Kerinci,1/3 – Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia (APUDSI) melakukan kunjungan strategis ke ALKO (Koperasi Alam Koerintji) dalam rangka penguatan ekosistem petani dan pelaku usaha desa berbasis teknologi terintegrasi untuk pendataan, pengembangan usaha, serta peningkatan daya saing komoditas Indonesia di pasar ekspor. Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum APUDSI, Maulidan Isbar, sebagai bagian dari agenda membangun integrasi data petani dan pelaku usaha dalam satu sistem aplikasi terintegrasi. Aplikasi Qthink-X yagn dikembangkan Koperasi sebagai aplikasi traceability berbasis blockchain Pada tahap awalnya, pengembangan difokuskan pada komoditas kopi, dan selanjutnya akan diperluas ke komoditas strategis lainnya seperti kakao, rempah, hasil hortikultura, dan produk turunan desa berbasis ekspor melalui kolaborasi. Kolaborasi APUDSI dan Koperasi ALKO tidak hanya sebatas penguatan database, tetapi juga menyentuh aspek pengembangan model usaha. Integrasi data petani dan pelaku usaha akan membuka akses pembiayaan, memperkuat sistem kemitraan, memudahkan verifikasi legalitas usaha, serta meningkatkan transparansi rantai pasok dari hulu hingga hilir. Ketua Umum APUDSI, Maulidan Isbar, menegaskan bahwa ALKO dipilih sebagai mitra karena sejalan dan telah menunjukkan praktik pengelolaan usaha berbasis komunitas petani yang terstruktur dan memiliki orientasi ekspor. “Kunjungan ke ALKO sebagai mitra APUDSI adalah untuk penguatan ekosistem petani dan pelaku usaha secara nasional, serta pengembangan potensi komoditas berbasis ekspor. Apa yang dilakukan Koperasi ALKO dapat menjadi model yang diduplikasi di berbagai daerah melalui kolaborasi NusCorp dan aplikasi Qthink untuk komoditas Indonesia,” ungkap Maulidan. Ia menambahkan, dengan penguatan sistem data dan integrasi usaha, pelaku usaha desa tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan terhubung dalam satu ekosistem yang saling mendukung—mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran. Sementara itu, Ketua Koperasi ALKO, Siti Fadhila, menilai kunjungan APUDSI menjadi momentum penting untuk mempercepat akselerasi ekosistem usaha petani ke tingkat nasional. “Kunjungan APUDSI ini menjadi penting bagi Koperasi ALKO sebagai komunitas petani untuk lebih bisa mengakselerasi ekosistem ke seluruh Nusantara bersama-sama APUDSI. Kami juga merencanakan kerja sama agar penggunaan teknologi di dunia pertanian bisa lebih masif dan diterapkan pada komoditas lainnya, karena berdampak langsung pada peningkatan nilai di tingkat petani,” ujar Siti. Menurutnya, penguatan usaha berbasis teknologi akan berdampak langsung pada peningkatan nilai jual produk, efisiensi distribusi, serta kepercayaan pasar internasional terhadap komoditas desa Indonesia. Dengan sistem yang terintegrasi, potensi ekspor dapat lebih terukur, legalitas usaha lebih terjamin, dan petani memperoleh nilai tambah yang lebih adil. Sebagai tindak lanjut, APUDSI dan Koperasi ALKO berencana menggelar pertemuan lanjutan di Jakarta pada pertengahan Maret depan memulai integrasi petani nasional dan pelaku usaha desa dalam satu ekosistem digital terpadu. Agenda tersebut juga akan membahas roadmap pengembangan usaha bersama, perluasan kemitraan nasional, serta strategi implementasi teknologi secara bertahap di berbagai daerah. Kolaborasi ini diharapkan menjadi fondasi transformasi usaha desa Indonesia—menghubungkan petani, pelaku usaha, pembeli, dan mitra pembiayaan dalam satu sistem yang transparan, efisien, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.