Program Edukasi Lingkungan yang Menjadi Daya Tarik Wisata Baru di Kerinci
Kerinci, 17–18 Agustus 2025
Gunung Kerinci, sebagai puncak tertinggi di Pulau Sumatra dan salah satu ikon Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga tantangan konservasi yang menyertainya. Ribuan pendaki dari dalam dan luar negeri setiap tahunnya menapaki jalur-jalur pendakian untuk menyaksikan keagungan alam. Namun, di balik itu, masalah sampah gunung masih menjadi persoalan serius yang kerap mencoreng wajah pariwisata alam Indonesia.

Menjawab tantangan tersebut, sebuah program kreatif dan penuh makna kembali hadir di Kerinci: “Tukar Sampah Gunung dengan Kopi Kerinci.” Kegiatan ini digelar pada 17–18 Agustus 2025, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80. Program yang dipelopori oleh Koperasi ALKO bersama para petani kopi Kerinci ini bertujuan mengajak para pendaki dan wisatawan agar lebih peduli terhadap kebersihan gunung.
Prinsipnya sederhana namun berdampak: setiap 1 kilogram sampah gunung yang dikumpulkan dan dibawa turun, bisa ditukar dengan 1 bungkus kopi Kerinci.
Antusiasme Pengunjung dan Pendaki
Sejak pagi hari, ratusan pendaki berdatangan ke pos registrasi. Beberapa di antara mereka membawa kantong sampah hasil pungutan di sepanjang jalur pendakian. Pemandangan para pendaki yang tidak hanya membawa perlengkapan mendaki, tetapi juga kantong penuh sampah, menjadi simbol baru: bahwa menjaga gunung sama pentingnya dengan menaklukkan puncaknya.
Bapak Umar, seorang pengunjung asal Lampung, dengan penuh semangat menyampaikan kesan positifnya. Menurutnya, program ini memberi motivasi tambahan bagi pendaki untuk peduli terhadap sampah.
“Saya senang sekali ikut program ini. Sepanjang jalan banyak sampah yang bisa kita kumpulkan, mulai dari plastik makanan, botol minuman, hingga bungkus mie instan. Dengan adanya program tukar sampah ini, pendaki merasa ada penghargaan sekaligus dorongan untuk lebih disiplin menjaga kebersihan,” ujar Umar dengan wajah gembira.
Bagi Umar, kopi Kerinci yang harum dan nikmat bukan hanya hadiah, tetapi juga simbol persahabatan antara alam dan manusia. “Kopi ini hasil kerja petani Kerinci, dan kita sebagai pendaki ikut menjaga tanah tempat kopi itu tumbuh,” tambahnya.
Dukungan Internasional
Kegiatan ini juga mendapat perhatian internasional. Kiko Nam, perwakilan dari Resona, hadir langsung untuk menyaksikan jalannya acara. Ia tidak hanya memantau, tetapi juga melakukan wawancara dengan beberapa pengunjung dan pihak pengelola.
Dalam wawancaranya, Kiko Nam mengungkapkan apresiasinya terhadap inisiatif lokal yang memiliki dampak global. “Ini bukan sekadar program pengumpulan sampah. Ini adalah bentuk diplomasi lingkungan yang sangat kuat. Dari Kerinci, pesan peduli lingkungan bisa menginspirasi dunia,” ungkapnya.
Keterlibatan mitra internasional seperti Resona menegaskan bahwa isu lingkungan tidak mengenal batas negara. Inisiatif kecil yang dilakukan komunitas lokal dapat menjadi inspirasi bagi dunia dalam upaya menjaga bumi.
Tanggapan Kepala Resort TNKS
Di sisi lain, pihak pengelola kawasan juga menyambut baik program ini. Pak Eko, Kepala Resort Kerinci Utara Balai Taman Nasional, menyampaikan bahwa kegiatan ini telah berjalan konsisten selama lima tahun terakhir.
“Kami sangat senang dengan kolaborasi ini. Program ini mampu menjadi daya tarik wisata tambahan, di samping mendaki gunung. Pendaki tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga diajak aktif menjaga kelestarian alam,” jelas Pak Eko.
Ia juga mengingatkan bahwa aturan di kawasan TNKS sangat tegas. Pendaki wajib menjaga kebersihan, tidak boleh merusak ekosistem, dan harus menaati prosedur pendakian.
