Blog

Scroll Down

Info seputar pengetahuan petani, perkopian hingga tips menarik untuk anda

ALKO Perkenalkan QThink-X untuk Perkuat Ketertelusuran Kopi di Forest Programme IV

MAROS, ALKO.id – Koperasi Alam Koerintji (ALKO) mendorong penguatan ketertelusuran atau traceability kopi melalui pemanfaatan teknologi digital dalam kegiatan Festival Kopi Forest Programme IV Tahun 2026 di Maros, Sulawesi Selatan.Kegiatan yang berlangsung pada 19–20 Oktober 2026 di Grand Town Hotel Maros ini mengangkat tema “Kopi, Agroforestri, dan Penguatan Ekosistem Usaha Kelompok Tani Hutan Menuju Pasar yang Berkelanjutan”. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, kelompok tani hutan, asosiasi kopi, koperasi, dan pelaku usaha untuk memperkuat rantai nilai kopi dari tingkat petani hingga pasar.Dalam agenda kegiatan, ALKO dijadwalkan membawakan materi mengenai traceability kopi sebagai jaminan kualitas dan perlindungan alam. Pembahasan ini menjadi relevan di tengah kebutuhan pasar terhadap informasi asal produk, proses produksi, serta transparansi rantai pasok.QThink-X Dukung Transparansi Rantai Pasok KopiSalah satu pendekatan yang dapat diperkenalkan untuk mendukung ketertelusuran kopi adalah QThink-X, platform digital yang dikembangkan untuk membantu pencatatan dan pengelolaan informasi rantai pasok.Melalui sistem ketertelusuran, informasi mengenai asal kopi, kelompok petani, dan perjalanan produk dalam rantai pasok dapat terdokumentasi secara lebih terstruktur. Data tersebut dapat menjadi dasar bagi koperasi dan pelaku usaha untuk meningkatkan transparansi serta memperkuat komunikasi dengan calon pembeli.Ketertelusuran juga dapat membantu menghubungkan informasi di tingkat produksi dengan kebutuhan pasar. Namun, manfaatnya bergantung pada kualitas data, konsistensi pencatatan, serta keterlibatan petani, koperasi, dan pelaku usaha dalam proses pengumpulan dan pemanfaatan informasi.Bagi kelompok tani hutan, penguatan sistem ini berpotensi menjadi bagian dari persiapan memasuki pasar yang semakin memperhatikan kualitas produk, asal-usul bahan baku, dan praktik produksi yang bertanggung jawab.Menghubungkan Agroforestri dengan Akses PasarFestival Kopi Forest Programme IV tidak hanya membahas aspek budidaya, tetapi juga penguatan ekosistem usaha kelompok tani hutan. Agenda kegiatan mencakup diskusi mengenai agroforestri kopi, standardisasi dan branding, peluang pasar global, serta pengembangan kemitraan bisnis.Panitia juga menjadwalkan Bursa Kopi Forest Programme IV yang memberikan ruang bagi kelompok tani untuk memperkenalkan produk, membangun komunikasi bisnis, menjajaki kemitraan, dan mengidentifikasi kebutuhan pasar.Selain itu, kegiatan uji fisik biji kopi dan uji cita rasa atau cupping dirancang untuk membantu kelompok tani memahami mutu kopi yang dihasilkan. Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi masukan untuk perbaikan kualitas dan pengembangan strategi pemasaran.Kombinasi peningkatan kualitas, akses pasar, dan ketertelusuran digital menjadi pendekatan penting dalam membangun rantai nilai kopi yang lebih transparan dan berkelanjutan.Mendukung Usaha Petani dan Kelestarian LingkunganPengembangan usaha kopi berbasis agroforestri membuka peluang untuk menghubungkan peningkatan pendapatan masyarakat dengan pengelolaan lanskap yang bertanggung jawab. Dalam konteks kelompok tani hutan, keberlanjutan usaha perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga fungsi lingkungan dan memperkuat kelembagaan petani.Melalui kolaborasi pemerintah, koperasi, kelompok tani, dan pelaku pasar, pengembangan ketertelusuran dapat menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok yang lebih tertata serta memperluas peluang kemitraan.Bagi ALKO, penguatan traceability melalui pendekatan digital seperti QThink-X merupakan salah satu jalur untuk mendukung transparansi rantai pasok dan menghubungkan kopi dari tingkat petani dengan kebutuhan pasar.Dengan mengintegrasikan agroforestri, peningkatan kualitas, kemitraan usaha, dan ketertelusuran digital, kopi kelompok tani hutan diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dalam rantai pasok yang transparan dan berkelanjutan.

Read More  

Admin Alko | 20/10/2026

ALKO Lepas Ekspor Kopi Robusta Premium Flores ke Naples, Perkuat Traceability Blockchain via QThink-X

PANJANG, LAMPUNG — ALKO kembali menegaskan posisinya dalam rantai nilai kopi nasional. Melalui program Road to Ekspor Kopi Robusta Premium Indonesia Flores Berbasis Traceability Blockchain ke Naples, Oktober 2026, ALKO melepas kontainer berisi kopi robusta premium asal Flores menuju pasar Eropa.Proses pengiriman dilakukan melalui Pelabuhan Panjang, Lampung, dengan tujuan akhir Naples, Italia. Dalam dokumentasi yang diabadikan, sejumlah kontainer milik MSC terlihat sedang dimuat dengan karung-karung kopi berisi komoditas unggulan tersebut. Dua perwakilan ALKO tampak membentangkan spanduk penanda ekspor di depan kontainer yang telah terisi penuh.Ekspor kali ini menjadi istimewa karena mengusung pendekatan traceability berbasis blockchain. Teknologi ini memungkinkan setiap tahapan perjalanan kopi, mulai dari kebun hingga pelabuhan tujuan, tercatat secara transparan, akurat, dan tidak dapat diubah.Dalam ekosistem ALKO, QThink-X menjadi tulang punggung sistem ketertelusuran tersebut. QThink-X Traceability Apps dirancang untuk mendukung pencatatan dan pengelolaan informasi rantai pasok kopi secara digital, mulai dari identitas petani, lokasi kebun, periode panen, metode pengolahan, hingga pengiriman produk.QThink-X: Menghubungkan Petani dengan Pasar GlobalQThink-X bukan sekadar aplikasi pencatatan. Sistem ini merupakan pendekatan tata kelola rantai pasok yang dirancang untuk menjawab tantangan perdagangan kopi modern. Pasar global semakin menuntut kejelasan asal-usul produk, praktik budidaya yang berkelanjutan, serta dokumentasi perdagangan yang dapat diverifikasi. Tanpa sistem ketertelusuran yang memadai, petani dan pelaku usaha berisiko kehilangan akses ke pasar yang menerapkan persyaratan khusus.Melalui QThink-X, setiap lot kopi yang diekspor dapat dilacak perjalanannya secara digital. Informasi mengenai siapa petaninya, di mana kebunnya berada, kapan panennya, bagaimana pengolahannya, dan kapan dikirim, semuanya tercatat dalam sistem yang terintegrasi. Data tersebut tidak hanya berguna untuk memenuhi kebutuhan pembeli, tetapi juga menjadi alat evaluasi internal bagi ALKO dan kelompok tani untuk meningkatkan mutu produk dari waktu ke waktu.Bagi kelompok tani, penerapan QThink-X dapat dimulai dari pendataan kebun dan pemasok. Data tersebut kemudian diperbarui ketika terjadi perubahan produksi, pengolahan, atau perpindahan produk di sepanjang rantai pasok. Proses ini membutuhkan keterlibatan berbagai pihak: kelompok tani, pendamping, prosesor, dan pelaku perdagangan. Sistem digital memang membantu menyimpan serta mengelola informasi, tetapi akurasi tetap bergantung pada disiplin pengumpulan dan verifikasi data di lapangan.Blockchain: Memperkuat Kepercayaan dan TransparansiTeknologi blockchain yang mendasari QThink-X memberikan lapisan kepercayaan tambahan. Dengan sifatnya yang terdesentralisasi dan tidak dapat diubah, blockchain memastikan bahwa data yang tercatat tidak dapat dimanipulasi setelah dimasukkan ke dalam sistem. Setiap pihak yang memiliki akses dapat memverifikasi keaslian informasi tanpa perlu bergantung pada satu otoritas tunggal.Dalam konteks ekspor kopi ke Eropa, kemampuan ini menjadi nilai tambah yang signifikan. Pembeli di Naples dapat menelusuri perjalanan kopi yang mereka terima, sekaligus memastikan bahwa produk tersebut memenuhi standar yang disepakati. Kepercayaan yang terbangun melalui transparansi ini berpotensi membuka pintu bagi kerja sama jangka panjang yang lebih stabil.Namun, ALKO memahami bahwa ketertelusuran perlu dibedakan dari sertifikasi atau jaminan kepatuhan terhadap regulasi tertentu. Pencatatan asal produk dapat mendukung transparansi, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh persyaratan pasar telah terpenuhi. Untuk memasuki pasar yang menerapkan persyaratan khusus, pelaku usaha tetap perlu memastikan kelengkapan dokumen, validitas data, legalitas lahan yang relevan, dan pemenuhan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, QThink-X dikembangkan sebagai perangkat tata kelola rantai pasok, bukan sekadar label teknologi.Dari Flores ke Naples: Membangun Jembatan Nilai TambahKopi robusta premium Flores dipilih karena karakter rasanya yang khas dan potensinya di pasar internasional. Melalui rute Panjang–Lampung, ekspor ini diharapkan menjadi pintu masuk yang lebih terstruktur bagi kopi Indonesia ke jaringan perdagangan Eropa.Bagi ALKO, langkah ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menghubungkan praktik pengelolaan lahan yang berkelanjutan dengan peluang pasar yang nyata. Dengan sistem ketertelusuran yang baik, nilai tambah kopi tidak hanya dirasakan oleh eksportir, tetapi juga oleh kelompok tani di hulu yang mengelola kebun secara produktif dan ramah lingkungan.Keberhasilan kemitraan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kelompok yang terlibat, tetapi juga oleh keberlanjutan transaksi, kualitas produk, transparansi proses, dan manfaat ekonomi yang diterima anggota kelompok. Pada akhirnya, menjaga hulu dan menggerakkan ekonomi merupakan dua agenda yang dapat saling mendukung ketika dirancang dengan tepat.Melalui QThink-X, ALKO membuka ruang kolaborasi untuk menghubungkan kelompok tani dengan rantai pasok kopi yang lebih terorganisasi, transparan, dan berdaya saing di pasar global. Dari Pelabuhan Panjang, kopi Flores memulai perjalanannya menuju Naples, bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai bukti bahwa transparansi dan teknologi dapat menjadi jembatan antara petani di pelosok dan pembeli di pasar dunia.

