ALKO Sumatra Kopi: kopi specialty Arabika dan Robusta dari Kerinci, Jambi, Indonesia

About Us

Preserves Nature and Empowers People

ALKO memberikan pengetahuan dan teknologi agribisnis kepada para petani kopi di kawasan Gunung Kerinci, dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi, kualitas dan nilai produk mereka, dan untuk memperluas pasar global (Ekspor), Serta Pelestarian alam dan ALKO secara konsisten memberdayakan kegiatan masyarakat, salah satunya dengan mengadakan pelatihan gratis bagi petani tentang kopi GAP (Good Agriculture Practice), mulai dari pola tanam hingga pasca panen, termasuk melakukan pendampingan usaha kepada kelompok tani wanita.

Read More  

Hadir sebagai solusi untuk Petani dan Industri Kopi.

Berdiri sebagai Koperasi Alam Korintji INT pada 2014 yang fokus pada pengembangan pertanian Kopi di Kerinci  dengan dukungan program pemberdayaan WWF. ALKO bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan teknologi agribisnis kepada para petani kopi di kawasan Gunung Kerinci, dalam rangka meningkatkan kapasitas petani, produksi, kualitas dan nilai produk mereka, dan untuk memperluas pasar global (Ekspor). Pada Tahun 2017 mendirikan perusahaan  ALKO SUMATRA KOPI sebagai devisi unit usaha yang melakukan kegiatan bisnis kopi koperasi.

Visi utama ALKO adalah Menjadi Produser kopi speciality untuk global yang mengutamakan prinsif Ekonomi Hijau, Pelestarian Alam dan Pemberdayaan Masyarakat, pada awal berdiri dengan sedikitnya 625 keluarga petani yang mencakup 416Ha dari total luas lahan pertanian kopi arabika di 24 Desa, juga memiliki koordinat lahan petani yang akurat, untuk ketelusuran dan untuk memastikan tidak ada petani yang bertani di kawasan hutan lindung dan / atau Taman Nasional Kerinci Seblat. Tahun 2024 perluasan keanggotan telah berada di 8 provinsi penghasil kopi di Indonesia dengan jumlah anggota 9181 petani dan dengan luasan 710ha kopi Arabika dan 6751 ha Robusta.

Why Choose Us

Kami memproduksi kopi dengan kualitas specialty dan menerapkan prisip ketelusuran berbasis blockchain untuk pertanian kopi yang keberlanjutan

Our Product

Our Product

Our Client

Brand yang telah mempercayai kami

(USA)

(USA)

(USA)

(France)

(UK)

(New Zealand)

(USA)

(USA)

(USA)

(France)

(UK)

(New Zealand)

Menyajikan biji kopi ke roastery di beberapa negara dan lebih dari +50 brand yang tersebar di seluruh dunia

Menyajikan biji kopi ke roastery di beberapa negara dan lebih dari +50 brand yang tersebar di seluruh dunia

Our Farmers

1.516 petani kopi Arabika dan 7665 petani kopi Robsuta, Arabika 710 hektar dan lahan Robusta 6751 hektar Telah mendampingi petani yang tersebar di 8 provinsi di Indonesia

Ekosistem Koperasi Kopi Alam Korintji dimulai dari Petani sebagai Anggota dan member koperasi, lalu memiliki unit usaha berbentuk perusahaan, memiliki mitra kerja baik instansi atau lembaga kemasyarakatan lainnya dan tergabung dalam kolaborasi satu komunitas ALKO. Koperasi ALKO sangat trasparan memberikan informasi pangsa pasar dan harga Komoditas Kopi kepada petani kopi di Kerinci, berupaya meningkatkan pengetahuan petani anggota Perkumpulan dan masyarakat dengan pengetahuan wirausaha dan pengembangan teknologi dalam pertaniannya untuk memberikan nilai tambah kepada petani.

Blockchain

Meningkatkan pengalaman pelanggan untuk mengetahui perjalanan kopi

Dengan penerapan teknologi blockchain modern, menghadirkan Aplikasi Traceability kopi sejak 2019 ALKO kini menyediakan data yang dapat dilacak secara terbuka dan transparan sebagai kisah unik untuk melengkapi setiap kopi yang diproduksi dan dijualnya, dari Petani, lokasi kebun, waktu proses dan hingga perjalan kopi ke secangkir seduhan, hingga memberi tips langsung ke petani.

