Resona Bank dan Saka No Tochu Kembali ke Kerinci, Menelusuri Jejak Carbon DNA dari Kebun Kopi hingga Masa Depan Petani

Admin Alko | 08/06/2026


Pagi itu udara Kayu Aro masih dingin. Kabut tipis menggantung di lereng Gunung Kerinci ketika sebuah rombongan tamu dari Jepang tiba di kawasan perkebunan kopi yang menjadi pusat aktivitas Koperasi ALKO. Mereka bukan wisatawan yang datang untuk menikmati panorama gunung tertinggi di Sumatra. Mereka datang membawa misi yang lebih besar: melihat bagaimana petani kopi di Kerinci membangun masa depan melalui praktik pertanian berkelanjutan dan pengelolaan karbon.

Delegasi tersebut terdiri dari Mr. Ryota Tasai, Project Manager dari Saka No Tochu Jepang, Ms. Mizuho Shigemura, Ms. Mai Satouchi, dan Ms. Minami Shibata dari Resona Bank Tokyo. Kedatangan mereka menandai tahun ketiga kerja sama antara Koperasi ALKO dan Resona Bank dalam mengembangkan model pertanian rendah karbon berbasis koperasi di Indonesia.

Bagi masyarakat Kerinci, kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Di balik pertemuan dan diskusi yang berlangsung, tersimpan pertanyaan besar yang kini menjadi perhatian dunia: bagaimana petani kecil dapat menjadi bagian dari solusi perubahan iklim global sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka?

Pertanyaan itulah yang coba dijawab melalui pendekatan yang dikenal sebagai Carbon DNA.

Dari Kopi ke Karbon

Selama bertahun-tahun, petani kopi identik dengan persoalan harga. Ketika harga naik, petani tersenyum. Ketika harga turun, petani harus bertahan dengan berbagai keterbatasan. Namun perubahan iklim menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks.

Cuaca yang semakin tidak menentu mulai memengaruhi produktivitas kebun kopi. Curah hujan berubah, suhu meningkat, dan serangan hama menjadi lebih sulit diprediksi. Di berbagai negara penghasil kopi, ancaman ini telah menjadi perhatian serius.

Koperasi ALKO melihat bahwa masa depan kopi tidak lagi hanya berbicara tentang produksi dan perdagangan. Masa depan kopi juga berkaitan dengan kemampuan petani menjaga ekosistem tempat mereka hidup.

Dari pemikiran tersebut lahirlah konsep Carbon DNA, sebuah sistem yang berupaya mengukur, mendokumentasikan, dan meningkatkan kontribusi petani terhadap keberlanjutan lingkungan.

Melalui pendekatan ini, aktivitas petani tidak hanya dicatat dari jumlah panen yang dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana mereka menjaga tutupan pohon, mengelola limbah organik, mengurangi penggunaan bahan kimia, hingga menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar kebun.

"Kami ingin melihat perkembangan petani ALKO dalam menerapkan prinsip Carbon DNA dan bagaimana manfaatnya terhadap kehidupan mereka," ujar Mai Satouchi dari Resona Bank saat berdiskusi dengan pengurus koperasi.

Bagi Resona Bank, program ini merupakan bentuk investasi sosial jangka panjang. Mereka melihat bahwa keberlanjutan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan ekonomi masyarakat.

Belajar dari Kerinci

Kerinci bukan daerah yang asing bagi dunia kopi.

Wilayah ini dikenal sebagai salah satu sentra kopi arabika terbaik Indonesia. Kebun-kebun kopi tumbuh di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut dengan latar belakang Taman Nasional Kerinci Seblat.

Namun ALKO mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda.

Jika selama ini kopi dinilai berdasarkan rasa dan kualitas fisik biji, ALKO mulai membangun pendekatan baru: kopi yang memiliki identitas lingkungan.

