Kunjungan Duta Besar Republik Islam Pakistan untuk Indonesia, H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri, ke Kerinci tidak hanya menjadi agenda penjajakan perdagangan kopi, tetapi juga mencerminkan semakin eratnya hubungan bilateral Indonesia dan Pakistan melalui diplomasi ekonomi berbasis daerah.
Indonesia dan Pakistan merupakan dua negara sahabat yang telah menjalin hubungan diplomatik sejak tahun 1950. Selama lebih dari tujuh dekade, kedua negara terus memperkuat kerja sama di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, investasi, pendidikan, pertanian, hingga pertukaran budaya. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua pemerintah juga terus mendorong peningkatan nilai perdagangan sebagai bagian dari penguatan kemitraan ekonomi.
Dalam kunjungannya ke ekosistem ALKO di Kerinci, Duta Besar Pakistan menilai model yang dikembangkan ALKO memiliki nilai strategis karena tidak hanya menghasilkan komoditas berkualitas, tetapi juga membangun sistem produksi yang berkelanjutan, transparan, dan mampu memberikan manfaat langsung kepada petani.
"Saya datang dengan tujuan melihat potensi perdagangan kopi. Namun setelah berada di ALKO, saya melihat sesuatu yang jauh lebih besar. Yang dibangun bukan sekadar bisnis kopi, tetapi sebuah ekosistem yang menghubungkan petani, koperasi, teknologi, keberlanjutan, dan akses pasar internasional. Model seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan perdagangan global saat ini," ujar H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Pakistan dan Indonesia.
"Kami tidak ingin membatasi kerja sama hanya pada kopi. Setelah melihat potensi yang dimiliki ALKO, kami melihat peluang besar untuk mengembangkan perdagangan berbagai komoditas unggulan Indonesia ke Pakistan. Ini merupakan kesempatan untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara melalui sektor riil yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat," katanya.
Menurut Duta Besar Pakistan, hubungan bilateral yang telah terjalin lama perlu terus diperkuat melalui kolaborasi konkret antara pelaku usaha kedua negara. Ia menilai kerja sama seperti yang dibangun ALKO dapat menjadi contoh bagaimana diplomasi ekonomi mampu diterjemahkan menjadi kemitraan bisnis yang berkelanjutan.
Senada dengan itu, CEO PT ALKO Sumatra Kopi, Suryono, mengatakan bahwa kunjungan tersebut menjadi kehormatan sekaligus momentum penting untuk memperluas kerja sama perdagangan Indonesia–Pakistan.
"Kami percaya hubungan persahabatan antara Indonesia dan Pakistan yang telah terbangun selama puluhan tahun dapat diperkuat melalui kolaborasi bisnis yang saling menguntungkan. ALKO siap menjadi bagian dari upaya tersebut dengan menghadirkan komoditas yang berkualitas, memiliki sistem traceability, dan diproduksi melalui prinsip keberlanjutan," ujar Suryono.
Menurutnya, kerja sama yang akan dituangkan dalam nota kesepahaman pada Rapat Anggota Tahunan Koperasi ALKO bukan hanya berorientasi pada peningkatan volume perdagangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan ekonomi kedua negara melalui pengembangan perdagangan multi-komoditas, pembangunan hub distribusi di Pakistan, dan kemitraan jangka panjang yang memberikan manfaat bagi petani serta pelaku usaha di kedua negara.
Dengan fondasi hubungan diplomatik yang telah berlangsung lebih dari 75 tahun, kunjungan Duta Besar Pakistan ke Kerinci diharapkan menjadi tonggak baru dalam memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia–Pakistan, sekaligus membuka jalan bagi semakin banyak komoditas unggulan Indonesia untuk memasuki pasar Pakistan dan kawasan Asia Selatan.