Kopi Hijau, Ekonomi Hijau: Inovasi ALKO untuk Keberlanjutan

Admin Alko | 23/09/2025

Pendahuluan: Kopi Bukan Sekadar Minuman

Kopi bukan hanya soal rasa dan aroma. Di balik secangkir kopi, ada hutan yang terjaga, ada udara yang lebih bersih, ada petani yang kehidupannya lebih sejahtera, dan ada desa yang berkembang. Inilah konsep kopi hijau: kopi yang ditanam, diproses, dan dipasarkan dengan prinsip keberlanjutan.

Bersama PT ALKO Sumatra Kopi, kopi hijau menjadi lebih dari sekadar jargon. ALKO menghadirkan inovasi nyata yang menghubungkan ekonomi hijau dengan budaya kopi di Indonesia.


Kopi Hijau: Apa Artinya?

Istilah “kopi hijau” sering diartikan sebagai green bean atau biji kopi mentah. Namun, dalam konteks keberlanjutan, kopi hijau berarti kopi yang diproduksi dengan memperhatikan tiga aspek utama:

  1. Ramah Lingkungan – tidak merusak hutan, menjaga kesuburan tanah, dan memelihara biodiversitas.

  2. Adil secara Sosial – petani mendapatkan pengakuan, harga yang layak, dan akses pada pasar premium.

  3. Ekonomi Berkelanjutan – memberikan nilai tambah bagi desa, koperasi, hingga komunitas lokal.

Kopi hijau bukan hanya produk, tetapi gaya hidup baru yang menghubungkan petani dan konsumen dalam satu ekosistem berkelanjutan.


Ekonomi Hijau: Jalan Baru dari Kebun Kopi

Ekonomi hijau adalah sistem ekonomi yang bertumpu pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial. Bagi ALKO, kopi adalah pintu masuk untuk membangun ekonomi hijau di Sumatra.

Bagaimana caranya?

  • Agroforestri Kopi: Petani menanam kopi bersama pohon pelindung seperti alpukat, kayu manis, atau tanaman keras lain. Hasilnya, petani mendapat tambahan pendapatan sekaligus menjaga hutan.

  • Pengelolaan Sampah dan Limbah Kopi: ALKO mendampingi kelompok tani untuk mengubah limbah kopi menjadi pupuk organik dan energi biomassa.

  • Program “Petani Peduli Kerinci Bersih”: Kolaborasi petani dalam menjaga kebersihan lingkungan gunung dan desa, termasuk aksi tukar sampah dengan kopi.

  • Akses Karbon Kredit: Kopi hijau yang ditanam dengan prinsip ramah lingkungan berpotensi menghasilkan nilai tambah dari perdagangan karbon.


Solusi ALKO: Kopi Hijau untuk Dunia

  1. Digitalisasi Ramah Lingkungan
    Setiap kebun kopi yang tergabung di ALKO tercatat dalam sistem blockchain dengan data koordinat, praktik budidaya, dan dampak lingkungan. Data ini menjadi bukti nyata bahwa kopi ditanam secara ramah lingkungan.

  2. Kolaborasi dengan Komunitas
    ALKO tidak berjalan sendiri. Ada GPLBK (Gerakan Penghijauan Lingkungan dan Bersih Kerinci), kelompok mahasiswa, komunitas pendaki, hingga bank sampah desa yang bergabung menjaga alam.

  3. Pasar Premium Global
    Dengan identitas digital dan narasi hijau, kopi ALKO menembus pasar premium yang mengutamakan keberlanjutan. Konsumen Eropa, Jepang, hingga Amerika rela membayar lebih untuk kopi yang mereka tahu mendukung bumi.

  4. Lingkungan Sehat, Ekonomi Kuat
    Program penghijauan dan pengelolaan limbah bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi menjadi bagian dari ekonomi hijau yang memberi manfaat langsung pada petani dan komunitas.


Kopi Hijau dan Dampaknya bagi Desa

  • Peningkatan Pendapatan: Petani mendapat tambahan nilai dari pasar premium dan diversifikasi tanaman agroforestri.

  • Desa Lebih Bersih: Program tukar sampah dengan kopi dan gotong royong berkala membuat desa lebih sehat dan indah.

  • Edukasi Generasi Muda: Melalui ALKO Academy, anak-anak desa belajar pentingnya menjaga alam dan berwirausaha di sektor kopi.

  • Pariwisata Berbasis Kopi: Desa penghasil kopi hijau berpotensi menjadi destinasi wisata ekowisata, menghubungkan kopi dengan budaya dan alam.


Cerita Nyata: Petani Peduli Kerinci Bersih

Sejak 2018, ALKO bersama komunitas lokal menginisiasi gerakan “1 kg sampah gunung = 1 pcs kopi”. Setiap pendaki Gunung Kerinci yang membawa turun sampah mendapat hadiah kopi Kerinci. Program sederhana ini:

  • Mengurangi sampah di jalur pendakian.

  • Membuat kopi Kerinci lebih dikenal.

  • Menghubungkan kopi dengan gerakan lingkungan.

Kini, gerakan ini menjadi ikon kopi hijau ALKO, sekaligus contoh nyata bahwa kopi bisa mendorong perubahan positif di masyarakat.


