Kopi Kerinci Tak Lagi Sekadar Menembus Pasar Global, tetapi Memperkuat Posisi di Perdagangan Dunia

Admin Alko | 13/08/2026


KERINCI, KOMPAS.com — Kopi spesialti Kerinci dinilai telah berhasil menembus pasar global. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membawa kopi asal Kabupaten Kerinci, Jambi, ke pasar internasional, melainkan memperkuat posisi petani dan pelaku usaha dalam rantai perdagangan kopi dunia.

Hal itu mengemuka dalam Seminar Internasional “Petani Kopi Go Global” yang mengangkat tema “Positioning of Indonesia’s Kerinci Specialty Coffee in the World Trade II” dan “The Opportunities of Gen Z’s Lifestyle Shifts in Influencing the Global Economic Order”, Kamis (13/8/2026).

Seminar yang berlangsung di Pelangi Guest House, Kerinci, tersebut digelar secara hybrid, dengan menghadirkan narasumber dan peserta secara langsung maupun daring melalui Zoom.

Forum itu mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, stakeholder, pelaku usaha, akademisi, organisasi nonpemerintah (NGO), hingga penggiat kopi dan lingkungan.

Seminar dimoderatori Abdul Haris Zulkifli dan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Bagas Haspor, Katya Gorska dari Kindred Forest Inggris, Herlina, Agung Wibowo, Prayono Artyanto, Asep Muhammad Awaludin, P.A. QThink-X, serta Mitsuho Sigemura.

Bagas: Tantangan Berikutnya Memperkuat Posisi Petani

Bagas Haspor menekankan bahwa keberhasilan kopi Kerinci memasuki pasar global harus diikuti dengan upaya menjaga kualitas sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai nilai kopi.

“Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar menembus pasar global, tetapi bagaimana menjaga kualitas dan memperkuat posisi petani.”

Menurut Bagas, pasar global harus dipandang bukan hanya sebagai tempat menjual produk, tetapi juga sebagai ruang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dan kesejahteraan masyarakat yang berada di tingkat produksi.

Karena itu, hubungan antara petani, koperasi, pelaku usaha, pemerintah, dan pembeli internasional perlu dibangun secara berkelanjutan.


Katya: Pasar Inggris Mulai Mengenali Karakter Kopi Kerinci

Sementara itu, Katya Gorska dari Kindred Forest, Inggris, menyampaikan perkembangan penerimaan kopi Kerinci di pasar Inggris.

Menurut Katya, konsumen dan roaster di Inggris mulai mencari kopi dengan karakter rasa yang berbeda. Kopi Kerinci dinilai memiliki keunggulan karena menawarkan karakter fruity, acidity yang cerah, rasa manis, dan kompleksitas yang berbeda dari profil kopi Indonesia yang selama ini lebih dikenal melalui kopi Sumatera yang cenderung berat dan spicy.

Kindred Forest telah membeli kopi Kerinci sejak 2024. Volume pembelian kemudian meningkat dari beberapa ratus kilogram menjadi sekitar satu ton dan selanjutnya sekitar dua ton.

Peningkatan pembelian tersebut, kata Katya, menunjukkan adanya pertumbuhan permintaan terhadap kopi Kerinci.

Ia juga menjelaskan bahwa tiga proses pengolahan—washed, natural, dan honey—mendapat penerimaan positif. Namun, kopi dengan proses honey menjadi salah satu yang paling diminati karena karakter manis dan kompleksitas rasanya.

Bagi pasar Inggris, kata Katya, harga dan kualitas menjadi dua faktor utama dalam keputusan pembelian roaster. Selain itu, konsistensi kualitas, minimnya cacat biji, diferensiasi rasa, transparansi, dan ketertelusuran juga semakin penting.


Asep: Petani Harus Mendapat Nilai Tambah

Asep Muhammad Awaludin menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas petani agar tidak berhenti pada produksi bahan baku.

