Ekspor Perdana Kopi Bengkulu ke Italia: Wakil Gubernur Dukung Penuh, ALKO dan BI Perkuat Ekosistem Petani Siap Ekspor

Admin Alko |

Ekspor Perdana Kopi Bengkulu ke Italia: Wakil Gubernur Dukung Penuh, ALKO dan BI Perkuat Ekosistem Petani Siap Ekspor


BENGKULU,  Sejarah baru bagi Provinsi Bengkulu terukir pada Senin, 7 September 2026. Untuk pertama kalinya, kopi asal Bumi Rafflesia resmi diekspor langsung dengan identitas daerah sendiri. Sebanyak 1,92 ton biji kopi robusta dengan branding "Ngopi Bengkulu" dilepas ke Italia, menandai babak baru dalam perjalanan komoditas unggulan daerah menuju panggung dunia.


Acara pelepasan ekspor perdana ini berlangsung di Kabupaten Kepahiang dan dihadiri oleh Wakil Gubernur Bengkulu, Bupati Kepahiang H. Zurdinata, unsur Forkopimda, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat, pelaku usaha, serta puluhan wartawan ekonomi.


Momen ini bukan sekadar seremoni. Selama ini, kopi Bengkulu yang merupakan produsen kopi peringkat 5 nasional dengan produksi mencapai 55 ribu ton atau 7,23 persen dari total produksi nasional pada 2023, kerap keluar negeri tanpa identitas daerah. Aktivitas ekspor kopi memang telah berlangsung, namun komoditas tersebut belum sepenuhnya tercatat sebagai ekspor yang berasal langsung dari Bengkulu.


Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menegaskan bahwa ekspor perdana ini menjadi momentum penting bagi Provinsi Bengkulu.


"Ekspor kopi sering kali dilakukan, bahkan mungkin setiap hari. Tetapi ekspor yang tercatat berasal dari Bengkulu, dengan Surat Keterangan Asal atau Certificate of Origin yang berasal dari Bengkulu, mungkin baru dilakukan hari ini," ujar Wahyu.


Menurutnya, kondisi tersebut menjadi catatan penting dalam perjalanan perekonomian Provinsi Bengkulu. Ia berharap momentum ekspor perdana ini dapat menjadi awal bagi semakin banyak komoditas unggulan daerah yang tercatat sebagai produk ekspor Bengkulu.


Wakil Gubernur: Ini Langkah Awal, Tak Ada Lagi Kopi Bengkulu Bernama Kopi Lampung


Wakil Gubernur Bengkulu dalam sambutannya menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan ekspor perdana ini. Ia menegaskan bahwa momentum ini menjadi langkah awal yang sangat penting bagi Provinsi Bengkulu.


"Saya mendukung penuh kegiatan perdana ini. Ke depannya, ini menjadi langkah awal yang menentukan. Tidak boleh lagi ada kopi Bengkulu yang keluar dengan nama kopi Lampung. Kopi Bengkulu harus punya nama sendiri, identitas sendiri, dan kita mulai hari ini," tegas Wakil Gubernur.


Pernyataan ini merespons kondisi selama ini di mana kopi Bengkulu yang memiliki kualitas baik kerap dipasarkan melalui provinsi lain sehingga tercatat sebagai ekspor daerah lain. Dengan adanya Surat Keterangan Asal (SKA) Bengkulu dan branding "Ngopi Bengkulu", identitas kopi daerah kini mulai terbangun.


Wakil Gubernur juga mengapresiasi peran PT ALKO Sumatera Kopi yang telah menjadi motor penggerak ekosistem kopi Bengkulu, mulai dari pendampingan petani hingga fasilitasi ekspor langsung ke pasar internasional.


"Ngopi Bengkulu": Dari Identitas Daerah Menuju Merek Global


Selama ini kopi Bengkulu memiliki kualitas yang baik, namun masih menghadapi tantangan pada aspek branding, hilirisasi, dan akses pasar. Sebagian besar kopi Bengkulu dipasarkan melalui provinsi lain sehingga identitas kopi daerah kurang dikenal langsung di pasar internasional.


Bupati Kepahiang H. Zurdinata menyatakan bahwa ekspor kopi melalui Pelabuhan Pulau Baai memberikan nilai tersendiri bagi Provinsi Bengkulu. Sebab, kopi yang dikirim ke pasar luar negeri tersebut membawa nama Bengkulu sebagai daerah penghasil kopi.


"Ekspor kopi kali ini Bengkulu dapat nama, karena diekspor lewat Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu. Terbentuk pasar di internasional ini berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani kopi," ujar Zurdinata.


Menurutnya, ekspor perdana tersebut tidak hanya sebatas kegiatan perdagangan, tetapi menjadi awal untuk membangun "branding kopi Bengkulu" agar semakin dikenal di pasar dunia. Dengan terbentuknya pasar internasional, rantai ekonomi komoditas kopi diharapkan semakin kuat dan memberikan manfaat lebih besar bagi petani.


Zurdinata menyebutkan, Rejang Lebong, Lebong dan Kepahiang merupakan daerah penghasil kopi Robusta yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara bersama. Penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) di tiga daerah tersebut dinilai penting untuk membangun kolaborasi pertanian yang mampu menembus pasar global.


