MSCA dan Mitra Internasional Rasakan Keistimewaan Kopi Kerinci dari Hulu ke Hilir
Kerinci, 12 Agustus 2025 — Suasana pagi di Kerinci terasa segar dan penuh semangat ketika rombongan Malaysia Specialty Coffee Association (MSCA) dan para mitra internasional bersiap mengikuti rangkaian kegiatan hari ketiga kunjungan mereka di Kabupaten Kerinci. Agenda utama hari ini adalah cupping session atau uji cita rasa kopi, yang dilanjutkan dengan kunjungan ke kebun kopi milik Koperasi ALKO.
Sejak pukul 08.00 WIB, aula cupping di ALKO Academy sudah dipersiapkan. Meja-meja panjang dipenuhi deretan cangkir berisi kopi yang telah diseduh dengan metode standar SCA (Specialty Coffee Association). Aroma harum kopi mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang membuat para peserta, baik dari Malaysia, Singapura, maupun tuan rumah Indonesia, tidak sabar untuk memulai sesi ini.
Aroma dan Rasa yang Menggugah
Dalam dunia kopi, cupping adalah momen krusial untuk menilai kualitas biji kopi secara objektif. Pada kesempatan ini, para peserta berkesempatan mencicipi berbagai varian kopi Kerinci yang diproses dengan beragam metode pascapanen, mulai dari washed, natural, honey process, hingga wine process.
Master cupper dari ALKO Academy memandu proses dengan penuh ketelitian. Peserta diajak mencium aroma bubuk kopi kering, kemudian aroma setelah diseduh, sebelum akhirnya mencicipi cairan kopi menggunakan sendok cupping. Setiap tegukan menjadi pengalaman rasa yang kompleks: ada yang menemukan sensasi citrus dan floral, ada pula yang mencatat rasa tropical fruits dengan keasaman yang cerah namun seimbang.
Seorang peserta dari Coffexx Coffee, Malaysia, bahkan mencatat bahwa kopi natural process dari Kerinci memiliki profil rasa yang setara dengan kopi kelas dunia dari Amerika Latin. “Yang membuatnya unik adalah sentuhan spice dan herbal notes yang hanya bisa ditemukan di terroir Sumatera,” ujarnya.
Perjalanan ke Hulu: Mengunjungi Kebun Kopi ALKO
Usai sesi cupping, sekitar pukul 11.00 WIB, rombongan berangkat menuju kebun kopi ALKO yang terletak di lereng Gunung Kerinci. Perjalanan ditempuh dengan mobil dan dilanjutkan dengan berjalan kaki, menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pemandangan hijau pegunungan dan hawa sejuk khas dataran tinggi.
Di kebun, peserta disambut oleh para petani yang tergabung dalam Koperasi ALKO. Mereka dengan bangga memperlihatkan pohon-pohon kopi yang sedang berbuah lebat. Beberapa buah sudah memerah menandakan siap panen, sementara yang lain masih hijau segar.
Para peserta mendapat penjelasan mengenai praktik budidaya kopi berkelanjutan yang dijalankan ALKO, termasuk sistem shade grown di bawah naungan pepohonan hutan, pengelolaan hama secara organik, dan metode panen selektif (selective picking) yang memastikan hanya buah matang yang dipetik.
Interaksi Langsung dengan Petani
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika peserta diajak langsung memetik kopi dari pohonnya. Dengan panduan petani setempat, mereka belajar membedakan buah kopi yang benar-benar matang. Aktivitas ini tidak hanya memberikan pengalaman baru, tetapi juga mempererat hubungan emosional antara pembeli dan produsen.
Di sela kegiatan, Ketua Koperasi ALKO menjelaskan bahwa kopi Kerinci yang dihasilkan para petani anggota koperasi telah berhasil menembus pasar ekspor, termasuk ke Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat. Keberhasilan ini tidak lepas dari penerapan traceability system yang memastikan setiap biji kopi bisa ditelusuri asal-usulnya, termasuk lokasi kebun, metode pengolahan, hingga identitas petani.
Menghubungkan Rasa dengan Asal Usul
Kegiatan hari ketiga ini menjadi gambaran nyata konsep “dari hulu ke hilir” dalam industri kopi. Para peserta tidak hanya mencicipi kopi yang telah diseduh, tetapi juga melihat langsung proses awalnya di kebun. Dengan demikian, setiap catatan rasa yang mereka temukan saat cupping bisa dihubungkan dengan faktor-faktor di lapangan, seperti varietas tanaman, kondisi tanah, ketinggian, hingga teknik pascapanen.
Bagi MSCA dan mitra internasional, kunjungan ini bukan sekadar wisata edukasi. Mereka mendapatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana kualitas kopi Kerinci dibentuk sejak awal, dan bagaimana komunitas petani berperan sebagai penjaga mutu sekaligus pelestari lingkungan.
Menutup Hari dengan Inspirasi
Menjelang sore, rombongan kembali ke ALKO Academy untuk berbagi kesan dan catatan hasil cupping. Diskusi berjalan hangat, diwarnai tukar pikiran mengenai peluang kolaborasi di masa depan, baik dalam bentuk pembelian langsung, promosi bersama, maupun pelatihan peningkatan mutu.
Hari ketiga ini meninggalkan kesan mendalam bagi semua pihak. Para peserta pulang dengan pengetahuan baru, apresiasi yang lebih besar terhadap kopi Kerinci, dan rasa hormat kepada para petani yang dengan tekun menjaga kualitas produksi mereka.
Sebagaimana diungkapkan oleh perwakilan Dewan Kopi Indonesia yang turut hadir, “Inilah wujud nyata bagaimana kopi bisa menjadi jembatan persahabatan antarbangsa. Dari secangkir kopi, kita bisa saling memahami, menghargai, dan bekerja sama untuk masa depan yang lebih baik.”