“Petani harus memiliki akses terhadap teknologi, pasar, modal, dan pengetahuan agar mendapatkan nilai tambah yang lebih besar.”

Menurut Asep, pengembangan kopi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pengolahan, pemasaran hingga penguatan posisi petani dalam rantai perdagangan.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan diversifikasi sumber pendapatan petani.

Konsep agroforestri menjadi salah satu pendekatan yang dinilai relevan karena memungkinkan petani mengombinasikan tanaman kopi dengan tanaman lain seperti alpukat maupun tanaman berkayu.

Dengan pola tersebut, petani dapat memperoleh sumber pendapatan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang sekaligus menjaga tutupan vegetasi di kawasan kebun.

Herlina: Perempuan Bukan Sekadar Pelengkap

Dalam forum tersebut, Herlina menyoroti besarnya peran perempuan dalam ekosistem kopi.

Ia menjelaskan, perempuan terlibat dalam berbagai tahapan, mulai dari penanaman, pemeliharaan, panen, pascapanen, perdagangan, pelatihan hingga manajemen.

“Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam ekosistem kopi. Mereka terlibat dari budidaya hingga manajemen dan pengambilan keputusan.”

Herlina juga menyinggung masih adanya kesenjangan dalam kepemilikan dan pengelolaan usaha kopi oleh perempuan. Karena itu, pemberdayaan perempuan perlu diarahkan pada peningkatan akses terhadap lahan, modal, teknologi, pengetahuan dan ruang pengambilan keputusan.

Pembentukan kelompok perempuan juga menjadi salah satu pendekatan yang dilakukan agar perempuan memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dan meningkatkan kapasitas secara lebih bebas.

QThink-X: Ketertelusuran Menjadi Nilai Tambah

Sementara itu, P.A. QThink-X memaparkan pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat ketertelusuran kopi.

Teknologi QThink-X dikembangkan untuk mendokumentasikan perjalanan kopi dari kebun, proses pengolahan hingga produk yang sampai ke konsumen.

“Ketertelusuran menjadi fondasi untuk membangun kepercayaan pasar dan meningkatkan nilai tambah kopi.”

Melalui sistem tersebut, informasi mengenai asal-usul kopi, proses produksi dan perjalanan komoditas dapat diketahui secara lebih transparan.

Pendekatan itu dinilai semakin relevan karena pasar internasional tidak hanya mempertimbangkan rasa dan kualitas kopi, tetapi juga aspek keberlanjutan, lingkungan, kesejahteraan petani, serta transparansi rantai pasok.

Agroforestri dan Cerita Kopi Menjadi Kekuatan

Dalam seminar juga dibahas bahwa kopi Kerinci memiliki cerita yang kuat karena dikembangkan melalui pendekatan yang mengedepankan kelestarian lingkungan.

Kopi yang dibudidayakan dengan sistem agroforestri tidak hanya menghasilkan biji kopi, tetapi juga mempertahankan keberadaan pohon dan tanaman lain di dalam ekosistem kebun.

Konsep tersebut sekaligus memberikan peluang diversifikasi pendapatan bagi petani.

Tanaman kopi dapat menjadi sumber pendapatan utama, sementara tanaman buah dan tanaman berkayu memberikan sumber pendapatan pada periode berbeda.

Dengan demikian, kebun kopi tidak hanya dilihat sebagai lahan produksi satu komoditas, tetapi sebagai ekosistem ekonomi yang memberikan manfaat dalam jangka panjang.


Seminar Menyatukan Kepentingan Kopi, Petani, dan Lingkungan

Seminar internasional tersebut pada akhirnya memperlihatkan bahwa pengembangan kopi Kerinci tidak dapat dipisahkan dari isu petani, perdagangan, teknologi, perempuan, generasi muda dan lingkungan.

