KAYU ARO, 17/8— Persoalan sampah di kawasan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi, mendorong lahirnya gerakan kolaboratif yang tidak hanya berfokus pada kegiatan bersih-bersih, tetapi juga menghubungkan kepedulian lingkungan dengan kopi lokal, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan konservasi.
Melalui program One KG One Pack, masyarakat diajak mengumpulkan 1 kilogram sampah anorganik untuk ditukarkan dengan 1 bungkus kopi Kerinci.
Program ini menjadi bagian dari gerakan bersama yang melibatkan ALKO, Uminomuko Coffee, Resona Bank, komunitas, masyarakat, sekolah, serta pengelola kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Bagi ALKO, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kolaborasi. Sampah tidak hanya dipandang sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk membangun kesadaran masyarakat dan menggerakkan nilai ekonomi lokal.
Perwakilan Uminomuko Coffee, Mizuhu Sigemuro, menyampaikan apresiasi terhadap ALKO dan masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut.
Menurut Mizuhu, kolaborasi ini telah dibangun sejak 2024 dan masih akan dilanjutkan dalam beberapa tahun ke depan.
“Kami dari Uminomuko Coffee dan Resona Bank sangat mengapresiasi karena kegiatan ini dapat terlaksana melalui kolaborasi dengan masyarakat,” ujar Mizuhu.
Ia menegaskan bahwa program tersebut bukan sekadar proyek pembersihan lingkungan.
“Ini bukan akhir. Kami ingin terus mendukung ALKO dan komunitas di Kayu Aro, bukan hanya dalam kegiatan bersih-bersih, tetapi juga pendidikan dan pengembangan masyarakat,” katanya.
Menurut Mizuhu, keberlanjutan program justru menjadi bagian penting dari kerja sama tersebut.
Karena itu, pihaknya berencana memperluas kegiatan edukasi lingkungan dengan melibatkan lebih banyak anak sekolah dasar di kawasan Kayu Aro.
“Tahun depan kami ingin memperluas program ini dengan melibatkan lebih banyak anak-anak sekolah dasar di Kayu Aro,” ujarnya.
Selain pendidikan, Uminomuko Coffee juga tengah menjajaki kolaborasi dengan seniman Jepang untuk membuat proyek seni bersama masyarakat.
Mizuhu melihat peluang kerja sama yang lebih luas. Menurut dia, gerakan bersama di Kayu Aro dapat dikembangkan tidak hanya untuk menangani sampah, tetapi juga menyentuh isu kehutanan dan konservasi.
Ia menyebut dukungan terhadap program konservasi harimau sebagai salah satu kemungkinan pengembangan kolaborasi.
“Kami berharap semakin banyak komunitas yang terlibat, bukan hanya untuk persoalan sampah, tetapi juga program kehutanan, konservasi, dan dukungan terhadap konservasi harimau,” kata Mizuhu.
Gagasan tersebut sejalan dengan peran Balai Besar TNKS dalam menjaga kawasan Gunung Kerinci.
Perwakilan Resort TNKS, Eko, mengatakan persoalan sampah di kawasan gunung membutuhkan perhatian dari hulu hingga hilir.
Menurut dia, membersihkan sampah dari jalur pendakian merupakan satu tahap. Tantangan berikutnya adalah memastikan sampah yang telah diturunkan dapat dipilah dan dikelola dengan baik.
Dalam aksi bersih Gunung Kerinci sebelumnya, sekitar 409 kilogram sampah berhasil diturunkan dari jalur pendakian.
Sampah tersebut kemudian dipilah. Material yang masih mempunyai nilai ekonomi, seperti botol, disalurkan kepada pemulung atau pihak yang dapat memanfaatkannya kembali.
Sebagian sampah lainnya juga telah dimanfaatkan melalui proses pengolahan hingga menghasilkan kompos.
Eko menilai pola tersebut perlu terus dikembangkan melalui kolaborasi.

Program One KG One Pack menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam kampanye lingkungan.
Sampah yang dikumpulkan masyarakat diberi nilai melalui produk kopi Kerinci. Dengan demikian, gerakan kebersihan sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kopi yang dihasilkan petani lokal.
Kopi dalam program ini bukan sekadar hadiah atas sampah yang dikumpulkan. Lebih jauh, kopi menjadi simbol hubungan antara petani, lingkungan, masyarakat, dan pasar.
Kopi tumbuh di bentang alam yang harus dijaga. Karena itu, menjaga lingkungan tempat kopi diproduksi juga menjadi bagian dari menjaga keberlanjutan mata pencaharian petani.
Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan bagi Kerinci yang memiliki kawasan pertanian, perkebunan, wisata, dan ekosistem hutan yang saling berkaitan.
Program ini juga memperkuat pesan bahwa persoalan sampah bukan tanggung jawab satu lembaga.
Komunitas tidak dapat bekerja sendiri. Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat. Pelaku usaha dapat berkontribusi melalui dukungan program. Sekolah memiliki peran membangun kesadaran generasi muda, sementara pengelola kawasan konservasi menjaga keberlanjutan ekosistem.
Karena itu, kolaborasi menjadi fondasi utama gerakan.
Bagi ALKO, kegiatan seperti One KG One Pack diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Program ini perlu terus dikembangkan menjadi gerakan yang mampu memberikan manfaat lingkungan sekaligus sosial dan ekonomi.
Ke depan, ruang kolaborasi dapat diperluas melalui edukasi anak-anak, pengelolaan sampah, kegiatan seni, agroforestri, konservasi hutan, hingga perlindungan satwa liar.
Dari satu kilogram sampah yang dikumpulkan, lahir sebuah pesan yang lebih besar: bahwa menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan memperkuat ekonomi lokal.
Dan dari kopi Kerinci, gerakan itu kembali mengingatkan bahwa produk yang lahir dari alam hanya akan terus tumbuh apabila alam tempatnya berasal juga dijaga bersama.