Dari Gunung Kerinci ke Dunia: Membangun Jejak Global dari Akar Lokal

Admin Alko | 25/02/2026

Di kaki Gunung Kerinci, aktivitas pertanian telah berlangsung lintas generasi. Tanah vulkanik yang subur, udara pegunungan yang sejuk, serta tradisi bertani yang diwariskan turun-temurun membentuk identitas kawasan ini. Namun, di tengah dinamika perdagangan global, identitas lokal saja tidak lagi cukup. Dunia kini bergerak dalam satu jaringan yang saling terhubung. Komoditas dari desa terpencil dapat hadir di rak-rak toko kota besar dunia dalam hitungan minggu. Tetapi agar perjalanan itu terjadi, ada satu prasyarat utama: sistem yang dapat dipercaya. Pertanyaannya kemudian, bagaimana sebuah koperasi berbasis petani di daerah pegunungan bisa menapakkan jejaknya di panggung global? Jawabannya tidak terletak semata pada kualitas produk, melainkan pada kemampuan membangun kepercayaan lintas batas. Lokalitas sebagai Fondasi, Bukan Batasan Sering kali, istilah “lokal” dipahami sebagai sesuatu yang terbatas. Padahal, dalam ekonomi modern, justru kekhasan lokal menjadi nilai yang dicari. Pasar global semakin menghargai produk dengan identitas yang jelas—asal-usul yang terdefinisi, cerita yang autentik, serta praktik budidaya yang berkelanjutan. Gunung Kerinci memiliki semua unsur tersebut. Namun keunggulan itu baru bermakna ketika diterjemahkan dalam bahasa yang dipahami pasar global: standar, sertifikasi, data, dan konsistensi. ALKO melihat bahwa membawa kopi Kerinci ke dunia bukan sekadar mengirim barang ke luar negeri. Ia adalah proses menerjemahkan nilai lokal ke dalam sistem global. Standar Global dan Disiplin Kolektif Pasar internasional tidak hanya menilai rasa. Ia menilai proses. Ada standar mutu, standar keberlanjutan, hingga standar keterlacakan yang harus dipenuhi. Semua itu menuntut disiplin kolektif. Bagi koperasi, tantangan terbesar bukan pada teknis ekspor, melainkan pada penyamaan langkah seluruh anggota. Setiap petani, setiap proses pascapanen, setiap titik distribusi harus mengikuti standar yang sama. Standar bukanlah pembatas kreativitas. Ia adalah bahasa bersama yang memungkinkan produk lokal diterima secara universal. ALKO menyadari bahwa untuk berdiri sejajar di pasar global, koperasi harus mampu menjaga konsistensi. Kualitas tidak boleh fluktuatif. Proses tidak boleh berubah-ubah. Data tidak boleh terputus. Di sinilah sistem menjadi penopang utama. Membangun Reputasi, Bukan Sekadar Transaksi Dalam perdagangan internasional, reputasi jauh lebih bernilai daripada satu kontrak penjualan. Reputasi dibangun melalui keandalan—kemampuan memenuhi komitmen secara konsisten. Bagi pembeli global, risiko adalah pertimbangan utama. Mereka membutuhkan kepastian pasokan, kepastian mutu, dan kepastian legalitas. Ketika sebuah koperasi mampu menyediakan semua itu, relasi bisnis pun berubah menjadi kemitraan strategis. ALKO memilih jalur yang tidak instan. Alih-alih mengejar lonjakan volume sesaat, koperasi membangun fondasi reputasi. Setiap musim panen menjadi kesempatan untuk memperkuat kepercayaan. Jejak global bukan diukur dari seberapa banyak negara tujuan ekspor, melainkan dari seberapa lama hubungan itu terjaga. Digitalisasi sebagai Jembatan Antar-Benua Perdagangan lintas negara tidak lagi bertumpu pada dokumen fisik semata. Dunia bergerak menuju sistem digital yang cepat dan transparan. Dalam konteks ini, koperasi yang mampu menghadirkan data terintegrasi memiliki keunggulan tersendiri. Digitalisasi