Komunitas petani Koperasi ALKO Menyikapi Undang Undang Bernama EUDR/ Uni Eropa Deforestation Regulation dengan kopi Tracebility berbasis Blockchain teknology

Admin Alko | 03/06/2023

PADA 16 Mei 2023 Uni Eropa (UE) secara resmi mengadopsi aturan baru yang akan membantu blok perdagangan mengurangi kontribusinya terhadap deforestasi global. Menurut situs resmi Parlemen Uni Eropa sebagaimana dimuat dalam berita Dewan Eropa pada Jumat (19 Mei 2023) disebutkan bahwa “peraturan baru tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa konsumsi dan perdagangan produk-produk tersebut oleh UE tidak berkontribusi terhadap perusakan hutan atau penggundulan hutan".

Definisi deforestasi dalam undang-undang deforestasi UE sejalan dengan definisi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), yaitu konversi hutan untuk penggunaan pertanian, baik yang disebabkan oleh manusia atau tidak. Degradasi hutan didefinisikan sebagai perubahan struktural tutupan hutan berupa konversi hutan primer menjadi hutan tanaman dan hutan tanaman atau lahan berhutan lainnya.

Sedangkan degradasi hutan diartikan sebagai perubahan struktur tutupan hutan, berupa perubahan perkebunan pada hutan primer menjadi hutan buatan yang sengaja ditanami sesuatu, atau hutan dengan pepohonan untuk produksi kayu yang dikelola oleh manusia.

Konflik kebijakan UE dengan aturan multilateral
Peraturan EUDR jelas tidak sejalan dengan prinsip dan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Hal tersebut juga bertentangan dengan semangat kerjasama antar negara dunia untuk mengatasi isu perubahan iklim baik dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (SDGs), Paris Agreement maupun COP.

Kebijakan due diligence UE tidak seimbang dan tidak berdasarkan komitmen yang telah disepakati secara global (khususnya Paris Agreement on Climate Change). Kita telah melihat bahwa kebijakan ini cenderung bersifat restriktif dan berpotensi tidak sejalan dengan aturan perdagangan internasional.

Di tengah memanasnya konflik deforestasi, Indonesia dan Uni Eropa baru saja memasuki putaran ke-14 perundingan perjanjian perdagangan atau Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA). Sepanjang tahun 2022, total perdagangan Indonesia-Uni Eropa tercatat sebesar US$33,2 miliar.

Bagaimana sikap kita terhadap hukum UE? Jujur saja, melawan hukum hanya akan membuat pemerintah Indonesia kehilangan kesempatan untuk memperbaiki pengelolaan dan kelestarian hutan, yang saat ini mendapat perhatian positif dari para mitranya termasuk Uni Eropa.

Risiko menolak hukum
Pertama, mari kita lihat dari sudut pandang tantangan. Delapan komoditas pertanian dan turunannya, yaitu minyak sawit, daging sapi, kakao, kopi, kedelai, kayu, karet, arang, dan kertas cetak, hanya akan diizinkan masuk ke pasar UE jika pemasok produk berhasil mengeluarkan ”pernyataan uji tuntas” .

Pernyataan tersebut menegaskan asal produk, yang tidak boleh berasal dari lahan yang dibuka dari hutan. Pemasok atau importir juga harus memverifikasi bahwa produk mematuhi undang-undang yang relevan di negara asal, termasuk menghormati hak asasi manusia, dan melindungi hak masyarakat adat yang terkena dampak produksi barang, jika ada.

Beberapa peluang
Keuntungan apa yang mungkin dapat kita ambil dengan undang-undang yang baru? Indonesia dapat melibatkan Uni Eropa dalam negosiasi yang konstruktif terkait pemanfaatan program Kemitraan Hutan yang telah dibentuk oleh tim Komisi Uni Eropa.

Program Kemitraan Hutan didirikan untuk membantu negara-negara mitra memperkuat tata kelola hutan mereka dan menciptakan peluang sosial-ekonomi bagi masyarakat melalui rantai nilai yang berkelanjutan. Komisi UE telah menjanjikan 1 miliar Euro (US$1,1 miliar) untuk memfasilitasi perlindungan, restorasi, dan pengelolaan hutan berkelanjutan di negara-negara mitra.