Read More  

Admin Alko | 16/10/2026

Dari Rehabilitasi Lahan ke Rantai Nilai Kopi: BPDAS Dorong Kemitraan Kelompok Tani untuk Perkuat FOLU Net Sink 2030

BUKITTINGGI — Kemitraan antara kelompok tani kopi dan pelaku usaha menjadi kunci penting agar rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) tidak berhenti pada penanaman, tetapi berlanjut menjadi pengelolaan lanskap yang produktif dan berkelanjutan. Melalui pengembangan kopi berbasis agroforestri, akses pasar, serta sistem ketertelusuran atau traceability, BPDAS mendorong penguatan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung agenda Indonesia FOLU Net Sink 2030.Upaya tersebut mencuat dalam kegiatan Temu Usaha, Pembelajaran, dan Pengembangan Kemitraan Kelompok Tani yang diselenggarakan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Agam Kuantan di Grand Rocky Hotel, Bukittinggi, pada 14–16 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan pemerintah, kelompok tani hutan, dan pelaku usaha untuk membahas penguatan kelembagaan, pengembangan agroforestri, serta peluang kemitraan dalam rantai nilai kopi.Dalam forum tersebut, Pebriyansah dari BPDAS memaparkan peluang pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK), penguatan pasar, dan pentingnya ketertelusuran kopi. BPDAS menyampaikan kesiapan untuk menjajaki kolaborasi pemasaran dan pengembangan traceability bersama kelompok tani yang terlibat dalam program RHL.Kegiatan ini juga dihadiri Apriadi, S.P., Kepala Seksi Penguatan Kelembagaan DAS, BPDAS Agam Kuantan, serta perwakilan kelompok tani hutan dari sejumlah wilayah, termasuk Pesisir Selatan dan Pasaman. Sementara itu, Anton Efendi dari Kelompok Tani Kopi Lasi berbagi pengalaman mengenai budidaya kopi, penanganan pascapanen, dan peningkatan nilai tambah melalui kunjungan lapangan ke kebun serta fasilitas pengolahan kopi di Lasi.Forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan kelompok tani dengan peluang pengembangan usaha. Dengan akses pasar yang lebih terorganisasi, hasil produksi petani diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan fungsi ekologis lahan.Menghubungkan Rehabilitasi Hutan dengan Peluang UsahaRehabilitasi hutan dan lahan merupakan bagian dari upaya memulihkan fungsi ekologis daerah aliran sungai (DAS), memperbaiki kondisi lahan, serta menjaga keberlanjutan sumber daya air dan tanah. Namun, keberhasilan pemulihan lingkungan juga berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang beraktivitas di sekitarnya. Kelompok tani membutuhkan pilihan usaha yang dapat memberikan penghasilan sekaligus mendukung pengelolaan lahan secara berkelanjutan.Dalam konteks tersebut, agroforestri menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan sesuai kondisi setempat. Sistem ini mengintegrasikan tanaman pertanian dengan pepohonan dalam satu pengelolaan lahan. Pada kebun kopi, pohon penaung dan vegetasi lain dapat menjadi bagian dari upaya menjaga tutupan lahan, dengan manfaat ekologis yang bergantung pada jenis tanaman, desain kebun, kondisi tanah, dan praktik budidaya.Pengembangan agroforestri juga membuka peluang diversifikasi hasil usaha. Selain kopi, kelompok tani dapat mempertimbangkan tanaman lain yang sesuai dengan kondisi agroklimat dan kebutuhan pasar untuk menambah sumber pendapatan. Meski demikian, sistem agroforestri membutuhkan perencanaan. Pemilihan komoditas perlu mempertimbangkan kesesuaian lahan, biaya produksi, potensi hasil, kebutuhan pasar, serta kemampuan kelompok tani mengelola panen.Karena itu, penguatan kelompok tani tidak cukup hanya melalui bantuan bibit atau kegiatan penanaman. Pendampingan kelembagaan, peningkatan keterampilan produksi, akses pembiayaan, dan kemitraan pemasaran juga diperlukan agar usaha dapat berkembang. Pembahasan rantai nilai kopi dalam forum di Bukittinggi menjadi salah satu pintu masuk untuk menghubungkan pengelolaan lahan dengan kebutuhan pasar. Bagi BPDAS, pengembangan kemitraan dapat diarahkan untuk membantu kelompok tani memahami spesifikasi produk yang dibutuhkan pembeli, memperbaiki penanganan pascapanen, dan menyiapkan informasi yang diperlukan dalam proses perdagangan.Peran Offtaker dalam Membangun Akses PasarSalah satu tantangan kelompok tani adalah menghubungkan hasil produksi dengan pembeli yang sesuai. Produksi yang meningkat belum tentu menghasilkan pendapatan lebih baik apabila petani tidak memiliki informasi pasar, standar mutu yang jelas, atau jaringan pemasaran yang memadai. Di sinilah kemitraan dengan offtaker dapat berperan.Offtaker merupakan pihak yang membeli atau menyerap hasil produksi berdasarkan kesepakatan tertentu. Dalam rantai pasok kopi, kerja sama dengan offtaker dapat membantu kelompok tani memahami kebutuhan pasar dan menyiapkan produk sesuai spesifikasi yang disepakati. Namun, keberadaan offtaker tidak otomatis menjamin harga tertentu atau penyerapan seluruh hasil panen. Kepastian tersebut bergantung pada isi kesepakatan, mutu produk, volume yang tersedia, jadwal pengiriman, dan kondisi pasar.Oleh sebab itu, kemitraan yang sehat perlu menetapkan mekanisme transaksi secara transparan. Kelompok tani perlu memahami persyaratan kualitas, cara penentuan harga, jadwal pembelian, serta tanggung jawab masing-masing pihak. Dalam kegiatan BPDAS Agam Kuantan, Pebriyansah dari BPDAS menyampaikan kesiapan untuk menjajaki kolaborasi pemasaran kopi bersama kelompok tani yang terlibat dalam program RHL, termasuk kelompok dari Pesisir Selatan dan Pasaman.Kolaborasi tersebut dapat diawali dengan pemetaan kelompok pemasok, pendataan kebun, identifikasi kapasitas produksi, peningkatan kualitas pascapanen, serta penyesuaian produk dengan kebutuhan pembeli. Kelompok tani perlu mengetahui jenis produk yang dapat dipasarkan, volume yang mampu dipenuhi, metode penilaian kualitas, dan informasi yang harus dicatat. Bagi pelaku usaha, informasi tersebut juga penting untuk menyusun perencanaan pengadaan dan menilai kesiapan pasokan.Dengan koordinasi yang baik, hubungan antara kelompok tani dan pasar berpeluang berkembang dari transaksi sesaat menjadi kemitraan yang lebih terstruktur. Dalam jangka panjang, kemitraan yang berjalan baik dapat membantu meningkatkan nilai tambah hasil kebun dan memperkuat insentif ekonomi bagi masyarakat untuk mengelola lahan secara produktif.Traceability Memperkuat Transparansi Rantai Pasok KopiSelain kualitas dan akses pasar, ketertelusuran menjadi aspek penting dalam pengembangan rantai pasok kopi. Traceability adalah kemampuan menelusuri asal produk dan tahapan yang dilaluinya sepanjang rantai pasok berdasarkan informasi yang dicatat dan dikelola secara sistematis. Dalam rantai pasok kopi, informasi tersebut dapat mencakup identitas petani atau kelompok pemasok, lokasi kebun, periode panen, metode pengolahan, pengumpulan, penyimpanan, hingga pengiriman produk.Informasi yang terstruktur membantu pelaku usaha menjelaskan asal produk kepada pembeli. Sistem ini juga dapat mendukung pengelolaan pemasok dan dokumentasi perdagangan apabila data yang tersedia akurat serta dapat diverifikasi. Dalam paparannya, Pebriyansah menempatkan ketertelusuran sebagai bagian dari upaya menghubungkan petani dengan kebutuhan pasar modern dan perdagangan internasional.Bagi kelompok tani, penerapan traceability dapat dimulai dari pendataan kebun dan pemasok. Data tersebut kemudian perlu diperbarui ketika terjadi perubahan produksi, pengolahan, atau perpindahan produk di sepanjang rantai pasok. Proses tersebut membutuhkan keterlibatan kelompok tani, pendamping, prosesor, dan pelaku perdagangan. Sistem digital dapat membantu menyimpan serta mengelola informasi, tetapi akurasi tetap bergantung pada proses pengumpulan dan verifikasi data di lapangan.Dalam ekosistem kopi BPDAS, QThink-X menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung pencatatan dan pengelolaan informasi rantai pasok. Penerapan sistem tersebut pada kelompok tani RHL perlu disesuaikan dengan kesiapan data, kapasitas sumber daya manusia, kebutuhan pembeli, dan mekanisme operasional yang disepakati.Ketertelusuran juga perlu dibedakan dari sertifikasi atau jaminan kepatuhan terhadap regulasi tertentu. Pencatatan asal produk dapat mendukung transparansi, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh persyaratan pasar telah terpenuhi. Untuk memasuki pasar yang menerapkan persyaratan khusus, pelaku usaha tetap perlu memastikan kelengkapan dokumen, validitas data, legalitas lahan yang relevan, dan pemenuhan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, traceability dapat dikembangkan sebagai perangkat tata kelola rantai pasok, bukan sekadar label teknologi. Sistem tersebut berpotensi membantu kelompok tani dan pelaku usaha membangun dokumentasi yang lebih baik sekaligus memperkuat kepercayaan pembeli.Belajar dari Kebun Kopi LasiPembahasan dalam forum BPDAS Agam Kuantan dilengkapi dengan kunjungan lapangan ke kebun dan fasilitas pengolahan kopi di Lasi, Kabupaten Agam. Kunjungan tersebut dipandu Anton Efendi dari Kelompok Tani Kopi Lasi. Peserta berkesempatan melihat praktik budidaya kopi dan memahami hubungan antara pengelolaan kebun, penanganan pascapanen, serta mutu produk yang dipasarkan.Perwakilan kelompok tani dari Pesisir Selatan dan Pasaman dapat memanfaatkan kegiatan tersebut untuk membandingkan praktik pengelolaan kebun dan mengidentifikasi aspek yang berpotensi diterapkan sesuai kondisi masing-masing wilayah. Pengembangan kopi berbasis agroforestri memerlukan perhatian terhadap pemilihan tanaman, pengelolaan naungan, pemeliharaan tanah, dan pengendalian gulma. Praktik tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi kebun agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengabaikan fungsi ekologis lahan.Pada lanskap berbukit, tutupan lahan dan praktik konservasi tanah juga perlu menjadi bagian dari perencanaan budidaya, terutama di wilayah yang berhubungan dengan fungsi daerah aliran sungai. Selain budidaya, pascapanen menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas kopi. Pemetikan buah pada tingkat kematangan yang sesuai, pemilihan metode pengolahan, pengeringan terkontrol, dan penyimpanan yang tepat dapat memengaruhi karakter produk.Kelompok tani juga perlu membangun disiplin pencatatan. Informasi mengenai tanggal panen, metode pengolahan, kondisi pengeringan, dan hasil sortasi dapat membantu mengevaluasi mutu sekaligus mendukung sistem ketertelusuran. Pengalaman di tingkat tapak memperlihatkan bahwa peningkatan nilai tambah kopi membutuhkan keterhubungan antara keterampilan petani dan kebutuhan pasar. Produksi yang baik perlu didukung proses pengolahan yang tepat serta saluran pemasaran yang dapat diakses.Bagi BPDAS, pembelajaran lapangan menjadi kesempatan untuk memahami kesiapan kelompok tani dan mengidentifikasi bentuk pendampingan yang relevan apabila penjajakan kemitraan pemasaran dilanjutkan.Perhutanan Sosial dan Penguatan Ekonomi MasyarakatPenguatan ekonomi masyarakat merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan usaha berbasis perhutanan sosial. Kelompok masyarakat memerlukan akses terhadap pengetahuan, jaringan usaha, dan peluang pasar agar kegiatan ekonomi dapat tumbuh sesuai ketentuan pengelolaan yang berlaku. Dalam konteks kopi, pengembangan usaha perlu memperhatikan status dan legalitas lahan, kesesuaian komoditas, kapasitas produksi, serta ketentuan yang berlaku pada wilayah kelola masing-masing kelompok.Pendekatan tersebut membantu memastikan bahwa pengembangan komoditas tidak mengabaikan tujuan perlindungan lingkungan. Pemasaran juga perlu dihubungkan dengan rencana produksi. Kelompok tani tidak hanya perlu mempertimbangkan peningkatan volume, tetapi juga mutu, biaya, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pembeli.Penguatan kelembagaan dapat mencakup pembagian tanggung jawab dalam pengumpulan hasil, pencatatan produksi, pengelolaan keuangan, dan komunikasi dengan mitra usaha. Transparansi diperlukan agar manfaat kerja sama dapat dipahami oleh anggota kelompok. Bagi pemerintah dan pendamping, proses ini membutuhkan fasilitasi berkelanjutan. Kebutuhan kelompok tani dapat berbeda-beda, mulai dari penguatan administrasi dan peningkatan keterampilan budidaya hingga pengolahan serta akses informasi pasar.Kolaborasi dengan pelaku usaha dapat melengkapi proses tersebut melalui penyampaian spesifikasi produk, penjajakan pembelian, dan pengembangan hubungan dagang. Bentuk dukungan perlu disesuaikan dengan kesepakatan yang benar-benar dapat dijalankan oleh para pihak. Dalam hal ini, forum temu usaha berfungsi sebagai ruang untuk mempertemukan kebutuhan kelompok tani dengan peluang kerja sama. Hasilnya perlu ditindaklanjuti melalui rencana kerja, pembagian tanggung jawab, dan indikator yang dapat dievaluasi.Mendukung Agenda Indonesia FOLU Net Sink 2030Indonesia FOLU Net Sink 2030 merupakan agenda sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya untuk mencapai kondisi ketika penyerapan emisi bersih dari sektor tersebut lebih besar daripada emisi yang dilepaskan pada 2030. Pengelolaan hutan berkelanjutan, rehabilitasi lahan, konservasi, dan kegiatan lain yang sesuai dengan kebijakan nasional menjadi bagian dari upaya menuju sasaran tersebut.Pengembangan agroforestri dapat berkontribusi pada tujuan pengelolaan lanskap apabila praktiknya sesuai dengan kondisi ekologis, menjaga atau memperbaiki tutupan vegetasi, dan dilaksanakan dengan pengukuran yang tepat. Besarnya kontribusi terhadap penurunan emisi atau peningkatan serapan karbon tidak dapat disimpulkan hanya dari keberadaan tanaman kopi atau pohon penaung. Penilaian tersebut memerlukan metode pengukuran dan data yang relevan.Karena itu, kemitraan ekonomi dan pengelolaan lingkungan perlu dikembangkan secara berdampingan. Akses pasar dapat memberikan insentif bagi usaha petani, sementara praktik budidaya dan pengelolaan lahan perlu memastikan bahwa tujuan produksi tidak mengorbankan fungsi ekologis. Pendekatan ini juga membutuhkan pemantauan hasil. Indikator ekonomi dapat mencakup kualitas produk, keberlanjutan transaksi, dan manfaat bagi kelompok tani. Indikator lingkungan perlu disesuaikan dengan program, kondisi lanskap, serta metode evaluasi yang digunakan.Melalui kolaborasi antara pemerintah, kelompok tani, dan pelaku usaha, peluang pengembangan ekonomi berbasis agroforestri dapat dijajaki dengan memperhatikan kondisi sosial dan lingkungan.Menyiapkan Tindak Lanjut KemitraanKegiatan Temu Usaha, Pembelajaran, dan Pengembangan Kemitraan Kelompok Tani di Bukittinggi membuka ruang untuk mempertemukan penguatan kelembagaan RHL dengan kebutuhan pengembangan usaha. Bagi BPDAS, tindak lanjut dapat dimulai dengan mengidentifikasi kelompok tani yang berminat, memetakan kebun dan kapasitas produksi, serta menilai kebutuhan peningkatan mutu dan ketertelusuran.Tahap berikutnya adalah mempertemukan informasi pasokan dengan kebutuhan pembeli, menetapkan spesifikasi produk, dan membahas mekanisme transaksi yang realistis. Jika disepakati oleh para pihak, kerja sama dapat dilanjutkan melalui pengaturan pembelian, pendampingan teknis, dan evaluasi berkala. Langkah-langkah tersebut perlu dilakukan secara bertahap agar kelompok tani tidak dibebani persyaratan yang belum dapat dipenuhi. Pengembangan sistem ketertelusuran juga perlu mempertimbangkan kemampuan pengelola di lapangan dan manfaat nyata bagi rantai pasok.Keberhasilan kemitraan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kelompok yang terlibat, tetapi juga oleh keberlanjutan transaksi, kualitas produk, transparansi proses, dan manfaat ekonomi yang diterima anggota kelompok. Pada akhirnya, menjaga hulu dan menggerakkan ekonomi merupakan dua agenda yang dapat saling mendukung ketika dirancang dengan tepat. Rehabilitasi hutan dan lahan membutuhkan pengelolaan yang konsisten, sementara usaha kopi memerlukan produksi berkualitas dan akses pasar yang jelas.Melalui pengembangan agroforestri, penjajakan kemitraan offtaker, dan penerapan ketertelusuran, BPDAS membuka ruang kolaborasi untuk menghubungkan kelompok tani dengan rantai pasok kopi yang lebih terorganisasi. Dari Bukittinggi, upaya tersebut menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas tentang bagaimana pengelolaan lanskap, penguatan usaha masyarakat, dan perdagangan kopi dapat dikembangkan secara beriringan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.