“Teknis pendakian diatur dengan jelas. Saat mendaftar, pendaki melapor dan menyerahkan ID card. Semua logistik yang dibawa diinventarisir. Saat turun, sampah wajib dibawa kembali. Jika ada pelanggaran, sanksi tegas akan diberikan,” tegasnya.
Pak Eko juga menambahkan bahwa sesuai aturan baru, jumlah pengunjung yang diberi izin maksimal 85 orang per hari. Dari tanggal 14 hingga 17 Agustus 2025 saja, tercatat hampir 300 pendaki naik dan turun Gunung Kerinci.
Lokasi Kegiatan: Kayu Aro dan Danau Gunung Tujuh
Tahun ini, kegiatan dipusatkan di dua lokasi utama, yaitu Kayu Aro dan Danau Gunung Tujuh. Kayu Aro dikenal sebagai salah satu sentra kopi terbaik dunia, sedangkan Danau Gunung Tujuh adalah danau tertinggi di Asia Tenggara yang menjadi magnet wisata alam.
Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Di Kayu Aro, para petani kopi menjadi saksi nyata bagaimana kebersihan lingkungan memengaruhi kualitas hasil pertanian. Sementara di Danau Gunung Tujuh, para pendaki dan wisatawan bisa langsung merasakan betapa pentingnya menjaga ekosistem air bersih dan kawasan pegunungan.
Suasana di Lapangan
Suasana acara sangat meriah. Panitia menyiapkan pos penukaran sampah dengan kopi di pintu masuk pendakian. Tumpukan sampah yang berhasil dikumpulkan pendaki terlihat menggunung, mulai dari plastik sekali pakai, botol minuman, hingga kaleng makanan.
Para petani kopi Kerinci yang tergabung dalam Koperasi ALKO dengan penuh semangat membagikan kopi kepada para pendaki yang menukarkan sampah. Senyum dan tawa terlihat di wajah para pendaki ketika menerima kopi sebagai apresiasi atas usaha kecil mereka menjaga kebersihan gunung.
Selain penukaran sampah dengan kopi, acara juga diisi dengan edukasi singkat tentang pentingnya pengelolaan sampah, diskusi lingkungan, dan ajakan gotong royong membersihkan jalur pendakian.
Dampak Jangka Panjang
Program ini tidak hanya berdampak pada kebersihan gunung, tetapi juga memiliki efek berantai yang lebih luas.
1. Bagi lingkungan, jumlah sampah yang menumpuk di jalur pendakian berkurang drastis. Gunung lebih bersih, ekosistem lebih terjaga.
2. Bagi wisatawan, kegiatan ini memberi pengalaman baru yang lebih bermakna. Mereka tidak hanya menikmati alam, tetapi juga berkontribusi nyata.
3. Bagi petani kopi, kegiatan ini menjadi ajang promosi kopi Kerinci. Kopi tidak hanya dikenal karena kualitasnya, tetapi juga karena nilai keberlanjutannya.
4. Bagi masyarakat lokal, program ini meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.
Harapan ke Depan
Panitia berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti di Gunung Kerinci, tetapi juga bisa diperluas ke daerah lain.
“Kami berharap ke depan program ini bisa menjangkau kawasan wisata lain di Sumatra. Semakin banyak pendaki, semakin besar pula kesempatan untuk mengedukasi tentang kebersihan dan konservasi,” ujar salah satu panitia.
Dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan mitra internasional menjadi modal utama agar kegiatan seperti ini dapat berkelanjutan.
Penutup
“Tukar Sampah Gunung dengan Kopi Kerinci” adalah bukti nyata bahwa solusi sederhana bisa memberi dampak besar. Dari Kerinci, sebuah gerakan kecil lahir, menghubungkan kopi, pendakian, dan konservasi. Program ini telah berjalan lima tahun, namun semangatnya terus tumbuh seiring meningkatnya kesadaran masyarakat.
Gunung Kerinci kini bukan hanya tempat pendakian, tetapi juga laboratorium hidup untuk belajar bagaimana manusia dan alam bisa hidup berdampingan. Dan kopi Kerinci, dengan aroma khasnya, menjadi simbol persahabatan itu.
Dengan semangat gotong royong, dukungan komunitas, dan kepedulian lingkungan, program ini diharapkan terus berlanjut, menginspirasi lebih banyak orang, dan menjadikan Kerinci sebagai contoh sukses harmoni antara pariwisata, lingkungan, dan pemberdayaan petani.