Sisi positifnya, program kerjasama ini akan dirancang sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara mitra Eropa. Keterlibatan yang aktif dan konstruktif dengan UE sangat penting, terutama selama masa transisi sebelum hukum ditegakkan sepenuhnya.

Komisi UE akan menggunakan sistem pembandingan yang menentukan klasifikasi negara, dalam kategori risiko rendah, risiko standar, atau risiko tinggi. Kategorisasi ini diperoleh berdasarkan penilaian yang obyektif dan transparan. Produk dari negara berisiko rendah akan melalui prosedur uji tuntas yang disederhanakan.

Ekspor kayu bulat juga dipengaruhi oleh kebijakan UE baru-baru ini.

Ada jalan keluar
Undang-undang penggundulan hutan UE juga akan memberlakukan ketertelusuran wajib atas suatu barang menggunakan teknologi identifikasi geolokasi, yang akan mengungkap lokasi tempat produk itu ditanam.

Hal ini dapat dinegosiasikan dengan UE dalam program kemitraan, dengan mendiskusikan cara terbaik untuk membantu petani kecil menggunakan telepon pintar dan menyediakan geotag, atau informasi pemosisian data, di pertanian mereka. Program ini dapat membantu petani kecil di Indonesia menjadi lebih kuat secara organisasi, selain membangun kemitraan sekaligus meningkatkan keterampilan mereka.

Pemberdayaan dapat diperoleh melalui pelatihan-pelatihan yang tentunya mereka butuhkan. Misalnya pelatihan dalam mengelola data agar dapat ditelusuri sumbernya. Namun, akan ada sejumlah besar data yang harus dikumpulkan untuk melewati proses due diligence.

Teknologi Blockchain
Seperti diketahui, teknologi dan ketertelusuran blockchain sudah mulai digunakan di Indonesia dengan beberapa perusahaan kopi dan koperasi. Namun, tidak banyak pengusaha dan pembuat keputusan Indonesia yang memahami teknologi dan ketertelusuran blockchain.

“Dengan penerapan blockchain, diharapkan akan mendapatkan kepercayaan konsumen dari seluruh lapisan masyarakat dan petani yang menanam kopi,” ujar Suryono B. Tani, pendiri Koperasi Tani Korintji Alam (ALKO), menyatakan pihaknya selalu menjaga kualitas kacang yang dia hasilkan bersama para petani. Pernyataan ini disampaikan saat saya diwawancarai secara virtual, Selasa (23 Mei 2023).

Ketertelusuran ini dapat meningkatkan pendidikan bagi petani, memberikan kualitas pada kopi dan menjaga keaslian tanaman kopi. Sehingga harapannya dengan ketertelusuran ini para penikmat kopi dan petani sama-sama mendapatkan keuntungan langsung dari harga kopi. Harapan selanjutnya adalah dengan harga yang lebih baik para petani sendiri akan lebih siap menjaga alam.

Siapkah Indonesia?
Terlepas siap atau tidak siap, produk kopi Indonesia perlu ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya karena pasar UE memiliki persyaratan standar yang tinggi. Standar yang berlaku di UE juga menyesuaikan persepsi konsumen, antara lain produk ramah lingkungan, produk pertanian organik, dan perdagangan produk mengikuti sistem perdagangan yang adil.

Semoga teknologi blockchain dapat mengurangi kekhawatiran tentang hambatan ekspor yang diberlakukan oleh negara lain, termasuk UE. Sebelum mengekspor kopi kami ke luar negeri, kami dapat memeriksa kualitas dan keasliannya menggunakan teknologi blockchain, sebagai lawan dari "uji tuntas" yang dilakukan oleh negara-negara tersebut.

Dengan demikian, harga kopi untuk ekspor tidak hanya bersaing, tetapi juga kualitas produk yang baik, karena keasliannya sudah terverifikasi.

Sumber: https://traveltext.id/2023/05/25/response-to-the-european-unions-policy-towards-free-deforestation/

Penulis: Bagas Hapsoro , pegiat diplomasi kopi. Duta Besar RI untuk Swedia (2016-2020), Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN (2009-2012), Duta Besar RI untuk Lebanon (2007-2009).