Read More  

Admin Alko | 15/10/2026

PT ALKO Sumatra Kopi Raih Primaniyarta 2026 Kategori Eksportir FTA di TEI ke-41

TANGERANG, — PT ALKO Sumatra Kopi meraih penghargaan Primaniyarta 2026 kategori khusus Eksportir Free Trade Agreement (FTA). Penghargaan diserahkan Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam seremoni pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (14/10/2026).Pada TEI ke-41 ini, Kemendag menyerahkan total 50 penghargaan Primaniyarta dan Primaduta kepada eksportir berprestasi dan mitra dagang Indonesia di luar negeri. Tahun ini TEI menargetkan transaksi USD 17,5 miliar dan diikuti 1.873 exhibitor dengan 8.092 buyer luar negeri dari 134 negara.Sinergi Eksportir dan Mitra DagangMenteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, kinerja ekspor Indonesia yang pada Agustus 2026 mencatatkan surplus USD 3,55 miliar, tidak terlepas dari sinergi antara eksportir dan mitra dagang yang saling melengkapi."Indonesia mencatatkan kinerja ekspor yang baik berkat peran eksportir dan mitra dagang yang bagai dua sisi mata uang. Pertama, eksportir gigih menghadirkan produk berdaya saing; kedua, mitra dagang loyal dan terus percaya pada produk-produk Indonesia. Kami mengapresiasi kontribusi keduanya dan semoga makin banyak pelaku usaha yang terinspirasi untuk memperkuat ekspor Indonesia," ujar Mendag yang akrab disapa Busan.Bagi ALKO, penghargaan kategori FTA ini menjadi penanda keberhasilan pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas untuk meningkatkan daya saing. Mulai dari pemenuhan ketentuan asal barang (rules of origin), klasifikasi produk, hingga kelengkapan dokumen ekspor sesuai negara tujuan.Apresiasi dari Dubes RI untuk ItaliaCapaian ALKO mendapat ucapan selamat dari Duta Besar RI untuk Italia, Prof. Dr. Junimart Girsang. Italia menjadi salah satu negara tujuan ekspor ALKO, sehingga pemanfaatan FTA menjadi instrumen penting dalam membuka akses tarif preferensial dan perluasan pasar di Eropa.ALKO juga menyampaikan apresiasi kepada para Duta Besar RI, ITPC dan Atase Perdagangan di AS, Kanada, Swedia, Inggris, Norwegia, Jepang, Korea Selatan, Dubai, Mesir, Belanda, Hungaria, Perancis, Malaysia, Hong Kong, Pakistan, Vietnam, serta perwakilan RI lainnya. Dukungan perwakilan RI di luar negeri tersebut menjadi salah satu unsur penilaian yang menguatkan ALKO dalam penghargaan Primaniyarta ini, khususnya dalam memfasilitasi pertemuan dengan buyer dan informasi pasar.Perkuat Rantai Pasok dan Traceability via QThink-XKe depan, ALKO memperkuat pengelolaan rantai pasok dari petani hingga logistik dan mengembangkan sistem traceability melalui aplikasi QThink-X untuk menjamin transparansi asal kopi. Pendekatan ini melengkapi strategi pemanfaatan FTA dalam menjaga kepercayaan buyer melalui konsistensi mutu dan ketepatan pengiriman.ALKO.id — Menghubungkan kopi Indonesia dengan pasar dunia.

Read More  

Admin Alko | 15/10/2026

Empat Kali Kirim Kopi ke Oman dalam Empat Bulan, ALKO Perkuat Traceability Berbasis Blockchain

SUMATERA — Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO) kembali mengirimkan kopi Arabika specialty Indonesia ke Oman melalui jalur laut dari Pelabuhan Belawan pada September 2026. Pengiriman ini menjadi bagian dari empat kali transaksi pengiriman kopi Sumatra ke pasar Oman dalam kurun empat bulan, terdiri dari dua pengiriman melalui jalur udara dan dua melalui jalur laut.Pengiriman terbaru tersebut mengusung model traceability berbasis blockchain melalui aplikasi QThink-X Traceability Apps. Pendekatan ini dikembangkan untuk mendukung ketertelusuran kopi, sehingga informasi mengenai asal-usul dan perjalanan produk dalam rantai pasok dapat terdokumentasi.Berdasarkan informasi pengiriman sebelumnya, salah satu pengiriman melalui jalur udara mencapai volume 8 ton. Pada pengiriman terbaru, kopi Arabika specialty dikirim menggunakan kontainer melalui Pelabuhan Belawan dengan tujuan Oman.Traceability, dari Kebun hingga Pasar InternasionalBagi ALKO, ekspor kopi tidak hanya berorientasi pada pengiriman komoditas, tetapi juga pada pembangunan sistem rantai pasok yang lebih transparan dan dapat ditelusuri.Melalui model traceability, informasi mengenai asal kopi, data petani dan kebun, proses produksi, penanganan pascapanen, pengolahan hingga tahapan perdagangan dapat dihimpun sesuai ketersediaan dan verifikasi data.Penggunaan teknologi blockchain dalam ekosistem QThink-X diarahkan untuk mendukung pencatatan data dan riwayat produk. Dengan pendekatan tersebut, informasi ketertelusuran dapat menjadi bagian dari dokumentasi rantai pasok yang dapat diperiksa oleh pihak terkait sesuai akses dan data yang tersedia.Model ini penting bagi pengembangan kopi specialty karena nilai produk tidak hanya ditentukan oleh karakter rasa dan kualitas fisik, tetapi juga oleh kejelasan asal-usul, konsistensi mutu dan transparansi proses produksi.Empat Pengiriman dalam Empat BulanDalam empat bulan terakhir, pasar Oman telah melakukan empat kali pembelian kopi Sumatra dari ALKO. Rangkaian tersebut mencakup dua pengiriman melalui udara dan dua pengiriman melalui jalur laut.Pengiriman melalui udara memberikan alternatif untuk kebutuhan logistik tertentu, sedangkan jalur laut menjadi pilihan untuk pengiriman menggunakan kontainer. Penggunaan kedua moda tersebut memberikan fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan pembeli internasional.Pengiriman terbaru melalui Belawan sekaligus memperlihatkan bagaimana ekspor kopi dapat dikembangkan bersama sistem ketertelusuran digital. Dengan dokumentasi yang semakin terstruktur, ALKO berupaya memperkuat hubungan antara pasokan dari Indonesia dan kebutuhan pasar tujuan.Membangun Kepercayaan melalui DataDalam perdagangan internasional, traceability dapat membantu pembeli memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai asal dan perjalanan produk. Namun, kelengkapan dan akurasi informasi tetap bergantung pada data yang dikumpulkan, diverifikasi dan diperbarui sepanjang rantai pasok.Karena itu, pengembangan traceability perlu berjalan bersama penguatan kapasitas petani, pencatatan produksi, penerapan praktik pascapanen yang baik, pengendalian mutu dan tata kelola data.Bagi ALKO, pendekatan ini merupakan bagian dari pengembangan ekosistem kopi berkelanjutan yang menghubungkan petani, kelompok tani, koperasi, prosesor, teknologi dan pembeli internasional.Memperkuat Posisi Kopi SumatraPembelian berulang dari Oman memberikan peluang bagi ALKO untuk memperkuat hubungan dagang dan mengembangkan pasokan kopi Sumatra secara berkelanjutan.Ke depan, pengembangan pasar tidak hanya bertumpu pada kontinuitas pasokan dan kualitas kopi, tetapi juga pada kemampuan membangun informasi asal-usul produk yang transparan dan terdokumentasi.Melalui integrasi kopi specialty dengan model traceability berbasis blockchain, ALKO berupaya membangun rantai nilai yang menghubungkan kebun, petani, pengolahan, ketertelusuran digital, ekspor dan pasar internasional.Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing kopi Indonesia melalui kombinasi kualitas produk, keberlanjutan dan transparansi rantai pasok.Dari kebun di Sumatra hingga pasar Oman, traceability menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dan memperkuat masa depan perdagangan kopi Indonesia.

