Alko Gandeng BPDLH Perluas Akses Dana Bergulir untuk Petani Kopi di Kerinci dan Bengkulu

Admin Alko | 20/08/2026



JAKARTA —19/8, Upaya memperluas akses pembiayaan bagi petani kopi di wilayah Kerinci dan Bengkulu memasuki tahap baru. Alko menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) untuk membangun kerja sama penyaluran pembiayaan dana bergulir kepada petani dalam ekosistem koperasi dan closed-loop Alko.


Kerja sama tersebut menempatkan Alko sebagai mitra agregator, yang berperan menghubungkan dan mengonsolidasikan petani anggota koperasi dalam ekosistem Alko agar dapat mengakses skema pembiayaan BPDLH.


Penandatanganan MoU ditandai dengan pertemuan dan penyerahan dokumen kerja sama antara perwakilan BPDLH dan Alko. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pembiayaan yang lebih terstruktur bagi petani, sekaligus memperkuat praktik pertanian yang berkelanjutan.


Pada tahap awal, program ditargetkan menjangkau sekitar 100 petani. Selanjutnya, cakupan program direncanakan diperluas hingga sekitar 2.000 petani anggota dalam ekosistem closed-loop Alko di wilayah Kerinci dan Bengkulu.


Skema tersebut tidak hanya diarahkan pada penyaluran dana, tetapi juga akan dilengkapi dengan mekanisme mitigasi dan pemantauan berbasis teknologi. Salah satu instrumen yang disiapkan adalah pemanfaatan QThink-X untuk mendukung pengelolaan dan pemantauan program di tingkat petani.


Dengan pendekatan tersebut, pembiayaan diharapkan tidak berhenti pada aspek pencairan dana. Data dan aktivitas petani dapat dipantau secara lebih terstruktur sehingga pelaksanaan program dapat berjalan sesuai tujuan dan prinsip keberlanjutan.


Kerja sama ini juga memperkuat model closed-loop ecosystem yang dikembangkan Alko, yakni pendekatan yang menghubungkan petani, koperasi, pendampingan, pembiayaan, produksi, hingga akses pasar dalam satu ekosistem.


Bagi petani kopi, akses terhadap pembiayaan menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kapasitas usaha. Dana yang tersedia dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan produktif petani, pengembangan kebun, peningkatan kualitas produksi, maupun penguatan praktik pertanian yang memperhatikan aspek lingkungan.


Kolaborasi dengan BPDLH sekaligus membuka peluang agar agenda pembiayaan petani berjalan beriringan dengan agenda perlindungan lingkungan. Dengan demikian, penguatan ekonomi petani tidak dipisahkan dari upaya menjaga ekosistem tempat kopi tersebut dibudidayakan.


Alko melihat kerja sama ini sebagai langkah awal untuk membangun model pembiayaan yang lebih dekat dengan kebutuhan petani. Setelah tahap awal berjalan, cakupan penerima manfaat akan dievaluasi dan dikembangkan secara bertahap.


Target 2.000 petani dalam ekosistem closed-loop Alko menjadi bagian dari visi jangka menengah untuk memperluas akses pembiayaan sekaligus memperkuat posisi koperasi dan kelompok usaha petani sebagai bagian penting dari rantai nilai kopi.


Pemanfaatan teknologi QThink-X nantinya diharapkan dapat membantu proses mitigasi, pemantauan wilayah, serta pengelolaan data petani. Pendekatan berbasis data ini penting untuk memastikan program pembiayaan dapat dipantau secara lebih transparan dan terukur.


Kerja sama Alko dan BPDLH juga menunjukkan bahwa pengembangan komoditas kopi tidak semata-mata berbicara mengenai produksi dan pasar. Di tingkat hulu, keberlanjutan usaha petani membutuhkan dukungan pembiayaan, kelembagaan, teknologi, dan tata kelola yang saling terhubung.