Bantuan Sarana Produksi dari BI untuk UMKM Binaan ALKO


Dalam acara yang sama, dilakukan penyerahan bantuan sarana produksi kepada dua UMKM binaan ALKO, yaitu:


1. Koperasi Belirang Bumi Persada

2. Koperasi Sinar Alamat Sentosa


Bantuan berupa mesin roasting dan mesin sortasi ini diberikan oleh Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu sebagai bentuk dukungan nyata terhadap penguatan kapasitas produksi kopi daerah. Kepala Perwakilan BI Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menyampaikan bahwa bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas olahan kopi sehingga nilai tambah produk semakin tinggi.


"Kami dari BI Bengkulu memberikan bantuan mesin roasting dan mesin sortasi kepada dua koperasi binaan ALKO. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk mendukung penguatan kapasitas petani dan pelaku usaha kopi di Bengkulu agar siap ekspor," ujar Wahyu.


Lima KUPS dan Koperasi Ikut dalam Ekspor Perdana


Selain dua koperasi penerima bantuan, ekspor perdana kali ini juga melibatkan 3 KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial) binaan Warsi yang kopinya ikut dikirim dalam container ekspor ALKO ke Italia, yaitu:


1. KUPS Pesona Bukit Resam

2. KUPS Kopi Sako Lemunakai

3. KUPS Sumur Alam (Bengkulu Utara)


Kelima entitas petani ini menjadi bagian dari ekosistem kopi Bengkulu yang kini mulai terhubung langsung dengan pasar ekspor. Produksi kopi mereka dikonsolidasikan oleh ALKO sebagai agregator dan dikirim bersama dalam ekspor perdana yang bersejarah ini.


ALKO dan BI Jalin Kerja Sama Inklusif Bangun Petani Siap Ekspor


Direktur PT ALKO Sumatera Kopi menegaskan bahwa perusahaan memiliki kerja sama yang inklusif dengan Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu dalam membangun petani siap ekspor di Kabupaten Rejang Lebong dan sekitarnya.


"ALKO memiliki kerja sama inklusif dengan BI Bengkulu untuk membangun petani siap ekspor di Rejang Lebong dan Bengkulu. Kami bersama BI melakukan pendampingan mulai dari hulu, peningkatan kualitas, penguatan kelembagaan, hingga akses pasar ekspor," jelas perwakilan ALKO.


Kerja sama ini mencakup berbagai aspek, antara lain:


· Pendampingan teknis budidaya kopi berkualitas

· Pelatihan pascapanen dan pengolahan

· Penguatan kelembagaan koperasi dan KUPS

· Fasilitasi akses pembiayaan

· Penggunaan teknologi traceability QThink-X

· Pendampingan sertifikasi dan standar ekspor


QThink-X: Teknologi Traceability untuk Transparansi Rantai Pasok


ALKO juga memperkenalkan implementasi sistem QThink-X, platform traceability berbasis blockchain yang memungkinkan asal-usul kopi dapat ditelusuri mulai dari petani, lahan, proses pasca panen, hingga distribusi ekspor. Teknologi ini dinilai penting untuk menjawab tuntutan pasar global yang kini semakin ketat terhadap standar keberlanjutan dan transparansi produk.


Direktur Operasional PT ALKO Sumatra Kopi, Hongly Fernando, dalam forum diskusi sebelumnya menyoroti pentingnya transformasi industri kopi nasional yang tidak hanya fokus pada produksi bahan baku, tetapi juga pada pembangunan identitas daerah, transparansi rantai pasok, dan penguatan merek kopi Indonesia di pasar dunia.


"Pasar global hari ini tidak hanya membeli kopi, tetapi juga membeli cerita, asal-usul, keberlanjutan, dan transparansi produk. Karena itu kopi Bengkulu memiliki peluang besar jika dibangun dengan ekosistem yang kuat," ujar Hongly.


Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung petani, Koperasi Petani Alam Korintji (ALKO) memberikan akses penggunaan platform QThink-X secara gratis kepada petani dan kelompok tani di Bengkulu. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat digitalisasi sektor pertanian sekaligus membantu petani memenuhi standar pasar global tanpa beban biaya tambahan.


Dukungan BI Bengkulu dan Kolaborasi Lintas Sektor


Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu memainkan peran penting dalam mendorong penguatan komoditas kopi daerah agar mampu menembus pasar internasional secara langsung. BI juga menekankan pentingnya peran perbankan dalam mendukung pelaku usaha, khususnya UMKM dan eksportir kopi.


Wahyu mengatakan dukungan perbankan diperlukan tidak hanya dalam pembiayaan pengembangan produksi, tetapi juga pada tahap transaksi perdagangan internasional.


"Kalau kita ingin berusaha agar UMKM lebih kuat lagi, perbankan menjadi kunci, baik untuk pengembangan produksi maupun nanti pada saat fasilitasi untuk kredit ekspor," jelasnya.


Ia menambahkan, bank devisa memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekspor, termasuk fasilitasi penerbitan Letter of Credit (LC) serta berbagai kebutuhan transaksi perdagangan internasional lainnya.


BI Bengkulu juga terus mendorong pelaku UMKM kopi untuk meningkatkan kualitas, kapasitas produksi, serta memperluas akses pasar hingga tingkat nasional dan internasional. BI bahkan mengarahkan kopi Bengkulu untuk membangun kerja sama dengan jaringan kedai kopi berskala nasional dan internasional, termasuk Starbucks dan Tomoro Coffee.