memungkinkan informasi bergerak lebih cepat daripada barangnya. Sebelum kontainer tiba di pelabuhan tujuan, pembeli sudah mengetahui detail asal-usul dan prosesnya. Kecepatan informasi menciptakan efisiensi. Efisiensi menciptakan kepercayaan. ALKO memanfaatkan sistem digital bukan untuk sekadar terlihat modern, tetapi untuk memastikan bahwa jarak geografis tidak menjadi penghalang komunikasi. Gunung Kerinci mungkin berada jauh dari pusat perdagangan dunia, tetapi melalui sistem yang terhubung, ia tidak lagi terisolasi. Identitas Petani dalam Peta Global Globalisasi kerap memunculkan kekhawatiran bahwa identitas lokal akan hilang. Namun justru dengan sistem keterlacakan, identitas petani menjadi lebih terlihat. Setiap produk yang diekspor membawa cerita tentang kebun, tentang keluarga, tentang praktik budidaya. Identitas itu bukan lagi sekadar narasi pemasaran, melainkan bagian dari data yang terdokumentasi. Petani tidak lagi anonim dalam rantai pasok panjang. Mereka menjadi bagian yang diakui dalam ekosistem global. Pengakuan ini memiliki dampak psikologis dan ekonomi. Ketika identitas dihargai, rasa kepemilikan meningkat. Ketika rasa kepemilikan meningkat, kualitas pun dijaga dengan kesadaran. Tantangan Menembus Pasar Global Tentu, perjalanan menuju pasar internasional bukan tanpa hambatan. Fluktuasi harga komoditas, perubahan regulasi, dinamika geopolitik, hingga persaingan antarnegara produsen menjadi realitas yang harus dihadapi. Namun tantangan tersebut tidak dapat dijawab dengan pendekatan reaktif. Ia membutuhkan strategi jangka panjang. Strategi itu mencakup: Diversifikasi pasar Peningkatan standar mutu Penguatan sistem keterlacakan Pengembangan kapasitas sumber daya manusia Semua elemen tersebut saling terkait. Tanpa kualitas, pasar akan ragu. Tanpa sistem, kualitas sulit dibuktikan. Tanpa sumber daya manusia yang siap, sistem tidak berjalan. ALKO menempatkan ketiganya sebagai prioritas yang berjalan seiring. Dari Desa ke Dunia, Tanpa Kehilangan Akar Membawa produk ke pasar global bukan berarti meninggalkan nilai lokal. Justru nilai itulah yang menjadi daya tarik. Kekuatan koperasi terletak pada solidaritas dan kebersamaan. Transformasi digital dan orientasi global tidak boleh mengikis fondasi tersebut. Sebaliknya, ia harus memperkuatnya. Musyawarah tetap menjadi ruang pengambilan keputusan. Kebersamaan tetap menjadi energi kolektif. Perbedaannya, kini keputusan didukung oleh data dan perspektif yang lebih luas. Desa tidak lagi dipandang sebagai pinggiran. Ia menjadi titik awal dari jaringan global. Masa Depan yang Terhubung Jejak global bukan tujuan akhir. Ia adalah proses yang terus berkembang. Setiap musim panen membawa peluang dan pelajaran baru. Setiap transaksi memperkaya pengalaman. Yang membedakan koperasi yang bertahan dan yang tertinggal adalah kemampuan membaca arah zaman. ALKO memilih untuk menempatkan Gunung Kerinci dalam peta perdagangan dunia melalui sistem yang terintegrasi dan transparan. Pilihan itu bukan tentang ambisi semata, melainkan tentang keberlanjutan. Karena pada akhirnya, globalisasi bukan tentang menjadi besar dengan cepat. Ia tentang menjadi relevan dalam jangka panjang. Dari tanah yang subur di lereng gunung hingga pasar internasional yang kompetitif, perjalanan ini membuktikan satu hal: ketika akar dijaga kuat dan sistem dibangun kokoh, batas geografis bukan lagi penghalang. Gunung Kerinci tidak sekadar menghasilkan kopi. Ia sedang menuliskan jejaknya di dunia.