Read More  

Admin Alko | 10/10/2026

Difasilitasi APINDO Sumbar, ALKO Gandeng PT. Salimbado Jaya Garap 400 Ribu Benih Kopi di Gunung Sago

Limapuluh Kota 8/10/2026 - Kolaborasi untuk melahirkan _local champion_ ekspor kopi Minang terwujud berkat peran Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sumatera Barat.Dalam rangkaian kunjungan APINDO Sumbar ke anggotanya yang merupakan pelaku usaha ekspor, APINDO mempertemukan Koperasi Alam Korintji (ALKO) dengan perusahaan lokal asal Payakumbuh, PT. Salimbado Jaya Indonesia (SJI) sebagai prosesor kopi ekspor dari Kabupaten Lima Puluh Kota.Dari pertemuan tersebut, disepakati kemitraan strategis untuk menyiapkan 400 ribu benih kopi robusta yang akan ditanam di kawasan sekitar Gunung Sago.Kolaborasi ini menjadi langkah pengembangan kopi Minang secara masif. Pasalnya, ALKO telah memiliki pasar ekspor khusus untuk kopi Minang, namun suplai belum terpenuhi."Sejak 2019 ALKO telah membangun komunikasi pasar dari hulu ke hilir untuk kopi Minang, namun permintaan buyer ekspor hingga saat ini belum dapat dipenuhi karena produksi kopi Minang yang lolos ekspor masih sedikit," ujar Suryono, Direktur Utama ALKO.Kehadiran ALKO ingin menjadi standar Quality Control (QC) kopi Minang siap ekspor dan diekspor oleh perusahaan lokal dari Sumbar sendiri. Direktur Operasional ALKO Sumatra Barat Pebriansyah menambahkan, "Dilihat dari data perdagangan eksportir, belum tercatat perusahaan kopi lokal Sumbar yang mengekspor kopi dari Sumbar selain ALKO. Tentu perlu ada gerakan untuk menumbuhkan _local champion_ menjadi eksportir kopi Minang. Terima kasih kepada APINDO Sumbar yang telah memfasilitasi pertemuan ini."Sementara itu, Direktur PT. Salimbado Jaya Indonesia, Sepdi Tito, menjelaskan Gunung Sago memiliki potensi besar untuk robusta. Kepastian pasar dari ALKO membuatnya yakin menggerakkan petani."Kerja sama dengan ALKO memberikan kepastian pasar, membuat kami yakin untuk menggerakkan petani lokal agar kembali menanam di lahan-lahan yang masih kosong. Kami bersama ALKO akan menyiapkan 400 ribu benih untuk dibagikan kepada petani dengan skema koperasi dan petani plasma. Saat ini benih yang siap tanam baru 80 ribu," jelas Sepdi Tito.Sepdi Tito menambahkan, pihaknya bersama APINDO Sumbar akan meminta dukungan Pemda Lima Puluh Kota agar ada sinergi pemerintah daerah untuk memenuhi permintaan pasar kopi Minang yang besar."Permintaan buyer pasar kopi Minang ini sudah ada sejak 2021. Kalau dari data produksi kita ada ribuan ton, tapi untuk memenuhi 1 kontainer saja belum ada _local champion_ yang muncul. Dengan banyaknya kelompok tani kopi dan adanya asosiasi kopi saat ini, pekerjaan itu seharusnya bisa lebih mudah dengan kolaborasi yang difasilitasi APINDO ini," tutupnya.Pebriansyah menjelaskan kerjsama ini akan menerapkan aplikasi Qthink-X untuk penerapan prinsip-prinsip traceability berbasis blockchain kopi Minang, untuk dapat mengetahui sumber dari kebun kopi di tanam dan mengenalkan kembali Sumatera Kopi Minang berbasis origin (admin-)

Read More  

Admin Alko | 10/10/2026

ALKO Gandeng Empat Mitra Vietnam, Ekspor Berbasis Blockchain

Vietnam,  – PT ALKO Kerinci memperluas jaringan kerja sama internasional dengan menggandeng empat mitra kopi Vietnam, yakni Robo Farm, Elon Farm, Thy Thy Farm, dan Like Farm. Kemitraan ini menjadi bagian dari strategi ALKO membangun rantai pasok kopi global yang transparan, terverifikasi, dan siap menembus pasar Eropa.Langkah ini menegaskan posisi kopi ALKO tidak hanya sebagai produk lokal, tetapi sebagai brand kopi yang mulai bergerak di panggung internasional. Dengan mengusung traceability blockchain, ALKO ingin memastikan setiap biji kopi yang diproduksi dan diekspor memiliki jejak asal-usul yang jelas, mulai dari kebun hingga pasar tujuan.Robo Farm Jadi Markas Processing ALKO di VietnamDalam kerja sama ini, SG Robo Factory atau Robo Farm Coffee Factory akan menjadi markas processing standar ALKO untuk ekspor kopi Vietnam berbasis blockchain. Robo Factory memiliki fasilitas processing kopi lengkap di Vietnam dan siap dijadikan tempat processing bagi ALKO.Keunggulan prosesor Vietnam tersebut adalah fasilitasnya yang berstandar tinggi. Kerja sama dengan ALKO diharapkan membuka pasar kopi Vietnam berbasis traceability blockchain. Robo Factory akan menjadi hub processing ALKO di Vietnam sekaligus markas ALKO di sana.Founder dan Direktur Robo Farm Coffee Factory adalah Ms. Le Thi Huyen Trang. Lokasinya berada di Tan Ha, Lam Dong, Vietnam. Ms. Le Thi Huyen Trang juga tercatat sebagai anggota Koperasi Alam Korintji.Perkebunan Thy Thy  dan Arabika Specialty VietnamKerja sama dengan petani prosesor sebagai hilir di Vietnam dilakukan dengan Thy Thy Farm. Thy Thy Farm merupakan pemilik kebun kopi Arabika Specialty Vietnam dengan tanaman varietas kopi Arabika baru dan tingkat produktivitas tinggi, hampir rata-rata 4 ton per hektar green bean.Kebun ini telah menerapkan traceability menggunakan aplikasi Qthink-X. Pemilik kebun, Ms. Le Huyen Ngoc Thy, merupakan ketua kelompok tani wanita Kebun Arabika Thy Thy Farm.Elon Farm dan Like Farm Perkuat Kopi RobustaUntuk komoditas Robusta, ALKO bekerja sama dengan Ms. Jenny dari Elon Farm. Elon Farm merupakan prosesor kopi yang memiliki lima petani anggota suplier. Selain memiliki kebun, Elon Farm juga memiliki homestay untuk tamu yang berkunjung. Elon Farm sebagai petani Vietnam mitra koperasi pertama telah menerapkan traceability berbasis blockchain Qthink-X sejak tahun lalu.Petani robusta lain yang terlibat adalah Mr. Mia Huyen Nguyen Quoc Thang, owner Like Farm. Like Farm merupakan unit perkebunan kopi Robusta skala besar yang mencapai 40 hektar di Lam Dong. Kerja sama ini mencakup penerapan traceability blockchain Qthink-X dan menjadikan Like Farm sebagai mitra koperasi ALKO dalam produksi kopi Vietnam untuk pasar Eropa menggunakan blockchain.Blockchain Jadi Nilai Jual Kopi ALKO di Pasar GlobalMelalui empat mitra tersebut, ALKO membangun ekosistem kopi global yang tidak hanya berorientasi pada volume produksi, tetapi juga pada kualitas, keterlacakan, dan kepercayaan pasar. Penerapan Qthink-X di kebun-kebun mitra Vietnam menjadi salah satu kunci untuk memenuhi permintaan pasar internasional, khususnya Eropa, yang semakin ketat terhadap aspek sustainability dan transparansi rantai pasok.Dengan kerja sama ini, ALKO berharap dapat memperkuat posisi kopi Indonesia dan kopi Vietnam di pasar global. Empat kelompok mitra yang terlibat, yaitu Robo Farm, Elon Farm, Thy Thy Farm, dan Like Farm, menjadi fondasi awal bagi ALKO dalam membangun jaringan kopi global berbasis blockchain.

Read More  

Admin Alko | 03/10/2026

ALKO Kerinci Berpartisipasi dalam Business Matching DEKOPI dan International Coffee Day 2026