Potensi Besar dan Tantangan ke Depan


Provinsi Bengkulu memiliki potensi signifikan pada kopi robusta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Bengkulu merupakan produsen kopi terbesar ke-5 di Indonesia dengan produksi mencapai 55 ribu ton. Namun, tantangan pada aspek tata kelola usaha, kelembagaan, serta mutu pascapanen masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan bersama.


Gubernur Bengkulu Helmi Hasan menegaskan bahwa potensi besar yang dimiliki daerah, khususnya sektor kopi dan perhutanan sosial, harus mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat.


Sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah, pada awal tahun 2026 telah diluncurkan Program Kopi Merah Putih, yang menjadi salah satu strategi percepatan hilirisasi kopi dan penguatan ekonomi masyarakat desa. Program tersebut kini sejalan dengan peluncuran Strategi dan Transformasi Ekonomi Komunitas Perhutanan Sosial (PS) yang fokus pada pengembangan model bisnis berbasis masyarakat.


Provinsi Bengkulu menjadi salah satu dari tujuh provinsi di Indonesia yang menjadi lokus intervensi program tersebut, dengan total dukungan anggaran sebesar USD 1.453.904 atau setara Rp23,55 miliar dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan RI.


Harapan Besar untuk Kesejahteraan Petani


Dengan adanya branding dan pengiriman langsung dari Bengkulu, diharapkan Kopi Bengkulu dapat dikenal di tingkat dunia. Hal ini diyakini akan berdampak pada peningkatan permintaan, kenaikan harga, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Provinsi Bengkulu.


Bupati Kepahiang dalam sambutannya menegaskan bahwa ini bukan sekadar ekspor biasa.


"Ini adalah langkah awal kita untuk membawa nama Kopi Bengkulu ke dunia. Kalau sudah dikenal dunia, pasarnya pasti banyak, pembelinya pasti banyak, dan ujungnya harga kopi petani kita naik. Harapan kita satu: meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Provinsi Bengkulu," tegasnya.


Wakil Gubernur Bengkulu menutup sambutannya dengan optimisme tinggi.


"Ini langkah awal kita. Tidak boleh lagi ada kopi Bengkulu yang keluar dengan nama daerah lain. Kita mulai dari sekarang, kita bangun bersama, dan saya yakin kopi Bengkulu akan dikenal dunia," pungkasnya.


BI Bengkulu berharap ekspor perdana ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus menjadi pintu masuk untuk memperkuat rantai pasok kopi Bengkulu dari hulu hingga hilir. Mulai dari peningkatan kualitas produksi, pengolahan pascapanen, pembiayaan, sertifikasi, penguatan kelembagaan petani, hingga pemasaran internasional perlu dilakukan secara berkesinambungan.


Ekspor perdana ini juga menunjukkan bahwa kopi Bengkulu memiliki peluang untuk menembus pasar global. BI Bengkulu selanjutnya berupaya memperluas akses pasar agar produk kopi daerah tidak berhenti pada pasar ekspor, tetapi juga masuk ke rantai pasok perusahaan dan jaringan usaha berskala besar.


Sinergi antara pemerintah daerah, BI, perbankan, eksportir, pelaku UMKM, dan petani dinilai menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem ekspor yang berkelanjutan. Dengan terbukanya peluang ekspor dan rencana kemitraan dengan jaringan kedai kopi besar, kopi Bengkulu diharapkan semakin dikenal sebagai salah satu produk unggulan daerah dan membawa manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan.


Share this :
Share this :

Blog

Other News recommendations for you

Blog

Other News recommendations for you

ALKO Perkenalkan QThink-X untuk Perkuat Ketertelusuran Kopi di Forest Programme IV