Share this :
Share this :

Blog

Other News recommendations for you

Blog

Other News recommendations for you

SURABAYA — Kopi robusta premium Indonesia kembali mencatat langkah menuju pasar Eropa. Sebuah kontainer ekspor yang mengusung program “Road to Milan” menunjukkan pengiriman kopi robusta premium Indonesia berbasis traceability blockchain menuju Naples, Italia, melalui jalur logistik Surabaya pada Agustus 2026.Informasi tersebut terlihat pada penanda yang terpasang di kontainer dalam dokumentasi pengiriman. Program ini melibatkan ALKO dan menggunakan QThink-X Traceability Apps sebagai bagian dari sistem ketertelusuran produk.Penggunaan teknologi traceability menjadi bagian penting dalam upaya membawa kopi Indonesia ke pasar global. Bukan semata-mata mengenai pengiriman komoditas dari Indonesia ke Eropa, tetapi juga bagaimana perjalanan kopi dapat ditelusuri dari sumbernya hingga menjadi produk yang diterima konsumen.Pada kontainer tersebut tercantum keterangan “Ekspor Kopi Robusta Premium Indonesia Flores Berbasis Traceability Blockchain ke Naples – Agustus 2026 via Surabaya”. Identitas ALKO dan QThink-X juga ditampilkan sebagai bagian dari ekosistem program.Dari kebun ke pasar globalPenggunaan teknologi ketertelusuran menjadi semakin relevan bagi komoditas kopi. Konsumen dan pembeli di pasar internasional tidak hanya memperhatikan rasa dan kualitas biji kopi, tetapi juga semakin memperhatikan asal produk, proses produksi, keberlanjutan, serta pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasok.Dalam konteks tersebut, blockchain traceability dapat digunakan untuk membangun rekam jejak digital yang lebih terstruktur. Informasi mengenai asal kopi, proses di tingkat petani, pengolahan, hingga rantai distribusi dapat menjadi bagian dari data yang mendukung transparansi produk.QThink-X diposisikan dalam ekosistem tersebut sebagai aplikasi ketertelusuran yang menghubungkan aktivitas di lapangan dengan informasi digital.Langkah ini juga sejalan dengan gagasan besar ALKO untuk membangun ekosistem kopi yang tidak berhenti pada perdagangan komoditas, tetapi memperkuat hubungan antara petani, koperasi, pengolah, pelaku usaha, hingga pembeli di pasar internasional.Dengan demikian, kopi tidak lagi hanya hadir sebagai komoditas yang dikirim dalam kontainer. Di belakang satu pengiriman terdapat cerita mengenai kebun, petani, proses produksi, kualitas, dan sistem yang memungkinkan perjalanan produk tersebut ditelusuri.Teknologi menjadi bagian dari nilai kopiPenggunaan QThink-X dalam pengiriman ini memperlihatkan bahwa teknologi mulai ditempatkan sebagai bagian dari nilai tambah kopi Indonesia.Ketertelusuran dapat menjadi instrumen untuk menjawab kebutuhan pasar yang semakin menuntut transparansi. Bagi petani dan pelaku usaha, data yang tercatat juga dapat menjadi dasar untuk membangun sistem produksi yang lebih terukur.Bagi pembeli, ketertelusuran memberikan informasi mengenai dari mana produk berasal dan bagaimana produk tersebut melewati rantai pasok.Model seperti ini menjadi penting ketika kopi Indonesia masuk ke pasar yang memiliki persyaratan dan ekspektasi tinggi terhadap kualitas serta keberlanjutan.Pengiriman melalui Surabaya menuju Naples juga memperlihatkan bahwa rantai kopi Indonesia semakin terhubung dengan pasar internasional. Dari wilayah produksi di Indonesia, kopi bergerak melalui jaringan logistik nasional sebelum memasuki pasar Eropa.Bukan sekadar eksporBagi ALKO, langkah ini dapat dibaca sebagai bagian dari perjalanan membangun ekosistem kopi berbasis data dan ketertelusuran.Pengembangan ekosistem tersebut sebelumnya juga dikaitkan dengan penguatan koperasi dan kelompok usaha petani, pengembangan agroforestri, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung transparansi rantai pasok.Karena itu, keberadaan QThink-X dalam pengiriman kopi bukan sekadar pelengkap administratif. Teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa perjalanan kopi dari hulu hingga hilir dapat terdokumentasi.Hal ini sekaligus membuka peluang bagi kopi Indonesia untuk membawa lebih banyak informasi mengenai identitas produknya ketika memasuki pasar global.Kopi robusta premium dari Flores yang diberangkatkan melalui Surabaya menjadi salah satu contoh bagaimana komoditas Indonesia dapat dipadukan dengan teknologi ketertelusuran untuk menjawab tuntutan perdagangan modern.Di tengah persaingan kopi dunia, nilai sebuah produk semakin ditentukan bukan hanya oleh apa yang ada di dalam cangkir, tetapi juga oleh cerita dan bukti di balik produk tersebut.Dari kebun, data, hingga kontainer—perjalanan kopi Indonesia menuju pasar Eropa kini membawa identitas yang semakin lengkap.