Masa Depan Kopi Hijau

Bayangkan 10 tahun ke depan:

  • Setiap kebun kopi di Sumatra memiliki sertifikat hijau digital.

  • Setiap ekspor kopi disertai laporan karbon dan dampak sosial.

  • Desa kopi menjadi contoh ekonomi hijau yang memberi inspirasi global.

Dengan inovasi yang ALKO lakukan hari ini, visi itu bukan lagi mimpi, melainkan jalan yang sedang dibangun.


Penutup: Kopi dengan Rasa, Nilai, dan Harapan

Kopi hijau adalah simbol harapan. Harapan bahwa petani bisa hidup lebih sejahtera, hutan tetap terjaga, dan konsumen bisa menikmati kopi dengan hati yang tenang.

Bersama ALKO, kopi hijau bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari ekonomi hijau yang menyatukan desa dan dunia. Dari Kerinci hingga Tokyo, dari Kayu Aro hingga Berlin, kopi hijau membawa pesan yang sama: menikmati kopi berarti menjaga bumi.



Share this :
Share this :

Blog

Other News recommendations for you

Blog

Other News recommendations for you

Saat 7 Anak Kampung Meng-Blockchain-kan 1 Juta Pohon Kopi ber KTP(Padang,17.09.2026/Sry-ALKO). Belakangan diskusi soal dunia blockchain kembali hangat. Istilah itu sangat familiar dan sedang nge-tren. Tak hanya Gen Z, para Gen X atau Gen Milenial juga tidak ketinggalan untuk up to date. Sampai petani juga ingin ikut bicara soal pemanfaatan teknologi ini, terlebih sebagai pengguna dan penerima manfaat nyata dari ekosistem teknologi blockchain ini.Katakanlah organisasi ini, salah satu penerima manfaat atau pengguna sejak 2019. Koperasi Alam Korintji (ALKO) yang ketika itu ditawari penggunaan blockchain untuk diterapkan dalam pertaniannya. Awalnya hanya sebagai alat bukti transaksi dan ketertelusuran produk, atau digitalisasi dari Indikasi Geografis (IG) yang berbasis pada lahan dan koordinat kebun, tidak hanya bentuk kertas saja. Sehingga prinsip digitalisasi blockchain yang real-time dan transparan dapat diterapkan pada kopi dari kebun hingga cangkir, hanya dalam satu klik scan QR saja. Kita tak perlu menulis setiap cerita kebun satu per satu seperti dalam website biasa atau Web 2 (dua), cukup dikoneksikan dengan blockchain maka semua akan terbaca secara otomatis, karena setiap petani memiliki blok data masing-masing. Sebelumnya setiap petani telah didata, namun sebagian petani tidak memegang datanya sendiri, tetapi data itu ada di buku besar kelompok, instansi, atau NGO yang mendatanya. Sekarang dengan blockchain, data dipegang oleh petani masing-masing dalam blok yang mereka miliki sendiri di dalam server yang terpisah, seperti disimpan di email milik petani sendiri.Kopi Kerinci produksi Koperasi ALKO adalah kopi yang pertama di Asia yang telah menerapkan blockchain dalam transaksinya sejak 2019 hingga saat ini. Aplikasi yang dibangun awalnya bernama aplikasi blockchain ALKO Mobile, lalu 2022 menjadi Kommu Apps (Komunitas Kopi Aplikasi), lalu 2023 hingga sekarang menjadi Aplikasi QThink-X. Dulu aplikasi ini hanya untuk kopi dan digunakan oleh ALKO saja, namun saat ini versi QThink-X 5.0 menjadi aplikasi yang bisa untuk semua komoditas petani dan gratis buat petani di seluruh dunia dengan alamat webnya: http://QThinkX.io (QThinkX.com). Lika-liku dalam membangun secara mandiri aplikasi QThink-X ini sejak 2022 juga berat, dimulai dari mencari developer programmer blockchain mandiri yang awalanya dari lulusan D-III AMIK dengan dinamikanya, proses berat pendataan petani, sosialisasi input petani mandiri, hingga penyiapan lokasi server sebagai ledger atau buku besarnya. Namun saat ini, paripurna aplikasi Qthink-X dengan team yang sudah profesional dalam bidangnya, QThinkX.io telah dapat digunakan oleh seluruh petani komoditas di Indonesia dan global. Koperasi ALKO mendedikasikan penggunaannya secara gratis untuk seluruh petani Indonesia dan global untuk membangun ekosistemnya sendiri.Jadi jika kita sebagai petani saat ini memiliki kelompok tani sendiri, memiliki kebun sendiri, memiliki processing sendiri, memiliki buyer atau kafe sendiri serta memiliki pelanggan sendiri, itu artinya Anda telah memiliki Ekosistem. Dan QThinkX.io ini akan menjadi alat untuk mengintegrasikan ekosistem pertanian