MAROS, ALKO.id – Koperasi Alam Koerintji (ALKO) mendorong penguatan ketertelusuran atau traceability kopi melalui pemanfaatan teknologi digital dalam kegiatan Festival Kopi Forest Programme IV Tahun 2026 di Maros, Sulawesi Selatan.Kegiatan yang berlangsung pada 19–20 Oktober 2026 di Grand Town Hotel Maros ini mengangkat tema “Kopi, Agroforestri, dan Penguatan Ekosistem Usaha Kelompok Tani Hutan Menuju Pasar yang Berkelanjutan”. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, kelompok tani hutan, asosiasi kopi, koperasi, dan pelaku usaha untuk memperkuat rantai nilai kopi dari tingkat petani hingga pasar.Dalam agenda kegiatan, ALKO dijadwalkan membawakan materi mengenai traceability kopi sebagai jaminan kualitas dan perlindungan alam. Pembahasan ini menjadi relevan di tengah kebutuhan pasar terhadap informasi asal produk, proses produksi, serta transparansi rantai pasok.QThink-X Dukung Transparansi Rantai Pasok KopiSalah satu pendekatan yang dapat diperkenalkan untuk mendukung ketertelusuran kopi adalah QThink-X, platform digital yang dikembangkan untuk membantu pencatatan dan pengelolaan informasi rantai pasok.Melalui sistem ketertelusuran, informasi mengenai asal kopi, kelompok petani, dan perjalanan produk dalam rantai pasok dapat terdokumentasi secara lebih terstruktur. Data tersebut dapat menjadi dasar bagi koperasi dan pelaku usaha untuk meningkatkan transparansi serta memperkuat komunikasi dengan calon pembeli.Ketertelusuran juga dapat membantu menghubungkan informasi di tingkat produksi dengan kebutuhan pasar. Namun, manfaatnya bergantung pada kualitas data, konsistensi pencatatan, serta keterlibatan petani, koperasi, dan pelaku usaha dalam proses pengumpulan dan pemanfaatan informasi.Bagi kelompok tani hutan, penguatan sistem ini berpotensi menjadi bagian dari persiapan memasuki pasar yang semakin memperhatikan kualitas produk, asal-usul bahan baku, dan praktik produksi yang bertanggung jawab.Menghubungkan Agroforestri dengan Akses PasarFestival Kopi Forest Programme IV tidak hanya membahas aspek budidaya, tetapi juga penguatan ekosistem usaha kelompok tani hutan. Agenda kegiatan mencakup diskusi mengenai agroforestri kopi, standardisasi dan branding, peluang pasar global, serta pengembangan kemitraan bisnis.Panitia juga menjadwalkan Bursa Kopi Forest Programme IV yang memberikan ruang bagi kelompok tani untuk memperkenalkan produk, membangun komunikasi bisnis, menjajaki kemitraan, dan mengidentifikasi kebutuhan pasar.Selain itu, kegiatan uji fisik biji kopi dan uji cita rasa atau cupping dirancang untuk membantu kelompok tani memahami mutu kopi yang dihasilkan. Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi masukan untuk perbaikan kualitas dan pengembangan strategi pemasaran.Kombinasi peningkatan kualitas, akses pasar, dan ketertelusuran digital menjadi pendekatan penting dalam membangun rantai nilai kopi yang lebih transparan dan berkelanjutan.Mendukung Usaha Petani dan Kelestarian LingkunganPengembangan usaha kopi berbasis agroforestri membuka peluang untuk menghubungkan peningkatan pendapatan masyarakat dengan pengelolaan lanskap yang bertanggung jawab. Dalam konteks kelompok tani hutan, keberlanjutan usaha perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga fungsi lingkungan dan memperkuat kelembagaan petani.Melalui kolaborasi pemerintah, koperasi, kelompok tani, dan pelaku pasar, pengembangan ketertelusuran dapat menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok yang lebih tertata serta memperluas peluang kemitraan.Bagi ALKO, penguatan traceability melalui pendekatan digital seperti QThink-X merupakan salah satu jalur untuk mendukung transparansi rantai pasok dan menghubungkan kopi dari tingkat petani dengan kebutuhan pasar.Dengan mengintegrasikan agroforestri, peningkatan kualitas, kemitraan usaha, dan ketertelusuran digital, kopi kelompok tani hutan diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dalam rantai pasok yang transparan dan berkelanjutan.

Read More  

Admin Alko | 20/10/2026

ALKO Lepas Ekspor Kopi Robusta Premium Flores ke Naples, Perkuat Traceability Blockchain via QThink-X