Read More  

Admin Alko | 26/08/2026

Mengabdi Tanpa Henti Untuk KerinciIbrahim Ash ShidiqHubungan InternasionalFakultas ilmu sosial dan ilmu politikUniversitas AndalasCerita Perjalanan kami selama 50 menit dari Sungai Penuh ke Desa Lolo Kecil, Kecamatan Bukit Kerman, Kabupaten Kerinci. Hamparan desa ini menjadi saksi bisu langkah awal kami dalam melaksanakan program Pengabdian Masyarakat Ikatan Mahasiswa Kerinci Universitas Andalas (IMK-UNAND) tahun 2026. Kegiatan pengabdian ini berlangsung selama satu minggu penuh, terhitung dari tanggal 5 hingga 11 Agustus 2026. Pemerintahan desa beserta tokoh masyarakat setempat menyambut hangat kedatangan kami dalam acara pembukaan di hari pertama. Semua anggota panitia merasa sangat bersemangat untuk memulai seluruh rangkaian agenda yang telah dipersiapkan dari jauh hari.Tantangan pertama langsung menyapa kami saat mulai mengamati keseharian masyarakat setempat. Mayoritas penduduk di desa ini, mencapai angka 80 persen, menggantungkan hidup sebagai seorang petani. Mereka terbiasa berangkat ke ladang sejak pagi buta dan baru kembali pulang saat matahari mulai condong ke barat. Kondisi ini tentu saja bikin kami memutar otak dalam menyusun jadwal kegiatan agar partisipasi warga bisa maksimal. Waktu yang paling ideal untuk mengumpulkan warga ternyata sangat singkat, yakni dari setelah waktu Ashar hingga menjelang Maghrib. Keterbatasan durasi ini justru mengajarkan kami arti efisiensi dan kelincahan strategi dalam mengeksekusi sebuah acara.Beragam program kerja kami susun sedemikian rupa untuk menyentuh berbagai lapisan masyarakat desa. Hari kedua kami awali dengan kegiatan gotong royong membersihkan gedung pemuda desa yang akan menjadi pusat seluruh aktivitas. Sore harinya, gedung tersebut langsung digunakan untuk menggelar dua seminar penting bagi warga setempat. Seminar pertama berfokus pada kesehatan orang tua, secara khusus membahas pentingnya makanan bergizi dan kontrol gula darah. Sesi berikutnya diisi oleh perwakilan Bank 9 Jambi yang memberikan edukasi mengenai pengelolaan keuangan dan pentingnya menabung di instansi tersebut. Antusiasme warga terlihat sangat jelas meski mereka baru saja melepas lelah sepulang dari kebun.Rangkaian kegiatan edukatif berlanjut pada hari ketiga dengan menghadirkan praktisi berpengalaman dari PT ALKO Sumatra Kopi. Sesi diskusi kali ini mengambil fokus utama pada teknik perawatan tanaman kopi serta strategi hilirisasi produk lokal kebanggaan Kerinci. Pihak pemateri memaparkan secara rinci tahapan krusial pascapanen yang berpotensi besar mendongkrak nilai jual biji kopi di pasaran luas. Warga desa tampak menyimak setiap penjelasan tersebut dengan tingkat antusiasme yang sangat tinggi. Pemateri turut membagikan pandangan bahwa keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya diukur dari produk yang dihasilkan, tetapi juga dari nilai yang mampu diberikan kepada lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. PT ALKO Sumatra Kopi melalui perwakilannya menunjukkan secara langsung bahwa dunia usaha dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial dan lingkungan. Pengetahuan ini sukses membuka wawasan para petani Lolo Kecil tentang potensi ekonomi besar yang tersembunyi di balik kebun kopi mereka.Fokus pengabdian kami kemudian beralih pada pelestarian lingkungan di hari ke empat melalui aksi penanaman bibit pohon. Kami bersama-sama menanam 20 bibit nangka dan 20 bibit jengkol di berbagai titik sekitar desa. Langkah kecil ini kami harapkan dapat memberikan manfaat sekaligus tambahan nilai ekonomis bagi warga Lolo Kecil di masa depan.Interaksi dengan anak-anak desa menjadi warna tersendiri dalam perjalanan pengabdian ini di hari kelima. Kami mengunjungi Sekolah Dasar (SD) setempat untuk melaksanakan senam pagi bersama para siswa dan guru. Keceriaan anak-anak semakin meningkat saat kami mengadakan lomba mewarnai untuk siswa kelas 1 hingga 3. Siswa kelas 4, 5, dan 6 juga tidak kalah semangat saat lomba cerdas cermat yang kami pandu. Pengalaman berharga lainnya di lingkungan sekolah kami dapatkan saat ikut menjadi petugas upacara bendera di hari Senin. Pihak sekolah sangat mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang turut menanamkan rasa disiplin kepada para murid.Kedekatan kami dengan warga ternyata tidak hanya melalui deretan program formal yang sudah direncanakan. Pada hari minggu dengan jadwal yang telah ditetapkan kami membuat kegiatan didikan subuh untuk anak-anak Desa Lolo kecil, Siang nya kami melakukan jejak sejarah berkunjung ke rumah depati parbo lalu mendengarkan cerita sejarah depati parbo dan Kami juga menyempatkan diri untuk mengikuti pengajian rutin bersama ibu-ibu majelis taklim di saat agenda panitia sedang kosong saat sore hari. di hari terakhir kami semua panitia membantu pihak puskesmas setempat. Kami mendampingi para tenaga kesehatan dalam melakukan pengecekan medis untuk warga dewasa dan pelayanan posyandu bagi balita. Seluruh agenda resmi ini ditutup dengan acara perpisahan pada sore harinya untuk saling menyampaikan kesan dan pesan mendalam. Panitia pengabdian mulai membersihkan tempat tinggal setelah acara selesai dan bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing.Pengabdian ini pada akhirnya tidak hanya memberikan rentetan dampak bagi desa, melainkan juga bagi internal organisasi kami. Mayoritas anggota panitia yang ikut serta adalah mahasiswa semester dua yang belum pernah merasakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan ini secara langsung menjadi wadah pembelajaran bagi kami untuk mempraktikkan cara bersosialisasi yang baik dengan masyarakat desa. Dinamika dan ragam masalah yang muncul selama satu minggu kami jadikan bahan evaluasi untuk diselesaikan bersama. Penyelesaian masalah secara musyawarah ini menjadi bekal mental yang berharga untuk melangkah ke depannya.