Setiap kebun anggota koperasi didorong memiliki data yang jelas mengenai kondisi lahan, jumlah pohon pelindung, praktik budidaya, hingga aktivitas konservasi yang dilakukan petani.

Data tersebut kemudian menjadi bagian dari sistem traceability yang memungkinkan pembeli mengetahui asal-usul kopi secara lebih detail.

Dalam praktiknya, konsep ini semakin penting karena banyak negara mulai menerapkan regulasi keberlanjutan yang ketat.

Uni Eropa misalnya telah mengeluarkan kebijakan EUDR (European Union Deforestation Regulation) yang mewajibkan produk pertanian memiliki informasi jelas terkait asal-usul lahan.

Bagi ALKO, Carbon DNA bukan hanya alat untuk menjawab tuntutan pasar global, tetapi juga sarana untuk memastikan petani memperoleh manfaat dari praktik yang selama ini mereka lakukan.

Tiga Tahun yang Mengubah Banyak Hal

Kerja sama ALKO dengan Resona Bank dimulai tiga tahun lalu. Pada tahap awal, fokus utama adalah membangun pemahaman mengenai pentingnya keberlanjutan di tingkat petani.

Tidak mudah.

Sebagian petani menganggap isu karbon terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari mereka. Yang mereka pikirkan adalah panen, harga kopi, dan kebutuhan keluarga.

Namun pendekatan yang dilakukan ALKO berbeda. Mereka tidak memulai dengan istilah teknis yang rumit.

Petani diajak memahami bahwa pohon yang tumbuh di kebun mereka memiliki nilai. Sampah yang selama ini dibuang dapat diolah. Air yang digunakan harus dijaga kualitasnya. Bahkan aktivitas sederhana seperti menanam pohon pelindung memiliki kontribusi terhadap lingkungan global.

Perlahan-lahan perubahan mulai terlihat.

Kini semakin banyak petani yang memahami bahwa keberlanjutan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan peluang ekonomi.

Pasar internasional mulai memberikan perhatian lebih kepada produk yang memiliki rekam jejak lingkungan yang baik.

Dalam konteks inilah Carbon DNA menjadi relevan.

Menyambungkan Petani dengan Dunia

Bagi Ryota Tasai dari Saka No Tochu, program ini memiliki tujuan yang lebih luas dibanding sekadar pengurangan emisi karbon.

Menurutnya, tantangan terbesar petani kecil di banyak negara adalah keterhubungan dengan pasar global.

Sering kali petani menghasilkan produk berkualitas tinggi tetapi tidak memiliki akses terhadap informasi dan jaringan yang memadai.

Melalui sistem yang dibangun bersama ALKO, petani didorong untuk memiliki data yang kuat mengenai produk mereka.

Data tersebut kemudian menjadi dasar dalam membangun kepercayaan pasar.

"Kepercayaan adalah mata uang paling penting dalam perdagangan masa depan," ujar Ryota dalam salah satu sesi diskusi.

Di era digital, konsumen tidak hanya ingin mengetahui rasa kopi yang mereka minum. Mereka juga ingin mengetahui siapa yang menanamnya, bagaimana kopi tersebut diproduksi, dan apakah prosesnya ramah lingkungan.

Di sinilah teknologi dan keberlanjutan bertemu.

Generasi Muda dan Masa Depan Karbon

Salah satu agenda penting kunjungan kali ini adalah sosialisasi kepada sekitar 400 siswa sekolah menengah di Kerinci.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa isu karbon tidak lagi hanya menjadi urusan petani dan pelaku usaha.

Generasi muda dianggap sebagai aktor penting dalam membangun kesadaran lingkungan jangka panjang.

ALKO dan mitra Jepang percaya bahwa perubahan perilaku harus dimulai sejak usia sekolah.

Para siswa akan diperkenalkan pada konsep perubahan iklim, pentingnya menjaga hutan, pengelolaan sampah, hingga hubungan antara aktivitas sehari-hari dengan emisi karbon.