PANJANG, LAMPUNG — ALKO kembali menegaskan posisinya dalam rantai nilai kopi nasional. Melalui program Road to Ekspor Kopi Robusta Premium Indonesia Flores Berbasis Traceability Blockchain ke Naples, Oktober 2026, ALKO melepas kontainer berisi kopi robusta premium asal Flores menuju pasar Eropa.Proses pengiriman dilakukan melalui Pelabuhan Panjang, Lampung, dengan tujuan akhir Naples, Italia. Dalam dokumentasi yang diabadikan, sejumlah kontainer milik MSC terlihat sedang dimuat dengan karung-karung kopi berisi komoditas unggulan tersebut. Dua perwakilan ALKO tampak membentangkan spanduk penanda ekspor di depan kontainer yang telah terisi penuh.Ekspor kali ini menjadi istimewa karena mengusung pendekatan traceability berbasis blockchain. Teknologi ini memungkinkan setiap tahapan perjalanan kopi, mulai dari kebun hingga pelabuhan tujuan, tercatat secara transparan, akurat, dan tidak dapat diubah.Dalam ekosistem ALKO, QThink-X menjadi tulang punggung sistem ketertelusuran tersebut. QThink-X Traceability Apps dirancang untuk mendukung pencatatan dan pengelolaan informasi rantai pasok kopi secara digital, mulai dari identitas petani, lokasi kebun, periode panen, metode pengolahan, hingga pengiriman produk.QThink-X: Menghubungkan Petani dengan Pasar GlobalQThink-X bukan sekadar aplikasi pencatatan. Sistem ini merupakan pendekatan tata kelola rantai pasok yang dirancang untuk menjawab tantangan perdagangan kopi modern. Pasar global semakin menuntut kejelasan asal-usul produk, praktik budidaya yang berkelanjutan, serta dokumentasi perdagangan yang dapat diverifikasi. Tanpa sistem ketertelusuran yang memadai, petani dan pelaku usaha berisiko kehilangan akses ke pasar yang menerapkan persyaratan khusus.Melalui QThink-X, setiap lot kopi yang diekspor dapat dilacak perjalanannya secara digital. Informasi mengenai siapa petaninya, di mana kebunnya berada, kapan panennya, bagaimana pengolahannya, dan kapan dikirim, semuanya tercatat dalam sistem yang terintegrasi. Data tersebut tidak hanya berguna untuk memenuhi kebutuhan pembeli, tetapi juga menjadi alat evaluasi internal bagi ALKO dan kelompok tani untuk meningkatkan mutu produk dari waktu ke waktu.Bagi kelompok tani, penerapan QThink-X dapat dimulai dari pendataan kebun dan pemasok. Data tersebut kemudian diperbarui ketika terjadi perubahan produksi, pengolahan, atau perpindahan produk di sepanjang rantai pasok. Proses ini membutuhkan keterlibatan berbagai pihak: kelompok tani, pendamping, prosesor, dan pelaku perdagangan. Sistem digital memang membantu menyimpan serta mengelola informasi, tetapi akurasi tetap bergantung pada disiplin pengumpulan dan verifikasi data di lapangan.Blockchain: Memperkuat Kepercayaan dan TransparansiTeknologi blockchain yang mendasari QThink-X memberikan lapisan kepercayaan tambahan. Dengan sifatnya yang terdesentralisasi dan tidak dapat diubah, blockchain memastikan bahwa data yang tercatat tidak dapat dimanipulasi setelah dimasukkan ke dalam sistem. Setiap pihak yang memiliki akses dapat memverifikasi keaslian informasi tanpa perlu bergantung pada satu otoritas tunggal.Dalam konteks ekspor kopi ke Eropa, kemampuan ini menjadi nilai tambah yang signifikan. Pembeli di Naples dapat menelusuri perjalanan kopi yang mereka terima, sekaligus memastikan bahwa produk tersebut memenuhi standar yang disepakati. Kepercayaan yang terbangun melalui transparansi ini berpotensi membuka pintu bagi kerja sama jangka panjang yang lebih stabil.Namun, ALKO memahami bahwa ketertelusuran perlu dibedakan dari sertifikasi atau jaminan kepatuhan terhadap regulasi tertentu. Pencatatan asal produk dapat mendukung transparansi, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh persyaratan pasar telah terpenuhi. Untuk memasuki pasar yang menerapkan persyaratan khusus, pelaku usaha tetap perlu memastikan kelengkapan dokumen, validitas data, legalitas lahan yang relevan, dan pemenuhan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, QThink-X dikembangkan sebagai perangkat tata kelola rantai pasok, bukan sekadar label teknologi.Dari Flores ke Naples: Membangun Jembatan Nilai TambahKopi robusta premium Flores dipilih karena karakter rasanya yang khas dan potensinya di pasar internasional. Melalui rute Panjang–Lampung, ekspor ini diharapkan menjadi pintu masuk yang lebih terstruktur bagi kopi Indonesia ke jaringan perdagangan Eropa.Bagi ALKO, langkah ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menghubungkan praktik pengelolaan lahan yang berkelanjutan dengan peluang pasar yang nyata. Dengan sistem ketertelusuran yang baik, nilai tambah kopi tidak hanya dirasakan oleh eksportir, tetapi juga oleh kelompok tani di hulu yang mengelola kebun secara produktif dan ramah lingkungan.Keberhasilan kemitraan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kelompok yang terlibat, tetapi juga oleh keberlanjutan transaksi, kualitas produk, transparansi proses, dan manfaat ekonomi yang diterima anggota kelompok. Pada akhirnya, menjaga hulu dan menggerakkan ekonomi merupakan dua agenda yang dapat saling mendukung ketika dirancang dengan tepat.Melalui QThink-X, ALKO membuka ruang kolaborasi untuk menghubungkan kelompok tani dengan rantai pasok kopi yang lebih terorganisasi, transparan, dan berdaya saing di pasar global. Dari Pelabuhan Panjang, kopi Flores memulai perjalanannya menuju Naples, bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai bukti bahwa transparansi dan teknologi dapat menjadi jembatan antara petani di pelosok dan pembeli di pasar dunia.

Read More  

Admin Alko | 16/10/2026

Dari Rehabilitasi Lahan ke Rantai Nilai Kopi: BPDAS Dorong Kemitraan Kelompok Tani untuk Perkuat FOLU Net Sink 2030