Jakarta, alko.id – PT ALKO Kerinci turut berpartisipasi dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) dan International Coffee Day (ICD) 2026 yang diselenggarakan oleh Dewan Kopi Indonesia (DEKOPI). Kegiatan berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis, 30 September–1 Oktober 2026, di Auditorium Gedung F, Komplek Kementerian Pertanian RI, Jl. Harsono RM No. 3, Jakarta Selatan.Acara ini diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri dari pengurus DEKOPI seluruh Indonesia, perwakilan anggota DEKOPI, instansi pemerintah, dan swasta terkait. Rangkaian kegiatan meliputi talkshow, business matching, pameran, serta promosi peralatan mesin dan sarana industri perkopian.Business Matching Pertemukan Seller dan BuyerPada hari pertama, Rabu (30/9/2026), agenda utama diisi dengan Coffee Business Forum dan Business Matching. Forum ini mempertemukan buyer dari Jakarta dan sekitarnya dengan seller UMKM kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan tersebut dipandu oleh Ketua II DEKOPI, Bapak Syafrudin.PT ALKO Kerinci menjadi salah satu seller yang terdaftar dalam acara business matching tersebut. Dalam forum itu, ALKO Kerinci dihadiri oleh Chief Operating Officer (COO) Puput Puspita Sari. Kehadiran ALKO Kerinci dalam forum ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk memperkuat jaringan pemasaran kopi Kerinci ke buyer Jakarta dan pasar nasional.Selain ALKO Kerinci, sejumlah seller lain yang turut berpartisipasi antara lain Koperasi Kopi Baburrayyan (Takengon, Aceh), Koperasi Kopi Mal Agri (Medan, Sumatera Utara), Koperasi Wanoja (Jawa Barat), Koperasi Kopi Robusta Temanggung (Jawa Tengah), Gravfarms (Ciwidey, Jawa Barat), dan petani kopi robusta dari Provinsi Lampung.Coffee Tasting & Cupping dan Munas DEKOPIMasih di hari yang sama, agenda dilanjutkan dengan Coffee Tasting & Cupping yang menampilkan UMKM kopi dari Aceh sampai Papua. Sesi ini juga dipandu oleh Ketua II DEKOPI, Bapak Syafrudin.Kegiatan hari pertama ditutup dengan Musyawarah Nasional DEKOPI yang dipandu oleh Ketua Munas DEKOPI, Bapak Mahatma Gandhi.ICD Celebration dan National Coffee ForumPada hari kedua, Kamis (1/10/2026), digelar ICD Celebration and National Coffee Forum. Acara dibuka dengan laporan Ketua Umum DEKOPI periode 2026–2030, dilanjutkan sambutan Menteri Pertanian RI, Bapak Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., sekaligus acara Sruput Kopi bersama Menteri Pertanian RI.Dalam kesempatan tersebut juga diluncurkan Program Kopi Diplomat yang dihadiri oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Bapak Arif Havas Oegroseno, S.H., LL.M.Agenda berlanjut dengan Dialog Nasional Kopi (Coffee Talk) bertema "Masa Depan Kopi Indonesia dari Petani ke Pasar Dunia". Dialog ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Prof. Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, M.S., Dr. Herdrajad Natawidjaja, Moelyono Soesilo, Dr. Ir. Purwadi, dan Ahmad Supriyono. Diskusi dimoderatori oleh Ibu Dini Astika Sari, M.Biotech (Kepala Puslitkoka), dengan penanggap Bapak Dr. Surip Mawardi dan Bapak Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin.Beberapa isu yang dibahas dalam dialog tersebut meliputi masa depan kopi Indonesia, isu sustainability melalui konsep Indonesia Sustainable of Coffee, hilirisasi kopi untuk mendorong nilai tambah dari kebun sampai industri, serta isu regenerasi petani melalui pembangunan Sekolah Kopi Nusantara.Acara kemudian ditutup oleh Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI.Komitmen ALKO KerinciPartisipasi PT ALKO Kerinci dalam Business Matching DEKOPI dan International Coffee Day 2026 menjadi langkah nyata perusahaan dalam mendukung pengembangan industri kopi nasional, khususnya kopi Kerinci. Melalui forum ini, ALKO Kerinci berharap dapat memperluas jaringan kemitraan dengan buyer nasional dan meningkatkan daya saing kopi Kerinci di pasar yang lebih luas.Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk dan kemitraan PT ALKO Kerinci, silakan menghubungi kanal resmi perusahaan.

Read More  

Admin Alko | 03/10/2026

Pemberdayaan Perempuan dan Isu Lingkungan Warnai Diskusi Bisnis Kopi di Musda PHRI Sumbar

PADANG,  – Aspek pemberdayaan perempuan dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi pembahasan utama dalam sesi bertema "Mengulik Bisnis Kopi" pada Musyawarah Daerah (Musda) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Barat. Dalam forum tersebut, Koperasi ALKO hadir sebagai narasumber untuk memaparkan bagaimana kedua isu tersebut menjadi kunci nilai tambah sebuah produk kopi di era industri hospitality yang semakin sadar akan keberlanjutan.Suryono, perwakilan dari Koperasi ALKO, menjelaskan bahwa nilai tambah sebuah produk kopi saat ini tidak lagi bisa diukur hanya dari cita rasanya semata. Ada faktor krusial lain yang menentukan daya saing di pasar, terutama di sektor perhotelan, yakni keterlacakan (traceability) serta komitmen terhadap pemberdayaan perempuan (women empowerment) dalam rantai produksinya."Kami ingin mengangkat narasi bahwa kopi yang baik adalah kopi yang peduli pada keberlangsungan lingkungan dan pemberdayaan perempuan di rantai produksinya," ujar Suryono dalam presentasinya, Rabu (30/9/2026).Menurut Suryono, konsumen modern, termasuk tamu hotel, kini semakin sadar dan menghargai produk yang memiliki dampak sosial dan lingkungan yang positif. Hal ini menjadikan isu keberlanjutan sebagai nilai jual yang relevan dengan tren industri hospitality saat ini. Ia mencontohkan bagaimana hotel-hotel berbintang di kota-kota besar mulai menuntut produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki jejak produksi yang jelas dan ramah lingkungan.Traceability sebagai Fondasi KepercayaanDalam pemaparannya, Suryono menekankan bahwa traceability atau keterlacakan produk menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan konsumen. Ia menjelaskan bahwa setiap biji kopi yang dihasilkan oleh ALKO dapat dilacak asal-usulnya, mulai dari kebun tempat biji kopi ditanam, siapa petani yang mengelolanya, hingga proses pascapanen yang dilalui."Traceability bukan sekadar formalitas. Ini adalah bentuk tanggung jawab kami kepada konsumen. Ketika sebuah hotel menyajikan kopi kami, mereka bisa dengan bangga menceritakan kepada tamunya bahwa kopi ini berasal dari petani tertentu di Kerinci, diolah dengan metode tertentu, dan memberikan dampak positif bagi komunitas lokal," jelas Suryono.Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sistem keterlacakan ini juga memungkinkan ALKO untuk memastikan bahwa praktik pertanian yang digunakan oleh para mitra petaninya tetap ramah lingkungan. Misalnya, penggunaan pupuk organik, pengelolaan air yang efisien, serta penghindaran deforestasi dalam proses perluasan lahan kopi."Kami tidak hanya menjual kopi. Kami menjual cerita dan nilai. Dan nilai itu harus bisa dibuktikan, bukan hanya diklaim," tegasnya.Pemberdayaan Perempuan di Rantai Produksi KopiSalah satu poin yang paling disorot dalam presentasi ALKO adalah komitmen terhadap pemberdayaan perempuan. Suryono memaparkan bahwa perempuan memainkan peran yang sangat penting dalam rantai produksi kopi, mulai dari penanaman, pemetikan, sortasi biji, hingga proses pengolahan pascapanen. Namun, sering kali kontribusi mereka tidak terlihat dan tidak dihargai secara ekonomi."Di banyak komunitas petani kopi, perempuan adalah tulang punggung produksi. Mereka yang memetik dengan teliti, mereka yang menyortir biji terbaik, dan mereka yang memastikan kualitas tetap terjaga. Tapi sayangnya, suara dan kesejahteraan mereka sering terabaikan," ujar Suryono.Melalui program pemberdayaan yang dijalankan ALKO, perempuan-perempuan di komunitas petani kopi Kerinci diberikan pelatihan, akses terhadap sumber daya, serta posisi yang lebih setara dalam pengambilan keputusan. ALKO juga memastikan bahwa upah yang diterima oleh pekerja perempuan setara dengan pekerja laki-laki untuk pekerjaan yang sama."Kami percaya bahwa kopi yang baik lahir dari sistem yang adil. Jika perempuan sejahtera, maka kualitas kopi yang dihasilkan juga akan semakin baik," tambahnya.Suryono juga menyoroti bahwa isu pemberdayaan perempuan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya tujuan kelima tentang kesetaraan gender dan tujuan kedelapan tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.Ajakan Kolaborasi dengan Industri HospitalityDalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif, Suryono mengajak para pelaku industri hospitality di Sumatera Barat untuk berkolaborasi. Ia berharap Kopi Kerinci dapat masuk dan disajikan di berbagai hotel serta restoran di Sumbar sebagai produk unggulan yang tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan."Kopi Kerinci memiliki keunggulan kompetitif. Bukan hanya dari segi rasa, tetapi juga karena produk ini peduli terhadap isu keberlanjutan dan lingkungan," ujar Suryono.Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara produsen kopi dan industri perhotelan dapat menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan. Hotel-hotel dapat menawarkan pengalaman kopi yang autentik dan bermakna kepada tamunya, sementara petani kopi lokal mendapatkan akses pasar yang lebih stabil dan harga yang lebih adil."Kami ingin hotel-hotel di Sumbar menjadi duta kopi Kerinci. Setiap cangkir yang disajikan adalah cerita tentang petani lokal, tentang perempuan yang berdaya, dan tentang lingkungan yang terjaga," ungkapnya.Suryono juga menyampaikan bahwa ALKO terbuka untuk menjalin kemitraan jangka panjang dengan PHRI Sumbar, termasuk dalam hal pelatihan barista, penyediaan biji kopi berkualitas, serta program edukasi tentang kopi berkelanjutan bagi para staf hotel dan restoran.Respons Positif dari Peserta MusdaAjakan kolaborasi yang disampaikan oleh ALKO mendapat respons positif dari para peserta Musda PHRI Sumbar. Beberapa perwakilan hotel dan restoran yang hadir menyatakan ketertarikan mereka untuk menjajaki kerja sama dengan ALKO, terutama untuk menyediakan kopi lokal berkualitas tinggi bagi tamu mereka."Kami sangat mengapresiasi inisiatif ALKO. Isu keberlanjutan dan pemberdayaan perempuan adalah nilai tambah yang sangat relevan dengan kebutuhan pasar saat ini," ujar salah satu peserta Musda.Peserta lain menambahkan bahwa wisatawan, terutama yang berasal dari luar negeri, semakin menghargai produk-produk yang memiliki cerita dan dampak sosial yang jelas. Hal ini menjadi peluang bagi industri hospitality Sumbar untuk menonjolkan keunikan produk lokal seperti Kopi Kerinci.Membangun Masa Depan Kopi yang BerkelanjutanDi akhir presentasinya, Suryono menegaskan bahwa visi ALKO bukan hanya tentang menjual kopi, tetapi tentang membangun masa depan yang lebih baik bagi semua pihak yang terlibat dalam rantai produksi. Ia berharap bahwa apa yang dilakukan oleh ALKO dapat menjadi contoh bagi koperasi dan produsen kopi lain di Indonesia."Kami ingin membuktikan bahwa bisnis kopi bisa menjadi kekuatan untuk perubahan positif. Kopi bisa menjadi alat untuk memberdayakan perempuan, menjaga lingkungan, dan memperkuat ekonomi lokal," pungkasnya.Dengan mengangkat isu pemberdayaan perempuan dan lingkungan di forum bergengsi seperti Musda PHRI Sumbar, ALKO berharap dapat membuka jalan bagi Kopi Kerinci untuk bersaing di pasar yang lebih luas, sekaligus membuktikan bahwa produk lokal Sumatera Barat mampu memenuhi standar global yang mengedepankan praktik ramah lingkungan dan keadilan sosial.Melalui ajakan kolaborasi ini, ALKO berharap industri hospitality Sumbar dapat menjadi pionir dalam mengangkat produk kopi lokal yang berwawasan lingkungan, sekaligus memperkuat posisi Kopi Kerinci di pasar nasional dan internasional. (*)

Read More  

Admin Alko | 01/10/2026

BPDAS Agam Kuantan dan ALKO Siapkan Kolaborasi Kopi Berkelanjutan dari Lanskap hingga Pasar Global