Kopi Kerinci sudah memiliki akses ke pasar internasional. Persoalan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan kualitas, memenuhi kebutuhan pembeli, memperkuat ketertelusuran, menciptakan diferensiasi produk, serta memastikan manfaat ekonomi perdagangan global semakin besar dirasakan petani.

Forum yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, NGO, penggiat kopi dan lingkungan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman dari tingkat kebun dengan kebutuhan pasar internasional.

Dengan fondasi kualitas kopi, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, peran perempuan dan teknologi ketertelusuran, kopi Kerinci memiliki modal untuk tidak hanya hadir di pasar global, tetapi juga membangun hubungan perdagangan yang lebih berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat di daerah asalnya.

Share this :
Share this :

Blog

Other News recommendations for you

Blog

Other News recommendations for you

KERINCI, KOMPAS.com — Kopi spesialti Kerinci dinilai telah berhasil menembus pasar global. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membawa kopi asal Kabupaten Kerinci, Jambi, ke pasar internasional, melainkan memperkuat posisi petani dan pelaku usaha dalam rantai perdagangan kopi dunia.Hal itu mengemuka dalam Seminar Internasional “Petani Kopi Go Global” yang mengangkat tema “Positioning of Indonesia’s Kerinci Specialty Coffee in the World Trade II” dan “The Opportunities of Gen Z’s Lifestyle Shifts in Influencing the Global Economic Order”, Kamis (13/8/2026).Seminar yang berlangsung di Pelangi Guest House, Kerinci, tersebut digelar secara hybrid, dengan menghadirkan narasumber dan peserta secara langsung maupun daring melalui Zoom.Forum itu mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, stakeholder, pelaku usaha, akademisi, organisasi nonpemerintah (NGO), hingga penggiat kopi dan lingkungan.Seminar dimoderatori Abdul Haris Zulkifli dan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Bagas Haspor, Katya Gorska dari Kindred Forest Inggris, Herlina, Agung Wibowo, Prayono Artyanto, Asep Muhammad Awaludin, P.A. QThink-X, serta Mitsuho Sigemura.Bagas: Tantangan Berikutnya Memperkuat Posisi PetaniBagas Haspor menekankan bahwa keberhasilan kopi Kerinci memasuki pasar global harus diikuti dengan upaya menjaga kualitas sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai nilai kopi.“Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar menembus pasar global, tetapi bagaimana menjaga kualitas dan memperkuat posisi petani.”Menurut Bagas, pasar global harus dipandang bukan hanya sebagai tempat menjual produk, tetapi juga sebagai ruang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dan kesejahteraan masyarakat yang berada di tingkat produksi.Karena itu, hubungan antara petani, koperasi, pelaku usaha, pemerintah, dan pembeli internasional perlu dibangun secara berkelanjutan.Katya: Pasar Inggris Mulai Mengenali Karakter Kopi KerinciSementara itu, Katya Gorska dari Kindred Forest, Inggris, menyampaikan perkembangan penerimaan kopi Kerinci di pasar Inggris.Menurut Katya, konsumen dan roaster di Inggris mulai mencari kopi dengan karakter rasa yang berbeda. Kopi Kerinci dinilai memiliki keunggulan karena menawarkan karakter fruity, acidity yang cerah, rasa manis, dan kompleksitas yang berbeda dari profil kopi Indonesia yang selama ini lebih dikenal melalui kopi Sumatera yang cenderung berat dan spicy.Kindred Forest telah membeli kopi Kerinci sejak 2024. Volume pembelian kemudian meningkat dari beberapa ratus kilogram menjadi sekitar satu ton dan selanjutnya sekitar dua ton.Peningkatan pembelian tersebut, kata Katya, menunjukkan adanya pertumbuhan permintaan terhadap kopi Kerinci.Ia juga menjelaskan bahwa tiga proses pengolahan—washed, natural, dan honey—mendapat penerimaan positif. Namun, kopi dengan proses honey menjadi salah satu yang paling diminati karena karakter manis dan kompleksitas rasanya.Bagi pasar Inggris, kata Katya, harga dan kualitas menjadi dua faktor utama dalam keputusan pembelian roaster. Selain itu, konsistensi kualitas, minimnya cacat biji, diferensiasi rasa, transparansi, dan ketertelusuran juga semakin penting.Asep: Petani Harus Mendapat Nilai TambahAsep Muhammad Awaludin menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas petani agar tidak berhenti pada produksi bahan baku.