BUKITTINGGI — Kemitraan antara kelompok tani kopi dan pelaku usaha menjadi kunci penting agar rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) tidak berhenti pada penanaman, tetapi berlanjut menjadi pengelolaan lanskap yang produktif dan berkelanjutan. Melalui pengembangan kopi berbasis agroforestri, akses pasar, serta sistem ketertelusuran atau traceability, BPDAS mendorong penguatan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung agenda Indonesia FOLU Net Sink 2030.Upaya tersebut mencuat dalam kegiatan Temu Usaha, Pembelajaran, dan Pengembangan Kemitraan Kelompok Tani yang diselenggarakan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Agam Kuantan di Grand Rocky Hotel, Bukittinggi, pada 14–16 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan pemerintah, kelompok tani hutan, dan pelaku usaha untuk membahas penguatan kelembagaan, pengembangan agroforestri, serta peluang kemitraan dalam rantai nilai kopi.Dalam forum tersebut, Pebriyansah dari BPDAS memaparkan peluang pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK), penguatan pasar, dan pentingnya ketertelusuran kopi. BPDAS menyampaikan kesiapan untuk menjajaki kolaborasi pemasaran dan pengembangan traceability bersama kelompok tani yang terlibat dalam program RHL.Kegiatan ini juga dihadiri Apriadi, S.P., Kepala Seksi Penguatan Kelembagaan DAS, BPDAS Agam Kuantan, serta perwakilan kelompok tani hutan dari sejumlah wilayah, termasuk Pesisir Selatan dan Pasaman. Sementara itu, Anton Efendi dari Kelompok Tani Kopi Lasi berbagi pengalaman mengenai budidaya kopi, penanganan pascapanen, dan peningkatan nilai tambah melalui kunjungan lapangan ke kebun serta fasilitas pengolahan kopi di Lasi.Forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan kelompok tani dengan peluang pengembangan usaha. Dengan akses pasar yang lebih terorganisasi, hasil produksi petani diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan fungsi ekologis lahan.Menghubungkan Rehabilitasi Hutan dengan Peluang UsahaRehabilitasi hutan dan lahan merupakan bagian dari upaya memulihkan fungsi ekologis daerah aliran sungai (DAS), memperbaiki kondisi lahan, serta menjaga keberlanjutan sumber daya air dan tanah. Namun, keberhasilan pemulihan lingkungan juga berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang beraktivitas di sekitarnya. Kelompok tani membutuhkan pilihan usaha yang dapat memberikan penghasilan sekaligus mendukung pengelolaan lahan secara berkelanjutan.Dalam konteks tersebut, agroforestri menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan sesuai kondisi setempat. Sistem ini mengintegrasikan tanaman pertanian dengan pepohonan dalam satu pengelolaan lahan. Pada kebun kopi, pohon penaung dan vegetasi lain dapat menjadi bagian dari upaya menjaga tutupan lahan, dengan manfaat ekologis yang bergantung pada jenis tanaman, desain kebun, kondisi tanah, dan praktik budidaya.Pengembangan agroforestri juga membuka peluang diversifikasi hasil usaha. Selain kopi, kelompok tani dapat mempertimbangkan tanaman lain yang sesuai dengan kondisi agroklimat dan kebutuhan pasar untuk menambah sumber pendapatan. Meski demikian, sistem agroforestri membutuhkan perencanaan. Pemilihan komoditas perlu mempertimbangkan kesesuaian lahan, biaya produksi, potensi hasil, kebutuhan pasar, serta kemampuan kelompok tani mengelola panen.Karena itu, penguatan kelompok tani tidak cukup hanya melalui bantuan bibit atau kegiatan penanaman. Pendampingan kelembagaan, peningkatan keterampilan produksi, akses pembiayaan, dan kemitraan pemasaran juga diperlukan agar usaha dapat berkembang. Pembahasan rantai nilai kopi dalam forum di Bukittinggi menjadi salah satu pintu masuk untuk menghubungkan pengelolaan lahan dengan kebutuhan pasar. Bagi BPDAS, pengembangan kemitraan dapat diarahkan untuk membantu kelompok tani memahami spesifikasi produk yang dibutuhkan pembeli, memperbaiki penanganan pascapanen, dan menyiapkan informasi yang diperlukan dalam proses perdagangan.Peran Offtaker dalam Membangun Akses PasarSalah satu tantangan kelompok tani adalah menghubungkan hasil produksi dengan pembeli yang sesuai. Produksi yang meningkat belum tentu menghasilkan pendapatan lebih baik apabila petani tidak memiliki informasi pasar, standar mutu yang jelas, atau jaringan pemasaran yang memadai. Di sinilah kemitraan dengan offtaker dapat berperan.Offtaker merupakan pihak yang membeli atau menyerap hasil produksi berdasarkan kesepakatan tertentu. Dalam rantai pasok kopi, kerja sama dengan offtaker dapat membantu kelompok tani memahami kebutuhan pasar dan menyiapkan produk sesuai spesifikasi yang disepakati. Namun, keberadaan offtaker tidak otomatis menjamin harga tertentu atau penyerapan seluruh hasil panen. Kepastian tersebut bergantung pada isi kesepakatan, mutu produk, volume yang tersedia, jadwal pengiriman, dan kondisi pasar.Oleh sebab itu, kemitraan yang sehat perlu menetapkan mekanisme transaksi secara transparan. Kelompok tani perlu memahami persyaratan kualitas, cara penentuan harga, jadwal pembelian, serta tanggung jawab masing-masing pihak. Dalam kegiatan BPDAS Agam Kuantan, Pebriyansah dari BPDAS menyampaikan kesiapan untuk menjajaki kolaborasi pemasaran kopi bersama kelompok tani yang terlibat dalam program RHL, termasuk kelompok dari Pesisir Selatan dan Pasaman.Kolaborasi tersebut dapat diawali dengan pemetaan kelompok pemasok, pendataan kebun, identifikasi kapasitas produksi, peningkatan kualitas