PADANG, โ Aspek pemberdayaan perempuan dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi pembahasan utama dalam sesi bertema "Mengulik Bisnis Kopi" pada Musyawarah Daerah (Musda) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Barat. Dalam forum tersebut, Koperasi ALKO hadir sebagai narasumber untuk memaparkan bagaimana kedua isu tersebut menjadi kunci nilai tambah sebuah produk kopi di era industri hospitality yang semakin sadar akan keberlanjutan.
Suryono, perwakilan dari Koperasi ALKO, menjelaskan bahwa nilai tambah sebuah produk kopi saat ini tidak lagi bisa diukur hanya dari cita rasanya semata. Ada faktor krusial lain yang menentukan daya saing di pasar, terutama di sektor perhotelan, yakni keterlacakan (traceability) serta komitmen terhadap pemberdayaan perempuan (women empowerment) dalam rantai produksinya.
"Kami ingin mengangkat narasi bahwa kopi yang baik adalah kopi yang peduli pada keberlangsungan lingkungan dan pemberdayaan perempuan di rantai produksinya," ujar Suryono dalam presentasinya, Rabu (30/9/2026).
Menurut Suryono, konsumen modern, termasuk tamu hotel, kini semakin sadar dan menghargai produk yang memiliki dampak sosial dan lingkungan yang positif. Hal ini menjadikan isu keberlanjutan sebagai nilai jual yang relevan dengan tren industri hospitality saat ini. Ia mencontohkan bagaimana hotel-hotel berbintang di kota-kota besar mulai menuntut produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki jejak produksi yang jelas dan ramah lingkungan.
Traceability sebagai Fondasi Kepercayaan
Dalam pemaparannya, Suryono menekankan bahwa traceability atau keterlacakan produk menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan konsumen. Ia menjelaskan bahwa setiap biji kopi yang dihasilkan oleh ALKO dapat dilacak asal-usulnya, mulai dari kebun tempat biji kopi ditanam, siapa petani yang mengelolanya, hingga proses pascapanen yang dilalui.
"Traceability bukan sekadar formalitas. Ini adalah bentuk tanggung jawab kami kepada konsumen. Ketika sebuah hotel menyajikan kopi kami, mereka bisa dengan bangga menceritakan kepada tamunya bahwa kopi ini berasal dari petani tertentu di Kerinci, diolah dengan metode tertentu, dan memberikan dampak positif bagi komunitas lokal," jelas Suryono.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sistem keterlacakan ini juga memungkinkan ALKO untuk memastikan bahwa praktik pertanian yang digunakan oleh para mitra petaninya tetap ramah lingkungan. Misalnya, penggunaan pupuk organik, pengelolaan air yang efisien, serta penghindaran deforestasi dalam proses perluasan lahan kopi.
"Kami tidak hanya menjual kopi. Kami menjual cerita dan nilai. Dan nilai itu harus bisa dibuktikan, bukan hanya diklaim," tegasnya.
Pemberdayaan Perempuan di Rantai Produksi Kopi
Salah satu poin yang paling disorot dalam presentasi ALKO adalah komitmen terhadap pemberdayaan perempuan. Suryono memaparkan bahwa perempuan memainkan peran yang sangat penting dalam rantai produksi kopi, mulai dari penanaman, pemetikan, sortasi biji, hingga proses pengolahan pascapanen. Namun, sering kali kontribusi mereka tidak terlihat dan tidak dihargai secara ekonomi.
"Di banyak komunitas petani kopi, perempuan adalah tulang punggung produksi. Mereka yang memetik dengan teliti, mereka yang menyortir biji terbaik, dan mereka yang memastikan kualitas tetap terjaga. Tapi sayangnya, suara dan kesejahteraan mereka sering terabaikan," ujar Suryono.
Melalui program pemberdayaan yang dijalankan ALKO, perempuan-perempuan di komunitas petani kopi Kerinci diberikan pelatihan, akses terhadap sumber daya, serta posisi yang lebih setara dalam pengambilan keputusan. ALKO juga memastikan bahwa upah yang diterima oleh pekerja perempuan setara dengan pekerja laki-laki untuk pekerjaan yang sama.