Anda dalam satu jaringan blockchain sebagai peningkatan kekuatan Anda.Jika ekosistem Anda terintegrasi, maka Anda dan ekosistem Anda akan memiliki nilai yang lebih, karena tak hanya memiliki petani atau pelanggan di dalam buku saja, tapi bergerak bersama dalam ekosistem nyata dan dunia maya menjadi satu BUKU BESAR DIGITAL. Inilah salah satu penggunaan blockchain untuk pemanfaatan pertanian menuju fair trade dan transparansi. Dengan petani memiliki database di buku besar secara desentralisasi, maka itu menjadi kekuatan besar yang tidak bisa dikontrol atau dimonopoli, namun bergerak secara bersamaan menuju keadilan peran dalam setiap rantai pasok (Suplay Chain) usaha.Sumber foto : dokumentasi ALKOPetani memang banyak tidak paham dengan istilah dalam blockchain, dan bagi mereka petani tak mesti harus tahu hal teknis kerumitan blockchain itu, cukup benefit nya apa bagi mereka. Di sinilah diperlukan satu kelembagaan yang kuat seperti koperasi yang memiliki misi untuk kesejahteraan bersama, yang juga mesti rajin berinovasi berperan sebagai penerjemah bahasa blockchain agar bisa dipakai dan bermanfaat buat kemaslahatan petani. Seperti halnya waktu awal 2019, kami Koperasi ALKO di kaki Gunung Kerinci dikenalkan dengan kata teknologi blockchain yang asing sekali dan masih melihat dari sisi ketidaktahuan, hingga datangnya tim dari Jepang sebagai salah satu pengembang blockchain terbesar di dunia saat itu yang memberikan edukasi free kepada kami hingga beberapa bulan. Hanya karena satu proposal Koperasi ALKO yang ingin berinovasi tentang traceability untuk kopi. Namun proposal itu disambut dengan menghadirkan satu teknologi kekinian bernama traceability blockchain untuk kopi di pelosok desa area kaki gunung Kerinci.Penjelasan yang sangat sederhana dan edukatif dari para ahli teknologi Negeri Sakura saat itu kepada kita para petani yang hanya lulusan sekolah menengah di desa, tentang bagaimana cara kerja blockchain dalam jaringan.Sesi dimulai dalam satu ruangan santai dengan satu laptop dan proyektor menyorot ke dinding;Lalu kami mulai bertanya, apa itu blockchain?Dengan menjadikan Koperasi ALKO sebagai analogi sederhana mereka menjelaskan: "Seperti halnya koperasi Anda yang memiliki catatan kegiatan atau keuangan harian untuk simpanan pokok dan wajib, untuk mencatat uang masuk dan keluar, atau catatan kegiatan arisan untuk 20 orang anggota Anda yang ditulis di sebuah buku besar, sama seperti itulah yang sebenarnya diisi di dalam blockchain menjadi buku besar digital yang real-time."Dalam eksositem blockchain 20 anggota memegang bukunya masing-masing secara real-time yang biasanya hanya dipegang bendahara saja, dengan jaringan blockchain ini semua memegang salinan bukunya. Jadi kalau satu orang mau merubah, mengotak-atik angka, misal bendaharanya, langsung ketahuan karena menjadi tidak sama dengan catatan digital di 19 anggota lainnya. Catatan yang tersebar itu disebut node oleh mereka. Paling tidak data jadi aman, karena kalau mau membobol atau merubah harus membobol 19 catatan (node) lainnya. "Kebayang kan, kalau Koperasi ALKO sekarang anggotanya 42 ribu, harus bobol 42 ribu buku besar..." Mulai kepikiran logisnya oleh kita cara kerja sederhana blockchain. Jadi akan terlihat gerakan satu orang oleh 19 lainnya dalam sistem, apakah ini anomali atau normal. Jika ada anomali semua bisa saling cross-check. Sesederhana itu teknologi ini membantu memvalidasi. Peran Koperasi ALKO sebagai pelaku kopi sekaligus koperasi yang mendampingi banyak petani, teknologi ini menjadi penting untuk mengangkat nilai transparansi hingga tingkat petaninya. Katanya mereka tim Jepang sih blockchain itu sederhana, tapi bagi kami sebenarnya masih bingung.Berlanjut ke pertanyaan lagi, Bagaimana cara kerja blockchain?Mereka kembali menerangkan tapi agak teknis, harus coret-coret di kertas dan layar proyektor. Dan masih tersimpan rapi rekaman itu di arsip Koperasi ALKO. Mereka bilang: jika ada transaksi akan dicatat dalam satu blok atau satu lembar halaman, bentuknya digital sebagai wadah. Satu transaksi diberi kode unik kriptografi sebagai pengikat, satu kode satu