BUKITTINGGI, SUMATERA BARAT — Pengembangan kopi berbasis agroforestri membuka peluang kolaborasi antara Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Agam Kuantan dan Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghubungkan rehabilitasi hutan dan lahan dengan penguatan ekonomi petani, keberlanjutan produksi, traceability dan akses pasar internasional.Peluang tersebut mengemuka dalam kegiatan Temu Usaha, Pembelajaran dan Pengembangan Kemitraan Kelompok Tani yang berlangsung di Bukittinggi, 16–18 September 2026.Kegiatan tersebut dihadiri Kepala BPDAS Agam Kuantan Yanthes Donniko, S.Hut., M.Si. serta Apriadi, S.TP., Kepala Seksi Penguatan Kelembagaan DAS.Dalam kegiatan tersebut, Pebriyansah dari ALKO hadir sebagai narasumber dengan materi “Model Agroforestri Kopi Robusta Berbasis Lanskap dan Karbon: Meningkatkan Produktivitas, Kelestarian Hutan dan Pendapatan Kelompok.”Materi tersebut membahas pengembangan kopi dalam sistem agroforestri yang mengintegrasikan produktivitas, fungsi ekologis dan peningkatan pendapatan masyarakat.RHL dan Penguatan Ekonomi PetaniDalam kegiatan tersebut, rehabilitasi hutan dan lahan dibahas tidak hanya dari sisi penanaman, tetapi juga bagaimana kelembagaan kelompok dan pengelolaan lahan dapat terus berkembang sehingga memberikan manfaat ekologis dan ekonomi.Penguatan kelembagaan menjadi bagian penting karena kelompok tani merupakan salah satu aktor utama dalam menjaga keberlanjutan kegiatan di tingkat tapak.Pendekatan agroforestri memberikan ruang untuk mengembangkan tanaman produktif seperti kopi bersama tanaman kehutanan dengan tetap memperhatikan kondisi lanskap dan fungsi DAS.Dalam konteks tersebut, keberhasilan RHL tidak hanya dilihat dari keberhasilan penanaman, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam menjaga, mengelola dan mengembangkan lahan secara berkelanjutan.Belajar Langsung dari Kebun Kopi Lasi MerapiPembelajaran kemudian dilanjutkan melalui kunjungan lapangan ke kebun dan unit pengolahan kopi Lasi Merapi.Lokasi tersebut dikelola Anton Efendi, salah satu prosesor dalam ekosistem ALKO.Peserta melihat secara langsung proses pengelolaan kopi mulai dari kebun, pascapanen hingga pengolahan.Anton Efendi membawakan materi “Perjalanan Lapangan Peningkatan Nilai Tambah Kopi Robusta melalui Pascapanen dan Traceability: Dari Kebun hingga Pasar.”Kunjungan tersebut memberikan gambaran bahwa peningkatan nilai tambah kopi tidak berhenti pada produksi di tingkat kebun. Kualitas pascapanen, pengolahan, pencatatan asal produk dan traceability menjadi bagian dari proses membangun rantai pasok kopi yang lebih transparan.Traceability Jadi Agenda KolaborasiBagi ALKO, pembelajaran bersama kelompok RHL tersebut membuka peluang untuk melanjutkan kolaborasi pada aspek sustainability dan traceability.Implementasi traceability dapat dikembangkan melalui pendataan petani dan kebun, informasi produksi, proses pascapanen, pengolahan serta asal-usul kopi.Sistem tersebut dapat menjadi fondasi untuk membangun rantai pasok yang lebih transparan sekaligus meningkatkan kesiapan produk untuk memasuki pasar yang membutuhkan informasi mengenai asal dan proses produksi.Dalam konteks penguatan kelembagaan, agenda tersebut dapat dikembangkan bersama kelompok tani sehingga data dan kapasitas kelompok menjadi bagian dari kesiapan mereka membangun kemitraan usaha.ALKO Siap Kolaborasi dengan BPDASDari pertemuan tersebut, ALKO melihat adanya ruang untuk membangun agenda kolaborasi lanjutan dengan BPDAS Agam Kuantan.Kolaborasi dapat diarahkan mulai dari pemetaan kelompok dan kebun kopi, pengembangan agroforestri berkelanjutan, penguatan kapasitas petani, penerapan traceability, peningkatan kualitas pascapanen hingga pengembangan kemitraan offtake.Selanjutnya, kopi yang memiliki data dan ketertelusuran dapat dipersiapkan untuk terhubung dengan pasar yang lebih luas, termasuk pembeli internasional.Pebriyansah dari ALKO menyampaikan bahwa pendekatan tersebut penting untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara program rehabilitasi, kelompok petani dan pasar.Peluang kolaborasi ke depan dapat diarahkan untuk membangun ekosistem yang menghubungkan lanskap, petani, kopi berkelanjutan, pengolahan, traceability, offtake dan pasar internasional.Dari Kelompok RHL Menuju Pasar GlobalKolaborasi BPDAS Agam Kuantan dan ALKO diharapkan dapat menghasilkan model pengembangan kopi yang memberikan manfaat ekonomi bagi petani sekaligus mendukung pengelolaan lanskap secara berkelanjutan.Bagi kelompok RHL, pendekatan tersebut membuka peluang untuk mengembangkan usaha produktif. Bagi prosesor, terdapat ruang untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah. Sementara bagi offtaker dan pembeli internasional, sistem traceability dapat menjadi dasar untuk mendapatkan informasi yang lebih transparan mengenai rantai pasok.ALKO siap melanjutkan komunikasi dan penjajakan kolaborasi dengan BPDAS Agam Kuantan, kelompok tani, prosesor, koperasi, mitra teknologi dan pasar untuk mengembangkan kopi berkelanjutan yang memiliki ketertelusuran dan siap memasuki pasar global.Agenda kolaborasi tersebut dapat dirangkum dalam satu rantai nilai:Landscape → Farmer Group → Sustainable Coffee → Processing → Traceability → Offtake → International MarketDengan pendekatan ini, rehabilitasi hutan dan lahan tidak hanya dipandang sebagai kegiatan pemulihan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan ekosistem usaha kopi berkelanjutan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.ALKO siap berkolaborasi untuk menghubungkan lanskap, kelembagaan petani, sustainability, traceability dan pasar internasional melalui kopi Indonesia.