Bagi Kerinci dan Bengkulu, langkah tersebut memiliki arti penting karena kedua wilayah merupakan bagian dari kawasan penghasil kopi yang memiliki potensi ekonomi sekaligus nilai ekologis yang besar.


Melalui kemitraan ini, Alko berharap semakin banyak petani memperoleh akses terhadap pembiayaan produktif tanpa harus berjalan sendiri. Koperasi dan ekosistem closed-loop diharapkan menjadi penghubung antara kebutuhan petani dan berbagai sumber dukungan yang tersedia.


Tahap awal dengan 100 petani akan menjadi pijakan untuk melihat efektivitas model tersebut sebelum diperluas kepada ribuan anggota lainnya.


Pada akhirnya, kerja sama ini diarahkan untuk membangun satu ekosistem yang menghubungkan petani, koperasi, pembiayaan, teknologi, lingkungan, dan pasar secara lebih terintegrasi.


Bukan sekadar menyalurkan dana, kolaborasi Alko dan BPDLH ini diharapkan menjadi langkah untuk memperkuat fondasi ekonomi petani kopi sekaligus memastikan pertumbuhan sektor kopi tetap berjalan sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Share this :
Share this :

Blog

Other News recommendations for you

Blog

Other News recommendations for you

JAKARTA —19/8, Upaya memperluas akses pembiayaan bagi petani kopi di wilayah Kerinci dan Bengkulu memasuki tahap baru. Alko menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) untuk membangun kerja sama penyaluran pembiayaan dana bergulir kepada petani dalam ekosistem koperasi dan closed-loop Alko.Kerja sama tersebut menempatkan Alko sebagai mitra agregator, yang berperan menghubungkan dan mengonsolidasikan petani anggota koperasi dalam ekosistem Alko agar dapat mengakses skema pembiayaan BPDLH.Penandatanganan MoU ditandai dengan pertemuan dan penyerahan dokumen kerja sama antara perwakilan BPDLH dan Alko. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pembiayaan yang lebih terstruktur bagi petani, sekaligus memperkuat praktik pertanian yang berkelanjutan.Pada tahap awal, program ditargetkan menjangkau sekitar 100 petani. Selanjutnya, cakupan program direncanakan diperluas hingga sekitar 2.000 petani anggota dalam ekosistem closed-loop Alko di wilayah Kerinci dan Bengkulu.Skema tersebut tidak hanya diarahkan pada penyaluran dana, tetapi juga akan dilengkapi dengan mekanisme mitigasi dan pemantauan berbasis teknologi. Salah satu instrumen yang disiapkan adalah pemanfaatan QThink-X untuk mendukung pengelolaan dan pemantauan program di tingkat petani.Dengan pendekatan tersebut, pembiayaan diharapkan tidak berhenti pada aspek pencairan dana. Data dan aktivitas petani dapat dipantau secara lebih terstruktur sehingga pelaksanaan program dapat berjalan sesuai tujuan dan prinsip keberlanjutan.Kerja sama ini juga memperkuat model closed-loop ecosystem yang dikembangkan Alko, yakni