“Petani harus memiliki akses terhadap teknologi, pasar, modal, dan pengetahuan agar mendapatkan nilai tambah yang lebih besar.”Menurut Asep, pengembangan kopi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pengolahan, pemasaran hingga penguatan posisi petani dalam rantai perdagangan.Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan diversifikasi sumber pendapatan petani.Konsep agroforestri menjadi salah satu pendekatan yang dinilai relevan karena memungkinkan petani mengombinasikan tanaman kopi dengan tanaman lain seperti alpukat maupun tanaman berkayu.Dengan pola tersebut, petani dapat memperoleh sumber pendapatan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang sekaligus menjaga tutupan vegetasi di kawasan kebun.Herlina: Perempuan Bukan Sekadar PelengkapDalam forum tersebut, Herlina menyoroti besarnya peran perempuan dalam ekosistem kopi.Ia menjelaskan, perempuan terlibat dalam berbagai tahapan, mulai dari penanaman, pemeliharaan, panen, pascapanen, perdagangan, pelatihan hingga manajemen.“Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam ekosistem kopi. Mereka terlibat dari budidaya hingga manajemen dan pengambilan keputusan.”Herlina juga menyinggung masih adanya kesenjangan dalam kepemilikan dan pengelolaan usaha kopi oleh perempuan. Karena itu, pemberdayaan perempuan perlu diarahkan pada peningkatan akses terhadap lahan, modal, teknologi, pengetahuan dan ruang pengambilan keputusan.Pembentukan kelompok perempuan juga menjadi salah satu pendekatan yang dilakukan agar perempuan memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dan meningkatkan kapasitas secara lebih bebas.QThink-X: Ketertelusuran Menjadi Nilai TambahSementara itu, P.A. QThink-X memaparkan pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat ketertelusuran kopi.Teknologi QThink-X dikembangkan untuk mendokumentasikan perjalanan kopi dari kebun, proses pengolahan hingga produk yang sampai ke konsumen.“Ketertelusuran menjadi fondasi untuk membangun kepercayaan pasar dan meningkatkan nilai tambah kopi.”Melalui sistem tersebut, informasi mengenai asal-usul kopi, proses produksi dan perjalanan komoditas dapat diketahui secara lebih transparan.Pendekatan itu dinilai semakin relevan karena pasar internasional tidak hanya mempertimbangkan rasa dan kualitas kopi, tetapi juga aspek keberlanjutan, lingkungan, kesejahteraan petani, serta transparansi rantai pasok.Agroforestri dan Cerita Kopi Menjadi KekuatanDalam seminar juga dibahas bahwa kopi Kerinci memiliki cerita yang kuat karena dikembangkan melalui pendekatan yang mengedepankan kelestarian lingkungan.Kopi yang dibudidayakan dengan sistem agroforestri tidak hanya menghasilkan biji kopi, tetapi juga mempertahankan keberadaan pohon dan tanaman lain di dalam ekosistem kebun.Konsep tersebut sekaligus memberikan peluang diversifikasi pendapatan bagi petani.Tanaman kopi dapat menjadi sumber pendapatan utama, sementara tanaman buah dan tanaman berkayu memberikan sumber pendapatan pada periode berbeda.Dengan demikian, kebun kopi tidak hanya dilihat sebagai lahan produksi satu komoditas, tetapi sebagai ekosistem ekonomi yang memberikan manfaat dalam jangka panjang.Seminar Menyatukan Kepentingan Kopi, Petani, dan LingkunganSeminar internasional tersebut pada akhirnya memperlihatkan bahwa pengembangan kopi Kerinci tidak dapat dipisahkan dari isu petani, perdagangan, teknologi, perempuan, generasi muda dan lingkungan.Kopi Kerinci sudah memiliki akses ke pasar internasional. Persoalan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan kualitas, memenuhi kebutuhan pembeli, memperkuat ketertelusuran, menciptakan diferensiasi produk, serta memastikan manfaat ekonomi perdagangan global semakin besar dirasakan petani.Forum yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, NGO, penggiat kopi dan lingkungan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman dari tingkat kebun dengan kebutuhan pasar internasional.Dengan fondasi kualitas kopi, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, peran perempuan dan teknologi ketertelusuran, kopi Kerinci memiliki modal untuk tidak hanya hadir di pasar global, tetapi juga membangun hubungan perdagangan yang lebih berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat di daerah asalnya.