transaksi. Seperti kita belanja di supermarket, kita dapat resi dan ada nomor resinya, nomor resi itu yang dikriptografikan atau dijadikan nomor unik yang hanya ada satu selamanya, seperti fingerprint atau seperti NIK KTP yang hanya punya satu untuk setiap orang.Walau belum sepenuhnya paham, lalu pertanyaan kami selanjutnya: apa itu kriptografi dan apa bedanya dengan crypto koin?Penjelasan ini agak panjang, tapi secara pelan mereka menjelaskan lalu kita translate pakai bahasa kampung petani. Jadi cerita dalam tulisan ini adalah versi bagaimana kami menangkap info mereka secara langsung, karena mereka menggunakan bahasa Inggris, kami dengan kemampuan dengar bahasa Inggris yang pas-pasan mencoba dengan keras untuk paham. Yang akhirnya diskusi ini harus berulang hingga 6 hari mereka stay di Kerinci di salah satu Guest House Pelangi yang jadi markas dan dimiliki Koperasi ALKO. Oke, lanjutan ke tema, mereka menjelaskan kembali: jadi blockchain itu adalah jaringan atau rumahnya dan setiap rumah ini memiliki produk. Jadi bisa dibilang crypto ini adalah produknya blockchain yang memiliki peran sebagai mata uang. Produk lainnya ada namanya smart contract, produk lainnya ada NFT atau bahasa sederhananya untuk memberikan label unik dalam setiap barang atau aset. Produk seterusnya ada traceability atau penelusuran.Tambah penasaran kita, tanya lagi, Coba jelaskan secara singkat 4 produk ini dan seperti apa real-nya?Sepertinya mereka tambah serius, kami juga, dan sambil menyeruput kopi Kerinci yang sudah mulai terkenal enaknya sejak 2017, kami kembali fokus mendengar. Dia melanjutkan: kalau Anda membeli pulsa Handphone rp.50 ribu, Anda dapat apa? Dia bertanya. Ya, kita jawab dapat data. Dia jelaskan kamu dapat data dengan satuan byte, itu mata uang pulsa namanya. Dan di blockchain itu crypto dengan satuan hash. Anda beli pulsa dapat byte dan Anda beli crypto dapatnya hash. Kalau pulsa habis Anda top up, begitu juga kalau koin crypto Anda habis juga top up, untuk penggunaan traceability ini begitu hitungan sederhananya. Mata uang dalam blockchain saat itu dijelaskan ada Bitcoin, Ethereum, dan Cardano, ya salah satu punya mereka.Kita mulai makin mengerti sedikit, tanya lagi kita, Oke, coba jelaskan 3 produk lainnya seperti apa?Fungsi crypto sebagai mata uang jaringan blockchain. Kalau smart contract ini isinya kesepakatan yang ditulis jadi kode dalam pemrograman, sehingga jika satu orang ingin ikut dalam kontrak kerja itu, maka jaringan akan memvalidasi dan saling terkoneksi juga saling mengamankan. Contohnya aplikasi transportasi, sebut saja Goj*k, smart contract telah tersedia dalam aplikasi sehingga jalurnya terikuti dan para pihak wajib ikut aturan itu karena berdasarkan kebutuhannya. Contoh: saya butuh perjalanan ke bandara dari titik A dengan biaya rp.100 ribu, saya setuju cari mobil, lalu sistem akan mencari kebutuhan itu dalam jaringannya, lalu didapat satu kendaraan yang ambil kontrak itu, maka terjadi transaksi jasa transportasi dari titik A ke bandara yang sebelumnya tanpa kenal namun terpercaya karena adanya smart contract itu. Yang menjalankan smart contract ini adalah blockchain. Dan prinsipnya transparan: harga, jarak, dan rating driver-nya. Di sini kami sedikit paham dan terbayang jika ini diterapkan di supply chain kopi kita, maka ini bisa menjadi akses perdagangan hulu dan hilir. Dan melalui aplikasi QThinkX.io yang koperasi buat, telah memiliki menu ini sehingga petani terkoneksi dengan end user. Oke, dia melanjutkan: Jika terjadi wanprestasi, penumpang turun di jalan, maka supir akan tetap berjalan sampai ke titik kontrak yaitu bandara, karena jika tidak maka buku besar akan mencatat ada cacat kontrak dan bisa dilihat oleh 20 orang atau 42 ribu anggota koperasi. Jadi sistem ini akan menuntut komitmen.  