Penyunting: Jefri Afriadi 

Share this :
Share this :

Blog

Other News recommendations for you

Blog

Other News recommendations for you

KERINCI – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah terus dilakukan melalui kegiatan Pelatihan Pengolahan Sampah "Meningkatkan Kapasitas dan Komunitas dalam Pengolahan Sampah" yang diselenggarakan pada Sabtu, 1 Agustus 2026, di Desa Batang Sangir, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci.Pelatihan ini menjadi wadah edukasi bagi masyarakat untuk memahami pentingnya pengelolaan sampah berbasis komunitas sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari sampah yang dihasilkan.Kegiatan dibuka oleh Kepala Desa Batang Sangir, yang sekaligus menjadi narasumber utama dengan materi mengenai pengolahan sampah organik. Dalam paparannya, Kepala Desa menekankan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Menurutnya, sampah organik, khususnya limbah dapur yang setiap hari dihasilkan oleh rumah tangga, memiliki potensi besar untuk diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung sektor pertanian, perkebunan, dan pekarangan pangan keluarga.Sesi praktik kemudian dilanjutkan oleh Ibu Kaliem, yang memberikan pelatihan mengenai pengolahan sampah nonorganik. Peserta diperkenalkan pada teknik pemilahan, pemanfaatan kembali (reuse), hingga pengolahan sampah plastik menjadi berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi, seperti tas belanja, keranjang, dompet, tempat tisu, wadah serbaguna, serta berbagai produk kreatif lainnya yang berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.Pelatihan berlangsung secara interaktif dengan menggabungkan penyampaian materi dan praktik langsung sehingga peserta dapat memahami proses pengelolaan sampah secara aplikatif.Kegiatan ini secara khusus mendukung penguatan kapasitas Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai garda terdepan dalam membangun budaya peduli lingkungan di tingkat rumah tangga. Dengan pengetahuan yang diperoleh, para anggota KWT diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya memilah sampah, mengurangi limbah yang berakhir di tempat pembuangan, serta memanfaatkan sampah sebagai sumber daya yang bernilai.Pelatihan diikuti oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Maju Bareng, KWT Bina Tani, KWT Sekar Tani, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci. Kolaborasi antara kelompok perempuan tani dan mahasiswa diharapkan mampu memperluas penyebaran pengetahuan mengenai pengelolaan sampah hingga ke tingkat keluarga dan masyarakat.Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam mengolah sampah, tetapi juga pemahaman bahwa pengelolaan sampah merupakan bagian penting dari pembangunan ekonomi sirkular, di mana limbah dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.Penyelenggara berharap pelatihan ini menjadi langkah awal dalam membangun gerakan masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan. Dengan meningkatnya kapasitas komunitas dalam mengelola sampah secara mandiri, Desa Batang Sangir diharapkan mampu menjadi contoh desa yang bersih, produktif, dan berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah desa, kelompok masyarakat, lembaga pendidikan, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan.