Read More  

Admin Alko | 13/08/2026

Aulia SyarifaPenyuluhan PertanianFakultas PertanianUniversitas AndalasAda banyak hal yang saya temukan selama menjalani magang di PT ALKO Sumatra Kopi. Bukan hanya tentang kopi, proses pengolahan, maupun dunia kerja, tetapi juga tentang bagaimana sebuah lingkungan kerja dapat menjadi ruang untuk belajar, bertumbuh, dan menemukan pengalaman-pengalaman baru yang mungkin tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya berkesempatan mengikuti pelatihan pengolahan sampah anorganik. Dalam kegiatan tersebut, kami belajar memanfaatkan limbah kemasan Masako yang sudah tidak terpakai untuk diubah menjadi sebuah produk yang memiliki nilai guna, yaitu tas. Dari sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai sampah, kami belajar menciptakan sesuatu yang dapat kembali digunakan. Sederhana, tetapi memiliki makna yang begitu besar.Kegiatan ini menyadarkan saya bahwa nilai sebuah benda tidak selalu berakhir ketika fungsi awalnya selesai. Dengan kreativitas, keterampilan, dan kepedulian, sesuatu yang dianggap tidak berguna dapat diberikan kesempatan kedua untuk menjadi sesuatu yang bernilai. Begitu pula dengan sampah—ketika dikelola dengan baik, ia bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi peluang untuk menciptakan karya dan nilai ekonomi.Yang membuat pengalaman ini semakin berharga adalah kesempatan yang diberikan kepada saya untuk turut memandu jalannya acara. Berdiri di depan peserta, mengatur alur kegiatan, menyampaikan informasi, dan memastikan acara berjalan dengan baik menjadi pengalaman yang secara perlahan membangun keberanian dalam diri saya. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut terlihat sederhana, tetapi bagi saya, kesempatan itu menjadi salah satu ruang untuk keluar dari zona nyaman dan belajar mempercayai kemampuan diri sendiri.Saya bersyukur karena selama berada di PT ALKO Sumatra Kopi, saya tidak hanya ditempatkan sebagai seseorang yang datang untuk belajar tentang pekerjaan, tetapi juga diberikan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan. PT ALKO Sumatra Kopi bagi saya bukan sekadar tempat melaksanakan kewajiban magang, melainkan tempat di mana saya mendapatkan banyak pelajaran tentang kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, hingga keberanian untuk mengambil peran.Di tengah kesibukan dan berbagai aktivitas selama magang, saya semakin memahami bahwa keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya diukur dari produk yang dihasilkan, tetapi juga dari nilai yang mampu diberikan kepada lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. PT ALKO Sumatra Kopi menunjukkan bahwa dunia usaha dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial dan lingkungan. Hal tersebut menjadi salah satu hal yang membuat pengalaman magang saya terasa semakin bermakna.Bagi saya, pelatihan pengolahan sampah ini bukan sekadar tentang membuat tas dari kemasan bekas. Lebih dari itu, kegiatan ini mengajarkan tentang cara melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda: bahwa di balik sesuatu yang dianggap tidak bernilai, selalu ada kemungkinan untuk menciptakan nilai baru.Dan mungkin, begitulah perjalanan magang saya di PT ALKO Sumatra Kopi. Saya datang untuk belajar, tetapi justru pulang membawa jauh lebih banyak hal—pengalaman, keberanian, keterampilan, relasi, dan cerita yang akan saya ingat. Setiap kegiatan menjadi bagian kecil dari proses panjang dalam membentuk diri saya.Karena pada akhirnya, magang bukan hanya tentang apa yang kita kerjakan, tetapi tentang siapa diri kita setelah melewati semua pengalaman itu. Dan PT ALKO Sumatra Kopi telah menjadi salah satu tempat yang memberi saya ruang untuk tumbuh, mencoba, berkontribusi, dan belajar bahwa setiap pengalaman, sekecil apa pun, selalu memiliki nilai ketika kita mampu memaknainya.