Read More  

Admin Alko | 21/08/2026

JAKARTA —19/8, Upaya memperluas akses pembiayaan bagi petani kopi di wilayah Kerinci dan Bengkulu memasuki tahap baru. Alko menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) untuk membangun kerja sama penyaluran pembiayaan dana bergulir kepada petani dalam ekosistem koperasi dan closed-loop Alko.Kerja sama tersebut menempatkan Alko sebagai mitra agregator, yang berperan menghubungkan dan mengonsolidasikan petani anggota koperasi dalam ekosistem Alko agar dapat mengakses skema pembiayaan BPDLH.Penandatanganan MoU ditandai dengan pertemuan dan penyerahan dokumen kerja sama antara perwakilan BPDLH dan Alko. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pembiayaan yang lebih terstruktur bagi petani, sekaligus memperkuat praktik pertanian yang berkelanjutan.Pada tahap awal, program ditargetkan menjangkau sekitar 100 petani. Selanjutnya, cakupan program direncanakan diperluas hingga sekitar 2.000 petani anggota dalam ekosistem closed-loop Alko di wilayah Kerinci dan Bengkulu.Skema tersebut tidak hanya diarahkan pada penyaluran dana, tetapi juga akan dilengkapi dengan mekanisme mitigasi dan pemantauan berbasis teknologi. Salah satu instrumen yang disiapkan adalah pemanfaatan QThink-X untuk mendukung pengelolaan dan pemantauan program di tingkat petani.Dengan pendekatan tersebut, pembiayaan diharapkan tidak berhenti pada aspek pencairan dana. Data dan aktivitas petani dapat dipantau secara lebih terstruktur sehingga pelaksanaan program dapat berjalan sesuai tujuan dan prinsip keberlanjutan.Kerja sama ini juga memperkuat model closed-loop ecosystem yang dikembangkan Alko, yakni pendekatan yang menghubungkan petani, koperasi, pendampingan, pembiayaan, produksi, hingga akses pasar dalam satu ekosistem.Bagi petani kopi, akses terhadap pembiayaan menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kapasitas usaha. Dana yang tersedia dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan produktif petani, pengembangan kebun, peningkatan kualitas produksi, maupun penguatan praktik pertanian yang memperhatikan aspek lingkungan.Kolaborasi dengan BPDLH sekaligus membuka peluang agar agenda pembiayaan petani berjalan beriringan dengan agenda perlindungan lingkungan. Dengan demikian, penguatan ekonomi petani tidak dipisahkan dari upaya menjaga ekosistem tempat kopi tersebut dibudidayakan.Alko melihat kerja sama ini sebagai langkah awal untuk membangun model pembiayaan yang lebih dekat dengan kebutuhan petani. Setelah tahap awal berjalan, cakupan penerima manfaat akan dievaluasi dan dikembangkan secara bertahap.Target 2.000 petani dalam ekosistem closed-loop Alko menjadi bagian dari visi jangka menengah untuk memperluas akses pembiayaan sekaligus memperkuat posisi koperasi dan kelompok usaha petani sebagai bagian penting dari rantai nilai kopi.Pemanfaatan teknologi QThink-X nantinya diharapkan dapat membantu proses mitigasi, pemantauan wilayah, serta pengelolaan data petani. Pendekatan berbasis data ini penting untuk memastikan program pembiayaan dapat dipantau secara lebih transparan dan terukur.Kerja sama Alko dan BPDLH juga menunjukkan bahwa pengembangan komoditas kopi tidak semata-mata berbicara mengenai produksi dan pasar. Di tingkat hulu, keberlanjutan usaha petani membutuhkan dukungan pembiayaan, kelembagaan, teknologi, dan tata kelola yang saling terhubung.Bagi Kerinci dan Bengkulu, langkah tersebut memiliki arti penting karena kedua wilayah merupakan bagian dari kawasan penghasil kopi yang memiliki potensi ekonomi sekaligus nilai ekologis yang besar.Melalui kemitraan ini, Alko berharap semakin banyak petani memperoleh akses terhadap pembiayaan produktif tanpa harus berjalan sendiri. Koperasi dan ekosistem closed-loop diharapkan menjadi penghubung antara kebutuhan petani dan berbagai sumber dukungan yang tersedia.Tahap awal dengan 100 petani akan menjadi pijakan untuk melihat efektivitas model tersebut sebelum diperluas kepada ribuan anggota lainnya.Pada akhirnya, kerja sama ini diarahkan untuk membangun satu ekosistem yang menghubungkan petani, koperasi, pembiayaan, teknologi, lingkungan, dan pasar secara lebih terintegrasi.Bukan sekadar menyalurkan dana, kolaborasi Alko dan BPDLH ini diharapkan menjadi langkah untuk memperkuat fondasi ekonomi petani kopi sekaligus memastikan pertumbuhan sektor kopi tetap berjalan sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Read More  

Admin Alko | 20/08/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.