pendekatan yang menghubungkan petani, koperasi, pendampingan, pembiayaan, produksi, hingga akses pasar dalam satu ekosistem.Bagi petani kopi, akses terhadap pembiayaan menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kapasitas usaha. Dana yang tersedia dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan produktif petani, pengembangan kebun, peningkatan kualitas produksi, maupun penguatan praktik pertanian yang memperhatikan aspek lingkungan.Kolaborasi dengan BPDLH sekaligus membuka peluang agar agenda pembiayaan petani berjalan beriringan dengan agenda perlindungan lingkungan. Dengan demikian, penguatan ekonomi petani tidak dipisahkan dari upaya menjaga ekosistem tempat kopi tersebut dibudidayakan.Alko melihat kerja sama ini sebagai langkah awal untuk membangun model pembiayaan yang lebih dekat dengan kebutuhan petani. Setelah tahap awal berjalan, cakupan penerima manfaat akan dievaluasi dan dikembangkan secara bertahap.Target 2.000 petani dalam ekosistem closed-loop Alko menjadi bagian dari visi jangka menengah untuk memperluas akses pembiayaan sekaligus memperkuat posisi koperasi dan kelompok usaha petani sebagai bagian penting dari rantai nilai kopi.Pemanfaatan teknologi QThink-X nantinya diharapkan dapat membantu proses mitigasi, pemantauan wilayah, serta pengelolaan data petani. Pendekatan berbasis data ini penting untuk memastikan program pembiayaan dapat dipantau secara lebih transparan dan terukur.Kerja sama Alko dan BPDLH juga menunjukkan bahwa pengembangan komoditas kopi tidak semata-mata berbicara mengenai produksi dan pasar. Di tingkat hulu, keberlanjutan usaha petani membutuhkan dukungan pembiayaan, kelembagaan, teknologi, dan tata kelola yang saling terhubung.Bagi Kerinci dan Bengkulu, langkah tersebut memiliki arti penting karena kedua wilayah merupakan bagian dari kawasan penghasil kopi yang memiliki potensi ekonomi sekaligus nilai ekologis yang besar.Melalui kemitraan ini, Alko berharap semakin banyak petani memperoleh akses terhadap pembiayaan produktif tanpa harus berjalan sendiri. Koperasi dan ekosistem closed-loop diharapkan menjadi penghubung antara kebutuhan petani dan berbagai sumber dukungan yang tersedia.Tahap awal dengan 100 petani akan menjadi pijakan untuk melihat efektivitas model tersebut sebelum diperluas kepada ribuan anggota lainnya.Pada akhirnya, kerja sama ini diarahkan untuk membangun satu ekosistem yang menghubungkan petani, koperasi, pembiayaan, teknologi, lingkungan, dan pasar secara lebih terintegrasi.Bukan sekadar menyalurkan dana, kolaborasi Alko dan BPDLH ini diharapkan menjadi langkah untuk memperkuat fondasi ekonomi petani kopi sekaligus memastikan pertumbuhan sektor kopi tetap berjalan sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Read More  