Our Program

Peningaktan kapasistas petani, membangung ekosistem serta pengembangan Ekonomi hijau, berkelanjutan, pemberdayaan petani dan penerapan inovasi teknologi demi pertumbuhan SDM dan Agribisnis

Our Program

Peningaktan kapasistas petani, membangung ekosistem serta pengembangan Ekonomi hijau, berkelanjutan, pemberdayaan petani dan penerapan inovasi teknologi demi pertumbuhan SDM dan Agribisnis

Blog

Info seputar pengetahuan petani, perkopian hingga tips menarik untuk anda

Blog

Info seputar pengetahuan petani, perkopian hingga tips menarik untuk anda

BUKITTINGGI — Kemitraan antara kelompok tani kopi dan pelaku usaha menjadi kunci penting agar rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) tidak berhenti pada penanaman, tetapi berlanjut menjadi pengelolaan lanskap yang produktif dan berkelanjutan. Melalui pengembangan kopi berbasis agroforestri, akses pasar, serta sistem ketertelusuran atau traceability, BPDAS mendorong penguatan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung agenda Indonesia FOLU Net Sink 2030.Upaya tersebut mencuat dalam kegiatan Temu Usaha, Pembelajaran, dan Pengembangan Kemitraan Kelompok Tani yang diselenggarakan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Agam Kuantan di Grand Rocky Hotel, Bukittinggi, pada 14–16 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan pemerintah, kelompok tani hutan, dan pelaku usaha untuk membahas penguatan kelembagaan, pengembangan agroforestri, serta peluang kemitraan dalam rantai nilai kopi.Dalam forum tersebut, Pebriyansah dari BPDAS memaparkan peluang pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK), penguatan pasar, dan pentingnya ketertelusuran kopi. BPDAS menyampaikan kesiapan untuk menjajaki kolaborasi pemasaran dan pengembangan traceability bersama kelompok tani yang terlibat dalam program RHL.Kegiatan ini juga dihadiri Apriadi, S.P., Kepala Seksi Penguatan Kelembagaan DAS, BPDAS Agam Kuantan, serta perwakilan kelompok tani hutan dari sejumlah wilayah, termasuk Pesisir Selatan dan Pasaman. Sementara itu, Anton Efendi dari Kelompok Tani Kopi Lasi berbagi pengalaman mengenai budidaya kopi, penanganan pascapanen, dan peningkatan nilai tambah melalui kunjungan lapangan ke kebun serta fasilitas pengolahan kopi di Lasi.Forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan kelompok tani dengan peluang pengembangan usaha. Dengan akses pasar yang lebih terorganisasi, hasil produksi petani diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan fungsi ekologis lahan.Menghubungkan Rehabilitasi Hutan dengan Peluang UsahaRehabilitasi hutan dan lahan merupakan bagian dari upaya memulihkan fungsi ekologis daerah aliran sungai (DAS), memperbaiki kondisi lahan, serta menjaga keberlanjutan sumber daya air dan tanah. Namun, keberhasilan pemulihan lingkungan juga berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang beraktivitas di sekitarnya. Kelompok tani membutuhkan pilihan usaha yang dapat memberikan penghasilan sekaligus mendukung pengelolaan lahan secara berkelanjutan.Dalam konteks tersebut, agroforestri menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan sesuai kondisi setempat. Sistem ini mengintegrasikan tanaman pertanian dengan pepohonan dalam satu pengelolaan lahan. Pada kebun kopi, pohon penaung dan vegetasi lain dapat menjadi bagian dari upaya menjaga tutupan lahan, dengan manfaat ekologis yang bergantung pada jenis tanaman, desain kebun, kondisi tanah, dan praktik budidaya.Pengembangan agroforestri juga membuka peluang diversifikasi hasil usaha. Selain kopi, kelompok tani dapat mempertimbangkan tanaman lain yang sesuai dengan kondisi agroklimat dan kebutuhan pasar untuk menambah sumber pendapatan. Meski demikian, sistem agroforestri membutuhkan perencanaan. Pemilihan komoditas perlu mempertimbangkan kesesuaian lahan, biaya produksi, potensi hasil, kebutuhan pasar, serta kemampuan kelompok tani mengelola panen.Karena itu, penguatan kelompok tani tidak cukup hanya melalui bantuan bibit atau kegiatan penanaman. Pendampingan kelembagaan, peningkatan keterampilan produksi, akses pembiayaan, dan kemitraan pemasaran juga diperlukan agar usaha dapat berkembang. Pembahasan rantai