Read More  

Admin Alko | 03/08/2026

JAMBI –  ALKO Sumatra Kopi menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi dalam pengembangan usaha komunitas berbasis potensi lokal melalui penerapan ekosistem traceability. Komitmen tersebut disampaikan saat ALKO menjadi panelis dalam Webinar Nasional KKI Warsi bertajuk "Bukti, Bukan Hanya Cerita: Valuasi Ekonomi atas Model Pemberdayaan Pengembangan Usaha Komunitas Berbasis Potensi Lokal."Webinar ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Direktorat Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan RI, pemerintah daerah, akademisi, hingga pelaku usaha yang berbagi pengalaman dalam membangun model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.Dalam forum tersebut, ALKO memaparkan perspektif pasar mengenai faktor-faktor yang menentukan keberhasilan usaha komunitas, mulai dari penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas produk, hingga pentingnya sistem traceability dalam menjawab tuntutan pasar global.CEO PT ALKO Sumatra Kopi, Suryono, menjelaskan bahwa daya saing komoditas Indonesia tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan transparansi dan ketertelusuran pada setiap rantai pasok."Pasar internasional saat ini membeli lebih dari sekadar produk. Mereka membutuhkan kepastian mengenai asal-usul, proses produksi, keberlanjutan, dan transparansi. Karena itu kami membangun ekosistem traceability yang menghubungkan petani, koperasi, industri, hingga pembeli global dalam satu sistem yang terintegrasi," ujar Suryono.Menurutnya, teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat posisi masyarakat, bukan menggantikan peran mereka. Melalui sistem traceability, petani memperoleh identitas digital yang mendukung akses pasar premium, meningkatkan kepercayaan pembeli, sekaligus memperkuat tata kelola usaha komunitas.Dalam paparannya, ALKO juga menjelaskan bahwa pengembangan usaha masyarakat harus dibangun melalui kolaborasi lintas sektor. Keterlibatan pemerintah, lembaga pendamping, perguruan tinggi, sektor swasta, lembaga keuangan, dan pelaku pasar menjadi faktor penting dalam menciptakan ekosistem yang mampu tumbuh secara berkelanjutan.ALKO memanfaatkan pendekatan tersebut melalui integrasi koperasi, digitalisasi rantai pasok, peningkatan kapasitas petani, penerapan standar keberlanjutan, serta pengembangan akses pasar nasional dan internasional.Pada kesempatan itu, ALKO menyampaikan apresiasi kepada KKI Warsi atas penyelenggaraan forum yang menjadi ruang berbagi praktik baik dalam pemberdayaan masyarakat."Kami mendukung penuh inisiatif KKI Warsi dalam memperkuat usaha komunitas berbasis potensi lokal. ALKO siap berkolaborasi dengan KKI Warsi, pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, dan berbagai mitra pembangunan untuk membangun ekosistem traceability yang lebih kuat, meningkatkan daya saing komoditas lokal, serta membuka akses pasar global bagi masyarakat," kata Suryono.Melalui kolaborasi tersebut, ALKO berharap model pemberdayaan masyarakat tidak hanya menghasilkan peningkatan ekonomi, tetapi juga menciptakan tata kelola yang transparan, memperkuat kelembagaan koperasi, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani dan usaha komunitas di Indonesia.Keikutsertaan ALKO sebagai panelis dalam Webinar Nasional KKI Warsi menegaskan bahwa pengalaman membangun ekosistem kopi berbasis koperasi, teknologi, dan kemitraan global di Kerinci dapat menjadi salah satu referensi pengembangan usaha komunitas yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada pasar internasional.