Sampai disini kebayang oleh kami bisa jadi jawaban buat problem di pertanian yaitu inkonsistensi produksi dan inkonsistensi kualitas, skema blockchain seolah memberi jawaban dipoin mana yang perlu diperbaiki atas dua problem petanian tadi jadi bisa segera diverifikasi dan dicari prioriti solusinya. Oke, good news.Kita lanjut lagi, Oke, bagaimana kalau yang NFT dan Traceability?Ternyata kita harus bergeser ke dalam dari area luar karena hujan, Kerinci kan banyak musim hujan, dan kami 7 (tujuh) orang anak kampung yang penasaran soal blockchain terus bertanya dan tambah penasaran. Selain Suryono ada Nopa, Kelik, Pebri, Hendra, Enang, Kiting dan Erna yang juga ikut garuk-garuk kepala, Tim Jepang melanjutkan: NFT itu semacam pengkodean unik terhadap satu produk sehingga itu bisa jadi aset atau jadi milik yang tidak bisa digandakan orang lain. Misal KTP itu kan kode unik yang hanya milik satu orang, itu di-blockchain-kan maka akan terbaca itu punya seorang walau memakai interface apapun. Nah kami ada pertanyaan sela karena ada istilah baru, apa itu interface?. Interface itu hanya tampilan aplikasi untuk membukanya, itu bisa apa saja, bisa berbasis website biasa atau aplikasi yang di-download di Play Store katanya. Seperti BNI Mobile Banking (sekarang wondr by BNI), lalu BRImo atau lainnya itu interface namanya. Dengan blockchain walau memasukkan data lewat semua interface yang berbeda maka bisa terkoneksi dan dilihat kode hash-nya tadi dan akan terkoneksi dengan mudah. Ke depan akan tumbuh seperti itu (Waktu itu masih Web 2, sekarang blockchain Web 3 dan kedepan akan ada Web 4 yang lebih ke sinkronisasi blockchain. Jadi prediksi Web 4 sudah mereka sebut ditahun 2019 itu). Terkoneksi dengan mudah antar data dan saling melengkapi. Misalnya kalau data kita di aplikasi A tidak ada data TGL PRODUKSI dan di Aplikasi B ada data TGL PRODUKSI, maka data itu akan saling melengkapi end-to-end encryption, seperti WA kita. Jadi kode unik akan mengunci itu mejadi data utuh dan real-time. Ini jadi makin terbayang oleh kita untuk di kopi sebagai origin asal-usul agar tidak pindah alamat kopinya, dengan memberikan kode unik setiap produksinya bahkan setiap pohon kopi bisa dikasih kode unik lalu akan tercatat detail. Saat ini baru hampir 1 jutaan pohon kopi yang telah diberi kode unik dalam ekosistem Koperasi ALKO. Tentu ke depannya harapannya bisa jadi aset kolateral petani dan harusnya petani tambah bangga dan sejahtera karena ia mendaftarkan kopinya per pohon menjadi aset produktif. Kayaknya tak hanya kopi, seperti halnya tulisan atau buku atau produk karya homemade lainya bisa di-blockchain-kan agar nanti tidak diklaim sama orang lain. Teman-teman jadi liar mikirnya sampai semua mau di-blockchain-kan. Oke, ayo balik fokus ke kopi Koperasi ALKO dan aplikasi traceability QThinkX.io karya anak kampung untuk negeri ini.Lanjut ke pertanyaan sela, gimana keamanannya?Katanya dalam blockchain ada sistem keamanannya yang cukup ketat dan valid. Jadi dengan adanya node buku blok tadi, lalu diikat oleh hash kriptografinya, lalu data yang kemudian tersebar atau desentralisasi ke user atau jaringan, serta dibutuhkannya kesepakatan bersama atau konsensus saat menjalankan kontrak. Empat prinsip inilah yang menjadi kunci keamanan sistem ini. Ya, kita agak bingung dengan penjelasan itu, tapi lain kali dibahas karena sudah teknis sekali. Sesi ini cocok dibedah di kelas-kelas atau kampus.Yang kami catat keamanannya, secara real case-nya misal untuk melacak suatu produk asli memang dari pabrik atau tidak, melihat suatu produk itu halal diprosesnya atau tidak, untuk mengamankan data KTP kita supaya tidak dipalsukan, bahkan untuk bisnis yang pencatatan kontraknya dengan digital. Juga untuk melacak logistik, atau mengawasi aman tidaknya barang kopi kita dalam perjalanannya yang kiriman mulai dari sumber barang sampai ke tujuan dan tidak berubah tujuan.Banyak lagi hal teknis yang tidak semua masuk di ingatan kami, seperti bagaimana jika internet mati, bagaimana kaitannya dengan listrik, yang mereka telah jelaskan tapi kayaknya otak kita petani tidak sampai menangkapnya. Poinnya bagi petani adalah benefit-nya dan dampak jangka panjang untuk keberlanjutan pertaniannya, that is the point.Lanjut ke pertanyaan lagi, bagaimana dengan traceability, gimana penerapannya, apakah sudah ada contoh secara real?Kami petani itu khas, tanyanya yang sudah direalisasikan seperti apa, agar mudah mencontoh dan