nilai kopi dalam forum di Bukittinggi menjadi salah satu pintu masuk untuk menghubungkan pengelolaan lahan dengan kebutuhan pasar. Bagi BPDAS, pengembangan kemitraan dapat diarahkan untuk membantu kelompok tani memahami spesifikasi produk yang dibutuhkan pembeli, memperbaiki penanganan pascapanen, dan menyiapkan informasi yang diperlukan dalam proses perdagangan.Peran Offtaker dalam Membangun Akses PasarSalah satu tantangan kelompok tani adalah menghubungkan hasil produksi dengan pembeli yang sesuai. Produksi yang meningkat belum tentu menghasilkan pendapatan lebih baik apabila petani tidak memiliki informasi pasar, standar mutu yang jelas, atau jaringan pemasaran yang memadai. Di sinilah kemitraan dengan offtaker dapat berperan.Offtaker merupakan pihak yang membeli atau menyerap hasil produksi berdasarkan kesepakatan tertentu. Dalam rantai pasok kopi, kerja sama dengan offtaker dapat membantu kelompok tani memahami kebutuhan pasar dan menyiapkan produk sesuai spesifikasi yang disepakati. Namun, keberadaan offtaker tidak otomatis menjamin harga tertentu atau penyerapan seluruh hasil panen. Kepastian tersebut bergantung pada isi kesepakatan, mutu produk, volume yang tersedia, jadwal pengiriman, dan kondisi pasar.Oleh sebab itu, kemitraan yang sehat perlu menetapkan mekanisme transaksi secara transparan. Kelompok tani perlu memahami persyaratan kualitas, cara penentuan harga, jadwal pembelian, serta tanggung jawab masing-masing pihak. Dalam kegiatan BPDAS Agam Kuantan, Pebriyansah dari BPDAS menyampaikan kesiapan untuk menjajaki kolaborasi pemasaran kopi bersama kelompok tani yang terlibat dalam program RHL, termasuk kelompok dari Pesisir Selatan dan Pasaman.Kolaborasi tersebut dapat diawali dengan pemetaan kelompok pemasok, pendataan kebun, identifikasi kapasitas produksi, peningkatan kualitas pascapanen, serta penyesuaian produk dengan kebutuhan pembeli. Kelompok tani perlu mengetahui jenis produk yang dapat dipasarkan, volume yang mampu dipenuhi, metode penilaian kualitas, dan informasi yang harus dicatat. Bagi pelaku usaha, informasi tersebut juga penting untuk menyusun perencanaan pengadaan dan menilai kesiapan pasokan.Dengan koordinasi yang baik, hubungan antara kelompok tani dan pasar berpeluang berkembang dari transaksi sesaat menjadi kemitraan yang lebih terstruktur. Dalam jangka panjang, kemitraan yang berjalan baik dapat membantu meningkatkan nilai tambah hasil kebun dan memperkuat insentif ekonomi bagi masyarakat untuk mengelola lahan secara produktif.Traceability Memperkuat Transparansi Rantai Pasok KopiSelain kualitas dan akses pasar, ketertelusuran menjadi aspek penting dalam pengembangan rantai pasok kopi. Traceability adalah kemampuan menelusuri asal produk dan tahapan yang dilaluinya sepanjang rantai pasok berdasarkan informasi yang dicatat dan dikelola secara sistematis. Dalam rantai pasok kopi, informasi tersebut dapat mencakup identitas petani atau kelompok pemasok, lokasi kebun, periode panen, metode pengolahan, pengumpulan, penyimpanan, hingga pengiriman produk.Informasi yang terstruktur membantu pelaku usaha menjelaskan asal produk kepada pembeli. Sistem ini juga dapat mendukung pengelolaan pemasok dan dokumentasi perdagangan apabila data yang tersedia akurat serta dapat diverifikasi. Dalam paparannya, Pebriyansah menempatkan ketertelusuran sebagai bagian dari upaya menghubungkan petani dengan kebutuhan pasar modern dan perdagangan internasional.Bagi kelompok tani, penerapan traceability dapat dimulai dari pendataan kebun dan pemasok. Data tersebut kemudian perlu diperbarui ketika terjadi perubahan produksi, pengolahan, atau perpindahan produk di sepanjang rantai pasok. Proses tersebut membutuhkan keterlibatan kelompok tani, pendamping, prosesor, dan pelaku perdagangan. Sistem digital dapat membantu menyimpan serta mengelola informasi, tetapi akurasi tetap bergantung pada proses pengumpulan dan verifikasi data di lapangan.Dalam ekosistem kopi BPDAS, QThink-X menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung pencatatan dan pengelolaan informasi rantai pasok. Penerapan sistem tersebut pada kelompok tani RHL perlu disesuaikan dengan kesiapan data, kapasitas sumber