Read More  

Admin Alko | 03/08/2026

Kunjungan Lapangan Perkuat Diplomasi Ekonomi Indonesia–Pakistan Berbasis KeberlanjutanKERINCI, JAMBI – Kunjungan Duta Besar Republik Islam Pakistan untuk Indonesia, H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri, bersama Mr. Amir, buyer kopi dan berbagai komoditas asal Pakistan, ke Kerinci tidak hanya menjadi agenda diplomatik, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran menyeluruh mengenai ekosistem kopi Indonesia yang dikembangkan oleh Koperasi Produsen Petani Alam Korintji Internasional (ALKO).Selama kunjungan lapangan, delegasi Pakistan mengikuti rangkaian proses produksi kopi secara lengkap, mulai dari budidaya di kebun, pengelolaan agroforestri, panen, pengolahan pascapanen, pengendalian mutu (quality control), cupping (uji cita rasa), hingga implementasi teknologi blockchain traceability yang diterapkan ALKO untuk memenuhi standar pasar internasional.Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Pakistan melalui pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada transaksi bisnis, tetapi juga pada pemahaman menyeluruh terhadap sistem produksi kopi yang berkelanjutan.Rombongan terlebih dahulu mengunjungi kebun kopi milik petani anggota koperasi di lereng Gunung Kerinci. Di lokasi tersebut, delegasi melihat secara langsung praktik budidaya kopi yang dikembangkan dalam sistem agroforestri, di mana tanaman kopi tumbuh berdampingan dengan berbagai jenis pohon pelindung untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meningkatkan kualitas hasil panen.Delegasi juga berdialog langsung dengan petani mengenai teknik budidaya, proses pemeliharaan tanaman, hingga tantangan yang dihadapi dalam memenuhi standar pasar ekspor.Perjalanan kemudian dilanjutkan ke fasilitas pengolahan kopi ALKO. Di lokasi ini, Duta Besar Pakistan dan Mr. Amir mempelajari setiap tahapan pascapanen, mulai dari proses pulping, fermentasi, pencucian, pengeringan, penyimpanan, hingga proses grading yang menentukan kualitas akhir kopi sebelum diekspor.CEO PT ALKO Sumatra Kopi, Suryono, menjelaskan bahwa kualitas kopi tidak hanya ditentukan oleh kondisi kebun, tetapi juga oleh konsistensi pengelolaan pada setiap tahapan pascapanen."Kami ingin memperlihatkan bahwa kualitas kopi premium dibangun melalui proses yang panjang. Mulai dari budidaya, penanganan pascapanen, pengendalian mutu, hingga sistem manajemen yang mampu menjamin konsistensi produk. Semua tahapan tersebut menjadi satu kesatuan dalam ekosistem ALKO," ujar Suryono.Salah satu agenda yang menjadi perhatian khusus delegasi Pakistan adalah sesi coffee cupping, yaitu proses evaluasi mutu dan karakter rasa kopi berdasarkan standar Specialty Coffee Association (SCA). Dalam sesi tersebut, para tamu mencoba berbagai profil cita rasa kopi asal Kerinci dan berdiskusi mengenai karakteristik yang sesuai dengan preferensi pasar Pakistan.Selain aspek kualitas, delegasi juga mempelajari penerapan blockchain traceability melalui platform Qthink-X, sistem digital yang dikembangkan ALKO untuk memastikan setiap produk kopi dapat ditelusuri mulai dari identitas petani, lokasi kebun, proses pengolahan, hingga pengiriman ke negara tujuan.Director of International Relations PT ALKO Sumatra Kopi, Pebriyansah, menjelaskan bahwa transparansi kini menjadi salah satu persyaratan utama dalam perdagangan internasional."Buyer global saat ini tidak hanya membeli kopi dengan cita rasa yang baik. Mereka juga ingin mengetahui siapa petaninya, dari mana asal produknya, bagaimana proses budidayanya, hingga bagaimana produk tersebut diproses. Melalui blockchain traceability, seluruh informasi tersebut dapat diakses secara transparan sehingga meningkatkan kepercayaan pasar," kata Pebriyansah.Menurutnya, kunjungan lapangan tersebut menjadi kesempatan bagi mitra Pakistan untuk memahami bahwa ALKO tidak hanya membangun rantai pasok kopi, tetapi juga membangun sistem yang mengintegrasikan petani, koperasi, teknologi, dan keberlanjutan.Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar Pakistan, H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri, mengaku terkesan dengan model yang dikembangkan ALKO."Awalnya kami datang untuk melihat potensi kopi. Namun setelah mengunjungi langsung kebun dan seluruh proses produksinya, kami melihat bahwa ALKO telah membangun sebuah ekosistem yang lengkap. Ini bukan sekadar perdagangan green bean, tetapi sebuah model yang menggabungkan keberlanjutan, inovasi, pemberdayaan petani, dan teknologi. Pendekatan seperti inilah yang akan menjadi masa depan perdagangan internasional," ujarnya.Sementara itu, Mr. Amir, buyer asal Pakistan, menilai pemahaman terhadap seluruh proses produksi memberikan keyakinan lebih besar terhadap kualitas dan konsistensi produk yang akan dipasarkan di negaranya.Menurutnya, keterlibatan langsung petani, sistem pengendalian mutu yang ketat, serta penerapan teknologi traceability menjadi nilai tambah yang membedakan ALKO dari banyak pemasok kopi lainnya.Kunjungan ini menjadi bagian penting dari rangkaian kerja sama Indonesia–Pakistan yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara ALKO dan perusahaan Pakistan. Melalui pendekatan yang dimulai dari pemahaman di tingkat kebun hingga teknologi digital, kedua pihak berharap dapat membangun hubungan dagang yang tidak hanya berorientasi pada volume ekspor, tetapi juga pada kepercayaan, transparansi, dan keberlanjutan.Bagi ALKO, kunjungan tersebut membuktikan bahwa diplomasi ekonomi modern tidak lagi cukup dilakukan di ruang pertemuan. Kepercayaan pasar internasional dibangun dengan mengajak mitra melihat langsung bagaimana kopi diproduksi, bagaimana petani diberdayakan, dan bagaimana teknologi digunakan untuk memastikan setiap biji kopi memiliki identitas serta cerita yang dapat dipertanggungjawabkan di pasar global.

Read More  

Admin Alko | 21/07/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.