KERINCI, KOMPAS.com — Kopi spesialti Kerinci dinilai telah berhasil menembus pasar global. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membawa kopi asal Kabupaten Kerinci, Jambi, ke pasar internasional, melainkan memperkuat posisi petani dan pelaku usaha dalam rantai perdagangan kopi dunia.Hal itu mengemuka dalam Seminar Internasional “Petani Kopi Go Global” yang mengangkat tema “Positioning of Indonesia’s Kerinci Specialty Coffee in the World Trade II” dan “The Opportunities of Gen Z’s Lifestyle Shifts in Influencing the Global Economic Order”, Kamis (13/8/2026).Seminar yang berlangsung di Pelangi Guest House, Kerinci, tersebut digelar secara hybrid, dengan menghadirkan narasumber dan peserta secara langsung maupun daring melalui Zoom.Forum itu mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, stakeholder, pelaku usaha, akademisi, organisasi nonpemerintah (NGO), hingga penggiat kopi dan lingkungan.Seminar dimoderatori Abdul Haris Zulkifli dan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Bagas Haspor, Katya Gorska dari Kindred Forest Inggris, Herlina, Agung Wibowo, Prayono Artyanto, Asep Muhammad Awaludin, P.A. QThink-X, serta Mitsuho Sigemura.Bagas: Tantangan Berikutnya Memperkuat Posisi PetaniBagas Haspor menekankan bahwa keberhasilan kopi Kerinci memasuki pasar global harus diikuti dengan upaya menjaga kualitas sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai nilai kopi.“Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar menembus pasar global, tetapi bagaimana menjaga kualitas dan memperkuat posisi petani.”Menurut Bagas, pasar global harus dipandang bukan hanya sebagai tempat menjual produk, tetapi juga sebagai ruang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dan kesejahteraan masyarakat yang berada di tingkat produksi.Karena itu, hubungan antara petani, koperasi, pelaku usaha, pemerintah, dan pembeli internasional perlu dibangun secara berkelanjutan.Katya: Pasar Inggris Mulai Mengenali Karakter Kopi KerinciSementara itu, Katya Gorska dari Kindred Forest, Inggris, menyampaikan perkembangan penerimaan kopi Kerinci di pasar Inggris.Menurut Katya, konsumen dan roaster di Inggris mulai mencari kopi dengan karakter rasa yang berbeda. Kopi Kerinci dinilai memiliki keunggulan karena menawarkan karakter fruity, acidity yang cerah, rasa manis, dan kompleksitas yang berbeda dari profil kopi Indonesia yang selama ini lebih dikenal melalui kopi Sumatera yang cenderung berat dan spicy.Kindred Forest telah membeli kopi Kerinci sejak 2024. Volume pembelian kemudian meningkat dari beberapa ratus kilogram menjadi sekitar satu ton dan selanjutnya sekitar dua ton.Peningkatan pembelian tersebut, kata Katya, menunjukkan adanya pertumbuhan permintaan terhadap kopi Kerinci.Ia juga menjelaskan bahwa tiga proses pengolahan—washed, natural, dan honey—mendapat penerimaan positif. Namun, kopi dengan proses honey menjadi salah satu yang paling diminati karena karakter manis dan kompleksitas rasanya.Bagi pasar Inggris, kata Katya, harga dan kualitas menjadi dua faktor utama dalam keputusan pembelian roaster. Selain itu, konsistensi kualitas, minimnya cacat biji, diferensiasi rasa, transparansi, dan ketertelusuran juga semakin penting.Asep: Petani Harus Mendapat Nilai TambahAsep Muhammad Awaludin menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas petani agar tidak berhenti pada produksi bahan baku.“Petani harus memiliki akses terhadap teknologi, pasar, modal, dan pengetahuan agar mendapatkan nilai tambah yang lebih besar.”Menurut Asep, pengembangan kopi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pengolahan, pemasaran hingga penguatan posisi petani dalam rantai perdagangan.Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan diversifikasi sumber pendapatan petani.Konsep agroforestri menjadi salah satu pendekatan yang dinilai relevan karena memungkinkan petani mengombinasikan tanaman kopi dengan tanaman lain seperti alpukat maupun tanaman berkayu.Dengan pola tersebut, petani dapat memperoleh sumber pendapatan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang sekaligus menjaga tutupan vegetasi di kawasan kebun.Herlina: Perempuan Bukan Sekadar PelengkapDalam forum tersebut, Herlina menyoroti besarnya peran perempuan dalam ekosistem kopi.Ia menjelaskan, perempuan terlibat dalam berbagai tahapan, mulai dari penanaman, pemeliharaan, panen, pascapanen, perdagangan, pelatihan hingga manajemen.“Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam ekosistem kopi. Mereka terlibat dari budidaya hingga manajemen dan pengambilan keputusan.”Herlina juga menyinggung masih adanya kesenjangan dalam kepemilikan dan pengelolaan usaha kopi oleh perempuan. Karena itu, pemberdayaan perempuan perlu diarahkan pada peningkatan akses terhadap lahan, modal, teknologi, pengetahuan dan ruang pengambilan keputusan.Pembentukan kelompok perempuan juga menjadi salah satu pendekatan yang dilakukan agar perempuan memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dan meningkatkan kapasitas secara lebih bebas.QThink-X: Ketertelusuran Menjadi Nilai TambahSementara itu, P.A. QThink-X memaparkan pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat ketertelusuran kopi.Teknologi QThink-X dikembangkan untuk mendokumentasikan perjalanan kopi dari kebun, proses pengolahan hingga produk yang sampai ke konsumen.“Ketertelusuran menjadi fondasi untuk membangun kepercayaan pasar dan meningkatkan nilai tambah kopi.”Melalui sistem tersebut, informasi mengenai asal-usul kopi, proses produksi dan perjalanan komoditas dapat diketahui secara lebih transparan.Pendekatan itu dinilai semakin relevan karena pasar internasional tidak hanya mempertimbangkan rasa dan kualitas kopi, tetapi juga aspek keberlanjutan, lingkungan, kesejahteraan petani, serta transparansi rantai pasok.Agroforestri dan Cerita Kopi Menjadi KekuatanDalam seminar juga dibahas bahwa kopi Kerinci memiliki cerita yang kuat karena dikembangkan melalui pendekatan yang mengedepankan kelestarian lingkungan.Kopi yang dibudidayakan dengan sistem agroforestri tidak hanya menghasilkan biji kopi, tetapi juga mempertahankan keberadaan pohon dan tanaman lain di dalam ekosistem kebun.Konsep tersebut sekaligus memberikan peluang diversifikasi pendapatan bagi petani.Tanaman kopi dapat menjadi sumber pendapatan utama, sementara tanaman buah dan tanaman berkayu memberikan sumber pendapatan pada periode berbeda.Dengan demikian, kebun kopi tidak hanya dilihat sebagai lahan produksi satu komoditas, tetapi sebagai ekosistem ekonomi yang memberikan manfaat dalam jangka panjang.Seminar Menyatukan Kepentingan Kopi, Petani, dan LingkunganSeminar internasional tersebut pada akhirnya memperlihatkan bahwa pengembangan kopi Kerinci tidak dapat dipisahkan dari isu petani, perdagangan, teknologi, perempuan, generasi muda dan lingkungan.Kopi Kerinci sudah memiliki akses ke pasar internasional. Persoalan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan kualitas, memenuhi kebutuhan pembeli, memperkuat ketertelusuran, menciptakan diferensiasi produk, serta memastikan manfaat ekonomi perdagangan global semakin besar dirasakan petani.Forum yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, NGO, penggiat kopi dan lingkungan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman dari tingkat kebun dengan kebutuhan pasar internasional.Dengan fondasi kualitas kopi, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, peran perempuan dan teknologi ketertelusuran, kopi Kerinci memiliki modal untuk tidak hanya hadir di pasar global, tetapi juga membangun hubungan perdagangan yang lebih berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat di daerah asalnya.