daya manusia, kebutuhan pembeli, dan mekanisme operasional yang disepakati.Ketertelusuran juga perlu dibedakan dari sertifikasi atau jaminan kepatuhan terhadap regulasi tertentu. Pencatatan asal produk dapat mendukung transparansi, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh persyaratan pasar telah terpenuhi. Untuk memasuki pasar yang menerapkan persyaratan khusus, pelaku usaha tetap perlu memastikan kelengkapan dokumen, validitas data, legalitas lahan yang relevan, dan pemenuhan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, traceability dapat dikembangkan sebagai perangkat tata kelola rantai pasok, bukan sekadar label teknologi. Sistem tersebut berpotensi membantu kelompok tani dan pelaku usaha membangun dokumentasi yang lebih baik sekaligus memperkuat kepercayaan pembeli.Belajar dari Kebun Kopi LasiPembahasan dalam forum BPDAS Agam Kuantan dilengkapi dengan kunjungan lapangan ke kebun dan fasilitas pengolahan kopi di Lasi, Kabupaten Agam. Kunjungan tersebut dipandu Anton Efendi dari Kelompok Tani Kopi Lasi. Peserta berkesempatan melihat praktik budidaya kopi dan memahami hubungan antara pengelolaan kebun, penanganan pascapanen, serta mutu produk yang dipasarkan.Perwakilan kelompok tani dari Pesisir Selatan dan Pasaman dapat memanfaatkan kegiatan tersebut untuk membandingkan praktik pengelolaan kebun dan mengidentifikasi aspek yang berpotensi diterapkan sesuai kondisi masing-masing wilayah. Pengembangan kopi berbasis agroforestri memerlukan perhatian terhadap pemilihan tanaman, pengelolaan naungan, pemeliharaan tanah, dan pengendalian gulma. Praktik tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi kebun agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengabaikan fungsi ekologis lahan.Pada lanskap berbukit, tutupan lahan dan praktik konservasi tanah juga perlu menjadi bagian dari perencanaan budidaya, terutama di wilayah yang berhubungan dengan fungsi daerah aliran sungai. Selain budidaya, pascapanen menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas kopi. Pemetikan buah pada tingkat kematangan yang sesuai, pemilihan metode pengolahan, pengeringan terkontrol, dan penyimpanan yang tepat dapat memengaruhi karakter produk.Kelompok tani juga perlu membangun disiplin pencatatan. Informasi mengenai tanggal panen, metode pengolahan, kondisi pengeringan, dan hasil sortasi dapat membantu mengevaluasi mutu sekaligus mendukung sistem ketertelusuran. Pengalaman di tingkat tapak memperlihatkan bahwa peningkatan nilai tambah kopi membutuhkan keterhubungan antara keterampilan petani dan kebutuhan pasar. Produksi yang baik perlu didukung proses pengolahan yang tepat serta saluran pemasaran yang dapat diakses.Bagi BPDAS, pembelajaran lapangan menjadi kesempatan untuk memahami kesiapan kelompok tani dan mengidentifikasi bentuk pendampingan yang relevan apabila penjajakan kemitraan pemasaran dilanjutkan.Perhutanan Sosial dan Penguatan Ekonomi MasyarakatPenguatan ekonomi masyarakat merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan usaha berbasis perhutanan sosial. Kelompok masyarakat memerlukan akses terhadap pengetahuan, jaringan usaha, dan peluang pasar agar kegiatan ekonomi dapat tumbuh sesuai ketentuan pengelolaan yang berlaku. Dalam konteks kopi, pengembangan usaha perlu memperhatikan status dan legalitas lahan, kesesuaian komoditas, kapasitas produksi, serta ketentuan yang berlaku pada wilayah kelola masing-masing kelompok.Pendekatan tersebut membantu memastikan bahwa pengembangan komoditas tidak mengabaikan tujuan perlindungan lingkungan. Pemasaran juga perlu dihubungkan dengan rencana produksi. Kelompok tani tidak hanya perlu mempertimbangkan peningkatan volume, tetapi juga mutu, biaya, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pembeli.Penguatan kelembagaan dapat mencakup pembagian tanggung jawab dalam pengumpulan hasil, pencatatan produksi, pengelolaan keuangan, dan komunikasi dengan mitra usaha. Transparansi diperlukan agar manfaat kerja sama dapat dipahami oleh anggota kelompok. Bagi pemerintah dan pendamping, proses ini membutuhkan fasilitasi berkelanjutan. Kebutuhan kelompok tani dapat berbeda-beda, mulai dari penguatan administrasi dan peningkatan