KERINCI, Jambi —11-13/ Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO) bersama petani dan berbagai mitra menyelenggarakan Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 pada 11–12 September 2026 di Desa Batang Sangir, Kabupaten Kerinci, Jambi.
Mengusung semangat memperkuat ekosistem kopi dari hulu hingga hilir, festival ini mempertemukan petani, kelompok tani, koperasi, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, komunitas, hingga pembeli kopi dari pasar internasional.
Rangkaian kegiatan tidak hanya menjadi ajang perayaan petani kopi, tetapi juga menjadi momentum memperkuat akses pembiayaan, traceability, perdagangan kopi, hilirisasi, serta kemitraan kehutanan dan agroforestri.
Salah satu agenda utama festival adalah penandatanganan sejumlah kerja sama strategis, termasuk Memorandum of Understanding (MoU) antara ALKO dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).
Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat peran ALKO sebagai mitra agregator dalam membantu akses pembiayaan fasilitas dana bergulir kepada petani binaan koperasi ALKO.
Pada tahap awal, program akan menyasar petani binaan di Kerinci, Jambi dan Bengkulu, dengan target sekitar 100 petani dan nilai pembiayaan diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar.
Program kemudian direncanakan berkembang menjadi sekitar 800 petani, dan tahap berikutnya mencapai 2.500 petani binaan ALKO, dengan target penyaluran pembiayaan hingga Rp37,5 miliar sampai 2027.
Skema tersebut juga akan diperkuat dengan pemanfaatan teknologi QThink-X untuk mendukung data, monitoring dan mitigasi dalam ekosistem petani.
Selain dengan BPDLH, ALKO juga menandatangani MoU dengan KKI WARSI untuk mengembangkan potensi hutan adat, sumber daya lokal dan kelompok binaan WARSI.
Dalam kerja sama tersebut, ALKO diposisikan untuk dapat berperan sebagai offtaker maupun agregator bagi produk dan potensi ekonomi masyarakat binaan.
Kerja sama ini memperluas pendekatan ALKO yang tidak hanya berorientasi pada perdagangan kopi, tetapi juga membangun keterhubungan antara petani, masyarakat sekitar hutan, konservasi, agroforestri dan pasar.
Festival juga menjadi momentum penguatan akses pasar internasional.
ALKO menandatangani kontrak pembelian kopi dengan Royal Coffee USA untuk kopi Kerinci yang direncanakan dikirim pada Oktober dan November 2026.
Kontrak tersebut mencakup dua kontainer kopi dengan nilai sekitar Rp6,5 miliar atau USD 365.000.
Kesepakatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pasar kopi Kerinci sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani dan ekosistem produksi di tingkat hulu.
Dalam rangkaian acara, ALKO juga melakukan pelepasan ekspor kopi ke pasar internasional.
Sebanyak 7 ton kopi senilai sekitar USD74.000 dilepas menuju Kanada. Jumlah yang sama juga dilepas menuju Malaysia kepada dua buyer, dengan nilai sekitar USD74.000.
Dengan demikian, total ekspor yang dilepas dalam momentum tersebut mencapai 14 ton, dengan nilai sekitar USD148.000 atau Rp2,6 miliar.
Pelepasan ekspor ini menjadi simbol bahwa kopi Kerinci tidak hanya memiliki potensi sebagai komoditas lokal, tetapi juga semakin terhubung dengan rantai perdagangan global.
Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan edukasi dan interaksi langsung dengan ekosistem kopi.
Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan tari selamat datang, doa, sambutan para pemangku kepentingan, penandatanganan kerja sama, pelepasan ekspor, serta pertunjukan budaya berupa Tari Petani dan Reog.
Pada sore hari, peserta mengikuti Coffee Fun Brew, lomba kopi, seminar dan business matching.
Sementara pada hari kedua, peserta mengikuti coffee field trip dengan mengunjungi pabrik ALKO, kebun kopi dan lokasi pengolahan kopi sebelum kembali ke lokasi festival.
Di lokasi utama, kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Internasional, Coffee Fun Brewing dan diskusi mengenai masa depan kopi Kerinci.
Salah satu tema penting yang diangkat adalah “Upaya Membangun Ekosistem Traceability Kopi Agroforestry Kerinci Berbasis Blockchain Web 3.0” sebagai bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah dan daya saing kopi Kerinci di pasar global.
Ketua Pembina Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO), Suryono, dalam rangkaian kegiatan tersebut menekankan pentingnya membangun ekosistem yang menghubungkan petani dengan pembiayaan, teknologi, pengolahan dan pasar.
Menurutnya, penguatan koperasi tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Petani juga membutuhkan akses terhadap teknologi, pembiayaan dan kepastian pasar.
Melalui berbagai kerja sama yang dibangun, ALKO mendorong agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi menjadi bagian penting dalam rantai nilai kopi yang lebih transparan dan berkelanjutan.
Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 akhirnya menjadi ruang pertemuan antara petani, hutan, teknologi, pembiayaan dan pasar internasional.
Dari Kerinci, pesan yang dibawa adalah bahwa masa depan kopi tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji, tetapi juga oleh bagaimana seluruh ekosistem di belakangnya—mulai dari petani, koperasi, lingkungan, teknologi hingga pembeli global—dibangun secara bersama-sama.