pascapanen, serta penyesuaian produk dengan kebutuhan pembeli. Kelompok tani perlu mengetahui jenis produk yang dapat dipasarkan, volume yang mampu dipenuhi, metode penilaian kualitas, dan informasi yang harus dicatat. Bagi pelaku usaha, informasi tersebut juga penting untuk menyusun perencanaan pengadaan dan menilai kesiapan pasokan.Dengan koordinasi yang baik, hubungan antara kelompok tani dan pasar berpeluang berkembang dari transaksi sesaat menjadi kemitraan yang lebih terstruktur. Dalam jangka panjang, kemitraan yang berjalan baik dapat membantu meningkatkan nilai tambah hasil kebun dan memperkuat insentif ekonomi bagi masyarakat untuk mengelola lahan secara produktif.Traceability Memperkuat Transparansi Rantai Pasok KopiSelain kualitas dan akses pasar, ketertelusuran menjadi aspek penting dalam pengembangan rantai pasok kopi. Traceability adalah kemampuan menelusuri asal produk dan tahapan yang dilaluinya sepanjang rantai pasok berdasarkan informasi yang dicatat dan dikelola secara sistematis. Dalam rantai pasok kopi, informasi tersebut dapat mencakup identitas petani atau kelompok pemasok, lokasi kebun, periode panen, metode pengolahan, pengumpulan, penyimpanan, hingga pengiriman produk.Informasi yang terstruktur membantu pelaku usaha menjelaskan asal produk kepada pembeli. Sistem ini juga dapat mendukung pengelolaan pemasok dan dokumentasi perdagangan apabila data yang tersedia akurat serta dapat diverifikasi. Dalam paparannya, Pebriyansah menempatkan ketertelusuran sebagai bagian dari upaya menghubungkan petani dengan kebutuhan pasar modern dan perdagangan internasional.Bagi kelompok tani, penerapan traceability dapat dimulai dari pendataan kebun dan pemasok. Data tersebut kemudian perlu diperbarui ketika terjadi perubahan produksi, pengolahan, atau perpindahan produk di sepanjang rantai pasok. Proses tersebut membutuhkan keterlibatan kelompok tani, pendamping, prosesor, dan pelaku perdagangan. Sistem digital dapat membantu menyimpan serta mengelola informasi, tetapi akurasi tetap bergantung pada proses pengumpulan dan verifikasi data di lapangan.Dalam ekosistem kopi BPDAS, QThink-X menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung pencatatan dan pengelolaan informasi rantai pasok. Penerapan sistem tersebut pada kelompok tani RHL perlu disesuaikan dengan kesiapan data, kapasitas sumber daya manusia, kebutuhan pembeli, dan mekanisme operasional yang disepakati.Ketertelusuran juga perlu dibedakan dari sertifikasi atau jaminan kepatuhan terhadap regulasi tertentu. Pencatatan asal produk dapat mendukung transparansi, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh persyaratan pasar telah terpenuhi. Untuk memasuki pasar yang menerapkan persyaratan khusus, pelaku usaha tetap perlu memastikan kelengkapan dokumen, validitas data, legalitas lahan yang relevan, dan pemenuhan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, traceability dapat dikembangkan sebagai perangkat tata kelola rantai pasok, bukan sekadar label teknologi. Sistem tersebut berpotensi membantu kelompok tani dan pelaku usaha membangun dokumentasi yang lebih baik sekaligus memperkuat kepercayaan pembeli.Belajar dari Kebun Kopi LasiPembahasan dalam forum BPDAS Agam Kuantan dilengkapi dengan kunjungan lapangan ke kebun dan fasilitas pengolahan kopi di Lasi, Kabupaten Agam. Kunjungan tersebut dipandu Anton Efendi dari Kelompok Tani Kopi Lasi. Peserta berkesempatan melihat praktik budidaya kopi dan memahami hubungan antara pengelolaan kebun, penanganan pascapanen, serta mutu produk yang dipasarkan.Perwakilan kelompok tani dari Pesisir Selatan dan Pasaman dapat memanfaatkan kegiatan tersebut untuk membandingkan praktik pengelolaan kebun dan mengidentifikasi aspek yang berpotensi diterapkan sesuai kondisi masing-masing wilayah. Pengembangan kopi berbasis agroforestri memerlukan perhatian terhadap pemilihan tanaman, pengelolaan naungan, pemeliharaan tanah, dan pengendalian gulma. Praktik tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi kebun agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengabaikan fungsi ekologis lahan.Pada lanskap berbukit, tutupan lahan dan praktik konservasi tanah juga perlu menjadi bagian dari perencanaan budidaya, terutama di wilayah yang berhubungan dengan fungsi daerah aliran sungai. Selain budidaya, pascapanen menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas kopi. Pemetikan buah pada tingkat kematangan yang sesuai, pemilihan metode pengolahan, pengeringan terkontrol, dan penyimpanan yang tepat dapat memengaruhi karakter produk.Kelompok tani juga perlu membangun disiplin pencatatan. Informasi mengenai tanggal panen, metode pengolahan, kondisi pengeringan, dan hasil sortasi dapat membantu mengevaluasi mutu sekaligus mendukung sistem ketertelusuran. Pengalaman di tingkat tapak memperlihatkan bahwa peningkatan nilai tambah kopi membutuhkan keterhubungan antara keterampilan petani dan kebutuhan pasar. Produksi yang baik perlu didukung proses pengolahan yang tepat serta saluran pemasaran yang dapat diakses.Bagi BPDAS, pembelajaran lapangan menjadi kesempatan untuk memahami kesiapan kelompok tani dan mengidentifikasi bentuk pendampingan yang relevan apabila penjajakan kemitraan pemasaran dilanjutkan.Perhutanan Sosial dan Penguatan Ekonomi MasyarakatPenguatan ekonomi masyarakat merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan usaha berbasis perhutanan sosial. Kelompok masyarakat memerlukan