KAYU ARO, KERINCI 15/8— Upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di kawasan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, terus diperkuat melalui gerakan gotong royong yang melibatkan berbagai pihak. Kegiatan ini tidak hanya menjadi aksi membersihkan sampah, tetapi juga bagian dari edukasi dan upaya membangun kesadaran bersama tentang pentingnya pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Kegiatan tersebut melibatkan ALKO, Universitas Andalas, Universitas Jambi, Universitas Merangin, SDN 175 Batang Sangir, Komunitas CB, PSHT, Prima Agro, dan Gerakan Peduli Lingkungan Bersih (GPLBP), serta relawan dan masyarakat setempat.
Kegiatan juga mendapat dukungan dari jejaring internasional, termasuk Uminomuko Coffee Jepang dan Resona Bank Jepang, yang memiliki perhatian terhadap pengembangan kopi, masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.
Bagi ALKO, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga lingkungan di wilayah sentra kopi Kerinci. Persoalan sampah dipandang tidak dapat diselesaikan oleh satu kelompok saja, melainkan membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, komunitas, dunia pendidikan, pelaku usaha, hingga mitra pembangunan.

Kepala Desa Kersituwo, Kecamatan Kayu Aro, Sigit Purnomo, mengapresiasi keterlibatan ALKO dan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut.
Menurut Sigit, kegiatan gotong royong harus menjadi pintu masuk menuju langkah yang lebih konkret dan berkelanjutan.
“Harapan kami tentunya tidak hanya pada saat ini saja kita melakukan pembersihan atau gotong royong. Langkah yang perlu kita tindak lanjuti adalah setelah gotong royong ini, apa yang akan kita tempuh untuk jangka panjang,” ujar Sigit.
Ia berharap pemerintah daerah dan dinas terkait dapat mendukung program pengelolaan sampah setelah kegiatan bersih-bersih dilakukan.
Menurutnya, mengangkut sampah ke tempat pembuangan akhir belum menyelesaikan persoalan secara mendasar.
“Kalau kita mengumpulkan sampah, kemudian diambil pihak terkait, sifatnya kita hanya memindahkan. Kalau langkah strategisnya, bagusnya memang sampah itu dikelola,” katanya.
Karena itu, Sigit membuka peluang pengembangan teknologi pengolahan sampah di kawasan Kayu Aro. Sampah yang telah dipilah dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna, termasuk RDF maupun pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot.
Pemerintah Desa Kersituwo juga telah memiliki gagasan untuk membangun sistem penjemputan sampah dari rumah warga.
Sampah diharapkan dipilah sejak dari sumbernya, antara sampah organik dan anorganik. Masyarakat bahkan disebut siap memberikan kontribusi melalui swadaya atau retribusi untuk mendukung operasional petugas.
Namun, menurut Sigit, masih diperlukan kepastian mengenai proses pengolahan setelah sampah dikumpulkan.
“Yang kami khawatirkan, sampah ini nanti bisa dikelola atau dijemput oleh siapa. Ending-nya itu yang belum kami dapat solusinya,” ujarnya.
Hal tersebut menunjukkan pentingnya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, mulai dari rumah tangga, pengumpulan, pemilahan, pengangkutan hingga pengolahan.

Kayu Aro memiliki lanskap yang menjadi bagian penting dari daya tarik Kerinci. Kawasan perkebunan, pegunungan, dan jalur menuju Gunung Kerinci menjadi aset lingkungan sekaligus potensi wisata yang perlu dijaga.
Karena itu, kebersihan kawasan tidak hanya berkaitan dengan estetika, tetapi juga dengan kenyamanan wisatawan dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.
Sigit mengajak wisatawan dan pendaki untuk membawa kembali sampah yang dihasilkan selama berada di kawasan Kayu Aro.
“Kalau Anda datang ke Kersituwo ataupun sekitar wilayahnya, tolong sampah yang memang bisa dimusnahkan, tolong musnahkan. Yang bisa dibawa, tolong dibawa ke bawah. Terpenting jalur pendakian, tolong kita sama-sama menjaga,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan apabila menemukan praktik pembuangan sampah sembarangan.
Anggota GPLBP, Edwin Steven, mengatakan komunitasnya secara rutin melakukan kegiatan lingkungan, termasuk penanaman pohon dan aksi kebersihan.
Penghijauan telah dilakukan di sekitar kawasan Kebun Teh hingga arah Batang Sangir dan Sungai Jambu. Sejumlah pohon yang ditanam komunitas tersebut kini telah berusia sekitar lima hingga enam tahun.
Menurut Edwin, penghijauan dan kebersihan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
“Kalau buang sampah itu pada tempatnya. Jangan di tempat sembarangan, di pinggir jalan, karena menyusahkan banyak orang,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah dan dinas terkait agar lebih aktif menangani persoalan sampah.
“Pemerintah harus lebih tegas lagi, lebih bergerak lagi untuk mengurus sampah bersama ini,” katanya.
Kegiatan tersebut juga melibatkan pelajar sebagai bagian dari edukasi lingkungan sejak dini.
Syafiq Reska Aditya, siswa SDN 175 Batang Sangir, mengaku senang mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan.
“Seru,” kata Syafiq.
Ia kemudian menyampaikan ajakan sederhana kepada teman-temannya agar tidak membuang sampah sembarangan.
“Ayo kawan-kawan, jangan buang sampah. Buang sampah pada tempatnya, supaya Kayu Aro bersih dan sehat,” ujarnya.
Keterlibatan anak-anak menjadi pengingat bahwa gerakan lingkungan tidak hanya berbicara mengenai penanganan sampah saat ini, tetapi juga membangun kebiasaan dan kesadaran generasi berikutnya.
Kegiatan gotong royong ini menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi lintas pihak dalam menjaga kawasan Kayu Aro.
Bagi ALKO, isu lingkungan memiliki hubungan erat dengan keberlanjutan kopi dan kehidupan petani. Lingkungan yang terjaga akan mendukung keberlanjutan produksi pertanian sekaligus mempertahankan daya tarik kawasan Kerinci sebagai daerah wisata dan sentra kopi.
Keterlibatan perguruan tinggi, sekolah, komunitas, pemerintah desa, pelaku usaha, serta mitra internasional menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dilakukan melalui kolaborasi.
Dukungan Uminomuko Coffee Jepang dan Resona Bank Jepang juga menjadi bagian dari jejaring kerja sama yang mempertemukan isu kopi, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.
Ke depan, kegiatan bersih-bersih diharapkan tidak berhenti sebagai aksi sesaat. Gerakan tersebut perlu dilanjutkan dengan edukasi, pemilahan sampah dari sumber, sistem pengumpulan, pengolahan, serta pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Kayu Aro.
Gotong royong membersihkan sampah adalah langkah awal. Membangun sistem agar sampah tidak kembali menjadi persoalan adalah tantangan berikutnya. Karena itu, menjaga Kayu Aro tetap bersih, sehat, dan lestari membutuhkan komitmen dan kerja bersama dari semua pihak.