Program ini menjadi bagian dari pengembangan ALKO Academy yang selama beberapa tahun terakhir aktif melakukan edukasi lingkungan di Kerinci.

Melalui pendekatan tersebut, ALKO berharap lahir generasi baru yang tidak hanya memahami kopi, tetapi juga memahami pentingnya menjaga bumi.

Peluang Baru bagi Petani

Di berbagai negara, pasar karbon mulai berkembang menjadi salah satu instrumen ekonomi baru.

Masyarakat global semakin menyadari bahwa menjaga lingkungan memiliki nilai ekonomi yang dapat dihitung.

Meski masih berada pada tahap awal, peluang tersebut mulai dilihat oleh ALKO dan mitra Jepang.

Jika sistem pengukuran dan dokumentasi dapat dibangun dengan baik, bukan tidak mungkin petani kopi suatu saat memperoleh manfaat tambahan dari kontribusi mereka terhadap pengurangan emisi.

Bagi petani Kerinci, peluang ini menjadi sesuatu yang menarik.

Selama ini mereka hanya memperoleh pendapatan dari hasil panen kopi. Ke depan, praktik keberlanjutan yang mereka lakukan dapat memiliki nilai ekonomi tersendiri.

Laboratorium Keberlanjutan

Kunjungan delegasi Jepang selama beberapa hari di Kerinci akan mencakup berbagai agenda.

Mereka akan mengunjungi kebun kopi, fasilitas pengolahan, program pengelolaan sampah, hingga aktivitas edukasi lingkungan yang dijalankan koperasi.

Semua kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat bagaimana sebuah komunitas petani membangun model pembangunan berkelanjutan dari tingkat lokal.

Apa yang dilakukan ALKO mungkin masih terlihat kecil dibanding tantangan perubahan iklim global yang begitu besar.

Namun sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan besar lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Di kaki Gunung Kerinci, langkah-langkah itu kini sedang berlangsung.

Melalui kolaborasi antara petani, koperasi, lembaga keuangan, dan mitra internasional, sebuah model baru sedang dibangun. Model yang mencoba menjawab pertanyaan penting abad ini: bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani tanpa mengorbankan lingkungan.

Bagi Resona Bank dan Saka No Tochu, Kerinci bukan sekadar daerah penghasil kopi. Kerinci adalah ruang belajar mengenai bagaimana keberlanjutan dapat tumbuh dari kebun-kebun kecil milik petani.

Dan bagi petani ALKO, kunjungan tahun ketiga ini menjadi pengingat bahwa apa yang mereka lakukan di lereng Gunung Kerinci kini mulai mendapat perhatian dunia.

Share this :
Share this :