Admin Alko | 20/08/2026

KAYU ARO, 17/8— Persoalan sampah di kawasan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi, mendorong lahirnya gerakan kolaboratif yang tidak hanya berfokus pada kegiatan bersih-bersih, tetapi juga menghubungkan kepedulian lingkungan dengan kopi lokal, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan konservasi.Melalui program One KG One Pack, masyarakat diajak mengumpulkan 1 kilogram sampah anorganik untuk ditukarkan dengan 1 bungkus kopi Kerinci.Program ini menjadi bagian dari gerakan bersama yang melibatkan ALKO, Uminomuko Coffee, Resona Bank, komunitas, masyarakat, sekolah, serta pengelola kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).Bagi ALKO, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kolaborasi. Sampah tidak hanya dipandang sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk membangun kesadaran masyarakat dan menggerakkan nilai ekonomi lokal.Dukungan dari JepangPerwakilan Uminomuko Coffee, Mizuhu Sigemuro, menyampaikan apresiasi terhadap ALKO dan masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut.Menurut Mizuhu, kolaborasi ini telah dibangun sejak 2024 dan masih akan dilanjutkan dalam beberapa tahun ke depan.“Kami dari Uminomuko Coffee dan Resona Bank sangat mengapresiasi karena kegiatan ini dapat terlaksana melalui kolaborasi dengan masyarakat,” ujar Mizuhu.Ia menegaskan bahwa program tersebut bukan sekadar proyek pembersihan lingkungan.“Ini bukan akhir. Kami ingin terus mendukung ALKO dan komunitas di Kayu Aro, bukan hanya dalam kegiatan bersih-bersih, tetapi juga pendidikan dan pengembangan masyarakat,” katanya.Menurut Mizuhu, keberlanjutan program justru menjadi bagian penting dari kerja sama tersebut.Karena itu, pihaknya berencana memperluas kegiatan edukasi lingkungan dengan melibatkan lebih banyak anak sekolah dasar di kawasan Kayu Aro.“Tahun depan kami ingin memperluas program ini dengan melibatkan lebih banyak anak-anak sekolah dasar di Kayu Aro,” ujarnya.Selain pendidikan, Uminomuko Coffee juga tengah menjajaki kolaborasi dengan seniman Jepang untuk membuat proyek seni bersama masyarakat.Dari Sampah ke KonservasiMizuhu melihat peluang kerja sama yang lebih luas. Menurut dia, gerakan bersama di Kayu Aro dapat dikembangkan tidak hanya untuk menangani sampah, tetapi juga menyentuh isu kehutanan dan konservasi.Ia menyebut dukungan terhadap program konservasi harimau sebagai salah satu kemungkinan pengembangan kolaborasi.“Kami berharap semakin banyak komunitas yang terlibat, bukan hanya untuk persoalan sampah, tetapi juga program kehutanan, konservasi, dan dukungan terhadap konservasi harimau,” kata Mizuhu.Gagasan tersebut sejalan dengan peran Balai Besar TNKS dalam menjaga kawasan Gunung Kerinci.Perwakilan Resort TNKS, Eko, mengatakan persoalan sampah di kawasan gunung membutuhkan perhatian dari hulu hingga hilir.Menurut dia, membersihkan sampah dari jalur pendakian merupakan satu tahap. Tantangan berikutnya adalah memastikan sampah yang telah diturunkan dapat dipilah dan dikelola dengan baik.Dalam aksi bersih Gunung Kerinci sebelumnya, sekitar 409 kilogram sampah berhasil diturunkan dari jalur pendakian.Sampah tersebut kemudian dipilah. Material yang masih mempunyai nilai ekonomi, seperti botol, disalurkan kepada pemulung atau pihak yang dapat memanfaatkannya kembali.Sebagian sampah lainnya juga telah dimanfaatkan melalui proses pengolahan hingga menghasilkan kompos.Eko menilai pola tersebut perlu terus dikembangkan melalui kolaborasi.Kopi sebagai PenghubungProgram One KG One Pack menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam kampanye lingkungan.Sampah yang dikumpulkan masyarakat diberi nilai melalui produk kopi Kerinci. Dengan demikian, gerakan kebersihan sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kopi yang dihasilkan petani lokal.Kopi dalam program ini bukan sekadar hadiah atas sampah yang dikumpulkan. Lebih jauh, kopi menjadi simbol hubungan antara petani, lingkungan, masyarakat, dan pasar.Kopi tumbuh di bentang alam yang harus dijaga. Karena itu, menjaga lingkungan tempat kopi diproduksi juga menjadi bagian dari menjaga keberlanjutan mata pencaharian petani.Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan bagi Kerinci yang memiliki kawasan pertanian, perkebunan, wisata, dan ekosistem hutan yang saling berkaitan.Membangun Gerakan yang BerkelanjutanProgram ini juga memperkuat pesan bahwa persoalan sampah bukan tanggung jawab satu lembaga.Komunitas tidak dapat bekerja sendiri. Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat. Pelaku usaha dapat berkontribusi melalui dukungan program. Sekolah memiliki peran membangun kesadaran generasi muda, sementara pengelola kawasan konservasi menjaga keberlanjutan ekosistem.Karena itu, kolaborasi menjadi fondasi utama gerakan.Bagi ALKO, kegiatan seperti One KG One Pack diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Program ini perlu terus dikembangkan menjadi gerakan yang mampu memberikan manfaat lingkungan sekaligus sosial dan ekonomi.Ke depan, ruang kolaborasi dapat diperluas melalui edukasi anak-anak, pengelolaan sampah, kegiatan seni, agroforestri, konservasi hutan, hingga perlindungan satwa liar.Dari satu kilogram sampah yang dikumpulkan, lahir sebuah pesan yang lebih besar: bahwa menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan memperkuat ekonomi lokal.Dan dari kopi Kerinci, gerakan itu kembali mengingatkan bahwa produk yang lahir dari alam hanya akan terus tumbuh apabila alam tempatnya berasal juga dijaga bersama.