Read More  

Admin Alko | 20/09/2026

KETIKA PETANI KERINCI BERCERITA BUKU BESAR DIGITAL BERNAMA BLOCKCHAIN

Saat 7 Anak Kampung Meng-Blockchain-kan 1 Juta Pohon Kopi ber KTP(Padang,17.09.2026/Sry-ALKO). Belakangan diskusi soal dunia blockchain kembali hangat. Istilah itu sangat familiar dan sedang nge-tren. Tak hanya Gen Z, para Gen X atau Gen Milenial juga tidak ketinggalan untuk up to date. Sampai petani juga ingin ikut bicara soal pemanfaatan teknologi ini, terlebih sebagai pengguna dan penerima manfaat nyata dari ekosistem teknologi blockchain ini.Katakanlah organisasi ini, salah satu penerima manfaat atau pengguna sejak 2019. Koperasi Alam Korintji (ALKO) yang ketika itu ditawari penggunaan blockchain untuk diterapkan dalam pertaniannya. Awalnya hanya sebagai alat bukti transaksi dan ketertelusuran produk, atau digitalisasi dari Indikasi Geografis (IG) yang berbasis pada lahan dan koordinat kebun, tidak hanya bentuk kertas saja. Sehingga prinsip digitalisasi blockchain yang real-time dan transparan dapat diterapkan pada kopi dari kebun hingga cangkir, hanya dalam satu klik scan QR saja. Kita tak perlu menulis setiap cerita kebun satu per satu seperti dalam website biasa atau Web 2 (dua), cukup dikoneksikan dengan blockchain maka semua akan terbaca secara otomatis, karena setiap petani memiliki blok data masing-masing. Sebelumnya setiap petani telah didata, namun sebagian petani tidak memegang datanya sendiri, tetapi data itu ada di buku besar kelompok, instansi, atau NGO yang mendatanya. Sekarang dengan blockchain, data dipegang oleh petani masing-masing dalam blok yang mereka miliki sendiri di dalam server yang terpisah, seperti disimpan di email milik petani sendiri.Kopi Kerinci produksi Koperasi ALKO adalah kopi yang pertama di Asia yang telah menerapkan blockchain dalam transaksinya sejak 2019 hingga saat ini. Aplikasi yang dibangun awalnya bernama aplikasi blockchain ALKO Mobile, lalu 2022 menjadi Kommu Apps (Komunitas Kopi Aplikasi), lalu 2023 hingga sekarang menjadi Aplikasi QThink-X. Dulu aplikasi ini hanya untuk kopi dan digunakan oleh ALKO saja, namun saat ini versi QThink-X 5.0 menjadi aplikasi yang bisa untuk semua komoditas petani dan gratis buat petani di seluruh dunia dengan alamat webnya: http://QThinkX.io (QThinkX.io). Lika-liku dalam membangun secara mandiri aplikasi QThink-X ini sejak 2022 juga berat, dimulai dari mencari developer programmer blockchain mandiri yang awalanya dari lulusan D-III AMIK dengan dinamikanya, proses berat pendataan petani, sosialisasi input petani mandiri, hingga penyiapan lokasi server sebagai ledger atau buku besarnya. Namun saat ini, paripurna aplikasi Qthink-X dengan team yang sudah profesional dalam bidangnya, QThinkX.io telah dapat digunakan oleh seluruh petani komoditas di Indonesia dan global. Koperasi ALKO mendedikasikan penggunaannya secara gratis untuk seluruh petani Indonesia dan global untuk membangun ekosistemnya sendiri.Jadi jika kita sebagai petani saat ini memiliki kelompok tani sendiri, memiliki kebun sendiri, memiliki processing sendiri, memiliki buyer atau kafe sendiri serta memiliki pelanggan sendiri, itu artinya Anda telah memiliki Ekosistem. Dan QThinkX.io ini akan menjadi alat untuk mengintegrasikan ekosistem pertanian Anda dalam satu jaringan blockchain sebagai peningkatan kekuatan Anda.Jika ekosistem Anda terintegrasi, maka Anda dan ekosistem Anda akan memiliki nilai yang lebih, karena tak hanya memiliki petani atau pelanggan di dalam buku saja, tapi bergerak bersama dalam ekosistem nyata dan dunia maya menjadi satu BUKU BESAR DIGITAL. Inilah salah satu penggunaan blockchain untuk pemanfaatan pertanian menuju fair trade dan transparansi. Dengan petani memiliki database di buku besar secara desentralisasi, maka itu menjadi kekuatan besar yang tidak bisa dikontrol atau dimonopoli, namun bergerak secara bersamaan menuju keadilan peran dalam setiap rantai pasok (Suplay Chain) usaha.Sumber foto : dokumentasi ALKOPetani memang banyak tidak paham dengan istilah dalam blockchain, dan bagi mereka petani tak mesti harus tahu hal teknis kerumitan blockchain itu, cukup benefit nya apa bagi mereka. Di sinilah diperlukan satu kelembagaan yang kuat seperti koperasi yang memiliki misi untuk kesejahteraan bersama, yang juga mesti rajin berinovasi berperan sebagai penerjemah bahasa blockchain agar bisa dipakai dan bermanfaat buat kemaslahatan petani. Seperti halnya waktu awal 2019, kami Koperasi ALKO di kaki Gunung Kerinci dikenalkan dengan kata teknologi blockchain yang asing sekali dan masih melihat dari sisi ketidaktahuan, hingga datangnya tim dari Jepang sebagai salah satu pengembang blockchain terbesar di dunia saat itu yang memberikan edukasi free kepada kami hingga beberapa bulan. Hanya karena satu proposal Koperasi ALKO yang ingin berinovasi tentang traceability untuk kopi. Namun proposal itu disambut dengan menghadirkan satu teknologi kekinian bernama traceability blockchain untuk kopi di pelosok desa area kaki gunung Kerinci.Penjelasan yang sangat sederhana dan edukatif dari para ahli teknologi Negeri Sakura saat itu kepada kita para petani yang hanya lulusan sekolah menengah di desa, tentang bagaimana cara kerja blockchain dalam jaringan.Sesi dimulai dalam satu ruangan santai dengan satu laptop dan proyektor menyorot ke dinding;Lalu kami mulai bertanya, apa itu blockchain?Dengan menjadikan Koperasi ALKO sebagai analogi sederhana mereka menjelaskan: "Seperti halnya koperasi Anda yang memiliki catatan kegiatan atau keuangan harian untuk simpanan pokok dan wajib, untuk mencatat uang masuk dan keluar, atau catatan kegiatan arisan untuk 20 orang anggota Anda yang ditulis di sebuah buku besar, sama seperti itulah yang sebenarnya diisi di dalam blockchain menjadi buku besar digital yang real-time."Dalam eksositem blockchain 20 anggota memegang bukunya masing-masing secara real-time yang biasanya hanya dipegang bendahara saja, dengan jaringan blockchain ini semua memegang salinan bukunya. Jadi kalau satu orang mau merubah, mengotak-atik angka, misal bendaharanya, langsung ketahuan karena menjadi tidak sama dengan catatan digital di 19 anggota lainnya. Catatan yang tersebar itu disebut node oleh mereka. Paling tidak data jadi aman, karena kalau mau membobol atau merubah harus membobol 19 catatan (node) lainnya. "Kebayang kan, kalau Koperasi ALKO sekarang anggotanya 42 ribu, harus bobol 42 ribu buku besar..." Mulai kepikiran logisnya oleh kita cara kerja sederhana blockchain. Jadi akan terlihat gerakan satu orang oleh 19 lainnya dalam sistem, apakah ini anomali atau normal. Jika ada anomali semua bisa saling cross-check. Sesederhana itu teknologi ini membantu memvalidasi. Peran Koperasi ALKO sebagai pelaku kopi sekaligus koperasi yang mendampingi banyak petani, teknologi ini menjadi penting untuk mengangkat nilai transparansi hingga tingkat petaninya. Katanya mereka tim Jepang sih blockchain itu sederhana, tapi bagi kami sebenarnya masih bingung.Berlanjut ke pertanyaan lagi, Bagaimana cara kerja blockchain?Mereka kembali menerangkan tapi agak teknis, harus coret-coret di kertas dan layar proyektor. Dan masih tersimpan rapi rekaman itu di arsip Koperasi ALKO. Mereka bilang: jika ada transaksi akan dicatat dalam satu blok atau satu lembar halaman, bentuknya digital sebagai wadah. Satu transaksi diberi kode unik kriptografi sebagai pengikat, satu kode satu transaksi. Seperti kita belanja di supermarket, kita dapat resi dan ada nomor resinya, nomor resi itu yang dikriptografikan atau dijadikan nomor unik yang hanya ada satu selamanya, seperti fingerprint atau seperti NIK KTP yang hanya punya satu untuk setiap orang.Walau belum sepenuhnya paham, lalu pertanyaan kami selanjutnya: apa itu kriptografi dan apa bedanya dengan crypto koin?Penjelasan ini agak panjang, tapi secara pelan mereka menjelaskan lalu kita translate pakai bahasa kampung petani. Jadi cerita dalam tulisan ini adalah versi bagaimana kami menangkap info mereka secara langsung, karena mereka menggunakan bahasa Inggris, kami dengan kemampuan dengar bahasa Inggris yang pas-pasan mencoba dengan keras untuk paham. Yang akhirnya diskusi ini harus berulang hingga 6 hari mereka stay di Kerinci di salah satu Guest House Milik Pelangi dan Homestay Familly yang juga Markas Koperasi ALKO. Oke, lanjutan ke tema, mereka menjelaskan kembali: jadi blockchain itu adalah jaringan atau rumahnya dan setiap rumah ini memiliki produk. Jadi bisa dibilang crypto ini adalah produknya blockchain yang memiliki peran sebagai mata uang. Produk lainnya ada namanya smart contract, produk lainnya ada NFT atau bahasa sederhananya untuk memberikan label unik dalam setiap barang atau aset. Produk seterusnya ada traceability atau penelusuran.Tambah penasaran kita, tanya lagi, Coba jelaskan secara singkat 4 produk ini dan seperti apa real-nya?Sepertinya mereka tambah serius, kami juga, dan sambil menyeruput kopi Kerinci yang sudah mulai terkenal enaknya sejak 2017, kami kembali fokus mendengar. Dia melanjutkan: kalau Anda membeli pulsa Handphone rp.50 ribu, Anda dapat apa? Dia bertanya. Ya, kita jawab dapat data. Dia jelaskan kamu dapat data dengan satuan byte, itu mata uang pulsa namanya. Dan di blockchain itu crypto dengan satuan hash. Anda beli pulsa dapat byte dan Anda beli crypto dapatnya hash. Kalau pulsa habis Anda top up, begitu juga kalau koin crypto Anda habis juga top up, untuk penggunaan traceability ini begitu hitungan sederhananya. Mata uang dalam blockchain saat itu dijelaskan ada Bitcoin, Ethereum, dan Cardano, ya salah satu punya mereka.Kita mulai makin mengerti sedikit, tanya lagi kita, Oke, coba jelaskan 3 produk lainnya seperti apa?Fungsi crypto sebagai mata uang jaringan blockchain. Kalau smart contract ini isinya kesepakatan yang ditulis jadi kode dalam pemrograman, sehingga jika satu orang ingin ikut dalam kontrak kerja itu, maka jaringan akan memvalidasi dan saling terkoneksi juga saling mengamankan. Contohnya aplikasi transportasi, sebut saja Goj*k, smart contract telah tersedia dalam aplikasi sehingga jalurnya terikuti dan para pihak wajib ikut aturan itu karena berdasarkan kebutuhannya. Contoh: saya butuh perjalanan ke bandara dari titik A dengan biaya rp.100 ribu, saya setuju cari mobil, lalu sistem akan mencari kebutuhan itu dalam jaringannya, lalu didapat satu kendaraan yang ambil kontrak itu, maka terjadi transaksi jasa transportasi dari titik A ke bandara yang sebelumnya tanpa kenal namun terpercaya karena adanya smart contract itu. Yang menjalankan smart contract ini adalah blockchain. Dan prinsipnya transparan: harga, jarak, dan rating driver-nya. Di sini kami sedikit paham dan terbayang jika ini diterapkan di supply chain kopi kita, maka ini bisa menjadi akses perdagangan hulu dan hilir. Dan melalui aplikasi QThinkX.io yang koperasi buat, telah memiliki menu ini sehingga petani terkoneksi dengan end user. Oke, dia melanjutkan: Jika terjadi wanprestasi, penumpang turun di jalan, maka supir akan tetap berjalan sampai ke titik kontrak yaitu bandara, karena jika tidak maka buku besar akan mencatat ada cacat kontrak dan bisa dilihat oleh 20 orang atau 42 ribu anggota koperasi. Jadi sistem ini akan menuntut komitmen.  Sampai disini kebayang oleh kami bisa jadi jawaban buat problem di pertanian yaitu inkonsistensi produksi dan inkonsistensi kualitas, skema blockchain seolah memberi jawaban dipoin mana yang perlu diperbaiki atas dua problem petanian tadi jadi bisa segera diverifikasi dan dicari prioriti solusinya. Oke, good news.Kita lanjut lagi, Oke, bagaimana kalau yang NFT dan Traceability?Ternyata kita harus bergeser ke dalam dari area luar karena hujan, Kerinci kan banyak musim hujan, dan kami 7 (tujuh) orang anak kampung yang penasaran soal blockchain terus bertanya dan tambah penasaran. Selain Suryono ada Nopa, Kelik, Pebri, Hendra, Enang, Kiting dan Pak Non ( Musnardi Moenir) yang juga ikut garuk-garuk kepala, Tim Jepang melanjutkan: NFT itu semacam pengkodean unik terhadap satu produk sehingga itu bisa jadi aset atau jadi milik yang tidak bisa digandakan orang lain. Misal KTP itu kan kode unik yang hanya milik satu orang, itu di-blockchain-kan maka akan terbaca itu punya seorang walau memakai interface apapun. Nah kami ada pertanyaan sela karena ada istilah baru, apa itu interface?. Interface itu hanya tampilan aplikasi untuk membukanya, itu bisa apa saja, bisa berbasis website biasa atau aplikasi yang di-download di Play Store katanya. Seperti BNI Mobile Banking (sekarang wondr by BNI), lalu BRImo atau lainnya itu interface namanya. Dengan blockchain walau memasukkan data lewat semua interface yang berbeda maka bisa terkoneksi dan dilihat kode hash-nya tadi dan akan terkoneksi dengan mudah. Ke depan akan tumbuh seperti itu (Waktu itu masih Web 2, sekarang blockchain Web 3 dan kedepan akan ada Web 4 yang lebih ke sinkronisasi blockchain. Jadi prediksi Web 4 sudah mereka sebut ditahun 2019 itu). Terkoneksi dengan mudah antar data dan saling melengkapi. Misalnya kalau data kita di aplikasi A tidak ada data TGL PRODUKSI dan di Aplikasi B ada data TGL PRODUKSI, maka data itu akan saling melengkapi end-to-end encryption, seperti WA kita. Jadi kode unik akan mengunci itu mejadi data utuh dan real-time. Ini jadi makin terbayang oleh kita untuk di kopi sebagai origin asal-usul agar tidak pindah alamat kopinya, dengan memberikan kode unik setiap produksinya bahkan setiap pohon kopi bisa dikasih kode unik lalu akan tercatat detail. Saat ini baru hampir 1 jutaan pohon kopi yang telah diberi kode unik dalam ekosistem Koperasi ALKO. Tentu ke depannya harapannya bisa jadi aset kolateral petani dan harusnya petani tambah bangga dan sejahtera karena ia mendaftarkan kopinya per pohon menjadi aset produktif. Kayaknya tak hanya kopi, seperti halnya tulisan atau buku atau produk karya homemade lainya bisa di-blockchain-kan agar nanti tidak diklaim sama orang lain. Teman-teman jadi liar mikirnya sampai semua mau di-blockchain-kan. Oke, ayo balik fokus ke kopi Koperasi ALKO dan aplikasi traceability QThinkX.io karya anak kampung untuk negeri ini.Lanjut ke pertanyaan sela, gimana keamanannya?Katanya dalam blockchain ada sistem keamanannya yang cukup ketat dan valid. Jadi dengan adanya node buku blok tadi, lalu diikat oleh hash kriptografinya, lalu data yang kemudian tersebar atau desentralisasi ke user atau jaringan, serta dibutuhkannya kesepakatan bersama atau konsensus saat menjalankan kontrak. Empat prinsip inilah yang menjadi kunci keamanan sistem ini. Ya, kita agak bingung dengan penjelasan itu, tapi lain kali dibahas karena sudah teknis sekali. Sesi ini cocok dibedah di kelas-kelas atau kampus.Yang kami catat keamanannya, secara real case-nya misal untuk melacak suatu produk asli memang dari pabrik atau tidak, melihat suatu produk itu halal diprosesnya atau tidak, untuk mengamankan data KTP kita supaya tidak dipalsukan, bahkan untuk bisnis yang pencatatan kontraknya dengan digital. Juga untuk melacak logistik, atau mengawasi aman tidaknya barang kopi kita dalam perjalanannya yang kiriman mulai dari sumber barang sampai ke tujuan dan tidak berubah tujuan.Banyak lagi hal teknis yang tidak semua masuk di ingatan kami, seperti bagaimana jika internet mati, bagaimana kaitannya dengan listrik, yang mereka telah jelaskan tapi kayaknya otak kita petani tidak sampai menangkapnya. Poinnya bagi petani adalah benefit-nya dan dampak jangka panjang untuk keberlanjutan pertaniannya, that is the point.Lanjut ke pertanyaan lagi, bagaimana dengan traceability, gimana penerapannya, apakah sudah ada contoh secara real?Kami petani itu khas, tanyanya yang sudah direalisasikan seperti apa, agar mudah mencontoh dan menerapkannya. Kalau dijelaskan dengan bahasa akademis bertele-tele yang ada kami tidur pulas seperti mendengar radio dan musik Sheila On 7. Sudah sore, hampir seharian penuh diskusi mereka ke kita ini seperti sudah 3 SKS. Mereka melanjutkan: Produk blockchain seperti traceability itu sudah dipakai juga seperti di Facebook, IG, dan YouTube. Misal Anda meng-upload satu lagu di medsos, katakan lagunya Iwan Fals, setelah beberapa jam lagu Anda hilang suaranya. Itu terjadi karena Anda kena copyright dari penciptanya, kalian tidak dapat izin maka di-banned status Anda. Pertanyaannya, siapa yang melakukan validasi itu? Yang melakukan adalah teknologi ketelusuran blockchain. Oh, jadi paham kita. Andai kopi kita di-traceability-kan maka asal-usul dan branding akan tetap terjaga.Banyak cerita yang tidak semua kita tulis di sini secara detail karena ada suasana emosional yang sulit menemukan padanan kata, bagaimana semangat kami ingin membuat ini mendapatkan satu titik terang untuk mewujudkannya, karena ini bicara inovasi teknologi di dunia pertanian. Ide yang datang dari pelosok desa ujung gunung di kaki Kerinci sana yang sulit dipercaya, bahkan oleh salah satu universitas ternama di Indonesia. Dan tanpa sengaja proposal dibaca oleh orang Negeri Sakura dengan nada yakin dia membalas email: "Dear Mr. Suryono Alko and team, we have read your proposal, and we see that it has great potential to discuss traceability for agricultural products in Indonesia, which has the obstacle that it is difficult to trace because the landscape is mountainous and access is still far. Our offer to you is a Blockchain-based technology to record the struggles of farmers in protecting forests while remaining productive and to avoid accusations of forest development. It's a technology that's still relatively new, but we're ready to visit you to introduce it. We hope this can be a solution for you to showcase transportation, all the supply chain actors in your ecosystem...." Setelah baca balasan email ini kita semua terdiam dan butuh banyak tisu juga menyeruput kopi.Koperasi ALKO dibangun oleh 7 (tujuh) anak muda Kerinci yang memiliki visi sama, teman satu sekolah SMP dan teman bermain kecil. Kerinci sebagai satu daerah penghasil komoditas kelas dunia, namun tak banyak yang muncul sebagai local champion apalagi memiliki akses langsung ke global, sehingga perlu terobosan. Latar belakang dari 7 (tujuh) orang yang berbeda: ada yang pedagang lokal, petani, ada yang TKI Negeri Sakura dan Negeri Jiran, dan ada yang guru. Saat berkumpul ternyata memiliki kesamaan visi, lalu berbagi pengalaman selama merantau. Hasil dari rantauan di luar negeri menjadi titik balik ide-ide itu tergabung dan menjadi satu dalam semangat filosofi koperasi yaitu ingin menjadi tuan di negeri sendiri.Aplikasi QThink-X traceability ini adalah hasil dari menjawab kesamaan visi tadi. Di bawah Koperasi ALKO, aplikasi QThink-X ( QThinkX.io / QThinkX.io) menjadi aplikasi traceability untuk hasil komoditas, sehingga kopi yang di produksi tak hanya bisa dilacak lokasi asal namun bisa tahu posisi kebun dan dapat memastikan tidak dalam kawasan yang terlarang seperti lokasi hutan lindung atau taman nasional yang mesti di jaga bersama, dan hal ini bisa dilihat secara real-time oleh pembeli di seluruh benua bahwa kopi ramah lingkungan ada didepannya.  Semua jenis komoditas petani bisa dibuat berbasis blockchain untuk transparansi supply chain dan value chain. Setiap petani di dunia sebagai pengguna digratiskan dalam memakainya, cukup daftar, divalidasi sistem, dan pakai dengan benefit akses pasar, akses harga komoditas real-time, akses terkoneksi, setiap petani dapat menampilkan story telling dibalik kopinya dari setiap kebun yang terbukti jauh dari deforestasi dan memungkinkan akses pembiayaan serta mendapatkan apresiasi dari para penikmatnya. Aplikasi ini berbayar hanya untuk produsen atau eksportir atau pelaku hilir karena akan menjadi bagian added value produk mereka dan untuk memenuhi kepatuhan aturan negara tujuan ekspor.Saatnya Petani Mesti Ber-Ekosistem.Bangga Jadi Petani.Ngopi ☕ pagiSuryono-Alko.