Blog

Other News recommendations for you

Blog

Other News recommendations for you

Kunjungan Lapangan Perkuat Diplomasi Ekonomi Indonesia–Pakistan Berbasis KeberlanjutanKERINCI, JAMBI – Kunjungan Duta Besar Republik Islam Pakistan untuk Indonesia, H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri, bersama Mr. Amir, buyer kopi dan berbagai komoditas asal Pakistan, ke Kerinci tidak hanya menjadi agenda diplomatik, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran menyeluruh mengenai ekosistem kopi Indonesia yang dikembangkan oleh Koperasi Produsen Petani Alam Korintji Internasional (ALKO).Selama kunjungan lapangan, delegasi Pakistan mengikuti rangkaian proses produksi kopi secara lengkap, mulai dari budidaya di kebun, pengelolaan agroforestri, panen, pengolahan pascapanen, pengendalian mutu (quality control), cupping (uji cita rasa), hingga implementasi teknologi blockchain traceability yang diterapkan ALKO untuk memenuhi standar pasar internasional.Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Pakistan melalui pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada transaksi bisnis, tetapi juga pada pemahaman menyeluruh terhadap sistem produksi kopi yang berkelanjutan.Rombongan terlebih dahulu mengunjungi kebun kopi milik petani anggota koperasi di lereng Gunung Kerinci. Di lokasi tersebut, delegasi melihat secara langsung praktik budidaya kopi yang dikembangkan dalam sistem agroforestri, di mana tanaman kopi tumbuh berdampingan dengan berbagai jenis pohon pelindung untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meningkatkan kualitas hasil panen.Delegasi juga berdialog langsung dengan petani mengenai teknik budidaya, proses pemeliharaan tanaman, hingga tantangan yang dihadapi dalam memenuhi standar pasar ekspor.Perjalanan kemudian dilanjutkan ke fasilitas pengolahan kopi ALKO. Di lokasi ini, Duta Besar Pakistan dan Mr. Amir mempelajari setiap tahapan pascapanen, mulai dari proses pulping, fermentasi, pencucian, pengeringan, penyimpanan, hingga proses grading yang menentukan kualitas akhir kopi sebelum diekspor.CEO PT ALKO Sumatra Kopi, Suryono, menjelaskan bahwa kualitas kopi tidak hanya ditentukan oleh kondisi kebun, tetapi juga oleh konsistensi pengelolaan pada setiap tahapan pascapanen."Kami ingin memperlihatkan bahwa kualitas kopi premium dibangun melalui proses yang panjang. Mulai dari budidaya, penanganan pascapanen, pengendalian mutu, hingga sistem manajemen yang mampu menjamin konsistensi produk. Semua tahapan tersebut menjadi satu kesatuan dalam ekosistem ALKO," ujar Suryono.Salah satu agenda yang menjadi perhatian khusus delegasi Pakistan adalah sesi coffee cupping, yaitu proses evaluasi mutu dan karakter rasa kopi berdasarkan standar Specialty Coffee Association (SCA). Dalam sesi tersebut, para tamu mencoba berbagai profil cita rasa kopi asal Kerinci dan berdiskusi mengenai karakteristik yang sesuai dengan preferensi pasar Pakistan.Selain aspek kualitas, delegasi juga mempelajari penerapan blockchain traceability melalui platform Qthink-X, sistem digital yang dikembangkan ALKO untuk memastikan setiap produk kopi dapat ditelusuri mulai dari identitas petani, lokasi kebun, proses pengolahan, hingga pengiriman ke negara tujuan.Director of International Relations PT ALKO Sumatra Kopi, Pebriyansah, menjelaskan bahwa transparansi kini menjadi salah satu persyaratan utama dalam perdagangan internasional."Buyer global saat ini tidak hanya membeli kopi dengan cita rasa yang baik. Mereka juga ingin mengetahui siapa petaninya, dari mana asal produknya, bagaimana proses budidayanya, hingga bagaimana produk tersebut diproses. Melalui blockchain traceability, seluruh informasi tersebut dapat diakses secara transparan sehingga meningkatkan kepercayaan pasar," kata Pebriyansah.Menurutnya, kunjungan lapangan tersebut menjadi kesempatan bagi mitra Pakistan untuk memahami bahwa ALKO tidak hanya membangun rantai pasok kopi, tetapi juga membangun sistem yang mengintegrasikan petani, koperasi, teknologi, dan keberlanjutan.Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar Pakistan, H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri, mengaku terkesan dengan model yang dikembangkan ALKO."Awalnya kami datang untuk melihat potensi kopi. Namun setelah mengunjungi langsung kebun dan seluruh proses produksinya, kami melihat bahwa ALKO telah membangun sebuah ekosistem yang lengkap. Ini bukan sekadar perdagangan green bean, tetapi sebuah model yang menggabungkan keberlanjutan, inovasi, pemberdayaan petani, dan teknologi. Pendekatan seperti inilah yang akan menjadi masa depan perdagangan internasional," ujarnya.Sementara itu, Mr. Amir, buyer asal Pakistan, menilai pemahaman terhadap seluruh proses produksi memberikan keyakinan lebih besar terhadap kualitas dan konsistensi produk yang akan dipasarkan di negaranya.Menurutnya, keterlibatan langsung petani, sistem pengendalian mutu yang ketat, serta penerapan teknologi traceability menjadi nilai tambah yang membedakan ALKO dari banyak pemasok kopi lainnya.Kunjungan ini menjadi bagian penting dari rangkaian kerja sama Indonesia–Pakistan yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara ALKO dan perusahaan Pakistan. Melalui pendekatan yang dimulai dari pemahaman di tingkat kebun hingga teknologi digital, kedua pihak berharap dapat membangun hubungan dagang yang tidak hanya berorientasi pada volume ekspor, tetapi juga pada kepercayaan, transparansi, dan keberlanjutan.Bagi ALKO, kunjungan tersebut membuktikan bahwa diplomasi ekonomi modern tidak lagi cukup dilakukan di ruang pertemuan. Kepercayaan pasar internasional dibangun dengan mengajak mitra melihat langsung bagaimana kopi diproduksi, bagaimana petani diberdayakan, dan bagaimana teknologi digunakan untuk memastikan setiap biji kopi memiliki identitas serta cerita yang dapat dipertanggungjawabkan di pasar global.