keterampilan budidaya hingga pengolahan serta akses informasi pasar.Kolaborasi dengan pelaku usaha dapat melengkapi proses tersebut melalui penyampaian spesifikasi produk, penjajakan pembelian, dan pengembangan hubungan dagang. Bentuk dukungan perlu disesuaikan dengan kesepakatan yang benar-benar dapat dijalankan oleh para pihak. Dalam hal ini, forum temu usaha berfungsi sebagai ruang untuk mempertemukan kebutuhan kelompok tani dengan peluang kerja sama. Hasilnya perlu ditindaklanjuti melalui rencana kerja, pembagian tanggung jawab, dan indikator yang dapat dievaluasi.Mendukung Agenda Indonesia FOLU Net Sink 2030Indonesia FOLU Net Sink 2030 merupakan agenda sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya untuk mencapai kondisi ketika penyerapan emisi bersih dari sektor tersebut lebih besar daripada emisi yang dilepaskan pada 2030. Pengelolaan hutan berkelanjutan, rehabilitasi lahan, konservasi, dan kegiatan lain yang sesuai dengan kebijakan nasional menjadi bagian dari upaya menuju sasaran tersebut.Pengembangan agroforestri dapat berkontribusi pada tujuan pengelolaan lanskap apabila praktiknya sesuai dengan kondisi ekologis, menjaga atau memperbaiki tutupan vegetasi, dan dilaksanakan dengan pengukuran yang tepat. Besarnya kontribusi terhadap penurunan emisi atau peningkatan serapan karbon tidak dapat disimpulkan hanya dari keberadaan tanaman kopi atau pohon penaung. Penilaian tersebut memerlukan metode pengukuran dan data yang relevan.Karena itu, kemitraan ekonomi dan pengelolaan lingkungan perlu dikembangkan secara berdampingan. Akses pasar dapat memberikan insentif bagi usaha petani, sementara praktik budidaya dan pengelolaan lahan perlu memastikan bahwa tujuan produksi tidak mengorbankan fungsi ekologis. Pendekatan ini juga membutuhkan pemantauan hasil. Indikator ekonomi dapat mencakup kualitas produk, keberlanjutan transaksi, dan manfaat bagi kelompok tani. Indikator lingkungan perlu disesuaikan dengan program, kondisi lanskap, serta metode evaluasi yang digunakan.Melalui kolaborasi antara pemerintah, kelompok tani, dan pelaku usaha, peluang pengembangan ekonomi berbasis agroforestri dapat dijajaki dengan memperhatikan kondisi sosial dan lingkungan.Menyiapkan Tindak Lanjut KemitraanKegiatan Temu Usaha, Pembelajaran, dan Pengembangan Kemitraan Kelompok Tani di Bukittinggi membuka ruang untuk mempertemukan penguatan kelembagaan RHL dengan kebutuhan pengembangan usaha. Bagi BPDAS, tindak lanjut dapat dimulai dengan mengidentifikasi kelompok tani yang berminat, memetakan kebun dan kapasitas produksi, serta menilai kebutuhan peningkatan mutu dan ketertelusuran.Tahap berikutnya adalah mempertemukan informasi pasokan dengan kebutuhan pembeli, menetapkan spesifikasi produk, dan membahas mekanisme transaksi yang realistis. Jika disepakati oleh para pihak, kerja sama dapat dilanjutkan melalui pengaturan pembelian, pendampingan teknis, dan evaluasi berkala. Langkah-langkah tersebut perlu dilakukan secara bertahap agar kelompok tani tidak dibebani persyaratan yang belum dapat dipenuhi. Pengembangan sistem ketertelusuran juga perlu mempertimbangkan kemampuan pengelola di lapangan dan manfaat nyata bagi rantai pasok.Keberhasilan kemitraan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kelompok yang terlibat, tetapi juga oleh keberlanjutan transaksi, kualitas produk, transparansi proses, dan manfaat ekonomi yang diterima anggota kelompok. Pada akhirnya, menjaga hulu dan menggerakkan ekonomi merupakan dua agenda yang dapat saling mendukung ketika dirancang dengan tepat. Rehabilitasi hutan dan lahan membutuhkan pengelolaan yang konsisten, sementara usaha kopi memerlukan produksi berkualitas dan akses pasar yang jelas.Melalui pengembangan agroforestri, penjajakan kemitraan offtaker, dan penerapan ketertelusuran, BPDAS membuka ruang kolaborasi untuk menghubungkan kelompok tani dengan rantai pasok kopi yang lebih terorganisasi. Dari Bukittinggi, upaya tersebut menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas tentang bagaimana pengelolaan lanskap, penguatan usaha masyarakat, dan perdagangan kopi dapat dikembangkan secara beriringan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.

