokelat, herbal.
Membuat sensory map sederhana untuk tiap hasil kebun.
Menyambungkan antara teknik budidaya & proses dengan hasil rasa.
Skor cupping digunakan sebagai dasar harga:
Semakin tinggi skor, semakin tinggi nilai jual.
Petani memiliki hak untuk mengetahui skor lot-nya.
Tahun pertama: skor 83.5 (washed)
Diberikan masukan untuk eksperimen honey process dan pemetikan lebih selektif.
Tahun kedua: skor naik ke 85.25, dengan flavor notes: caramel, peach, jasmine.
Hasil: buyer dari Jepang menyetujui pembelian kontrak jangka panjang dengan harga premium.
ALKO Sumatra Kopi bekerja sama dengan:
Universitas lokal dan lembaga riset pertanian.
Pengembangan alat cupping digital (pencatatan otomatis).
Mengembangkan flavor wheel lokal: mengakomodasi rasa khas kopi Sumatra seperti pala, cengkeh, manis nira, dan herbal tropis.
Bagi Petani:
Ikut serta dalam pelatihan sensorik agar memahami hubungan antara rasa dan proses produksi.
Bagi Koperasi:
Buat sistem cupping internal, dokumentasi flavor dan skor, serta integrasikan ke sistem traceability.
Bagi Buyer:
Berinteraksi langsung dengan petani cupping untuk membangun komunikasi rasa dan nilai.
Cupping bukan sekadar tradisi mencicip kopi, melainkan seni dan ilmu yang menentukan arah mutu dan nilai sebuah kopi. Di tangan yang tepat, sesi cupping bisa menjadi jembatan antara kebun, koperasi, dan cangkir kopi di Tokyo atau Amsterdam.
Dengan membangun kultur cupping dan evaluasi sensorik di level petani, ALKO Sumatra Kopi percaya bahwa kualitas bukan hanya dikejar, tapi diciptakan bersama.