Read More  

Admin Alko | 21/07/2026

Kerja Sama Internasional Perkuat Diplomasi Ekonomi Indonesia–Pakistan, Buka Peluang Ekspor Multi-Komoditas dari KerinciKERINCI, 18 Juli 2026 – Koperasi Produsen Petani Alam Korintji Internasional (ALKO) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Capulus Bean (Private) Limited, perusahaan perdagangan komoditas asal Pakistan, dalam sebuah seremoni yang disaksikan langsung oleh Duta Besar Republik Islam Pakistan untuk Indonesia, H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri.Penandatanganan MoU tersebut menjadi tonggak baru kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Pakistan, khususnya dalam pengembangan rantai pasok kopi premium yang mengedepankan traceability, keberlanjutan, dan pemberdayaan petani. Tidak hanya berorientasi pada transaksi dagang, kerja sama ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem perdagangan jangka panjang yang memberikan nilai tambah langsung kepada petani.MoU ditandatangani oleh Suryono, mewakili Koperasi ALKO dan PT ALKO Sumatra Kopi, serta Ameer Khurram Rathore, Chief Operating Officer Capulus Bean (Private) Limited.Kesepakatan tersebut mencakup pengembangan perdagangan kopi dan komoditas unggulan lainnya, pembangunan jaringan distribusi menuju Pakistan, pertukaran informasi pasar, pengembangan sistem rantai pasok berstandar internasional, serta kolaborasi investasi untuk memperkuat perdagangan kedua negara.Dari Green Bean Menuju Ekosistem BerkelanjutanDuta Besar Pakistan, H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri, mengatakan kunjungan ke Kerinci mengubah perspektifnya mengenai industri kopi Indonesia.Menurutnya, ALKO tidak sekadar menjual kopi, tetapi membangun sebuah ekosistem bisnis yang terintegrasi dari petani hingga pasar internasional."Sebelum datang ke Kerinci, kami berpikir kerja sama ini hanya tentang kopi. Namun setelah melihat langsung ALKO, kami menemukan sesuatu yang lebih besar. Yang dibangun bukan hanya perdagangan green bean, tetapi sebuah ekosistem yang menggabungkan keberlanjutan, pemberdayaan petani, inovasi, dan sistem traceability. Karena itu kami melihat peluang kerja sama tidak hanya pada kopi, tetapi juga berbagai komoditas unggulan Kerinci lainnya."Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa hubungan dagang Indonesia–Pakistan berpotensi berkembang ke sektor pertanian yang lebih luas, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan Pakistan terhadap produk pangan dan komoditas tropis berkualitas.Pakistan Menjadi Hub Baru PerdaganganDalam MoU tersebut, kedua pihak sepakat menjadikan Pakistan sebagai salah satu pintu masuk strategis bagi produk-produk ALKO menuju kawasan Asia Selatan dan Timur Tengah.Capulus Bean akan berperan sebagai mitra distribusi sekaligus pengembang pasar, sementara ALKO bertanggung jawab menjaga kontinuitas pasokan, kualitas produk, dan sistem ketertelusuran yang menjadi standar utama pembeli internasional.CEO PT ALKO Sumatra Kopi, Suryono, mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperluas pasar ekspor."Kami tidak mencari pembeli yang hanya datang membeli satu kontainer, tetapi mitra yang memiliki visi membangun pasar bersama. Karena itu kerja sama ini disusun dalam kerangka jangka panjang sehingga petani memperoleh kepastian pasar sekaligus kepastian harga."Menurutnya, model bisnis ALKO dibangun dengan prinsip bahwa peningkatan ekspor harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani.Traceability Menjadi Nilai TambahDirektur International Relations PT ALKO Sumatra Kopi, Pebriyansah, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang menarik perhatian mitra Pakistan adalah sistem blockchain traceability yang telah diterapkan ALKO.Melalui platform digital Qthink-X, seluruh rantai pasok dapat ditelusuri mulai dari identitas petani, lokasi kebun, proses panen, pascapanen, hingga pengiriman ke negara tujuan.Menurut Pebriyansah, pendekatan tersebut kini menjadi kebutuhan utama dalam perdagangan global."Buyer internasional saat ini tidak lagi hanya membeli kopi berkualitas. Mereka membutuhkan transparansi, data, dan kepastian bahwa produk dihasilkan melalui praktik yang berkelanjutan. Sistem traceability yang kami bangun menjadi jembatan kepercayaan antara petani di Kerinci dengan konsumen dunia."Ia menambahkan, kerja sama dengan Pakistan menunjukkan bahwa transformasi digital di sektor pertanian mampu membuka pasar-pasar baru yang sebelumnya sulit dijangkau.Momentum Baru Diplomasi EkonomiKunjungan Duta Besar Pakistan beserta delegasi bisnis merupakan bagian dari penguatan hubungan bilateral Indonesia–Pakistan yang telah terjalin selama puluhan tahun.Dalam beberapa hari kunjungannya di Kerinci, delegasi melakukan serangkaian kegiatan, mulai dari mengunjungi kebun kopi anggota ALKO, melihat proses budidaya agroforestri, mempelajari sistem pengolahan kopi, mengikuti sesi cupping, hingga berdiskusi mengenai penerapan teknologi blockchain dan keberlanjutan.Kehadiran langsung Duta Besar dinilai memberikan sinyal kuat bahwa hubungan perdagangan kedua negara kini semakin diarahkan pada kemitraan antarlembaga dan pelaku usaha, bukan sekadar hubungan antarpemerintah.Menuju Perdagangan Multi-KomoditasSelain kopi specialty, kedua pihak juga membuka peluang kerja sama untuk berbagai komoditas unggulan Kerinci lainnya.Menurut ALKO, model bisnis yang dikembangkan memungkinkan berbagai komoditas pertanian dipasarkan melalui sistem yang sama, yakni berbasis kualitas, keberlanjutan, dan ketertelusuran.Dengan demikian, kerja sama ini diharapkan tidak hanya meningkatkan ekspor kopi Indonesia ke Pakistan, tetapi juga memperluas akses pasar bagi produk-produk pertanian bernilai tambah lainnya.Bagi ALKO, penandatanganan MoU ini menjadi lebih dari sekadar dokumen kerja sama. Kesepakatan tersebut merupakan fondasi bagi pembangunan koridor perdagangan baru antara Kerinci dan Pakistan, sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai pemasok produk pertanian premium yang mampu memenuhi tuntutan pasar global melalui inovasi, teknologi, dan komitmen terhadap keberlanjutan.