Read More  

Admin Alko | 18/08/2026

KAYU ARO, KERINCI 15/8— Upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di kawasan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, terus diperkuat melalui gerakan gotong royong yang melibatkan berbagai pihak. Kegiatan ini tidak hanya menjadi aksi membersihkan sampah, tetapi juga bagian dari edukasi dan upaya membangun kesadaran bersama tentang pentingnya pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.Kegiatan tersebut melibatkan ALKO, Universitas Andalas, Universitas Jambi, Universitas Merangin, SDN 175 Batang Sangir, Komunitas CB, PSHT, Prima Agro, dan Gerakan Peduli Lingkungan Bersih (GPLBP), serta relawan dan masyarakat setempat.Kegiatan juga mendapat dukungan dari jejaring internasional, termasuk Uminomuko Coffee Jepang dan Resona Bank Jepang, yang memiliki perhatian terhadap pengembangan kopi, masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.Bagi ALKO, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga lingkungan di wilayah sentra kopi Kerinci. Persoalan sampah dipandang tidak dapat diselesaikan oleh satu kelompok saja, melainkan membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, komunitas, dunia pendidikan, pelaku usaha, hingga mitra pembangunan.Dari Aksi Bersih Menuju Sistem PengelolaanKepala Desa Kersituwo, Kecamatan Kayu Aro, Sigit Purnomo, mengapresiasi keterlibatan ALKO dan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut.Menurut Sigit, kegiatan gotong royong harus menjadi pintu masuk menuju langkah yang lebih konkret dan berkelanjutan.“Harapan kami tentunya tidak hanya pada saat ini saja kita melakukan pembersihan atau gotong royong. Langkah yang perlu kita tindak lanjuti adalah setelah gotong royong ini, apa yang akan kita tempuh untuk jangka panjang,” ujar Sigit.Ia berharap pemerintah daerah dan dinas terkait dapat mendukung program pengelolaan sampah setelah kegiatan bersih-bersih dilakukan.Menurutnya, mengangkut sampah ke tempat pembuangan akhir belum menyelesaikan persoalan secara mendasar.“Kalau kita mengumpulkan sampah, kemudian diambil pihak terkait, sifatnya kita hanya memindahkan. Kalau langkah strategisnya, bagusnya memang sampah itu dikelola,” katanya.Karena itu, Sigit membuka peluang pengembangan teknologi pengolahan sampah di kawasan Kayu Aro. Sampah yang telah dipilah dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna, termasuk RDF maupun pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot.Desa Dorong Sistem Jemput SampahPemerintah Desa Kersituwo juga telah memiliki gagasan untuk membangun sistem penjemputan sampah dari rumah warga.Sampah diharapkan dipilah sejak dari sumbernya, antara sampah organik dan anorganik. Masyarakat bahkan disebut siap memberikan kontribusi melalui swadaya atau retribusi untuk mendukung operasional petugas.Namun, menurut Sigit, masih diperlukan kepastian mengenai proses pengolahan setelah sampah dikumpulkan.“Yang kami khawatirkan, sampah ini nanti bisa dikelola atau dijemput oleh siapa. Ending-nya itu yang belum kami dapat solusinya,” ujarnya.Hal tersebut menunjukkan pentingnya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, mulai dari rumah tangga, pengumpulan, pemilahan, pengangkutan hingga pengolahan.Menjaga Lingkungan, Menjaga WisataKayu Aro memiliki lanskap yang menjadi bagian penting dari daya tarik Kerinci. Kawasan perkebunan, pegunungan, dan jalur menuju Gunung Kerinci menjadi aset lingkungan sekaligus potensi wisata yang perlu dijaga.Karena itu, kebersihan kawasan tidak hanya berkaitan dengan estetika, tetapi juga dengan kenyamanan wisatawan dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.Sigit mengajak wisatawan dan pendaki untuk membawa kembali sampah yang dihasilkan selama berada di kawasan Kayu Aro.