Read More  

Admin Alko | 09/08/2026

KERINCI – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah terus dilakukan melalui kegiatan Pelatihan Pengolahan Sampah "Meningkatkan Kapasitas dan Komunitas dalam Pengolahan Sampah" yang diselenggarakan pada Sabtu, 1 Agustus 2026, di Desa Batang Sangir, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci.Pelatihan ini menjadi wadah edukasi bagi masyarakat untuk memahami pentingnya pengelolaan sampah berbasis komunitas sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari sampah yang dihasilkan.Kegiatan dibuka oleh Kepala Desa Batang Sangir, yang sekaligus menjadi narasumber utama dengan materi mengenai pengolahan sampah organik. Dalam paparannya, Kepala Desa menekankan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Menurutnya, sampah organik, khususnya limbah dapur yang setiap hari dihasilkan oleh rumah tangga, memiliki potensi besar untuk diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung sektor pertanian, perkebunan, dan pekarangan pangan keluarga.Sesi praktik kemudian dilanjutkan oleh Ibu Kaliem, yang memberikan pelatihan mengenai pengolahan sampah nonorganik. Peserta diperkenalkan pada teknik pemilahan, pemanfaatan kembali (reuse), hingga pengolahan sampah plastik menjadi berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi, seperti tas belanja, keranjang, dompet, tempat tisu, wadah serbaguna, serta berbagai produk kreatif lainnya yang berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.Pelatihan berlangsung secara interaktif dengan menggabungkan penyampaian materi dan praktik langsung sehingga peserta dapat memahami proses pengelolaan sampah secara aplikatif.Kegiatan ini secara khusus mendukung penguatan kapasitas Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai garda terdepan dalam membangun budaya peduli lingkungan di tingkat rumah tangga. Dengan pengetahuan yang diperoleh, para anggota KWT diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya memilah sampah, mengurangi limbah yang berakhir di tempat pembuangan, serta memanfaatkan sampah sebagai sumber daya yang bernilai.Pelatihan diikuti oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Maju Bareng, KWT Bina Tani, KWT Sekar Tani, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci. Kolaborasi antara kelompok perempuan tani dan mahasiswa diharapkan mampu memperluas penyebaran pengetahuan mengenai pengelolaan sampah hingga ke tingkat keluarga dan masyarakat.Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam mengolah sampah, tetapi juga pemahaman bahwa pengelolaan sampah merupakan bagian penting dari pembangunan ekonomi sirkular, di mana limbah dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.Penyelenggara berharap pelatihan ini menjadi langkah awal dalam membangun gerakan masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan. Dengan meningkatnya kapasitas komunitas dalam mengelola sampah secara mandiri, Desa Batang Sangir diharapkan mampu menjadi contoh desa yang bersih, produktif, dan berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah desa, kelompok masyarakat, lembaga pendidikan, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan.

Read More  

Admin Alko | 03/08/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.