Read More  

Admin Alko | 21/07/2026

Kunjungan Duta Besar Republik Islam Pakistan untuk Indonesia, H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri, ke Kerinci tidak hanya menjadi agenda penjajakan perdagangan kopi, tetapi juga mencerminkan semakin eratnya hubungan bilateral Indonesia dan Pakistan melalui diplomasi ekonomi berbasis daerah.Indonesia dan Pakistan merupakan dua negara sahabat yang telah menjalin hubungan diplomatik sejak tahun 1950. Selama lebih dari tujuh dekade, kedua negara terus memperkuat kerja sama di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, investasi, pendidikan, pertanian, hingga pertukaran budaya. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua pemerintah juga terus mendorong peningkatan nilai perdagangan sebagai bagian dari penguatan kemitraan ekonomi.Dalam kunjungannya ke ekosistem ALKO di Kerinci, Duta Besar Pakistan menilai model yang dikembangkan ALKO memiliki nilai strategis karena tidak hanya menghasilkan komoditas berkualitas, tetapi juga membangun sistem produksi yang berkelanjutan, transparan, dan mampu memberikan manfaat langsung kepada petani."Saya datang dengan tujuan melihat potensi perdagangan kopi. Namun setelah berada di ALKO, saya melihat sesuatu yang jauh lebih besar. Yang dibangun bukan sekadar bisnis kopi, tetapi sebuah ekosistem yang menghubungkan petani, koperasi, teknologi, keberlanjutan, dan akses pasar internasional. Model seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan perdagangan global saat ini," ujar H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri.Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Pakistan dan Indonesia."Kami tidak ingin membatasi kerja sama hanya pada kopi. Setelah melihat potensi yang dimiliki ALKO, kami melihat peluang besar untuk mengembangkan perdagangan berbagai komoditas unggulan Indonesia ke Pakistan. Ini merupakan kesempatan untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara melalui sektor riil yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat," katanya.Menurut Duta Besar Pakistan, hubungan bilateral yang telah terjalin lama perlu terus diperkuat melalui kolaborasi konkret antara pelaku usaha kedua negara. Ia menilai kerja sama seperti yang dibangun ALKO dapat menjadi contoh bagaimana diplomasi ekonomi mampu diterjemahkan menjadi kemitraan bisnis yang berkelanjutan.Senada dengan itu, CEO PT ALKO Sumatra Kopi, Suryono, mengatakan bahwa kunjungan tersebut menjadi kehormatan sekaligus momentum penting untuk memperluas kerja sama perdagangan Indonesia–Pakistan."Kami percaya hubungan persahabatan antara Indonesia dan Pakistan yang telah terbangun selama puluhan tahun dapat diperkuat melalui kolaborasi bisnis yang saling menguntungkan. ALKO siap menjadi bagian dari upaya tersebut dengan menghadirkan komoditas yang berkualitas, memiliki sistem traceability, dan diproduksi melalui prinsip keberlanjutan," ujar Suryono.Menurutnya, kerja sama yang akan dituangkan dalam nota kesepahaman pada Rapat Anggota Tahunan Koperasi ALKO bukan hanya berorientasi pada peningkatan volume perdagangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan ekonomi kedua negara melalui pengembangan perdagangan multi-komoditas, pembangunan hub distribusi di Pakistan, dan kemitraan jangka panjang yang memberikan manfaat bagi petani serta pelaku usaha di kedua negara.Dengan fondasi hubungan diplomatik yang telah berlangsung lebih dari 75 tahun, kunjungan Duta Besar Pakistan ke Kerinci diharapkan menjadi tonggak baru dalam memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia–Pakistan, sekaligus membuka jalan bagi semakin banyak komoditas unggulan Indonesia untuk memasuki pasar Pakistan dan kawasan Asia Selatan.

Read More  

Admin Alko | 16/07/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.