Read More  

Admin Alko | 15/10/2026

TANGERANG, — PT ALKO Sumatra Kopi meraih penghargaan Primaniyarta 2026 kategori khusus Eksportir Free Trade Agreement (FTA). Penghargaan diserahkan Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam seremoni pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (14/10/2026).Pada TEI ke-41 ini, Kemendag menyerahkan total 50 penghargaan Primaniyarta dan Primaduta kepada eksportir berprestasi dan mitra dagang Indonesia di luar negeri. Tahun ini TEI menargetkan transaksi USD 17,5 miliar dan diikuti 1.873 exhibitor dengan 8.092 buyer luar negeri dari 134 negara.Sinergi Eksportir dan Mitra DagangMenteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, kinerja ekspor Indonesia yang pada Agustus 2026 mencatatkan surplus USD 3,55 miliar, tidak terlepas dari sinergi antara eksportir dan mitra dagang yang saling melengkapi."Indonesia mencatatkan kinerja ekspor yang baik berkat peran eksportir dan mitra dagang yang bagai dua sisi mata uang. Pertama, eksportir gigih menghadirkan produk berdaya saing; kedua, mitra dagang loyal dan terus percaya pada produk-produk Indonesia. Kami mengapresiasi kontribusi keduanya dan semoga makin banyak pelaku usaha yang terinspirasi untuk memperkuat ekspor Indonesia," ujar Mendag yang akrab disapa Busan.Bagi ALKO, penghargaan kategori FTA ini menjadi penanda keberhasilan pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas untuk meningkatkan daya saing. Mulai dari pemenuhan ketentuan asal barang (rules of origin), klasifikasi produk, hingga kelengkapan dokumen ekspor sesuai negara tujuan.Apresiasi dari Dubes RI untuk ItaliaCapaian ALKO mendapat ucapan selamat dari Duta Besar RI untuk Italia, Prof. Dr. Junimart Girsang. Italia menjadi salah satu negara tujuan ekspor ALKO, sehingga pemanfaatan FTA menjadi instrumen penting dalam membuka akses tarif preferensial dan perluasan pasar di Eropa.ALKO juga menyampaikan apresiasi kepada para Duta Besar RI, ITPC dan Atase Perdagangan di AS, Kanada, Swedia, Inggris, Norwegia, Jepang, Korea Selatan, Dubai, Mesir, Belanda, Hungaria, Perancis, Malaysia, Hong Kong, Pakistan, Vietnam, serta perwakilan RI lainnya. Dukungan perwakilan RI di luar negeri tersebut menjadi salah satu unsur penilaian yang menguatkan ALKO dalam penghargaan Primaniyarta ini, khususnya dalam memfasilitasi pertemuan dengan buyer dan informasi pasar.Perkuat Rantai Pasok dan Traceability via QThink-XKe depan, ALKO memperkuat pengelolaan rantai pasok dari petani hingga logistik dan mengembangkan sistem traceability melalui aplikasi QThink-X untuk menjamin transparansi asal kopi. Pendekatan ini melengkapi strategi pemanfaatan FTA dalam menjaga kepercayaan buyer melalui konsistensi mutu dan ketepatan pengiriman.ALKO.id — Menghubungkan kopi Indonesia dengan pasar dunia.