“Kalau Anda datang ke Kersituwo ataupun sekitar wilayahnya, tolong sampah yang memang bisa dimusnahkan, tolong musnahkan. Yang bisa dibawa, tolong dibawa ke bawah. Terpenting jalur pendakian, tolong kita sama-sama menjaga,” katanya.Ia juga mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan apabila menemukan praktik pembuangan sampah sembarangan.Komunitas Konsisten Menjaga LingkunganAnggota GPLBP, Edwin Steven, mengatakan komunitasnya secara rutin melakukan kegiatan lingkungan, termasuk penanaman pohon dan aksi kebersihan.Penghijauan telah dilakukan di sekitar kawasan Kebun Teh hingga arah Batang Sangir dan Sungai Jambu. Sejumlah pohon yang ditanam komunitas tersebut kini telah berusia sekitar lima hingga enam tahun.Menurut Edwin, penghijauan dan kebersihan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.“Kalau buang sampah itu pada tempatnya. Jangan di tempat sembarangan, di pinggir jalan, karena menyusahkan banyak orang,” ujarnya.Ia juga mendorong pemerintah daerah dan dinas terkait agar lebih aktif menangani persoalan sampah.“Pemerintah harus lebih tegas lagi, lebih bergerak lagi untuk mengurus sampah bersama ini,” katanya.Edukasi Dimulai dari Anak-AnakKegiatan tersebut juga melibatkan pelajar sebagai bagian dari edukasi lingkungan sejak dini.Syafiq Reska Aditya, siswa SDN 175 Batang Sangir, mengaku senang mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan.“Seru,” kata Syafiq.Ia kemudian menyampaikan ajakan sederhana kepada teman-temannya agar tidak membuang sampah sembarangan.“Ayo kawan-kawan, jangan buang sampah. Buang sampah pada tempatnya, supaya Kayu Aro bersih dan sehat,” ujarnya.Keterlibatan anak-anak menjadi pengingat bahwa gerakan lingkungan tidak hanya berbicara mengenai penanganan sampah saat ini, tetapi juga membangun kebiasaan dan kesadaran generasi berikutnya.Kolaborasi untuk Lingkungan BerkelanjutanKegiatan gotong royong ini menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi lintas pihak dalam menjaga kawasan Kayu Aro.Bagi ALKO, isu lingkungan memiliki hubungan erat dengan keberlanjutan kopi dan kehidupan petani. Lingkungan yang terjaga akan mendukung keberlanjutan produksi pertanian sekaligus mempertahankan daya tarik kawasan Kerinci sebagai daerah wisata dan sentra kopi.Keterlibatan perguruan tinggi, sekolah, komunitas, pemerintah desa, pelaku usaha, serta mitra internasional menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dilakukan melalui kolaborasi.Dukungan Uminomuko Coffee Jepang dan Resona Bank Jepang juga menjadi bagian dari jejaring kerja sama yang mempertemukan isu kopi, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.Ke depan, kegiatan bersih-bersih diharapkan tidak berhenti sebagai aksi sesaat. Gerakan tersebut perlu dilanjutkan dengan edukasi, pemilahan sampah dari sumber, sistem pengumpulan, pengolahan, serta pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Kayu Aro.Gotong royong membersihkan sampah adalah langkah awal. Membangun sistem agar sampah tidak kembali menjadi persoalan adalah tantangan berikutnya. Karena itu, menjaga Kayu Aro tetap bersih, sehat, dan lestari membutuhkan komitmen dan kerja bersama dari semua pihak.

Read More  

Admin Alko | 15/08/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.