menerapkannya. Kalau dijelaskan dengan bahasa akademis bertele-tele yang ada kami tidur pulas seperti mendengar radio dan musik Sheila On 7. Sudah sore, hampir seharian penuh diskusi mereka ke kita ini seperti sudah 3 SKS. Mereka melanjutkan: Produk blockchain seperti traceability itu sudah dipakai juga seperti di Facebook, IG, dan YouTube. Misal Anda meng-upload satu lagu di medsos, katakan lagunya Iwan Fals, setelah beberapa jam lagu Anda hilang suaranya. Itu terjadi karena Anda kena copyright dari penciptanya, kalian tidak dapat izin maka di-banned status Anda. Pertanyaannya, siapa yang melakukan validasi itu? Yang melakukan adalah teknologi ketelusuran blockchain. Oh, jadi paham kita. Andai kopi kita di-traceability-kan maka asal-usul dan branding akan tetap terjaga.Banyak cerita yang tidak semua kita tulis di sini secara detail karena ada suasana emosional yang sulit menemukan padanan kata, bagaimana semangat kami ingin membuat ini mendapatkan satu titik terang untuk mewujudkannya, karena ini bicara inovasi teknologi di dunia pertanian. Ide yang datang dari pelosok desa ujung gunung di kaki Kerinci sana yang sulit dipercaya, bahkan oleh salah satu universitas ternama di Indonesia. Dan tanpa sengaja proposal dibaca oleh orang Negeri Sakura dengan nada yakin dia membalas email: "Dear Mr. Suryono Alko and team, we have read your proposal, and we see that it has great potential to discuss traceability for agricultural products in Indonesia, which has the obstacle that it is difficult to trace because the landscape is mountainous and access is still far. Our offer to you is a Blockchain-based technology to record the struggles of farmers in protecting forests while remaining productive and to avoid accusations of forest development. It's a technology that's still relatively new, but we're ready to visit you to introduce it. We hope this can be a solution for you to showcase transportation, all the supply chain actors in your ecosystem...." Setelah baca balasan email ini kita semua terdiam dan butuh banyak tisu juga menyeruput kopi.Koperasi ALKO dibangun oleh 7 (tujuh) anak muda Kerinci yang memiliki visi sama, teman satu sekolah SMP dan teman bermain kecil. Kerinci sebagai satu daerah penghasil komoditas kelas dunia, namun tak banyak yang muncul sebagai local champion apalagi memiliki akses langsung ke global, sehingga perlu terobosan. Latar belakang dari 7 (tujuh) orang yang berbeda: ada yang pedagang lokal, petani, ada yang TKI Negeri Sakura dan Negeri Jiran, dan ada yang guru. Saat berkumpul ternyata memiliki kesamaan visi, lalu berbagi pengalaman selama merantau. Hasil dari rantauan di luar negeri menjadi titik balik ide-ide itu tergabung dan menjadi satu dalam semangat filosofi koperasi yaitu ingin menjadi tuan di negeri sendiri.Aplikasi QThink-X traceability ini adalah hasil dari menjawab kesamaan visi tadi. Di bawah Koperasi ALKO, aplikasi QThink-X ( QThinkX.io / QThinkX.com) menjadi aplikasi traceability untuk hasil komoditas, sehingga kopi yang di produksi tak hanya bisa dilacak lokasi asal namun bisa tahu posisi kebun dan dapat memasatikan tidak dalam kawasan yang terlarang seperti lokasi hutan lindung atau taman nasional yang mesti di jaga bersama, dan hal ini bisa dilihat secara real-time oleh pembeli di seluruh benua bahwa kopi ramah lingkungan ada didepannya.  Semua jenis komoditas petani bisa dibuat berbasis blockchain untuk transparansi supply chain dan value chain. Setiap petani di dunia sebagai pengguna digratiskan dalam memakainya, cukup daftar, divalidasi sistem, dan pakai dengan benefit akses pasar, akses harga komoditas real-time, akses terkoneksi, setiap petani dapat menampilkan story telling dibalik kopinya dari setiap kebun yang terbukti jauh dari deforestasi dan memungkinkan akses pembiayaan serta mendapatkan apresiasi dari para penikmatnya. Aplikasi ini berbayar hanya untuk produsen atau eksportir atau pelaku hilir karena akan menjadi bagian added value produk mereka dan untuk memenuhi kepatuhan aturan negara tujuan ekspor.Saatnya Petani Mesti Ber-Ekosistem.Bangga Jadi Petani.Ngopi ☕ pagiSuryono-Alko.