"Kami percaya bahwa kopi yang baik lahir dari sistem yang adil. Jika perempuan sejahtera, maka kualitas kopi yang dihasilkan juga akan semakin baik," tambahnya.
Suryono juga menyoroti bahwa isu pemberdayaan perempuan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya tujuan kelima tentang kesetaraan gender dan tujuan kedelapan tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Ajakan Kolaborasi dengan Industri Hospitality
Dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif, Suryono mengajak para pelaku industri hospitality di Sumatera Barat untuk berkolaborasi. Ia berharap Kopi Kerinci dapat masuk dan disajikan di berbagai hotel serta restoran di Sumbar sebagai produk unggulan yang tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan.
"Kopi Kerinci memiliki keunggulan kompetitif. Bukan hanya dari segi rasa, tetapi juga karena produk ini peduli terhadap isu keberlanjutan dan lingkungan," ujar Suryono.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara produsen kopi dan industri perhotelan dapat menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan. Hotel-hotel dapat menawarkan pengalaman kopi yang autentik dan bermakna kepada tamunya, sementara petani kopi lokal mendapatkan akses pasar yang lebih stabil dan harga yang lebih adil.
"Kami ingin hotel-hotel di Sumbar menjadi duta kopi Kerinci. Setiap cangkir yang disajikan adalah cerita tentang petani lokal, tentang perempuan yang berdaya, dan tentang lingkungan yang terjaga," ungkapnya.
Suryono juga menyampaikan bahwa ALKO terbuka untuk menjalin kemitraan jangka panjang dengan PHRI Sumbar, termasuk dalam hal pelatihan barista, penyediaan biji kopi berkualitas, serta program edukasi tentang kopi berkelanjutan bagi para staf hotel dan restoran.
Respons Positif dari Peserta Musda
Ajakan kolaborasi yang disampaikan oleh ALKO mendapat respons positif dari para peserta Musda PHRI Sumbar. Beberapa perwakilan hotel dan restoran yang hadir menyatakan ketertarikan mereka untuk menjajaki kerja sama dengan ALKO, terutama untuk menyediakan kopi lokal berkualitas tinggi bagi tamu mereka.
"Kami sangat mengapresiasi inisiatif ALKO. Isu keberlanjutan dan pemberdayaan perempuan adalah nilai tambah yang sangat relevan dengan kebutuhan pasar saat ini," ujar salah satu peserta Musda.
Peserta lain menambahkan bahwa wisatawan, terutama yang berasal dari luar negeri, semakin menghargai produk-produk yang memiliki cerita dan dampak sosial yang jelas. Hal ini menjadi peluang bagi industri hospitality Sumbar untuk menonjolkan keunikan produk lokal seperti Kopi Kerinci.
Membangun Masa Depan Kopi yang Berkelanjutan
Di akhir presentasinya, Suryono menegaskan bahwa visi ALKO bukan hanya tentang menjual kopi, tetapi tentang membangun masa depan yang lebih baik bagi semua pihak yang terlibat dalam rantai produksi. Ia berharap bahwa apa yang dilakukan oleh ALKO dapat menjadi contoh bagi koperasi dan produsen kopi lain di Indonesia.
"Kami ingin membuktikan bahwa bisnis kopi bisa menjadi kekuatan untuk perubahan positif. Kopi bisa menjadi alat untuk memberdayakan perempuan, menjaga lingkungan, dan memperkuat ekonomi lokal," pungkasnya.
Dengan mengangkat isu pemberdayaan perempuan dan lingkungan di forum bergengsi seperti Musda PHRI Sumbar, ALKO berharap dapat membuka jalan bagi Kopi Kerinci untuk bersaing di pasar yang lebih luas, sekaligus membuktikan bahwa produk lokal Sumatera Barat mampu memenuhi standar global yang mengedepankan praktik ramah lingkungan dan keadilan sosial.
Melalui ajakan kolaborasi ini, ALKO berharap industri hospitality Sumbar dapat menjadi pionir dalam mengangkat produk kopi lokal yang berwawasan lingkungan, sekaligus memperkuat posisi Kopi Kerinci di pasar nasional dan internasional. (*)