Read More  

Admin Alko | 15/10/2026

SUMATERA — Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO) kembali mengirimkan kopi Arabika specialty Indonesia ke Oman melalui jalur laut dari Pelabuhan Belawan pada September 2026. Pengiriman ini menjadi bagian dari empat kali transaksi pengiriman kopi Sumatra ke pasar Oman dalam kurun empat bulan, terdiri dari dua pengiriman melalui jalur udara dan dua melalui jalur laut.Pengiriman terbaru tersebut mengusung model traceability berbasis blockchain melalui aplikasi QThink-X Traceability Apps. Pendekatan ini dikembangkan untuk mendukung ketertelusuran kopi, sehingga informasi mengenai asal-usul dan perjalanan produk dalam rantai pasok dapat terdokumentasi.Berdasarkan informasi pengiriman sebelumnya, salah satu pengiriman melalui jalur udara mencapai volume 8 ton. Pada pengiriman terbaru, kopi Arabika specialty dikirim menggunakan kontainer melalui Pelabuhan Belawan dengan tujuan Oman.Traceability, dari Kebun hingga Pasar InternasionalBagi ALKO, ekspor kopi tidak hanya berorientasi pada pengiriman komoditas, tetapi juga pada pembangunan sistem rantai pasok yang lebih transparan dan dapat ditelusuri.Melalui model traceability, informasi mengenai asal kopi, data petani dan kebun, proses produksi, penanganan pascapanen, pengolahan hingga tahapan perdagangan dapat dihimpun sesuai ketersediaan dan verifikasi data.Penggunaan teknologi blockchain dalam ekosistem QThink-X diarahkan untuk mendukung pencatatan data dan riwayat produk. Dengan pendekatan tersebut, informasi ketertelusuran dapat menjadi bagian dari dokumentasi rantai pasok yang dapat diperiksa oleh pihak terkait sesuai akses dan data yang tersedia.Model ini penting bagi pengembangan kopi specialty karena nilai produk tidak hanya ditentukan oleh karakter rasa dan kualitas fisik, tetapi juga oleh kejelasan asal-usul, konsistensi mutu dan transparansi proses produksi.Empat Pengiriman dalam Empat BulanDalam empat bulan terakhir, pasar Oman telah melakukan empat kali pembelian kopi Sumatra dari ALKO. Rangkaian tersebut mencakup dua pengiriman melalui udara dan dua pengiriman melalui jalur laut.Pengiriman melalui udara memberikan alternatif untuk kebutuhan logistik tertentu, sedangkan jalur laut menjadi pilihan untuk pengiriman menggunakan kontainer. Penggunaan kedua moda tersebut memberikan fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan pembeli internasional.Pengiriman terbaru melalui Belawan sekaligus memperlihatkan bagaimana ekspor kopi dapat dikembangkan bersama sistem ketertelusuran digital. Dengan dokumentasi yang semakin terstruktur, ALKO berupaya memperkuat hubungan antara pasokan dari Indonesia dan kebutuhan pasar tujuan.Membangun Kepercayaan melalui DataDalam perdagangan internasional, traceability dapat membantu pembeli memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai asal dan perjalanan produk. Namun, kelengkapan dan akurasi informasi tetap bergantung pada data yang dikumpulkan, diverifikasi dan diperbarui sepanjang rantai pasok.Karena itu, pengembangan traceability perlu berjalan bersama penguatan kapasitas petani, pencatatan produksi, penerapan praktik pascapanen yang baik, pengendalian mutu dan tata kelola data.Bagi ALKO, pendekatan ini merupakan bagian dari pengembangan ekosistem kopi berkelanjutan yang menghubungkan petani, kelompok tani, koperasi, prosesor, teknologi dan pembeli internasional.Memperkuat Posisi Kopi SumatraPembelian berulang dari Oman memberikan peluang bagi ALKO untuk memperkuat hubungan dagang dan mengembangkan pasokan kopi Sumatra secara berkelanjutan.Ke depan, pengembangan pasar tidak hanya bertumpu pada kontinuitas pasokan dan kualitas kopi, tetapi juga pada kemampuan membangun informasi asal-usul produk yang transparan dan terdokumentasi.Melalui integrasi kopi specialty dengan model traceability berbasis blockchain, ALKO berupaya membangun rantai nilai yang menghubungkan kebun, petani, pengolahan, ketertelusuran digital, ekspor dan pasar internasional.Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing kopi Indonesia melalui kombinasi kualitas produk, keberlanjutan dan transparansi rantai pasok.Dari kebun di Sumatra hingga pasar Oman, traceability menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dan memperkuat masa depan perdagangan kopi Indonesia.

Read More  

Admin Alko | 10/10/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.