Read More  

Admin Alko | 17/09/2026

KERINCI, JAMBI — (11-13)Peluang bisnis kopi Kerinci semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan pasar global terhadap kopi yang berkualitas, terlacak, dan berkelanjutan. Tantangannya kini bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi mengubah cara budidaya dan membangun rantai bisnis yang mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani tanpa mengorbankan hutan.Hal itu mengemuka dalam diskusi mengenai masa depan kopi agroforestri yang dimoderatori Pebriyansah dan menghadirkan lima narasumber, yakni .Surip Mawardi, Agung Wibowo, Bang Day dari KKI WARSI, Ariansyah, dan Suryono selaku CEO ALKO.Diskusi tersebut mempertemukan perspektif penelitian dan budidaya kopi, agroforestri, perhutanan sosial, kebijakan pemerintah, serta dunia usaha. Benang merahnya sama: masa depan kopi Kerinci membutuhkan perubahan dari kebun hingga pasar.Produktivitas Harus Dimulai dari DataPeneliti kopi Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi, S.U. menekankan bahwa pengembangan kopi tidak boleh dilakukan berdasarkan asumsi.“Belum tentu masalahnya keragaan, belum tentu tanam, belum tentu market. Yang bisa menjawab adalah data,” ujar Surip.Menurut dia, data diperlukan untuk mengetahui persoalan sebenarnya di tingkat kebun, termasuk produktivitas, kondisi tanaman, varietas, dan peluang pasar.Ia juga mendorong petani melihat kopi sebagai investasi jangka panjang. Kebun yang dikelola dengan baik bukan hanya menghasilkan panen, tetapi dapat menjadi aset ekonomi keluarga.Agroforestri Jadi Jalan TengahPak Agung menyoroti pentingnya agroforestri sebagai pendekatan yang menggabungkan kepentingan ekonomi dan lingkungan.Pengembangan kopi, menurutnya, tidak seharusnya hanya mengejar jumlah tanaman, tetapi juga mempertahankan tanaman kehutanan dan komoditas lain yang memiliki nilai ekonomi.“Agroforestri harus mampu menjaga hutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi,” menjadi garis besar pandangannya.Diversifikasi tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap satu komoditas sekaligus membangun sumber pendapatan yang lebih beragam.Perhutanan Sosial Harus Menghasilkan Nilai EkonomiDari perspektif masyarakat dan kawasan hutan, Bang Day dari KKI WARSI menekankan pentingnya perencanaan secara partisipatif.Setelah masyarakat memperoleh akses melalui perhutanan sosial, tantangan berikutnya adalah bagaimana kawasan tersebut dikelola dan menghasilkan manfaat nyata.Potensi ekonomi perlu diidentifikasi, baik di dalam maupun di sekitar kawasan.“Ketika kebutuhan ekonomi tidak terpenuhi, hutan juga terancam,” menjadi salah satu pesan penting dalam diskusi.Karena itu, kopi dapat dikembangkan bersama tanaman kayu, buah-buahan dan komoditas lainnya sehingga masyarakat tidak bergantung pada satu sumber pendapatan.Pemerintah Perlu Memperkuat EkosistemDari sisi pemerintah, Ariansyah menekankan pentingnya kebijakan yang melindungi sekaligus memberdayakan petani.Menurutnya, setiap wilayah memiliki karakter petani dan komoditas yang berbeda. Di wilayah barat Jambi, kopi telah menjadi bagian dari tradisi dan identitas masyarakat.Pengembangannya perlu didukung melalui praktik pertanian berkelanjutan, termasuk Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).Dukungan pemerintah, menurut Ariansyah, tidak cukup berupa bantuan produksi. Petani juga perlu diperkuat dari sisi kemampuan, kelembagaan, pembiayaan dan akses pasar.Pemberdayaan Perempuan Jadi Kekuatan BisnisSementara itu, CEO ALKO Suryono membawa diskusi pada hubungan antara bisnis, keberlanjutan dan pasar global.“ALKO dalam berbisnis ingin melindungi alam dan memberdayakan masyarakat,” kata Suryono.Ia menilai perempuan memiliki peran besar dalam rantai kopi, mulai dari penanaman hingga sortasi. Namun, keterlibatan tersebut harus ditingkatkan dari sekadar tenaga kerja menjadi bagian dari manajemen.“Perempuan jangan hanya jadi buruh, tapi harus ikut dalam manajemen,” ujarnya.Menurut Suryono, pemberdayaan perempuan, masyarakat, perlindungan lingkungan dan traceability dapat menjadi kekuatan bisnis ketika kopi masuk ke pasar internasional.Dari Kebun Kerinci ke Pasar GlobalDiskusi yang dimoderatori Pebriyansah menemukan satu kesimpulan utama: masa depan kopi Kerinci tidak cukup dibangun hanya dengan meningkatkan produksi.Kopi harus memiliki produktivitas, kualitas, sistem agroforestri, kelembagaan petani, traceability, serta akses pasar yang kuat.Peluang pasar tersebut mulai terlihat dari perkembangan ekspor kopi Kerinci. Pada Festival Pesta Rakyat Petani Kopi Kerinci 2026, sebanyak 7 ton kopi dilepas ke Kanada dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar dan 7 ton lainnya ke Malaysia dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar. PT ALKO juga menandatangani MoU dengan Royal Coffee dari Amerika Serikat untuk rencana ekspor dua kontainer pada Oktober dan November 2026.Tantangan Berikutnya adalah PerubahanPebriyansah menilai tantangan terbesar ke depan bukan sekadar bagaimana menanam kopi lebih banyak, tetapi bagaimana mengubah cara pandang terhadap kopi.“Kita tidak bisa lagi melihat kopi hanya sebagai tanaman. Kopi adalah bagian dari ekosistem yang menghubungkan petani, hutan, teknologi, perempuan, perusahaan dan pasar,” ujar Pebriyansah.Karena itu, perubahan harus dilakukan bersama. Petani meningkatkan produktivitas, pendamping memperkuat kapasitas masyarakat, pemerintah membangun kebijakan dan ekosistem, perusahaan membuka pasar, sementara teknologi memastikan proses produksi dapat ditelusuri dan memberikan nilai tambah.Pada akhirnya, keberhasilan kopi agroforestri Kerinci bukan hanya diukur dari jumlah kopi yang dihasilkan, tetapi dari seberapa besar nilai ekonomi kembali kepada petani, seberapa kuat masyarakat diberdayakan, dan seberapa baik hutan tetap terjaga.Kopi Kerinci pun berpeluang berkembang bukan sekadar sebagai komoditas, tetapi menjadi model bisnis agroforestri yang mempertemukan ekonomi, lingkungan, teknologi dan kesejahteraan masyarakat untuk menghadapi pasar global.