akses terhadap pengetahuan, jaringan usaha, dan peluang pasar agar kegiatan ekonomi dapat tumbuh sesuai ketentuan pengelolaan yang berlaku. Dalam konteks kopi, pengembangan usaha perlu memperhatikan status dan legalitas lahan, kesesuaian komoditas, kapasitas produksi, serta ketentuan yang berlaku pada wilayah kelola masing-masing kelompok.Pendekatan tersebut membantu memastikan bahwa pengembangan komoditas tidak mengabaikan tujuan perlindungan lingkungan. Pemasaran juga perlu dihubungkan dengan rencana produksi. Kelompok tani tidak hanya perlu mempertimbangkan peningkatan volume, tetapi juga mutu, biaya, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pembeli.Penguatan kelembagaan dapat mencakup pembagian tanggung jawab dalam pengumpulan hasil, pencatatan produksi, pengelolaan keuangan, dan komunikasi dengan mitra usaha. Transparansi diperlukan agar manfaat kerja sama dapat dipahami oleh anggota kelompok. Bagi pemerintah dan pendamping, proses ini membutuhkan fasilitasi berkelanjutan. Kebutuhan kelompok tani dapat berbeda-beda, mulai dari penguatan administrasi dan peningkatan keterampilan budidaya hingga pengolahan serta akses informasi pasar.Kolaborasi dengan pelaku usaha dapat melengkapi proses tersebut melalui penyampaian spesifikasi produk, penjajakan pembelian, dan pengembangan hubungan dagang. Bentuk dukungan perlu disesuaikan dengan kesepakatan yang benar-benar dapat dijalankan oleh para pihak. Dalam hal ini, forum temu usaha berfungsi sebagai ruang untuk mempertemukan kebutuhan kelompok tani dengan peluang kerja sama. Hasilnya perlu ditindaklanjuti melalui rencana kerja, pembagian tanggung jawab, dan indikator yang dapat dievaluasi.Mendukung Agenda Indonesia FOLU Net Sink 2030Indonesia FOLU Net Sink 2030 merupakan agenda sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya untuk mencapai kondisi ketika penyerapan emisi bersih dari sektor tersebut lebih besar daripada emisi yang dilepaskan pada 2030. Pengelolaan hutan berkelanjutan, rehabilitasi lahan, konservasi, dan kegiatan lain yang sesuai dengan kebijakan nasional menjadi bagian dari upaya menuju sasaran tersebut.Pengembangan agroforestri dapat berkontribusi pada tujuan pengelolaan lanskap apabila praktiknya sesuai dengan kondisi ekologis, menjaga atau memperbaiki tutupan vegetasi, dan dilaksanakan dengan pengukuran yang tepat. Besarnya kontribusi terhadap penurunan emisi atau peningkatan serapan karbon tidak dapat disimpulkan hanya dari keberadaan tanaman kopi atau pohon penaung. Penilaian tersebut memerlukan metode pengukuran dan data yang relevan.Karena itu, kemitraan ekonomi dan pengelolaan lingkungan perlu dikembangkan secara berdampingan. Akses pasar dapat memberikan insentif bagi usaha petani, sementara praktik budidaya dan pengelolaan lahan perlu memastikan bahwa tujuan produksi tidak mengorbankan fungsi ekologis. Pendekatan ini juga membutuhkan pemantauan hasil. Indikator ekonomi dapat mencakup kualitas produk, keberlanjutan transaksi, dan manfaat bagi kelompok tani. Indikator lingkungan perlu disesuaikan dengan program, kondisi lanskap, serta metode evaluasi yang digunakan.Melalui kolaborasi antara pemerintah, kelompok tani, dan pelaku usaha, peluang pengembangan ekonomi berbasis agroforestri dapat dijajaki dengan memperhatikan kondisi sosial dan lingkungan.Menyiapkan Tindak Lanjut KemitraanKegiatan Temu Usaha, Pembelajaran, dan Pengembangan Kemitraan Kelompok Tani di Bukittinggi membuka ruang untuk mempertemukan penguatan kelembagaan RHL dengan kebutuhan pengembangan usaha. Bagi BPDAS, tindak lanjut dapat dimulai dengan mengidentifikasi kelompok tani yang berminat, memetakan kebun dan kapasitas produksi, serta menilai kebutuhan peningkatan mutu dan ketertelusuran.Tahap berikutnya adalah mempertemukan informasi pasokan dengan kebutuhan pembeli, menetapkan spesifikasi produk, dan membahas mekanisme transaksi yang realistis. Jika disepakati oleh para pihak, kerja sama dapat dilanjutkan melalui pengaturan pembelian, pendampingan teknis, dan evaluasi berkala. Langkah-langkah tersebut perlu dilakukan secara bertahap agar kelompok tani tidak dibebani persyaratan yang belum dapat dipenuhi. Pengembangan sistem ketertelusuran juga perlu mempertimbangkan kemampuan pengelola di lapangan dan manfaat nyata bagi rantai pasok.Keberhasilan kemitraan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kelompok yang terlibat, tetapi juga oleh keberlanjutan transaksi, kualitas produk, transparansi proses, dan manfaat ekonomi yang diterima anggota kelompok. Pada akhirnya, menjaga hulu dan menggerakkan ekonomi merupakan dua agenda yang dapat saling mendukung ketika dirancang dengan tepat. Rehabilitasi hutan dan lahan membutuhkan pengelolaan yang konsisten, sementara usaha kopi memerlukan produksi berkualitas dan akses pasar yang jelas.Melalui pengembangan agroforestri, penjajakan kemitraan offtaker, dan penerapan ketertelusuran, BPDAS membuka ruang kolaborasi untuk menghubungkan kelompok tani dengan rantai pasok kopi yang lebih terorganisasi. Dari Bukittinggi, upaya tersebut menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas tentang bagaimana pengelolaan lanskap, penguatan usaha masyarakat, dan perdagangan kopi dapat dikembangkan secara beriringan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.

Read More  

Admin Alko | 15/10/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started WhatsApp

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.