BUKITTINGGI, SUMATERA BARAT — Pengembangan kopi berbasis agroforestri membuka peluang kolaborasi antara Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Agam Kuantan dan Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghubungkan rehabilitasi hutan dan lahan dengan penguatan ekonomi petani, keberlanjutan produksi, traceability dan akses pasar internasional.
Peluang tersebut mengemuka dalam kegiatan Temu Usaha, Pembelajaran dan Pengembangan Kemitraan Kelompok Tani yang berlangsung di Bukittinggi, 16–18 September 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala BPDAS Agam Kuantan Yanthes Donniko, S.Hut., M.Si. serta Apriadi, S.TP., Kepala Seksi Penguatan Kelembagaan DAS.
Dalam kegiatan tersebut, Pebriyansah dari ALKO hadir sebagai narasumber dengan materi “Model Agroforestri Kopi Robusta Berbasis Lanskap dan Karbon: Meningkatkan Produktivitas, Kelestarian Hutan dan Pendapatan Kelompok.”
Materi tersebut membahas pengembangan kopi dalam sistem agroforestri yang mengintegrasikan produktivitas, fungsi ekologis dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, rehabilitasi hutan dan lahan dibahas tidak hanya dari sisi penanaman, tetapi juga bagaimana kelembagaan kelompok dan pengelolaan lahan dapat terus berkembang sehingga memberikan manfaat ekologis dan ekonomi.
Penguatan kelembagaan menjadi bagian penting karena kelompok tani merupakan salah satu aktor utama dalam menjaga keberlanjutan kegiatan di tingkat tapak.
Pendekatan agroforestri memberikan ruang untuk mengembangkan tanaman produktif seperti kopi bersama tanaman kehutanan dengan tetap memperhatikan kondisi lanskap dan fungsi DAS.
Dalam konteks tersebut, keberhasilan RHL tidak hanya dilihat dari keberhasilan penanaman, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam menjaga, mengelola dan mengembangkan lahan secara berkelanjutan.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan melalui kunjungan lapangan ke kebun dan unit pengolahan kopi Lasi Merapi.
Lokasi tersebut dikelola Anton Efendi, salah satu prosesor dalam ekosistem ALKO.
Peserta melihat secara langsung proses pengelolaan kopi mulai dari kebun, pascapanen hingga pengolahan.
Anton Efendi membawakan materi “Perjalanan Lapangan Peningkatan Nilai Tambah Kopi Robusta melalui Pascapanen dan Traceability: Dari Kebun hingga Pasar.”
Kunjungan tersebut memberikan gambaran bahwa peningkatan nilai tambah kopi tidak berhenti pada produksi di tingkat kebun. Kualitas pascapanen, pengolahan, pencatatan asal produk dan traceability menjadi bagian dari proses membangun rantai pasok kopi yang lebih transparan.
Bagi ALKO, pembelajaran bersama kelompok RHL tersebut membuka peluang untuk melanjutkan kolaborasi pada aspek sustainability dan traceability.
Implementasi traceability dapat dikembangkan melalui pendataan petani dan kebun, informasi produksi, proses pascapanen, pengolahan serta asal-usul kopi.
Sistem tersebut dapat menjadi fondasi untuk membangun rantai pasok yang lebih transparan sekaligus meningkatkan kesiapan produk untuk memasuki pasar yang membutuhkan informasi mengenai asal dan proses produksi.
Dalam konteks penguatan kelembagaan, agenda tersebut dapat dikembangkan bersama kelompok tani sehingga data dan kapasitas kelompok menjadi bagian dari kesiapan mereka membangun kemitraan usaha.
Dari pertemuan tersebut, ALKO melihat adanya ruang untuk membangun agenda kolaborasi lanjutan dengan BPDAS Agam Kuantan.
Kolaborasi dapat diarahkan mulai dari pemetaan kelompok dan kebun kopi, pengembangan agroforestri berkelanjutan, penguatan kapasitas petani, penerapan traceability, peningkatan kualitas pascapanen hingga pengembangan kemitraan offtake.
Selanjutnya, kopi yang memiliki data dan ketertelusuran dapat dipersiapkan untuk terhubung dengan pasar yang lebih luas, termasuk pembeli internasional.
Pebriyansah dari ALKO menyampaikan bahwa pendekatan tersebut penting untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara program rehabilitasi, kelompok petani dan pasar.
Peluang kolaborasi ke depan dapat diarahkan untuk membangun ekosistem yang menghubungkan lanskap, petani, kopi berkelanjutan, pengolahan, traceability, offtake dan pasar internasional.
Kolaborasi BPDAS Agam Kuantan dan ALKO diharapkan dapat menghasilkan model pengembangan kopi yang memberikan manfaat ekonomi bagi petani sekaligus mendukung pengelolaan lanskap secara berkelanjutan.
Bagi kelompok RHL, pendekatan tersebut membuka peluang untuk mengembangkan usaha produktif. Bagi prosesor, terdapat ruang untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah. Sementara bagi offtaker dan pembeli internasional, sistem traceability dapat menjadi dasar untuk mendapatkan informasi yang lebih transparan mengenai rantai pasok.
ALKO siap melanjutkan komunikasi dan penjajakan kolaborasi dengan BPDAS Agam Kuantan, kelompok tani, prosesor, koperasi, mitra teknologi dan pasar untuk mengembangkan kopi berkelanjutan yang memiliki ketertelusuran dan siap memasuki pasar global.
Agenda kolaborasi tersebut dapat dirangkum dalam satu rantai nilai:
Landscape → Farmer Group → Sustainable Coffee → Processing → Traceability → Offtake → International Market
Dengan pendekatan ini, rehabilitasi hutan dan lahan tidak hanya dipandang sebagai kegiatan pemulihan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan ekosistem usaha kopi berkelanjutan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
ALKO siap berkolaborasi untuk menghubungkan lanskap, kelembagaan petani, sustainability, traceability dan pasar internasional melalui kopi Indonesia.