Read More  

Admin Alko | 14/09/2026

KERINCI, Jambi —11-13/ Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO) bersama petani dan berbagai mitra menyelenggarakan Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 pada 11–12 September 2026 di Desa Batang Sangir, Kabupaten Kerinci, Jambi.Mengusung semangat memperkuat ekosistem kopi dari hulu hingga hilir, festival ini mempertemukan petani, kelompok tani, koperasi, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, komunitas, hingga pembeli kopi dari pasar internasional.Rangkaian kegiatan tidak hanya menjadi ajang perayaan petani kopi, tetapi juga menjadi momentum memperkuat akses pembiayaan, traceability, perdagangan kopi, hilirisasi, serta kemitraan kehutanan dan agroforestri.ALKO dan BPDLH Perkuat Akses Dana Bergulir PetaniSalah satu agenda utama festival adalah penandatanganan sejumlah kerja sama strategis, termasuk Memorandum of Understanding (MoU) antara ALKO dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat peran ALKO sebagai mitra agregator dalam membantu akses pembiayaan fasilitas dana bergulir kepada petani binaan koperasi ALKO.Pada tahap awal, program akan menyasar petani binaan di Kerinci, Jambi dan Bengkulu, dengan target sekitar 100 petani dan nilai pembiayaan diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar.Program kemudian direncanakan berkembang menjadi sekitar 800 petani, dan tahap berikutnya mencapai 2.500 petani binaan ALKO, dengan target penyaluran pembiayaan hingga Rp37,5 miliar sampai 2027.Skema tersebut juga akan diperkuat dengan pemanfaatan teknologi QThink-X untuk mendukung data, monitoring dan mitigasi dalam ekosistem petani.Kolaborasi ALKO dan WARSISelain dengan BPDLH, ALKO juga menandatangani MoU dengan KKI WARSI untuk mengembangkan potensi hutan adat, sumber daya lokal dan kelompok binaan WARSI.Dalam kerja sama tersebut, ALKO diposisikan untuk dapat berperan sebagai offtaker maupun agregator bagi produk dan potensi ekonomi masyarakat binaan.Kerja sama ini memperluas pendekatan ALKO yang tidak hanya berorientasi pada perdagangan kopi, tetapi juga membangun keterhubungan antara petani, masyarakat sekitar hutan, konservasi, agroforestri dan pasar.Kontrak Pembelian Kopi dengan Royal Coffee USAFestival juga menjadi momentum penguatan akses pasar internasional.ALKO menandatangani kontrak pembelian kopi dengan Royal Coffee USA untuk kopi Kerinci yang direncanakan dikirim pada Oktober dan November 2026.Kontrak tersebut mencakup dua kontainer kopi dengan nilai sekitar Rp6,5 miliar atau USD 365.000.Kesepakatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pasar kopi Kerinci sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani dan ekosistem produksi di tingkat hulu.Pelepasan Ekspor Kopi ke Kanada dan MalaysiaDalam rangkaian acara, ALKO juga melakukan pelepasan ekspor kopi ke pasar internasional.Sebanyak 7 ton kopi senilai sekitar USD74.000 dilepas menuju Kanada. Jumlah yang sama juga dilepas menuju Malaysia kepada dua buyer, dengan nilai sekitar USD74.000.Dengan demikian, total ekspor yang dilepas dalam momentum tersebut mencapai 14 ton, dengan nilai sekitar USD148.000 atau Rp2,6 miliar.Pelepasan ekspor ini menjadi simbol bahwa kopi Kerinci tidak hanya memiliki potensi sebagai komoditas lokal, tetapi juga semakin terhubung dengan rantai perdagangan global.Festival Tidak Berhenti di PerdaganganFestival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan edukasi dan interaksi langsung dengan ekosistem kopi.Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan tari selamat datang, doa, sambutan para pemangku kepentingan, penandatanganan kerja sama, pelepasan ekspor, serta pertunjukan budaya berupa Tari Petani dan Reog.Pada sore hari, peserta mengikuti Coffee Fun Brew, lomba kopi, seminar dan business matching.Sementara pada hari kedua, peserta mengikuti coffee field trip dengan mengunjungi pabrik ALKO, kebun kopi dan lokasi pengolahan kopi sebelum kembali ke lokasi festival.Di lokasi utama, kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Internasional, Coffee Fun Brewing dan diskusi mengenai masa depan kopi Kerinci.Salah satu tema penting yang diangkat adalah “Upaya Membangun Ekosistem Traceability Kopi Agroforestry Kerinci Berbasis Blockchain Web 3.0” sebagai bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah dan daya saing kopi Kerinci di pasar global.Dari Kebun, Teknologi hingga Pasar DuniaKetua Pembina Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO), Suryono, dalam rangkaian kegiatan tersebut menekankan pentingnya membangun ekosistem yang menghubungkan petani dengan pembiayaan, teknologi, pengolahan dan pasar.Menurutnya, penguatan koperasi tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Petani juga membutuhkan akses terhadap teknologi, pembiayaan dan kepastian pasar.Melalui berbagai kerja sama yang dibangun, ALKO mendorong agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi menjadi bagian penting dalam rantai nilai kopi yang lebih transparan dan berkelanjutan.Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 akhirnya menjadi ruang pertemuan antara petani, hutan, teknologi, pembiayaan dan pasar internasional.Dari Kerinci, pesan yang dibawa adalah bahwa masa depan kopi tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji, tetapi juga oleh bagaimana seluruh ekosistem di belakangnya—mulai dari petani, koperasi, lingkungan, teknologi hingga pembeli global—dibangun secara bersama-sama.

Read More  

Admin Alko | 14/09/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.