Read More  

Admin Alko | 17/09/2026

Kopi Agroforestri Kerinci Buka Peluang Bisnis, Lima Narasumber Soroti Produktivitas hingga Pasar Global

KERINCI, JAMBI — (11-13)Peluang bisnis kopi Kerinci semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan pasar global terhadap kopi yang berkualitas, terlacak, dan berkelanjutan. Tantangannya kini bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi mengubah cara budidaya dan membangun rantai bisnis yang mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani tanpa mengorbankan hutan.Hal itu mengemuka dalam diskusi mengenai masa depan kopi agroforestri yang dimoderatori Pebriyansah dan menghadirkan lima narasumber, yakni .Surip Mawardi, Agung Wibowo, Bang Day dari KKI WARSI, Ariansyah, dan Suryono selaku CEO ALKO.Diskusi tersebut mempertemukan perspektif penelitian dan budidaya kopi, agroforestri, perhutanan sosial, kebijakan pemerintah, serta dunia usaha. Benang merahnya sama: masa depan kopi Kerinci membutuhkan perubahan dari kebun hingga pasar.Produktivitas Harus Dimulai dari DataPeneliti kopi Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi, S.U. menekankan bahwa pengembangan kopi tidak boleh dilakukan berdasarkan asumsi.“Belum tentu masalahnya keragaan, belum tentu tanam, belum tentu market. Yang bisa menjawab adalah data,” ujar Surip.Menurut dia, data diperlukan untuk mengetahui persoalan sebenarnya di tingkat kebun, termasuk produktivitas, kondisi tanaman, varietas, dan peluang pasar.Ia juga mendorong petani melihat kopi sebagai investasi jangka panjang. Kebun yang dikelola dengan baik bukan hanya menghasilkan panen, tetapi dapat menjadi aset ekonomi keluarga.Agroforestri Jadi Jalan TengahPak Agung menyoroti pentingnya agroforestri sebagai pendekatan yang menggabungkan kepentingan ekonomi dan lingkungan.Pengembangan kopi, menurutnya, tidak seharusnya hanya mengejar jumlah tanaman, tetapi juga mempertahankan tanaman kehutanan dan komoditas lain yang memiliki nilai ekonomi.“Agroforestri harus mampu menjaga hutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi,” menjadi garis besar pandangannya.Diversifikasi tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap satu komoditas sekaligus membangun sumber pendapatan yang lebih beragam.Perhutanan Sosial Harus Menghasilkan Nilai EkonomiDari perspektif masyarakat dan kawasan hutan, Bang Day dari KKI WARSI menekankan pentingnya perencanaan secara partisipatif.Setelah masyarakat memperoleh akses melalui perhutanan sosial, tantangan berikutnya adalah bagaimana kawasan tersebut dikelola dan menghasilkan manfaat nyata.Potensi ekonomi perlu diidentifikasi, baik di dalam maupun di sekitar kawasan.“Ketika kebutuhan ekonomi tidak terpenuhi, hutan juga terancam,” menjadi salah satu pesan penting dalam diskusi.Karena itu, kopi dapat dikembangkan bersama tanaman kayu, buah-buahan dan komoditas lainnya sehingga masyarakat tidak bergantung pada satu sumber pendapatan.Pemerintah Perlu Memperkuat EkosistemDari sisi pemerintah, Ariansyah menekankan pentingnya kebijakan yang melindungi sekaligus memberdayakan petani.Menurutnya, setiap wilayah memiliki karakter petani dan komoditas yang berbeda. Di wilayah barat Jambi, kopi telah menjadi bagian dari tradisi dan identitas masyarakat.Pengembangannya perlu didukung melalui praktik pertanian berkelanjutan, termasuk Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).Dukungan pemerintah, menurut Ariansyah, tidak cukup berupa bantuan produksi. Petani juga perlu diperkuat dari sisi kemampuan, kelembagaan, pembiayaan dan akses pasar.Pemberdayaan Perempuan Jadi Kekuatan BisnisSementara itu, CEO ALKO Suryono membawa diskusi pada hubungan antara bisnis, keberlanjutan dan pasar global.“ALKO dalam berbisnis ingin melindungi alam dan memberdayakan masyarakat,” kata Suryono.Ia menilai perempuan memiliki peran besar dalam rantai kopi, mulai dari penanaman hingga sortasi. Namun, keterlibatan tersebut harus ditingkatkan dari sekadar tenaga kerja menjadi bagian dari manajemen.“Perempuan jangan hanya jadi buruh, tapi harus ikut dalam manajemen,” ujarnya.Menurut Suryono, pemberdayaan perempuan, masyarakat, perlindungan lingkungan dan traceability dapat menjadi kekuatan bisnis ketika kopi masuk ke pasar internasional.Dari Kebun Kerinci ke Pasar GlobalDiskusi yang dimoderatori Pebriyansah menemukan satu kesimpulan utama: masa depan kopi Kerinci tidak cukup dibangun hanya dengan meningkatkan produksi.Kopi harus memiliki produktivitas, kualitas, sistem agroforestri, kelembagaan petani, traceability, serta akses pasar yang kuat.Peluang pasar tersebut mulai terlihat dari perkembangan ekspor kopi Kerinci. Pada Festival Pesta Rakyat Petani Kopi Kerinci 2026, sebanyak 7 ton kopi dilepas ke Kanada dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar dan 7 ton lainnya ke Malaysia dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar. PT ALKO juga menandatangani MoU dengan Royal Coffee dari Amerika Serikat untuk rencana ekspor dua kontainer pada Oktober dan November 2026.Tantangan Berikutnya adalah PerubahanPebriyansah menilai tantangan terbesar ke depan bukan sekadar bagaimana menanam kopi lebih banyak, tetapi bagaimana mengubah cara pandang terhadap kopi.“Kita tidak bisa lagi melihat kopi hanya sebagai tanaman. Kopi adalah bagian dari ekosistem yang menghubungkan petani, hutan, teknologi, perempuan, perusahaan dan pasar,” ujar Pebriyansah.Karena itu, perubahan harus dilakukan bersama. Petani meningkatkan produktivitas, pendamping memperkuat kapasitas masyarakat, pemerintah membangun kebijakan dan ekosistem, perusahaan membuka pasar, sementara teknologi memastikan proses produksi dapat ditelusuri dan memberikan nilai tambah.Pada akhirnya, keberhasilan kopi agroforestri Kerinci bukan hanya diukur dari jumlah kopi yang dihasilkan, tetapi dari seberapa besar nilai ekonomi kembali kepada petani, seberapa kuat masyarakat diberdayakan, dan seberapa baik hutan tetap terjaga.Kopi Kerinci pun berpeluang berkembang bukan sekadar sebagai komoditas, tetapi menjadi model bisnis agroforestri yang mempertemukan ekonomi, lingkungan, teknologi dan kesejahteraan masyarakat untuk menghadapi pasar global.

Read More  

Admin Alko | 14/09/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started WhatsApp

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.